Menelusuri Ajaran Luther, Alkitabiah kah?


Martin Luther menolak 'Roti dan Anggur' yang sudah dikonsekrir sebagai benar-benar Tubuh dan darah Kristus. Ia mengajarkan bahwa itu hanya lambang semata. Benarkah demikian?. Mari kita lihat Alkitab. Rasul Paulus mengatakan bahwa, apa yang diajarkan dan diteruskan, ia terima dari Tuhan Yesus sendiri. Bahwa pada malam sebelum Ia diserahkan, Yesus memecah-mecahkan roti dan berkata 'Inilah Tubuhku, yang diserahkan bagi kamu perbuatlah ini untuk mengenangkan daku. Demikian pula ia mengambil cawan dan berkata, cawan ini adalah perjanjian baru yang dimateraikan oleh Darahku, perbuatlah ini untuk mengenangkan daku (bdk. 1 Kor. 11:23-24, Luk. 22:19). Selanjutnya Rasul Paulus berkata bahwa siapa memakan dan meminum perjamuan itu secara tidak pantas ia akan menanggung dosa.

Mengapa berdosa? Karena apa yang dimakan bukanlah lambang, melainkan sungguh-sungguh tubuh dan darah Kristus (Yoh. 6: 53-58). Maka 1 Kor. 11:24 Rasul Paulus berkata dalam bahasa Yunani: Touto mou estin soma. Estin artinya 'adalah benar-benar. Perkataan yang sama dalam bahasa Yunani juga diucapkan oleh Yesus: Touto estin to soma mou (bdk. Mat. 26:26; Mrk. 14:22). Maka, Roti dan Anggur perjamuan yang sudah dikonsekrir adalah benar-benar Tubuh dan darah Kristus, sehingga tidak bisa disambut dalam keadaan tidak layak, karena akan mendatangkan dosa.


Penulis: Silvester Detianus Gea


Silahkan reformasi asal jangan kebablasan.


Salam

Menelusuri Sejarah Reformasi dan Tindakan Fatal Pendirinya


Martin Luther adalah salah seorang biarawan Ordo Agustinus, yang cukup kritis pada zamannya. Martin Luther sebenarnya protes terhadap salah satu kalimat dari perkataan salah seorang pengkhotbah bernama Johann Tetzel-dari Ordo Dominikan. Tetzel membuat sebuah pantun yang disalahartikan oleh Martin Luther, pantun itu berbunyi: “Begitu terdengar bunyi koin emas di kotak, bangkitlah jiwa menuju Surga.” Pantun tersebut disalahartikan oleh Martin Luther sebagai penjualan Surat Pengampunan dosa. Tentu tuduhan ini tidak benar karena tidak pernah Surat Pengampunan Dosa dijual. Memang saat itu temanya adalah mengenai derma/amal (Mat. 6:2), dan uang pemberian itu digunakan untuk membangun basilika. Tentu saja menyumbang atau memberi kolekte bukanlah membayar pengampunan dosa. Jika demikian yang terjadi, lalu apa bedanya dengan Gereja-gereja Protestan zaman Martin Luther hingga sekarang yang mewajibkan perpuluhan?

Martin Luther mungkin melihat akan adanya penyelewengan yang akan terjadi karena ucapan Tetzel tersebut, maka ia protes kepada Uskup Agung Albert dari Mainz. Protes Martin Luther merupakan awal perubahan Gereja yang pada masa itu dapat dikatakan sedang berada dalam keadaan “gelap”. Protes Martin Luther sebenarnya merupakan puncak dari serangkaian protes-protes sebelumnya. Memang tak dapat dipungkiri bahwa pada masa itu ada pula penyelewengan dari oknum-oknum tertentu, namun tentu itu bukan ajaran dari Gereja Katolik. Adalah kesalahan besar jika salah satu oknum yang salah, digeneralisir kepada seluruh Gereja Katolik. Lagi pula kejadian yang dilakukan Tetzel hanya terjadi di Jerman,dan bukan disegala tempat. Jika saja Martin Luther melakukan reformasi dari dalam seperti Ignatius dari Loyola tentu tidak akan terjadi perpecahan yang tidak diharapkan.

Ada beberapa tanggapan berkaitan dengan reformasi yang dilakukan Martin Luther, antara lain:

Pertama, Martin Luther hampir membuang Kitab Yakobus dan Wahyu dan ia mengatakan bahwa Kitab itu "Kitab Jerami' dalam arti tertentu adalah Palsu.

Sebenarnya penolakan akan Kitab Yakobus yang dilakukan oleh Martin Luther, karena ajaran Sola Fidei dan Sola Gracia buatannya sangat bertentangan dengan isi keseluruhan kitab Yakobus. Martin Luther pun memberi lebel pada kitab ini sebagai Kitab Apocrypha perjanjian Baru bersama dengan Kitab Wahyu. Apocrypha artinya tidak Kanonik, sehingga dalam Kitab terjemahan Martin Luther dalam bahasa Jerman, ia menempatkan Kitab Yakobus dan Wahyu sebagai Appendix

Kedua, Martin Luther tidak pernah berniat mendirikan ribuan aliran melainkan pembaharuan dari dalam. Namun akhirnya kebablasan karena ia mengikuti anjuran politis bangsawan Jerman.

Marthin Luther hampir tidak pernah berpikir jika reformasi yang ia buat akan berakibat seperti sekarang, dengan ribuan aliran bahkan ada aliran yang justru menolak ajaran-ajarannya. Reformasi artinya membaharui dari dalam sebagaimana diteladankan oleh Ignatius dari Loyola. Tetapi Marthin Luther semakin berani protes karena dukungan para bangsawan Jerman, yang pada masa itu membuat propaganda bahwa Vatikan akan menguasai Jerman dalam bidang politik dan ekonomi, sehingga para bangsawan mendukung supaya ada reformasi agar keagamaan di Jerman pun tidak berkaitan lagi dengan Vatikan.

Ketiga, Martin Luther menghilangkan 7 Kitab PL yang sudah dipakai sejak abad pertama dan bahkan dikutip oleh Rasul-rasul dalam surat mereka.

Salah satu Kitab yang bertentangan dengan Sola dari Martin Luther adalah Kitab 2 Makabe, dimana di sana dijelaskan bagaimana setiap orang dapat mendoakan orang yang sudah meninggal, yang dilakukan oleh Gereja Katolik setiap tanggal 2 November. Marthin Luther pun merasa bahwa ketujuh Kitab tidaklah kanonik, meskipun Kitab tersebut sudah masuk dalam Kanon Kitab Suci Umat Kristiani sejak abad ke 3, dan merupakan bagian dari Perjanjian Lama. Meskipun Marthin Luther tidak mengakuinya sebagai Kanonik, namun ia tetap menyertakan ketujuh kita itu dalam Alkitab yang ia terjemahkan. Marthin Luther mengatakan bahwa Kitab-kitab itu hanya layak dibaca saja. Namun, menurut Admin Katolisitas baru tahun 1827 the British and Foreign Bible Society mencoret dan membuang ke 7 Kitab dalam Kitab mereka dan itulah yang diikuti oleh sebagian besar penganut Protestan hingga saat ini. Pdt. Anwar Tjen, Phd dalam sebuah seminar di Gereja Katedral Jakarta yang membahas mengenai Kitab Deuterokanonika pernah berkata dan menjelaskan bahwa para rasul dan bahkan penulis Injil mengutip sebagian isi Kitab Deuterokanonika.

Keempat, Martin Luther membuat ajaran 'Sola' yang sesungguhnya bertentangan dengan Alkitab.Sola artinya "Hanya" dan Scriptura artinya Alkitab/Kitab. Ajaran Sola Scriptura sebenarnya bertentangan dengan Alktiab. Sebab Rasul Paulus pernah berkata 2Tes 2:15 Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis. Jadi, Ajaran Lisan dan Tertulis itu tetap ada, tidak semua hal tercatat di Alkitab (Yoh. 21:25). Sementara itu ajaran Sola Fidei bertentangan dengan sebagian besar isi Surat Yakobus, terutama perkataan: Iman tanpa perbuatan adalah mati, sehingga iman harus bekerjasama dengan perbuatan dan diwujudkan dalam perbuatan. Kemudian Sola Gracia, yang menekankan hanya rahmat saja, tentu ada benar tetapi kurang lengkap, bahwa Rahmat itu membutuhkan sarana yakni Sakramen yang diikuti dengan tindakan dan respon dari manusia. Maka Rahmat Tuhan selalu ada, tetapi juga membutuhkan respon dan tindakan manusia dalam bentuk-bentuk simbolik, misalnya Sakremen-sakramen.

Penulis: Silvester Detianus Gea

SEKILAS WAFATNYA PARA RASUL DAN MURID PARA RASUL


Para Rasul adalah para uskup (penilik jemaat) pertama, yang diberi kuasa oleh Kristus untuk mengajar, menguduskan dan memimpin para anggota Gereja-Nya (lih. Mat 16:19; 18:18; Yoh 20:21-23). Berikut ini adalah sekilas kisah kemartiran mereka (kecuali Rasul Yohanes, dan Yudas Iskariot yang wafat bunuh diri setelah menyerahkan Yesus ke tangan tua-tua Yahudi):

1. St. Petrus, kepala para Rasul.
Setelah lolos dari penjara di Yerusalem, ia mendirikan Gereja di Antiokhia, di mana jemaat pertama kali disebut Kristen. Rasul Petrus kemudian membuat perjalanan misi ke Yudea, Samaria, Galilea, Asia Kecil dan Yunani, dan akhirnya ia mendirikan Gereja di Roma. Tentang catatan sejarah yang menuliskan keberadaan Petrus di Roma sebelum wafatnya, untuk mendirikan Gereja di sana, silakan klik di sini.

Rasul Petrus memimpin Sidang/ Konsili pertama di Yerusalem (50). Atas perintah penguasa Roma, Rasul Petrus dibunuh sebagai martir di bukit Vatikan, Roma (sekitar tahun 67) dengan disalib terbalik – dengan demikian menggenapi nubuat Yesus (lih. Yoh 21:18-19). Pada saat yang sama Rasul Paulus juga dibunuh dengan dipenggal kepalanya.

2. St. Yohanes
Rasul Yohanes, atau yang sering disebut Rasul yang dikasihi Kristus, hidup di Efesus dan memimpin Gereja di Asia Kecil.
Pada masa kekuasaan Trajan, ia dibuang di dalam minyak mendidih, namun secara mukjizat ia tidak mati. Kemudian ia dibuang ke pulau Patmos, di mana ia menerima wahyu yang kemudian ditulis dalam Kitab Wahyu. Ia wafat di sekitar tahun 95-100. Rasul Yohanes merupakan Rasul yang terakhir wafat, dan satu-satunya yang tidak wafat sebagai martir. Kuburnya terletak di Efesus, Turki.

3. St. Yakobus anak Zebedeus
Rasul Yakobus, saudara Yohanes (sering disebut St. James the Greater), anak Zebedeus, berkarya di Yudea, dan menyebarkan Injil sampai ke Spanyol. Rasul Yakobus adalah Rasul pertama yang dibunuh sebagai martir -dengan dipenggal kepalanya- di Yerusalem di tahun 44, oleh Raja Herodes Agrippa.

4. St. Matius
Rasul Matius, penulis kitab Injil yang pertama. Ia berkhotbah di Ethiophia, Persia, Parthia dan dibunuh sebagai martyr dengan pedang/ tombak di Parthia. Kitab Talmud Babilonia [Sanhedrin 43a] mencatat pengadilan dan penghukumannya.

5. St. Yakobus
St. Yakobus (St. James the Less) adalah Uskup pertama Yerusalem, yang menuliskan Surat Yakobus. Ia dibunuh dengan dilempari batu dari atas Bait Allah di tahun 63.

6. St. Andreas
St. Andreas, saudara St. Petrus, berkhotbah di Asia Kecil, Armenia, Scythia (Rusia selatan), kemungkinan juga ke Yunani. Ia dibunuh sebagai martir di Scythia.

7. St. Tomas (Didimus)
St. Tomas berkhotbah di Persia, Midia, sampai ke India. Ia dibunuh sebagai martir di India, ditembusi dengan tombak atas perintah Raja. Letak kuburnya adalah di bukit St. Tomas di Madras India.

8. St. Filipus
St. Filipus, berkhotbah di Phyrgia dan Scythia, dan disalibkan di Hieropolis, Turki, menurut catatan St. Papias, Uskup kedua Hieropolis.

9. St. Bartolomeus
St. Bartolomeus, berkhotbah di India, Arabia dan Assyria, dan dibunuh dengan dikuliti dan disalibkan di Armenia.

10. St. Simon, orang Zealot
St. Simon, berkhotbah di Afrika Utara, dibunuh sebagai martir di Persia, tahun 61.

11. St. Yudas Tadeus
St. Yudas Tadeus, penulis Surat Yudas, berkhotbah di Syria dan dibunuh sebagai martir di Persia.

12. St. Matias
St. Matias, dipilih menggantikan Yudas Iskariot. St. Matias berkhotbah di Ethiophia, dan dibunuh sebagai martir di Sebastopolis.

Berikut adalah wafatnya Murid-Murid Yesus lainnya dan Murid Para Rasul
1. St. Paulus
Rasul Paulus bertobat di tahun 34, dan sejak itu mengemban tugas pewartaan Injil terutama kepada bangsa-bangsa non-Yahudi. Di antara para Rasul, Paulus menulis paling banyak surat kepada jemaat, ia bekerja paling keras dan melakukan perjalanan paling ekstensif untuk mewartakan Injil. Ia mewarta di Seleucia, Cyprus, Asia Kecil, Phrygia, Galatia, Makedonia, Tesalonika, Athena, Korintus, Miletus, dan akhirnya Roma, Spanyol lalu kembali ke Roma, dan dibunuh sebagai martir di tahun 67, dengan dipenggal kepalanya.

2. St. Markus
Menurut keterangan St. Hieronimus (De Vir. Illustr., viii), St. Markus wafat sekitar tahun 63. kemungkinan berdasar atas tulisan Eusebius (Church History II.24) bahwa pada tahun tersebut, Anianus melanjutkan kepemimpinan St. Markus dalam Keuskupan Aleksandria. St. Markus wafat sebagai martir, dengan diseret di sepanjang jalan-jalan di Aleksandria, sebagaimana disebutkan dalam the Paschal Chronicle. St. Markus adalah anak angkat Rasul Petrus dan penerjemah/ juru tulisnya, yang menuliskan khotbah Petrus dalam Injilnya.

3. St. Lukas
Terdapat sedikitnya dua pandangan tentang kematian St. Lukas. Sejumlah tulisan awal mengatakan ia wafat sebagai martir, namun sejumlah tulisan lainnya mengatakan ia hidup sampai berumur 84 tahun, dan wafat di Thebe, di kawasan Boeotia, Yunani. Relikwinya tersimpan di Basilika St. Giustina, Padua, Italia sejak 1172, kemungkinan dibawa oleh para tentara Perang Salib.

Melihat bagaimana para Rasul ini telah wafat sebagai martir, yang menyerahkan hidup mereka demi iman mereka, kita dapat melihat bukti yang kuat terhadap kebenaran inti ajaran Injil, bahwa Kristus adalah Putera Allah menjelma menjadi manusia, yang telah rela wafat di salib dan bangkit dari kematian bagi keselamatan umat manusia. Terhadap kebenaran inilah para Rasul telah rela menyerahkan nyawa mereka, sesuatu yang tidak mungkin mereka lakukan, jika hal wafat dan kebangkitan Yesus hanya rekayasa manusia.

Disunting oleh Silvester Detianus Gea
Sumber :http://www.katolisitas.org/sekilas-tentang-wafatnya-para-rasul/

Maria Cermin Kekudusan




Dalam Litani St. Perawan Maria, salah satu gelar Maria ialah Cermin Kekudusan yang merupakan terjemahan dari Speculum Justitiae. Mengapa tidak diterjemahkan Cermin Keadilan? Darimana berasal gelar itu? Apa artinya?.

Andreas Kilimotto, Banyuwangi. [Penanya]


Pertama, arti pertama kata iustitia (Latin) ialah “keadilan” tetapi dalam konteks biblis-teologis, kata “iustitia” mempunyai arti yang lebih luas. Dalam Injil, St. Yosef, suami Bunda Maria, disebut sebagai seorang yang “benar” (Mat. 1:19) (ing: Just), artinya Kudus, suci, benar, dan sempurna dalam mentaati perintah-perintah Allah. Demikian pula dalam kisah penciptaan, Allah menciptakan manusia pertama dengan “keadilan asali” (Ing: Original Justice), artinya dalam keadaan harmonis dengan Allah, sesama, diri sendiri dan dengan alam semesta. Kata “keadilan” disini diartikan sebagai harmonis, kudus, suci, benar dan sempurna. Dalam artin inilah, gelar Speculum Justitiae diterjemahkan menjadi Cermin Kekudusan. Terjemahan ini setia mempertahankan makna biblis-teologis, dan bukan makna sosio-kultural yang berarti keadilan.

Kedua, Maria diberi gelar Speculum iustitiae, artinya Maria penuh dengan dan memantulkan (seperti cermin) keutamaan keadilan dalam arti luas. Dengan kata lain, Maria itu mencerminkan kekudusan, ketaatan kepada kehendak ilahi Bapa dan kebenaran dalam relasi dengan Allah dan sesama. Dengan gelar Cermin Kekudusan (Speculum Iustitiae), dimaksudkan bahwa pribadi Maria adalah gambaran yang paling menakjubkan dari “kebenaran, kekudusan, keadilan, keselarasan, dan keindahan Allah” yang pernah terwujud dalam diri ciptaan manusiawi.

Karena Maria itu sungguh murni dan sungguh rendah hati, maka Maria menerima cahaya dari Kristus yang adalah Matahari Keadilan Ilahi. Seperti halnya cermin yang menerima cahaya dan memantulkannya, Maria menerima bukan hanya cahaya dari matahari tetapi bahkan Sang Matahari itu sendiri dan menerima dengan seluruh pribadinya. Maria memancarkan sinar Ilahi Sang Matahari itu kepada dunia. Seharusnya setiap orang yang diciptakan Allah seharusnya menjadi cermin dari kekudusan Allah, sebab setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26). Tetapi dosa asal telah mencemari dan merusak cermin sebagai citra Allah. Hanya Maria yang sungguh memantulkan kekudusan Allah secara sempurna.

Ketiga, gelar Cermin Kekudusan diambil dari Keb. 7:26, “Karena kebijaksanaan merupakan pantulan cahaya kekal, dan cermin tak bernoda dan kegiatan Allah, dan gambar kebaikan-Nya.” Allah telah memberi kita cermin tak bernoda dari kehidupan dan keutamaan Bunda Maria supaya kita renungkan, kita pandang dengan penuh cinta dan antusiasme. Maria menjadi model yang sempurna dari apa yang harus kita lakukan.

Jika doa Rosario dilakukan dalam konteks doa arwah, apakah boleh menggunakan Peristiwa Mulia meskipun bukan hari Rabu atau Minggu?

Yoseph Hung, Pontianak. [Penanya]

Peristiwa-peristiwa dalam doa Rosario (Gembira, Sedih, Mulia, dan Terang) bisa digunakan untuk membantu merenungkan saat-saat penting dalam hidup Yesus. Pembagian penggunaan peristiwa-peristiwa itu (dari Senin sampai Minggu) bukanlah sesuatu yang mutlak dan kaku, tetapi lebih merupakan pemerataan sehingga dengan mendoakan Rosario kita merenungkan seluruh hidup Yesus dan peran Mari di dalamnya.

Jadi, boleh saja dalam konteks doa arwah digunakan Peristiwa Mulia meskipun bukan hari Rabu atau Minggu. Penggunaan Peristiwa Mulia dalam konteks doa arwah akan membantu orang-orang yang hadir untuk merenungkan tentang kebangkitan dan harapan hidup kekal. Maka doa Rosario menjadi sarana bantu yang sungguh cocok dengan keadaan yang sedang dihadapi. Di lain pihak, jika doa arwah diadakan secara berturut-turut, baik untuk arwah yang sama maupun untuk arwah yang berbeda-beda, tentu akan menjemukan umat yang hadir, jika selalu digunakan sebuah peristiwa yang sama terus menerus, maka perlu fleksibel.

Konsultasi Iman “Majalah Hidup-Mingguan Katolik, 43 tahun ke 71- 22 Oktober 2017” hlm. 18, oleh Petrus Maria Handoko CM, Imam Kongregasi Misi, Doktor Teologi Dogmatik Universitas Gregoriana Roma.

Pesta Maria Magdalena


Pada 3 Juni 2016 lalu, Paus Fransiskus menaikkan tingkat perayaan St. Maria Magdalena dari peringatan menjadi pesta. Apa makna perubahan ini? Apa alasan melakukan perubahan ini? Benarkah Magdalena ini seorang pelacur?


Maria Erlinda Handayani, Surabaya. [Penanya]

Pertama, dalam Dekrit yang dikeluarkan Kongregasi Vatikan untuk Ibadat Ilahi dan Tata-Upacara Sakramen dikatakan bahwa menaikkan tingkat perayaan liturgis St. Maria Magdalena menyamakan tingkat perayaan St. Maria Magdalena dengan Para rasul laki-laki. Ini berarti pengakuan akan kesetaraan gender dan martabat perempuan dengan pria. Sekaligus hal ini mengakui kenyataan bahwa secara kronologis Magdalena adalah saksi dan pewarta pertama kebangkitan Kristus (Mat. 28:1-10). Dialah pewarta Injil yang pertama. Karena itulah St. Thomas Aquinas menyebut St. Maria Magdalena sebagai “Rasul dari para Rasul”, karena dialah yang pertama mewartakan kebangkitan Yesus kepada para rasul dan kemudian para rasul mewartakan kepada dunia.

Peningkatan perayaan liturgis ini juga merupakan pengakuan akan kekhasan misi yang dilakukan perempuan ini, yaitu mewartakan Kabar Gembira itu kepada Para Rasul. Magdalena diakui sebagai perempuan yang mencintai Kristus dan sebaliknya juga dia sangat menyayangi Kristus. Perempuan seperti ini yang dijadikan Kristus sebagai pewarta pertama kebangkitan-Nya. Maka dia menjadi “teladan dan model bagi setiap perempuan dalam Gereja”. Magdalena bisa dianggap sebagai “paradigma pelayanan perempuan dalam Gereja”. Paus Fransiskus selanjutnya menulis, “St. Maria Magdalena adalah sebuah teladan dari Evangelisasi sejati dan otentik ; dia adalah evangelis yang mewartakan pesan sentral dan gemberi dari Paskah.”Uskup Agung Arthur Roche, Sekretaris Kongregasi Vatikan untuk Ibadat Ilahi dan Tata Upacara Sakramen mengatakan bahwa dalam konteks Tahun Suci Kerahiman Ilahi, perubahan ini mengajak kita merenungkan lebih mendalam lagi tentang “martabat perempuan, Evangelisasi baru, dan kebesaran misteri Kerahiman Ilahi.”

Kedua, dalam tradisi Kristiani, Magdalena dikaitkan dengan tiga sosok dalam Injil, yaitu pertama, Maria dari Magdala (Luk. 8:2), kedua, wanita yang berdosa yang meminyaki kaki Yesus dan membasuh dengan air matanya (Luk. 7:36-50) dan ketiga, Maria saudari Lazarus dan Marta dari Bethania (Luk. 10:38-42; Yoh. 11:1-46; 12:1-8). Uskup Agung Arthur Roche tidak secara khusus menentukan mana dari ketiga perempuan itu yang dirujuk. Dia hanya menegaskan bahwa yang bisa dipastikan ialah bahwa Maria Magdalena adalah bagian dari kelompok para murid Yesus. Dia mengikuti Yesus dengan setia sampai di bawah kaki salib. Dia pula yang mendapatkan penampakan Yesus di dekat makam-Nya. Tidak dikatakan latar belakang Maria Magdalena sebelum menjadi murid Tuhan. ini berarti bahwa apapun dan siapapun masa lalunya, Yesus melihat dan menghargai perubahan dalam dirinya, cinta kasihnya yang sedemikian besar dan meninggikan dia sebagai murid-Nya yang pertama mewartakan kebangkitan-Nya.

Ketiga, penafsiran bahwa Maria Magdalena adalah mantan pelacur terjadi dalam Sejarah Gereja, bahkan dilakukan oleh para bapa Gereja, seperti Agustinus, Ambrosius, Efren, dan Paus seperti Gregorius Agung dalam khotbah 14 September 591, sehingga terciptalah tradisi bahwa Maria Magdalena adalah mantan pelacur (bdk. Hidup No. 16, 21 April 2013). Menurut saya, ini adalah kesalahtafsiran, Ungkapan “yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat” (Luk. 8:2) tidak harus ditafsirkan sebagai dosa seksual yang sangat berat, yaitu sebagai pelacur. Ungkapan itu bisa diartikan sebagai penyembuhan dari aneka penyakit. Demikian pula, Maria dari Magdala harus dibedakan dengan Maria dari Betania, sebab secara geografis kedua kota itu berjauhan. Magdala ada di tepi pantai, sedangkan Betania berada dekat Yerusalem.


Konsultasi Iman “Majalah Hidup-Mingguan Katolik, 26 tahun ke 70- 26 Juni 2016” hlm. 13, oleh Petrus Maria Handoko CM, Imam Kongregasi Misi, Doktor Teologi Dogmatik Universitas Gregoriana Roma.

Tradisi Penumpangan Tangan


Apakah penumpangan tangan oleh umat awam bisa dibenarkan menurut Ajaran Gereja? Bukankah dalam tradisi Gereja penumpangan tangan hanya dilakukan mereka yang tertahbis? Apakah selama ini Magisterium melakukan pembiaran praktik penumpangan tangan oleh awam meskipun salah/

Amel Christine, Jakarta. [Penanya].


Pertama, penumpangan tangan itu sendiri tak mempunyai kuasa magis yang dapat memberikan kekuatan tertentu. Dalam Kitab Suci dan tradisi Gereja tindakan penumpangan tangan dimaknai sebagai tindakan simbolis religius untuk memohonkan rahmat Roh Kudus atau biasa disebut epiklese. Sebagai doa, orang yang menumpangkan tangan memohon kepada Allah karunia Roh Kudus. Menurut Ajaran Gereja, penumpangan tangan adalah “tanda pencurahan Roh Kudus” (KGK 699). Ajaran ini harus dimengerti bahwa karunia Roh Kudus yang diterima bukan berasal dari orang yang menumpangi tangan, tetapi pemberian Roh Kudus melalui doa orang yang menumpangi tangan.

Kedua, ada bermacam-macam karunia Roh Kudus yang bisa dimohonkan dan masing-masing permohonan bisa diungkapkan dengan tindakan simbolis penumpangan tangan. Karena itu dalam Gereja-Gereja Kristen, penumpangan tangan digunakan dalam aneka upacara, baik yang resmi maupun yang tak resmi, missal upacara sakramen-sakramen, pelantikan fungsionaris Gereja, pelayanan penyembuhan, permohonan berkat secara umum dan upacara-upacara religius lainnya.

Dalam Kitab Suci tidak ada pembatasan tentang siapa yang boleh secara eksklusif menggunakan tindakan simbolis penumpangan tangan. Tentu saja karunia Roh Kudus yang dimohonkan dan kemudian diberikan Tuhan tergantung kepada status dan wewenang orang yang menumpangkan tangan. Missal hanaya uskup yang bisa memohonkan dan menerimakan karunia tahbisan Uskup, imam, dan daikon. Hanya imam yang boleh menumpangkan tangan atas roti dan anggur dan memohon perubahan menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Kaum awam boleh menumpangkan tangan untuk memohon karunia Roh Kudus kesehatan, pencerahan, juga yang terkait dengan sakramentali, dan lain-lain.

Ketiga, dalam tradisi Gereja, terutama sejak Konsili Trente, penumpangan tangan memang banyak dilakukan mereka yang tertahbis sehingga terkesan seolah tindakan simbolis itu menjadi eksklusif milik kaum tertahbis. Hal ini terjadi karena Gereja pada waktu itu sangat menekankan imamat ministerial yang diserang oleh kaum Protestan dan sebaliknya kurang menekankan imamat umum, yaitu imamat semua orang yang dibaptis, yang dipromosikan kaum Protestan. Konsili Vatikan II mengembalikan fungsi imamat umum (1 Ptr. 2:4-10) yang seolah terlupakan itu (LG 10-11). Maka sebagai konsekuensinya, kaum beriman awam juga bisa memohonkan karunia Roh Kudus sesuai dengan imamat umum mereka. itulah yang diungkapkan dalam SC 79 (tahun 1963) dan lebih lanjut dituangkan dalam KHK 1168 (1983), “…beberapa sakramentali, sesuai norma buku-bukun liturgi, menurut penilaian Ordinaris wilayah, dapat juga dilayani oleh orang awam yang memiliki sualitas yang sesuai.” Katekismus No. 1669 (1993) merinci dengan lebih jelas, “ Sakramentali termasuk wewenang imamat umum semua orang yang dibaptis, setiap orang yang dibaptis dipanggil menjadi “berkat” dan untuk memberkati. Karena itu, kaum awam dapat melayani pemberkatan-pemberkatan tertentu. Semakin satu pemberkatan menyangkut kehidupan Gereja dan sacramental, semakin pelaksanaannya dikhususkan untuk jabatan tertahbis (Uskup, Imam, dan daikon).”

Keempat, jika setiap orang yang dibaptis dipanggil untuk menjadi berkat dan memberkati, maka mereka secara absah dapat menggunakan tindakan simbolis penumpangan tangan sebagai tandanya, misal untuk memohonkan rahmat bagi anak-anak mereka, memberkati makanan, memberkati anak-anak pada saat Ekaristi. Jadi penumpangan tangan oleh mereka yang tidak tertahbis yang dilakukan dalam doa penyembuhan bisa dibenarkan, dan bukan bentuk pembiaran oleh hirarki.

Disunting oleh Silvester Detianus Gea


Konsultasi Iman “Majalah Hidup-Mingguan Katolik, 30 tahun ke 70- 24 Juli 2016” hlm. 14, oleh Petrus Maria Handoko CM, Imam Kongregasi Misi, Doktor Teologi Dogmatik Universitas Gregoriana Roma.

KESAKSIAN JIMMY AKIN, DARI PEMBENCI KATOLIK JADI PEMBELA IMAN KATOLIK


Meskipun saya mempelajarinya dengan tujuan untuk dapat menariknya keluar dari Gereja Katolik, tapi studi itu justru yang membuat saya menyadari bahwa iman Katolik adalah iman yang benar dari Alkitab.

Saya bertemu dengan calon istri saya, Renee Humphrey, di sebuah pesta tak lama setelah saya menjadi seorang Kristen Protestan. Meski dia seorang Katolik tapi sudah memiliki banyak kepercayaan New Age, saya tetap menyukainya

Renee memiliki sisi melankolis, karena dipengaruhi oleh penderitaan kesehatan yang buruk.
Sejak SMA dia diganggu oleh masalah kesehatan. Masalah medis utamanya adalah kolitis ulserativa, suatu kondisi yang menyebabkan iritasi terus-menerus pada usus besarnya. Kondisi ini melemahkan otot-otot yang menopang tulang punggungnya, menyebabkan vertebra-nya menjepit sarafnya, mengirim pukulan tajam ke bawah kakinya. Bahkan saat dia tidak sakitpun dia selalu berjalan dengan lemas. Bila sarafnya akan kambuh, dia sering tidak bisa berjalan sama sekali. Salah satu hal pertama yang kami beli setelah kami menikah adalah alat peluncur aluminium, jenis yang digunakan oleh orang tua, yang dibutuhkan Renee pada usia 23 tahun.

Sebelum kita bisa menikah, ada beberapa masalah yang harus diselesaikan dengan Renee: Keyakinan New Age dan ajaran Katoliknya. Karena dia adalah seorang pembaca yang rajin, saya memberinya buku reinkarnasi Kristen, dan meyakinkannya bahwa doktrinnya salah. "Besar!" Saya pikir. "Satu masalah akan selesai."

Aku senang telah meyakinkannya untuk tidak menjadi seorang New Ager; Yang harus saya lakukan adalah meyakinkannya agar tidak menjadi seorang Katolik.

Ini adalah sesuatu yang saya tahu harus saya lakukan. Tidak mungkin saya bisa membiarkan saya menikahi dengan seorang Katolik Roma, saat saya berencana menjadi pendeta atau profesor seminari.

Bahkan seandainya saya bisa menemukan seseorang yang mau menahbiskan saya terlepas dari kenyataan bahwa saya memiliki seorang istri Katolik, tetap saya merasa hati nurani tidak menerima untuk penahbisan tersebut.

Saya menyadari bahwa para pelayan Perjanjian Baru diharuskan memiliki solidaritas religius dengan keluarga mereka. Misalnya, Titus 1: 6 mengatakan bahwa anak-anak harus dibesarkan dalam iman Kristen.

Karena keberhasilan yang telah saya dapatkan dengan meminjamkan buku Renee yang mengkritik reinkarnasi, saya memutuskan untuk mencoba strategi ini lagi dan meminjaminya sebuah buku yang mencoba membuat dia mengerti bahwa Vatikan itu sangat buruk. Setelah membacanya, dia berhenti mengidentifikasi dirinya sebagai seorang Katolik dan mulai berbicara tentang dirinya sebagai seorang Anglikan.

Meskipun saya tidak berhasil melepaskan keterasingan sepenuhnya dari agama Katolik, ini tidak masalah bagiku. Saya menginginkannya dalam denominasi yang sama dengan saya, tapi saya bisa memutuskan untuk menjadi seorang Anglikan, setidaknya untuk saat ini. Saya berasumsi bahwa tugasnya dalam Anglikanisme akan menjadi tahap lanjutan sebelum dia memasuki Evangelikalisme yang taat.

Ternyata saya salah. Sesudah Renee menjadi Anglikan, dia dan saya sudah menikah, dan tak lama setelah pernikahan kami, Renee kembali ke agama Katolik. Karena keadaan ini saya berpikir harus meninggalkan harapan saya untuk berkarir sebagai pelayan kebenaran, satu-satunya hal yang ingin saya lakukan dengan hidup saya, dan saya harus meninggalkan citra diri saya sebagai guru Firman Tuhan.

Hal ini membuat stres pada pernikahan kita yang dinyatakan bahagia. Hal-hal berubah menjadi buruk saat Renee menemukan sesuatu yang sudah saya duga tapi tidak pernah dikatakan: Pernikahan kita tidak berlaku di mata Gereja Katolik. Akibatnya, Renee tidak bisa menghadiri sakramen. Keadaan ini menyebabkan dia sangat menderita dan membuat ketegangan di antara kami semakin kuat. Dia tidak mau meninggalkan saya, dan saya tidak ingin menikah lagi di Gereja Katolik.

Situasinya diperumit oleh fakta saya menolak membawanya ke Misa. Ini berarti dia tidak bisa hadir dalam Misa.

Tapi keadaan mulai berubah. Sejak menjadi seorang Kristen saya telah membaca teologi secara intensif, namun saya mulai membuat penemuan di dalam Alkitab yang mengganggu saya. Misalnya, ajaran "katolik" mengejutkan dari ayat-ayat tertentu melompat ke arah saya. Saya terganggu oleh pernyataan Kristus tentang para rasul yang memiliki kuasa untuk mengikat dan melepaskan (Matius 16:18 dan 18:18) dan tentang mereka memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Yohanes 20: 21-23). Saya tidak tahu harus berbuat apa, jadi saya cukup menyingkirkannya, dengan berencana untuk menghadapinya nanti.

Ketika waktunya tiba untuk menghadapinya, saya harus menyimpulkan bahwa Yesus bermaksud persis seperti yang dia katakan: Para murid dan penerus-Nya benar-benar memiliki kuasa untuk mengampuni dan mempertahankan dosa. Saya harus mengakui kepada diri sendiri bahwa umat Katolik benar tentang sakramen pengakuan dosa, dan Presbyterianisme tidak selaras dengan Kitab Suci untuk hal ini.

Salah satu hal yang membantu saya sampai pada kesimpulan ini adalah sebuah makalah yang ditulis oleh Leon Holmes.

Leon biasa menghadiri gereja tempat saya beribadah, tapi beberapa saat sebelum saya mulai hadir disana dia dan keluarganya telah pindah. Akhirnya mereka menjadi Katolik dan menetap di Little Rock. Leon menulis sebuah makalah tentang Maria dan mengirimkannya ke teman-teman di Fayetteville; Saya adalah salah satu orang yang membacanya. Meskipun pada saat itu saya pikir saya bisa menolak sebagian besar dari apa yang dia katakan, ada satu bagian di koran yang membuat saya menggeliat.

Leon menulis, "Sebagian besar perbedaan Katolik yang dikritik oleh saudara Injili kita berakar dalam mengambil Kitab Suci dengan tafsiran nominal."

Klaim ini mengejutkan kepekaan saya. "Apa maksudnya? Umat Katolik membawa Alkitab pada nilai nominal pada poin di mana orang-orang Protestan mengkritik mereka?"

Tanyaku, terperangah memikirkan hal itu. "Bagaimana dia bisa mengatakannya? Semua orang tahu itu dia Injili bukan orang Katolik, tapi menganggap Alkitab sebagai nilai nominal!" Leon meneguhkan pernyataan mengejutkannya dengan mengutip ayat-ayat ini: "Yesus berkata kepada mereka, 'Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak memiliki hidup di dalam kamu'" (Yohanes 6 : 53); "Inilah tubuhku ..." (Lukas 22:19); "Aku berkata kepadamu sesungguhnya, jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, dia tidak dapat masuk ke dalam kerajaan Allah" (Yohanes 3: 5); "Tidakkah kamu tahu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematiannya? (Roma 6: 3); "baptisan ... sekarang menyelamatkanmu ..." (1 Pet 3:21);

"Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."(Yohanes 20:23);

"Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.(Matius 16:18).

Saya pikir saya bisa mengatasi sebagian besar ayat ini, tapi saya tidak tahu bagaimana menolak interpretasi Katolik dari 1 Petrus 3:21 dan Yohanes 20:23. Yang paling mengejutkan adalah saran bahwa teologi Katolik bertumpu pada penafsiran Alkitab secara literal. Pikiran ini tinggal bersamaku dan terus menggangguku. Akhirnya, hal itu memainkan peran penting dalam pertobatan saya ke Gereja Katolik.

Doktrin sola scriptura juga mulai mengganggu saya saat saya bertanya-tanya bagaimana kita bisa tahu dengan pasti buku mana yang adalah Firman Tuhan yang bisa masuk dalam Alkitab. Beberapa kitab Perjanjian Baru, seperti Injil sinoptik, bagaimana kita dapat megetahui kisah sejarah Yesus yang dapat dipercaya, sedangkan ada sejumlah buku Perjanjian Baru (misalnya, Ibrani, Yakobus, 2 Petrus, 2 dan 3 Yohanes, Yudas, dan Wahyu) yang kepenulisan dan status kanonisnya diperdebatkan di Gereja perdana. Tapi akhirnya Gereja memutuskan untuk menerimanya dan memasukkan ke dalam kanon buku-buku yang diilhami,Tapi saya melihat bahwa saya, yang dua ribu tahun sejak tulisan itu ditulis tidak mungkin membuktikan bahwa karya-karya ini benar-benar Firman Tuhan.

Saya hanya bisa percaya apa yang diajarkan Gereja.Ini berarti bahwa untuk satu doktrin yang sangat mendasar - yaitu doktrin tentang apa itu Kitab Suci - saya harus mempercayai Gereja Katolik karena tidak ada jalan yang ditunjukkan dari dalam Kitab Suci sendiri kitab-kitab apa saja sebenarnya yang menjadi Kitab-kitab Injil.

Tapi saya menyadari bahwa dengan melihat ke Gereja Katolik sebagai saksi yang otentik dan andal terhadap kanon, berarti saya telah melanggar prinsip sola scriptura.

Teori "Hanya Alkitab" ternyata menyangkal diri sendiri, karena Alkitab tidak dapat memberi tahu kita buku mana yang termasuk dalam Firman Tuhan dan yang tidak!

Terlebih lagi, pelajaran saya dalam sejarah Gereja menunjukkan bahwa kanon Alkitab tidak akhirnya diselesaikan sampai sekitar tiga ratus tahun setelah rasul terakhir meninggal. Jika saya ingin mengklaim bahwa Gereja telah melakukan tugasnya dan memilihkan buku-buku yang tepat untuk Alkitab, ini berarti bahwa Gereja telah membuat keputusan sempurna tiga ratus tahun setelah zaman kerasulan, sebuah kesadaran yang membuatnya dapat dipercaya bahwa Gereja Katolik berarti bisa membuat keputusan yang tidak keliru, dan itu berarti Gereja dapat membuat keputusan seperti itu sampai hari ini.

Penemuan
Satu atau dua tahun setelah membaca makalah Leon tentang Maria, saya membaca sebuah buku dari seorang penulis Katolik yang memberikan sebuah kutipan panjang dari Matius 16 di bagiannya tentang Paus.

Dalam bagian ini, Kristus berkata, "Anda adalah Petrus dan di atas batu karang ini saya akan membangun Gereja-Ku."

Sampai saat ini saya selalu mengira batu di mana Gereja dibangun adalah wahyu bahwa Yesus adalah Kristus, dan saya dapat membantah posisi ini dengan baik. Saat mata saya mengamati bagian itu, saya melihat untuk pertama kalinya sebuah ciri struktural dalam teks yang mengharuskan Petrus menjadi batu karang.

Dalam Matius 16: 17-19 Yesus membuat tiga pernyataan kepada Petrus:
(a) "Berbahagialah kamu, hai Simon Bar-Yunus,"
(b) "Kamu adalah Petrus," dan
(c) "Aku akan memberi kamu kunci kerajaan surga. "

Pernyataan pertama jelas merupakan berkah, sesuatu yang membangun Petrus dan memperbesarnya. Kristus menyatakan dia diberkati karena dia menerima wahyu khusus dari Tuhan.

Pernyataan ketiga juga merupakan berkat: Kristus menyatakan bahwa dia akan memberi Petrus kunci kerajaan. Ini jelas sebuah ucapan selamat, sesuatu yang memperbesar dan membangun Petrus..

Dan jika pernyataan Kristus yang pertama dan yang ketiga kepada Petrus adalah berkat, pernyataan tengah, dalam konteks langsungnya, juga harus menjadi berkat.

Ini menjadi masalah, karena untuk mempertahankan pandangan bahwa Petrus bukanlah batu tempat dibangunnya Gereja, saya harus mengajukan banding atas perbedaan kecil dalam teks Yunani antara kata yang digunakan untuk Petrus (<petros>) dan kata yang digunakan untuk rock (<petra>).

Menurut interpretasi anti-Katolik standar, <petros> berarti "batu kecil" sementara <petra> berarti "sebuah batu besar," dan pernyataan "Anda adalah Petrus [<Petros]]," harus ditafsirkan sebagai sesuatu yang menekankan Petrus tidak penting.

Orang-orang evangelis menggambarkan kata Kristus memiliki arti, "Anda adalah batu kecil, Petrus, tapi saya akan membangun Gereja saya di atas batu karang yang besar ini yang merupakan wahyu dari identitas saya."

Satu masalah dengan penafsiran cara ini, masalah yang akan diakui banyak ilmuwan, adalah bahwa sementara <petros> dan <petra> memiliki arti ini dalam beberapa puisi Yunani kuno, perbedaannya telah hilang pada abad pertama, ketika Matius Injil ditulis Pada saat itu dua kata itu sudah berarti hal yang sama: yaitu sebuah batu.

Masalah lainnya adalah ketika dia berbicara kepada Petrus, Yesus tidak berbicara dalam bahasa Yunani, tapi bahasa Aram, bahasa sepupu bahasa Ibrani. Dalam bahasa Aram tidak ada perbedaan antara dua kata seperti dalam bahasa Yunani diterjemahkan menjadi <petros> dan <petra>. Yang ada hanyalah <kepha>;

Itulah sebabnya mengapa Paulus sering menyebut Petrus sebagai <Cephas> (lih 1 Korintus 15: 5, Galatia 2: 9).

Apa yang sebenarnya Kristus katakan adalah, "Kamu <kepha> dan tentang ini <kepha> saya akan membangun Gereja-Ku."

Tetapi jika kata-kata <petros> dan <petra> memiliki arti yang berbeda, pembacaan orang-orang anti Katolik terhadap dua "batu" yang berbeda tidak sesuai dengan konteksnya. Pernyataan kedua kepada Petrus akan menjadi sesuatu yang meminimalkan atau menguranginya, menunjukkan ketidakbenarannya, dengan hasil yang Yesus katakan, "Terpujilah Engkau, Simon bin Yunus! (Anda adalah kerikil kecil yang tidak penting.) Inilah kunci kerajaan surga! " Urutan pernyataan yang tidak sesuai semacam itu tidak hanya aneh, tapi tidak dapat dijelaskan. (Banyak komentator P mengenali ini dan melakukan yang terbaik untuk menolak pengertian yang jelas dari bagian ini, betapapun tidak masuk akal penjelasan mereka.)

Saya juga memperhatikan bahwa tiga pernyataan Tuhan kepada Petrus memiliki dua bagian, dan bagian kedua menjelaskan yang pertama. Alasan Petrus "diberkati" adalah karena "bukan manusia yang mengatakan hal ini kepadamu, melainkan Bapaku yang ada di surga" (ayat.17).

Arti perubahan nama, "Anda adalah Batu karang", dijelaskan oleh janji, "Di atas batu karang ini saya akan membangun gereja saya, dan alam maut tidak akan menguasainya" (ayat 18).

Tujuan dari kunci tersebut dijelaskan oleh Yesus, "Apa pun yang Anda ikat di bumi akan terikat di surga, dan apapun yang Anda lepas di bumi akan dilepaskan di surga" (ayat 9).

Pembacaan yang cermat dari ketiga pernyataan ini, perhatikan konteks dan keterkaitan langsung mereka, dengan jelas menunjukkan bahwa Petrus adalah batu karang yang dengannya Yesus berbicara.

Pertimbangan ini dan pertimbangan lainnya menunjukkan kepada saya bahwa tafsiran anti-Katolik standar dari teks ini tidak dapat bertahan dalam pengamatan Alkitab yang hati-hati. Mereka terpaksa memasukkan pernyataan tengah itu kepada Petrus dari konteksnya.

Saya membalikkan interpretasi saya dan menyimpulkan bahwa Petrus memang adalah batu karang di mana Yesus membangun Gereja-Nya. Inilah yang pembaca tidak bias melihat struktur tata bahasa dan sastra teks dan menyimpulkan.

Jika Petrus sebenarnya adalah batu yang sedang Yesus bicarakan, itu berarti dia adalah kepala rasul (teks Yunani mengungkapkan bahwa Petrus sendiri dipilih untuk pujian ini, dan dia sendiri diberi wewenang khusus yang dilambangkan dengan kunci kerajaan surga, meskipun murid-murid lain berbagi dalam arti yang lebih umum otoritas Petrus untuk mengikat dan melepas (lihat Mat 18:18).

Jika dia adalah kepala rasul, maka begitu Kristus naik ke surga, Petrus pasti adalah kepala duniawi dari Gereja, yang tunduk pada kepemimpinan surgawi Kristus.

Dan jika Petrus adalah kepala Gereja duniawi, dia sesuai dengan definisi paling dasar dari Paus.
Sebagai hasilnya, saya harus menyimpulkan bahwa umat Katolik benar dalam mengatakan bahwa Petrus adalah paus pertama. Apakah Kristus bermaksud untuk menjadi paus lain adalah sebuah pertanyaan yang masih harus saya selesaikan, tapi sudahkah saya cukup mengerti untuk mengetahui bahwa saya harus menyelidiki kembali teologi Katolik.

Jika umat Katolik bisa benar dalam masalah ini, mereka bisa saja benar dalam masalah lain juga. Saya merasa tidak nyaman untuk mengetahui bahwa mereka benar dalam sakramen baptisan dan pengakuan dosa.

Saya tahu bahwa saya banyak melakukan penyelidikan teologis, jadi pada tahun berikutnya saya mulai membaca ajaran Katolik secara intensif. Selama masa ini saya memperlunak sikap saya tentang Katolik. Saya mulai membawa istri saya ke Misa dan juga bersedia untuk menikah di Gereja.

Pada tanggal 1 Desember 1991, dia dan saya menikah dengan Fr. Mark Wood, pastor dari paroki yang dihadiri Renee dan saya. Layanan ini sangat sederhana (kami memiliki dua saksi, saudara perempuan dan keponakan perempuan saya), dan hanya butuh lima menit. Pernikahan terpendek yang pernah saya jalani adalah milik saya sendiri, tapi tetap sangat berarti bagi kami berdua.

Sejauh yang diketahui Renee, pandangan saya tentang Katolik telah melunak tapi saya tetap menentang Gereja Katolik dengan alasan teologis.

Saya memutuskan untuk tetap bersembunyi darinya tentang kenyataan bahwa saya benar-benar berpikir untuk berkonversi ke iman Katolik.

Setelah semua yang kita alami, saya tidak dapat dengan kejam mewujudkan harapannya dan kemudian mengecewakannya jika saya menemukan beberapa kesalahan fatal dalam ajaran Katolik.

Pada bulan Januari 1992 saya membiarkan Renee masuk dalam rahasia yang telah saya simpan dan mengatakan kepadanya bahwa saya mungkin akan bergabung dengan Gereja Katolik. Hal ini membuatnya bahagia, meski ironisnya, aku tampak lebih bersemangat daripada dia.

Saat Prapaskah mendekat, saya mulai membuat rencana untuk memasuki Gereja pada Malam Paskah. Ini tidak berhasil, tapi dalam proses bersiap-siap, saya memberi tahu teman-teman Protestan saya tentang arah yang sedang saya jalani. Mereka mengambil berita itu dengan cukup baik; Bagaimanapun, beberapa dasar telah diletakkan saat keluarga Leon dan sejumlah orang lain dari gereja saya menjadi orang Katolik.

Satu hal yang saya khawatirkan adalah karena istri saya adalah orang Katolik mungkin mengira saya berkonversi untuk menyenangkan hatinya. Ini jelas bukan masalahnya. Pada tingkat manusia, jika interaksi saya dengannya melawan Katolik akan melakukan sesuatu, hal itu akan membuat saya membenci Gereja. Ahli apologi Katolik Scott Hahn pernah mengatakan kepada saya bahwa dia terkejut bahwa saya sama sekali tidak menyerah dalam teologi setelah saya menderita kekecewaan dalam melepaskan karir saya karena Renee seorang Katolik. Untung teman-teman Protestan saya mengenal saya dengan cukup baik untuk mengetahui bahwa ini bukan pertobatan demi pernikahan saya.

Lalu sesuatu terjadi yang akan mengubah hidup saya selamanya. Pada akhir Juni 1992, tak lama setelah ulang tahunnya yang kedua puluh tujuh, Renee jatuh sakit. Awalnya kami mengira itu adalah flare-up dari kolitis ulserativa, karena gejalanya sama: kehilangan nafsu makan, sakit usus periodik, dan kelemahan umum. Apapun itu, itu juga memicu refleks di tubuhnya yang menyebabkan sakit punggung dan sakit kepala yang parah.

Aku sulit mengetahui berapa lama Renee harus hidup.
Saya menyadari bahwa segala sesuatunya bergerak terlalu cepat, jadi saya menelepon paroki Renee dan meninggalkan pesan untuk pastor, yang kemudian datang ke kamar rumah sakit kami malam itu. Dia dan saya berbicara tentang kondisi Renee dan tentang kedatangan saya ke Gereja Katolik

Seminggu sebelumnya saya telah mengatakan kepadanya bahwa saya hampir siap untuk bergabung. Saya telah sedikit banyak siap secara intelektual untuk beberapa waktu, tapi ketika kami menemukan bahwa Renee menderita kanker usus besar, saya mulai merasa bahwa Tuhan telah mengatakan bahwa saya telah menunda cukup lama dan inilah saatnya untuk membuat sebuah komitmen.

Fakta bahwa istri saya sekarat tidak menentukan bahwa saya akan bergabung dengan Gereja Katolik, tapi ini membantu menjawab pertanyaan kapan saya akan bergabung: segera.

Saya sangat ingin memberinya hadiah dengan kita berdua bersatu dalam satu Gereja dan satu iman sebelum dia meninggal. Saat itu adalah malam Jumat ketika saya merencanakan untuk memasuki Gereja pada hari Minggu berikutnya. Tapi pada hari Sabtu pagi, kondisi Renee menjadi sangat kritis, dan saya diberitahu bahwa dia bisa berhenti bernapas setiap saat. Seorang dokter sudah dipanggil, dan dia diharapkan menempatkan Renee di unit perawatan intensif.

Saya menelepon Fr. Wood dan mengatakan kepadanya bahwa kami harus memindahkan jadwal kami. Saya perlu masuk ke Gereja sekarang. Tidak bisa menunggu sampai hari berikutnya. Dia bilang dia akan berada di sana.

Tapi sebelum dia tiba, dokter tersebut datang dan memberi tahu saya bahwa dia telah memeriksa rontgen dada Renee, dan bahwa pneumonia yang dikhawatirkan oleh perawat bukanlah masalahnya. Masalah pernapasannya disebabkan oleh banyak tumor kecil di paru-parunya.

Sementara prognosis jangka panjangnya tidak lebih baik, dia tidak seperti bahaya langsung yang kami duga. Dokter memperkirakan mungkin masih tinggal beberapa minggu lagi.

Berita ini sangat menggembirakan. Saya khawatir dia akan segera meninggal dalam beberapa hari ke depan. Paling tidak begini, dia dan saya memiliki sedikit waktu untuk mempersiapkan diri bagi perpisahan yang kami tahu akan datang.

Tak lama setelah itu, Renee menerima suntikan morfin pertamanya. Kemudian pastor tiba. Secara pribadi, dia memberi saya sakramen pengakuan. Kemudian, di ruang rumah Renee, dalam keadaan darurat, melakukan ritus yang dipersingkat, dia membawa saya ke Gereja. Dia memberi saya pembaptisan bersyarat dan kemudian mengkonfirmasi saya. Setelah memberi Renee urapan orang sakit, dia memberi kami Ekaristi, yang dia bawa dari tabernakel di paroki kami.

Istri saya dan saya menerima komuni bersama untuk pertama kalinya dan terakhir, membagikan potongan dari roti yang sama. Meskipun Renee bisa menerima komuni keesokan harinya, saya tidak hadir untuk itu. Inilah satu-satunya saat kita berdua akan berbagi Tuhan Yesus dengan cara ini.

Karena suntikan morfin yang telah diterimanya Renee sebelum pastor tiba, dia sangat mengantuk saat saya masuk ke Gereja. Tapi dia tahu apa yang sedang terjadi dan mencoba untuk berpartisipasi sebaik mungkin, seperti saat dia bisa makan sepotong roti saat kami menerima komuni. Ketika penerimaan saya ke dalam Gereja Katolik selesai, saya memeluknya dan mengatakan bahwa saya berada di dalam Gereja. Ada senyum indah dan damai di wajahnya-senyum yang bertahan lama.

Keesokan paginya saya berbicara dengan Scott Hahn di telepon sekitar pukul 10.30 pagi. Kami berdua telah menjadi teman bertelepon selama proses konversi saya. Dia akan berdoa di depan Ekaristi Kudus jam 11:00, jadi saya memintanya untuk berdoa agar Renee menanggapi secara rohani hal-hal yang saya katakan kepadanya, bahwa dia akan mati dengan cepat, dan bahwa dokter tidak dapat melakukan resusitasi nya.

Scott pergi untuk berdoa di depan Ekaristi jam 11:00, dan Renee meninggal sekitar pukul 11:10. Seperti yang kemudian saya sadari, Scott ada di depan Yesus yang berdoa untuk hal-hal yang persis sama persis seperti yang mereka alami-sebuah kebetulan ilahi yang sangat menghibur saya. Pada akhirnya Renee menatap lurus ke mataku. Kukatakan padanya bahwa semuanya akan baik-baik saja, untuk mempercayai Tuhan, dan bahwa aku mencintainya. Lalu aku menciumnya di bibir. Dengan itu, Renee dan aku berpisah.

Saya percaya bahwa Tuhan membawa kita bersama untuk saling memberi karunia. Saya memberinya karunia kebebasan dari gerakan New Age, dan pada akhirnya saya membantu memberinya pemberian hidup yang kekal. Renee membantu memberi saya karunia Katolik karena sebagai akibat perkawinan saya dengannya, saya belajar teologi Katolik lebih keras daripada yang seharusnya saya miliki.

Meskipun saya mempelajarinya dengan tujuan untukj dapat menariknya keluar dari Gereja, tapi studi itu justru yang membuat saya menyadari bahwa iman Katolik adalah iman yang benar dari Alkitab.

Sumber:
http://www.ewtn.com/library/ANSWERS/AKINSTOR.htm

Katakese Singkat Mengenal Persekutuan Para Kudus

 “Janganlah kita melupakan mereka yang telah meninggal dalam doa kita. Janganlah kita melupakan Para Bapa Bangsa, Para Nabi, Para Rasul, dan Para Martir yang membawa permohonan-permohonan kita kepada Allah; janganlah kita melupakan Para Bapa Suci dan Para Uskup yang telah meninggal juga semua orang yang paling dekat dengan kita yang membawa permohonan-permohonan kita kepada Allah.” (St. Cyril of Jerusalem (ca. 350) Catechetical Lectures, 23 [Mystagogic 5], 90)
Kami sebagai orang Katolik menghormati Persekutuan Para Orang Kudus, tetapi kami sebagai umat Katolik tidak menyembah Para Kudus tersebut. Karena Hanya Allah yang layak dan patut untuk disembah (Mat 4:10; Luk 4:8; Kis 10:26). Kami menghormati para kudus sebab jika kita boleh menghormati ayah dan ibu kita ,maka mengapa kita tidak boleh menghormati Para Kudus? Dalam kitab suci tertulis bahwa Petrus ,Yakobus, dan Yohanes menyembah Yesus sambil menghormati Elia dan Musa pada waktu peristiwa Transfiguraasi (Markus 9:4),Yosua jatuh bersujud di hadapat seorang malaikat (Yos 5:14),Daniel Jatuh bersujud di hadapan Malaikat Gabriel(Dan 8:17),Tobias dan Tobit jatuh ke tanah di hadapan Malaikat Rafael (Tob 12:16). Jika orang-orang besar ini boleh menghormati Para Malaikat dan Orang Kudus, mengapa kita tidak boleh?

Sebagai umat Katolik kami mengakui bahwa hanya ada satu Pengantara, Yesus Kristus (1 Tim 2:5). Kami mengakui bahwa Yesus Kristus merupakan satu-satunya Pengantara, tetapi Ia telah mengaruniakan kami dan Para Kudus dengan kemampuan untuk terikat satu sama lain dalam satu kepengantaraan tersebut.

Seperti yang di katakan Paulus: “Jadilah pengikutku sama seperti aku juga jadi pengikut Kristus” (1 Kor 11:1; juga 1 Tes. 1:6-7; 2 Tes. 3:7). Dengan kata lain, lakukan apa yang saya lakukan seperti saya melakukan apa yang Kristus lakukan. Bukankah ini berarti melayani dalam Pengantaraan Kristus? Demikian juga, 1 Tes 1:5-8 mengingatkan kita bahwa kita harus menjadi teladan bagi orang beriman dan Ibrani 13:7 mengingatkan kita supaya mengingat para pemimpin kita dan supaya kita mengingat dan mencontoh iman dan kehidupan mereka. Dengan menjadi seorang Kristiani dan dengan menjadi seorang teladan dari Kristus, seseorang berbagi dalam kepengantaraan Kristus. Paulus juga mengingatkan kita bahwa kita menggenapkan apa yang kurang pada penderitaan Kristus untuk Tubuh-Nya, yaitu Gereja (Kol 1:24). Jika demikian, maka menjadi seorang Kristiani berarti bahwa kita, oleh karena kodrat kita, berbagi dalam satu kepengantaraan Kristus.

Kodrat sesungguhnya dalam menjadi seorang Kristiani adalah untuk menjadi seorang pengantara / mediator karena kita adalah gambar dan rupa Kristus, yang mana hal ini berarti kita harus bertumbuh dalam kekudusan, berbagi dalam penderitaan Kristus. Dan dengan berbagi dalam penderitaan-Nya berarti bahwa seseorang berbagi dalam pengorbanan Yesus dalam Salib kepada Allah Bapa. Seperti Kristus yang menderita pada kayu salib untuk keselamatan kita, kita merupakan orang-orang yang berperan dalam karya penebusan Kristus oleh karena penderitaan kita sebagai seorang Kristiani dan oleh karena kita adalah gambar dan rupa Kristus. Kehidupan orang beriman adalah pengorbanan yang hidup bagi Allah.

Kitab Suci menunjukkan bahwa Para Kudus adalah yang pertama dan terutama berada di Surga bersama Kristus sebelum kebangkitan badan pada akhir zaman nanti (2 Makabe 15:11-16; Markus 12:26-27; Luk 23:43; 2 Kor 5:1, 6-9; Fil 1:23-25; Wahyu 4:4, 6:9, 7:9; 14:1, 19:1,4-6). Allah adalah Allah orang hidup bukan Allah orang mati (Mrk 12:26-27). Penyamun di kayu salib yang memandang Yesus, bertobat dan diberitahu Yesus bahwa ia akan berada di Firdaus bersama dengan Kristus pada hari itu. (Luk 23:43). Dalam Ibrani 12:1, kita diingatkan bahwa kita dikelilingi oleh awan saksi-saksi surgawi. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengingatkan kita bahwa Para Martir berada dalam tangan Allah (Wahyu 6:9-11; 20:4 ; Kebijaksanaan Salomo 3:1-6). Kitab Didache yang memuat pengajaran Para Rasul menegaskan: “Tuhan akan datang dan seluruh orang kudus-Nya bersama Dia.”

Kitab Suci menunjuk pada fakta bahwa umat beriman di bumi berada dalam persekutuan dengan Para Kudus di surga (1 Kor 12:26; Ibr 12:22-24), dan bahwa mereka membantu kita melalui doa-doa syafaat mereka (Luk 16:9, 1 Cor 12:20; Why 5:8). Sebagai contoh, Kitab Suci menunjukkan bahwa “Dalam hidupnya (Elisa) memperlihatkan mujizat-mujizar dan setelah kematiannya, perbuatan-perbuatan  yang mengagumkan” (Sir 48:14). Bahkan setelah kematiannya, Elisa menjadi perantara bagi kita dan membawakan kita hal-hal “yang mengagumkan”. Dalam Tobit 12:12, kita melihat bagaimana seorang Malaikat mempersembahkan doa-doa dari dua orang manusia kepada Allah.

Betapa sedih bagi saya sebagai seorang Imam Katolik ketika mendengar kalimat “sampai kita bertemu kembali” dari orang-orang atau denominasi-denominasi Protestan lain ketika ada anggota keluarga mereka yang meninggal. Bagi umat Katolik, hubungan kita tidak pernah berakhir. Persekutuan yang kita bagi dengan orang lain di bumi (1 Kor 12:24-27) adalah sesuatu yang berlanjut di dalam Api Penyucian dan Surga. Bentuk hubungan kita memang berubah, tetapi hubungan tersebut berlanjut ke dalam keabadian. Betapa membahagiakan mengetahui bahwa kita dapat membantu orang-orang melalui doa-doa kita ketika mereka sedang dimurnikan dalam Api Penyucian (2 Mak 12:45). Betapa membahagiakan mengetahui bahwa dari surga, mereka sedang menjadi pendoa dan perantara bagi kita dalam kehadiran Allah. (bdk Why 5:8; 1 Kor 12:20; Ibr 12:22)

Saya memikirkan ayah saya yang meninggal 20 tahun lalu. Seperti dia yang mencintai saya, merawat saya dan berdoa bagi saya dalam perjalanan duniawinya, apa yang kamu pikirkan yang sedang ia lakukan di surga? Dia sedang mencintai saya, sedang merawat saya dan sedang berdoa bagi saya. Tetapi sekarang doa-doanya lebih berdaya guna, karena doa-doa tersebut adalah doa-doa dari seorang manusia yang telah dimurnikan dan disempurnakan. Doa-doa tersebut adalah doa-doa yang sungguh terbaik dari ayah saya. Jadi ketika saya sedang mengalami hari yang sulit, saya dapat berdoa kepada ayah saya dan berkata, “Hei Ayah, daraskanlah sedikit doa kepada Allah bagiku.” dan ia akan melakukannya. Atau saya dapat berkata ketika saya sedang mengalami hari yang menyenangkan, “Hei Ayah, katakanlah sedikit ucapan terimakasih kepada Allah bagiku.” dan ia akan melakukannya. Dalam banyak cara, ayah saya lebih dekat dengan saya sekarang dari pada sebelumnya. Betapa karunia yang begitu mulia!

Marilah kita jangan pernah menjadi takut untuk meminta perantaraan Para Kudus di surga, karena mereka adalah karunia yang telah Allah percayakan kepada dunia. Berapa banyak tumor dan kanker yang menghilang melalui perantara Para Kudus? Berapa banyak penyakit telah disembuhkan melalui perantara Para Kudus? Sejarah menunjukkan perantara yang menakjubkan dari Para Kudus dan persekutuan mereka dengan kita.

Saya menganjurkan anda sekalian untuk memeriksa peristiwa-peristiwa sejarah mengenai Para Kudus yang dikanonisasi dan proses kanonisasi itu sendiri. Saya juga menganjurkan untuk memeriksa peristiwa-peristiwa mengenai penampakan Bunda Maria khususnya Lourdes dan Fatima. Allah kita bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. (Mat 22:32; Mrk 12:27)

Kristus adalah Satu-satunya Pengantara yang benar, tetapi kita dan Para Kudus yang berada dalam persekutuan dengan kita telah dikaruniai untuk berbagi dalam satu kepengantaraan tersebut.

Lebih jauh lagi, kita tidak boleh pernah melupakan Orang Kudus terbesar dari semuanya, St. Perawan Maria. Pada pesta perkawinan di Kana, adalah St. Maria yang menyampaikan permintaan dari pasangan mempelai supaya mereka memiliki lebih banyak anggur. Yesus melakukan mujizat pertamanya, mengubah air menjadi anggur, untuk ibu-Nya. (Yoh 2:1-11)

Semoga kita tetap berada dalam persekutuan dengan Allah dan semua Para Kudus-Nya, karena mencintai dan menghormati Para Kudus adalah berarti menghormati Allah (bdk Gal 1:24) karena Para Kudus adalah keindahan dari ciptaan dan kehendak-Nya.

Persekutuan Para Kudus merupakan tanda dari realitas Tritunggal Mahakudus. Semua manusia menggemakan gambar Tritunggal Mahakudus. Karena Tritunggal Mahakudus adalah persekutuan Pribadi-pribadi Ilahi, sebuah persekutuan Cinta Kasih (Kej 1:26), maka sangat masuk akal bahwa apa yang Ia ciptakan dalam gambar dan rupa-Nya akan terikat satu sama lain dalam sebuah persekutuan Cinta Kasih yang sama.

Kita layak untuk memberikan perhormatan kepada Para Kudus dan Para Malaikat karena persatuan mereka dengan Pencipta meraka,Allah Bapa Seperti 1 Yoh 3:2 jelaskan, “kita akan menjadi sama seperti Dia,  sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.” Jika demikian, maka Para Kudus layak untuk dihargai dan dihormati.

sumber : http://www.indonesianpapist.com/2011/11/katekese-mengenai-persekutuan-para.html

Merah Putih di Altar



Pada Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia, apakah pemasangan bendera Merah Putih di panti imam, tidak bertentangan dengan sifat Gereja yang universal? Bagaimana jika bendera Merah Putih dipajang di altar untuk seterusnya demi menekankan moto 100 persen Katolik 100 persen Indonesia? Bolehkah disertai dengan bendera Vatikan? Bagaimana jika bendera Vatikan (Kuning Putih) yang terus menerus dipajang di panti imam?

Stefanus Hari Widjaja, Malang.


Pertama, Gereja kita adalah Katolik, artinya bahwa Gereja tidak terikat pada satu budaya, tetapi bisa masuk dan diungkapkan dengan setiap budaya yang ada di seluruh dunia. Iman Kristiani bisa meresapi bukan hanya budaya, tetapi juga setiap negara. Karena itu, pada kesempatan perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, sungguh sangat cocok menempatkan bendera Merah Putih di panti imam sebagai ungkapan sifat universal dari Gereja. Jadi, hal ini justru harus dilihat sebagai ungkapan konkret yang sesuai, dan bukan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan sifat Universal (Katolik) Gereja..

Perlu diperhatikan, bahwa penempatan bendera Merah Putih itu hanya terjadi pada perayaan Kemerdekaan 17 Agustus dan bukan sepanjang tahun. Seandainya pada hari itu ada orang-orang asing (bukan WNI) yang ikut serta dalam perayaan Ekaristi itu, kiranya mereka akan bisa mengerti dan sama sekali tidak akan berkeberatan. Juga, tidak ada peraturan liturgis yang dilanggar oleh penempatan Bendera Merah Putih di panti imam, pada perayaan Kemerdekaan seperti itu.

Kedua, penempatan bendera Merah Putih pada perayaan Kemerdekaan, bisa dibandingkan dengan Misa inkulturasi dengan gaya budaya-budaya di Indonesia. Misalnya, Misa inkulturasi Jawa, Bali, Batak, Sunda, Madura, Tionghoa, dll. Demikian pula, pada perayaan Kemerdekaan itu, hiasan dan pakaian bisa menggunakan ungkapan kekayaan budaya Indonesia yang ada.

Ketiga, masalahnya menjadi berbeda jika bendera Merah Putih diletakkan di panti imam terus-menerus sepanjang tahun (permanen). Moto 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia harus diakui kebenarannya, tetapi hal ini tidak boleh melukai umat yang bukan WNI yang kebetulan mengikuti perayaan Ekaristi. Jadi, sifat particular (Indonesia) bisa dibenarkan tetapi sifat universal (Katolik) juga harus tetapi dijaga. Pada umumnya di seluruh Gereja Katolik di seluruh dunia, bendera negara tidak ditempatkan terus-menerus di panti imam, termasuk juga bendera Vatikan (Kuning Putih). Perayaan Ekaristi tidak mengenal atau terkait dengan negara tertentu dan tidak mengenal batas politis. Dari sudut ajarannya, perayaan Ekaristi tidak terkait dengan negara Vatikan. Maka, tidak perlu secara permanen memasang baik bendera Merah Putih maupun bendera Kuning Putih di panti imam pada perayaan Ekaristi.

Keempat, Penempatan bendera Merah Putih tidak perlu ditemani dengan bendera Vatikan, karena yang dirayakan ialah Kemerdekaan Republik Indonesia yang tidak terkait dengan negara Vatikan. Bapa Suci adalah kepala negara Vatikan. Memang dia juga adalah pemimpin iman kita. Tetapi kita bukanlah warga negara Vatikan. Menjadi Katolik tidak secara otomatis membuat kita menjadi warga negara Vatikan. Bagi negara Vatikan kita warga negara Indonesia adalah orang asing. Perlu paspor dan visa untuk masuk ke dalam Vatikan. Bendera Vatikan Kuning Putih bisa dipasang ketika kita menyambut kedatangan Bapa Suci sebagai tamu negara.

Kelima, Pedoman Umum Misa Romawi tidak memasukkan bendera atau simbol nasional lainnya sebagai barang yang harus dipasang di altar pada saat perayaan Ekaristi. Uskup setempat bisa memberikan tuntunan pastoral tentang kapan dan bagaimana simbol-simbol nasional boleh dipasang dalam perayaan Ekaristi, yang dibaktikan khusus untuk negara. Pemasangan secara permanen simbol nasional, regional atau budaya tentu dirasa tidak cocok.

Konsultasi Iman “Majalah Hidup-Mingguan Katolik, 35 tahun ke- 71, 27 Agustus 2017” hlm. 18, oleh Petrus Maria Handoko CM, Imam Kongregasi Misi, Doktor Teologi Dogmatik Universitas Gregoriana Roma.

Katakese:Singkat : Tata Cara Berdoa Rosario

Doa Rosario merupakan salah satu doa dalam tradisi gereja katolik yang menggabungan diri kita bersama dengan Bunda Maria untuk merenungkan Misteri Inkarnasi dan Karya Penyelamatan Yesus Kirstus.Hasil buah dari berdoa rosario adalah Damai Sejahtera dan Kasih.Doa ini dapat di daraskan bersama dengan keluarga tercinta ataupun bersama umat katolik di gereja.

Doa Rosario terdiri dari rangkaian doa yang sangat indah, yaitu :



1. Salib yang terdapat pada setiap Rosario bertujuan untuk mengingatkan kita akan cinta kasih Yesus lewat sengasara-Nya untuk menebus dosa dosa uamat manusia serta kesempatan yang telah diberikan kepada kita untuk menjadi anak anak Allah.Kita membuat tanda salib Sebelum dan setelah berdoa sebagai tanda ucapan syukur kita kepada Yesus serta untuk mengakui tiga misteri iman kita Yaitu Tritunggal Maha Kudus,Penjelmaan dan Penebusan.Setelah itu kita mengucapakan Syahadat Para Rasul yaitu kedua belas pokok iman yang telah di wariskan oleh Para Rasul..Dengen memperbaharui iman yang menjadi pegangan kita selama hidup dan pada saat kita mati.

2. Pada biji manik yang pertama kita berdoa: “Kemuliaan kepada Bapa...” Dengan doa ini Maka secara singkat kita menyatakan tujuan hidup dan perkerjaan Kita.Lalu dilanjutkan dengan. doa Bapa Kami, doa yang diajarkan Oleh Yesus Kristus sendiri kepada kita. Dalam Doa ini, kita menghormati Allah dan mohon agar setiap orang boleh mengenal, mencintai dan mengabdi kepada-Nya. Setelah itu kita dapat berdoa secara sederhana untuk keperluan dan kepentingan saudara saudara kita.

3. Pada ketiga biji yang selanjuatnya kita berdoa: Tiga kali Salam Maria yang bertujuan untuk menghormati Bunda Maria secara istimewa Karena Maria adalah Bunda kita yang hubungannya yang istimewa dengan Allah Tritunggal. Ketiga Salam Maria itu dapat kita dahului masing-masing dengan salam berikut ini: Salam Puteri Allah Bapa, Salam Bunda Allah Putera, dan Salam Mempelai Allah Roh Kudus.

4. Pada biji manik rosario yang kelima kita berdoa seperti pada biji yang pertama; demikian pula pada keempat biji lain yang ada di antara setiap sepuluh kali Salam Maria yang berikut.

5. Doa Fatima, merupakan doa yang diajarkan oleh Bunda Maria kepada tiga anak di Fatima pada waktu penampakannya tahun 1917.Doa ini dapat disisipkan setiap kali mengakhiri sepuluh kali Salam Maria.Doa ini bertujuan untuk memohon berkat dari Allah untuk perdamaian dunia serta keselamatan bagi para pendosa.Bunyi dari doa ini,yaitu Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa kami! Selamatkanlah kami dari api neraka dan antarlah jiwa-jiwa ke dalam Surga terutama mereka yang sangat membutuhkan kerahiman-Mu!

Memang pikiran kita mudah melayang layang pada saat mengulangi terus menerus Salam Maria.Oleh karena itu pada saat berdoa kita mengarahkan hati kepada Tuhan.Dengan mengulang-ulang doa salam Malaikat Gabriel kepada Maria,maka kita dapat meresepkan arti kata itu dalam hati.Doa ini merupakan sebuah salam penuh rasa hormat dari Allah sendiri lewat perantaraan Malaikat,utusanNya untuk menyampaikan pengangkatan luhur Maria:"Salam Maria penuh rahmat,Tuhan sertamu" kemudian dilanjutkan dengan kata kata yang diilhami oleh Roh Kudus dan diucapkan Elisabeth kepada Maria "Terpujilah engkau di antara wanita,dan terpujilah Buah Tubuhmu,Yesus"dan akhirnya,Gereja Menambahkan doa yang sederhana "Santa Maria Bunda Allah,doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati.Amin"

Cara Berdoa Rosario

1. Cara Pertama ialah dengan mengucapkan satu kali doa Bapa Kami, sepuluh kali Salam Maria dan satu kali Kemuliaan.Ini juga sudah merupakan sumber rahmat yang luar biasa. Kita mengucapkan doa yang diajarkan Yesus sendiri dan mohon kepada Maria agar senantiasa mendoakan kita. “Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin” Kita juga minta kepada Maria untuk mendoakan kita agar kita tidak mengabaikan kesempatan yang diberikan oleh Allah sekarang ini. Tobat pada saat sebelum meninggal dunia dapat membukakan pintu surga, tetapi tidak dapat memberikan kembali kehidupan yang kita boroskan selama hidup kita sekarang ini, selama kita masih dapat menang atas air kita sendiri dan selama kita masih memiliki cita-cita suci untuk memperoleh rahmat dan kemuliaan abadi kita dapat meminta dan akan menerimanya. Kita tidak hanya dapat meminta bagi diri kita sendiri, melainkan dapat juga meminta bagi para pendosa lain yang hidup bersama-sama dengan kita. Inilah suatu doa yang suci, yang dapat terus-menerus diulangi. Doa ini agak mirip dengan doa seorang janda dalam perumpamaan Yesus yang terus-menerus “mengganggu” hakim sampai permohonannya dikabulkan. (lihat Luk 18:1-8)

Doa Salam Maria diakhiri dengan permohonan agar kita sekurang-kurangnya pada saat terakhir, dapat mengambil keputusan yang tepat: apapun yang pernah kita perbuat, betapa bodoh kita pernah bertindak dan betapa banyak kesempatan telah kita boroskan, kita dapat meminta pertolongan Maria untuk tinggal dalam persahabatan dengan Allah sewaktu meninggal dunia. Limapuluh kali kita berseru kepada Maria yang doanya begitu berkuasa supaya terluput dari api neraka. Maria menekankan hal itu dalam doa yang diajarkan kepada anak-anak di Fatima. Maka kita dapat merenungkan dalam hati arti kata-kata itu dengan mengambil satu bagian yang kita pikirkan sejenak.

2. Cara Kedua ialah Dengan mengucapkan setiap sepuluh kali Salam Maria untuk menghormati suatu misteri, yaitu suatu peristiwa dalam kehidupan Yesus Kristus. Banyak orang Katolik tidak begitu memperhatikan apa yang telah diperbuat Yesus. Mereka kurang bersyukur, bahwa Yesus telah lahir di sebuah kandang yang hina dan bahwa Ia telah wafat di kayu salib demi umat manusia. Sebagai anak anak Allah yang telah ditebus,kita tidak berusaha untuk memperoleh berkat-berkat yang telah ditawarkan Yesus melalui misteri hidup, wafat dan kebangkitan-Nya. Keinginan untuk memperoleh kekayaan dan cinta akan hal duniawi, telah menghambat keinginan mereka untuk menerima Firman Tuhan “sehingga mereka tidak dapat menghasilkan buah yang matang.” (Luk 8:14). Jadi, tidak heran kalau Yesus berdukacita di Getsemani. Ia sedih karena sikap acuh tak acuh kita yang mau diselamatkan-Nya. Dengan Berdoa Rosario dapat membebaskan kita dari sikap acuh tak acuh tersebut. Setiap hari kita dapat memperingati dan menghormati lima misteri dalam hidup Yesus. Kita dapat mengenangkan misalnya: “Putera Allah menjadi manusia karena cinta-Nya kepada kita: oleh sebab itu, kita harus bersyukur dan memuji-Nya, dan mohon rahmat kerjasama dengan-Nya agar usaha-Nya bagi kita tidak sia-sia.” Nah, sambil kita mengenangkan cintakasih Allah, kita mengucapkan doa Bapa Kami, suatu doa pujian dan permohonan yang sungguh-sungguh diikuti kemudian oleh 10 kali seruan pada Santa Perawan Maria, agar dengan perantaraannya kita memperoleh karunia-karunia yang hendak diberikan Yesus kepada kita berkat misteri-misteri itu. Barangsiapa setiap hari menghormati peristiwa-peristiwa hidup Yesus dengan menggunakan cara berdoa ini, dia sungguh-sungguh berusaha meniru apa yang tercantum di dalamnya guna memperoleh apa yang dijanjikan-Nya.

3. Cara Ketiga adalah cara yang dianjurkan oleh para paus yaitu pada waktu bibir kita mengucapkan doa, budi kita merenungkan misteri-misteri yang berupa peristiwa-peristiwa penting dalam hidup Yesus yang memiliki kaitan erat hubungan-Nya dengan Maria, Bunda-Nya. Dengan mengulangi doa yang sama sangat mudah membuat pikiran kita melayang-layang. Tetapi jika doa tersebut diulangi secara berirama, doa itu akan menjadikan kesempatan yang baik untuk mengarahkan pikiran kita pada nilai-nilai yang luhur. Maka perpaduan antara doa lisan dan doa batin, membuat Rosario menjadi suatu doa yang sangat sempurna,Indah dan mudah, Karena merupakan suatu doa yang dapat didaraaskan dalam setiap keadaan: baik waktu kita lelah atau sakit, atau pada saat kita tidak tertarik pada doa-doa yang lain. Justru dengan mengulangi terus-menerus doa yang indah secara berirama,maka kita akan merasa tertolong untuk mengarahkan pikiran kita pada hal-hal yang mulia. Namun bukan berarti bahwa doa ini dengan begitu saja akan mengarahkan pikiran kita pada inti peristiwa-peristiwa yang lebih tinggi dan yang tak dapat dibayangkan secara inderawi itu. Terkadang pasa saat tertentu kita akan mengalami kesulitan juga. oleh karena itu diperlukan latihan dan semangat, berupa kerendahan hati dan sikap mau mempercayakan diri pada Allah. Singkat kata, semangat iman yang memandang segala yang duniawi dan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dari sudut pandangan Allah sendiri. Maka akan terjadi hal-hal yang saling mempengaruhi secara ajaib: Semangat iman memang perlu, tetapi doa akan menjadi jalan untuk membinanya. Dengan bantuan rahmat Allah, kita akan semakin mampu mengembangkan semangat iman itu dalam hati kita.

7 Sakramen Dalam Gereja Katolik

Sakramen merupakan sebuah tanda yang menyampaikan Kasih dan Rahmat Allah Bapa Secara Nyata.Hal ini terdapat pada Injil Yohanes 14 : 18 yang menyatakan pemenuhan janji Kristus bahwa Ia tidak akan meninggalkan kita sebagai yatim piatu.Maka Melalui sakramen Allah mengirimkan Roh Kudus-Nya untuk memberi makan dan menguatkan Kita.

Sebenarnya keberadaan sakramen sudah ada sejak perjanjian lama,hanya saja berupa simbol Sunat dan Perjamuan paskah dan bukan sebagai tanda yang menyampaikan rahmat Tuhan.Kemudian Kristus datang bukan untuk menghapuskan Perjanjian Lama namun untuk menggenapinya. Maka Kristus tidak menghapuskan simbol-simbol tersebut namun menggenapinya dan menjadikan nya sebagai tanda rahmat Tuhan.Sunat disempurnakan menjadi Pembaptisan dan perjamuan paskah menjadi Ekaristi.Dengan demikian Ekaristi bukan hanya menjadi simbol semata tapi Ekaristi menjadi tanda yang sungguh menyampaikan rahmat Tuhan.





7 Sakramen yang ada Dalam Gereja Katolik

1. Sakramen Pembaptisan

Sakramen Baptis merupakan sakramen yang pertama kali kita terima sebelum sakramen sakramen yang lain.Pada saat penerimaan Sakramen Baptis kita diperciki air kemudian diolesi minyak serta diberi kain putih dan lilin bernyala.Semua itu merupakan lambang bahwa kita telah di bersihkan dari dosa asal dan siap menjadi terang bagi sesama.Dengan menerima sakramen baptis kita telah diangkat menjadi anak Allah dan digabungkan dengan gereja yang menjadikan kita anggota Tubuh Kristus serta siap diutus untuk berbuat baik kepada semua orang.Pembaptisan hanya dapat di terima satu kali untuk selamanya namun meninggalkan material rohani yang tidak dapat di hapuskan.

2.Sakramen Ekaristi

Perayaan Syukur atas Kasih Allah Bapa Lewat Pengorbanan Tuhan Yesus Kristus dirayakan setiap kali kita mengikuti Misa atau Sakramen Ekaristi.Pada saat Ekaristi kita mengenang karya penyelamatanYesus Kristus bagi manusia,yang terjadi melalui wafat dan kebangkitan-Nya.

Perayaan ekaristi dapat mengingatkan kita pada malam perjamuan terakhir yang diadakan Yesus bersama sama dengan para murid-Nya. Pada saat itu Yesus mengambil roti ,mengucap syukur ,lalu memecah-mecahkanya dan kemudian membagikan roti itu kepada para murid sambil berkata,"Ambilah,makanlah,Inilah tubuh-Ku."Setelah itu,Ia mengambil cawan dan kemudian mengucap berkat dan memberikan kepada para murid-Nya dan berkata,"Minumlah kamu semua dari cawan ini.Sebab inilah darah-Ku ,darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa."Perkataan dan tindakan Yesus menunjukan bahwa Ia rela mengorbankan diri untuk keselamatan dan kehidupan seluruh umat manusia tanpa terkecuali.Keselamatan yang diberikan Yesus tidak hanya untuk orang katolik saja tapi itu semua orang.

Pada saat menerima komuni,kita menyambut Tubuh Kristus dan kita di persatukan dengan Yesus dan sesama karena kita menerima Yesus yang sama

3.Sakramen Krisma

Allah Bapa memperkuat jiwa kita lewat Sakramen penguatan atau sakramen Krisma.Hal ini dapat dilihat Dalam Kisah Para Rasul 2:2-13 yang menceritakan bahwa setelah Yesus Kristus naik ke Surga Roh Kudus dicurahkan kepada para rasul.Karena karunia Roh kudus inilah para rasul menjadi berani berbicara dan bersaksi di tengah banyak orang.Turunnya roh kudus atas para rasul dirayakan pada hari Raya Pentekosta.

Pada waktu di baptis kita mendapatkan Anugrah Roh Kudus yang mendampingi kita sebagai anak Allah.Dan ketika kita menerima sakramen krisma kita akan mengalami bahwa Roh Kudus yang telah kita terima pada saat pembaptisan dapat berkarya secara khusus dalam diri kita untuk menguatkan dan mendorong kita untuk bisa menjadi semakin kuat dan dewasa dalam beriman.

4.Sakramen Pengakuan Dosa /Tobat

Setiap orang pernah berbuat dosa.Dosa dapat merusak hubungan kita dengan sesama dan Tuhan sehingga membuat kita merasa tidak senang dan bahagia.Oleh Karena itu Allah Bapa menganugerahkan kepada kita sakramen Tobat atau pengakuan dosa.Di dalam sakramen ini kita mengakukan dosa dosa kita kepada Imam,karena Yesus Kristus sendiri telah memberi kuasa kepada para Imam-Nya untuk melepaskan umatnya dari dosa setelah kebangkitanNya(Yoh 20:22-23).Melalui sakramen tobat kita menerima pengampunan dosa dari Allah Bapa beserta rahmatnya yang dapat membantu kita untuk menolak godaan dosa di waktu yang akan datang sehingga menjadikan hidup kita lebih damai.

5.Sakramen Perkawinan

Dalam perjalan hidup manusia sebagian besar orang dipanggil untuk hidup berumah tangga.Nah melalui Sakramen perkawainan Allah Bapa memberikan sakramen secara khusus kepada pasangan yang menikah agar dapat menghadapi berbagai macam problema yang akan timbul setelah pernikahan nanti.Teutama di dalam mengasuh dan membesarkan anak anak untuk didik menjadi pengikut Kristus yang sejati.

Dalam sakramen perkawinan terdapat tiga pihak yang terlibat yakni mempelai pria,wanita dan Allah Bapa Sendiri.Ketika mempelai pria dan wanita menerima sakramen ini,maka Allah hadir ditengah tengah mereka untuk menjadi saksi dan memberkati melalui perantaraan Imam atau diakon yang berdiri sebagai saksi dari pihak gereja.Oleh karena itu dalam geraja katolik perkawinan bersifat kudus dan tidak dapat terceraikan(Mat 19:6).

6.Sakramen Tahbisan/Imamat

Pada saat kita ke geraja dan mengikuti perayaan Ekaristi maka yang mempersembahkan misa Kudus adalah seorang Imam.Para Imam adalah orang yang dipanggil secara khusus oleh Tuhan Yesus.Untuk menjawab panggilan Tuhan tersebut maka mereka harus mengikuti pendidikan di sekolah seminari menengah,tinggi serta menjalani masa orientasi di pastoral di tengah umat.Setelah menyelesaikan tahapan pendidikan tersebut,maka mereka ditahbiskan oleh uskup untuk menjadi seorang imam.Nah Pada saat tahbisan itulah mereka menerima sakramen imamat dengan mengucapkan janji untuk taat kepada pemimpin gereja,untuk hidup miskin dan selibat yaitu tidak menikah.

7.Sakramen Pengurapan Orang Sakit

Semua orang pasti mengalami sakit.Ada yang mengalami sakit berat maupun ringan.Orang sakit biasanya pergi ke dokter untuk mendapatkan pengobatan.Ada yang berhasil sembuh,tapi ada juga yang tetap sakit bahkan sakitnya menjadi semakin parah.

Sebagai seorang beriman selain berobat ke dokter kita juga dapat menyerahkan segala persoalan penyakit kita kepada Tuhan.Karena kita yakin bahwa Tuhan selalu memperhatikan orang sakit dan menyembuhkan banyak orang sakit.Tuhan Yesus Kristus membuat orang lumpah menjadi berjalan,orang buta dapat melihat dan orang Kusta menjadi tahir.

Saat ini penganti para rasul adalah para Imam.Jika ada saudara atau umat katolik yang mengalami sakit berat hedanknya memberitahukan kepada seorang Imam.Ia akan datang untuk memberikan sakramen pengurapan orang sakit sebagaimana yang tertulis dalam Surat Yakobus yang mennyatakan "Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit,baiklah ia memanggil para penatua jemaat supaya mendoakan dia serta mengolesi dengan minyak dalam nama Tuhan(Yak 5:14)"

Sakramen Pengurapan orang sakit bukan semata-mata untuk menyembuhkan orang dari sakit yang dideritanya.Melainkan dengan menerima sakramen tersebut orang yang sakit akan diberi kekuatan dan penghburan supaya sanggup menjalankan penderitaannya seperti saat Yesus menderita di kayu salib.

Kesimpulan Sakramen merupakan rahmat terbesar yang disediakan Allah Bapa melalui gereja-Nya.Oleh Karena itu sebagai umat beriman sudah seharisnya kita menerima sakramen-sakramen tersebut agar kita dapat memperoleh anugerah keselamatan dan perlindungan dari Tuhan.

Sapaan Romo atau Pastor

Mengapa para imam dalam Gereja Katolik dipanggil “Romo” atau “Pater” (bapak), sedangkan Mat 23:9 mengajarkan, janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapa-mu, yaitu Dia yang di surga”?

Lina Katarina, Malang.


Pertama, praktik memanggil para imam sebagai Pater (Latin, artinya ‘bapak’) atau Romo (Jawa, artinya ‘bapak’) berasal dari tradisi yang sudah sangat kuno, yaitu pada abad-abad awal agama Kristiani. Tradisi Kristiani bisa memberikan kesaksian bahwa praktik pemanggilan itu sudah setua usia Gereja. Di beberapa tempat, panggilan ‘Pater’ lebih diarahkan untuk para imam dari tarekat, sedangkan imam diosesan dipanggil Romo. Saudara-saudari Protestan berangsung-angsur meninggalkan tradisi panggilan ini sesudah Reformasi.

Kedua, para imam dipanggil “Pater” atau “Romo” karena alasan yang sangat sederhana, yaitu karena mereka adalah pelayan biasa dari sakramen-sakramen, misalnya Sakramen Baptis, yang dalam nama Kristus dan dalam nama Gereja, mereka melahirkan kita kembali dalam hidup rahmat. Juga melalui Sakramen Ekaristi, mereka bertindak bagaikan seorang ayah yang memberikan makanan rohani untuk menumbuhkan kita dalam hidup rahmat. Belum lagi, Sakramen Rekonsiliasi yang mendamaikan kita kembali dengan Allah dan dengan sesama.

Para imam juga memelihara hidup iman kita dengan pengajaran dan bimbingannya. Bisa juga mereka memberi teguran dan koreksi, agar hidup kita dalam Kristus tetap berada di jalur yang benar. singkat kata, para imam melakukan tindakan-tindakan bagaikan seorang ayah alami terhadap anak-anaknya. Maka sudah sepantasnya, mereka dipanggil “Romo” atau “Pater”.

Ketiga, praktik pemanggilan seorang sebagai “Bapak” tidaklah asing dalam Perjanjian Baru. Rasul Paulus sendiri tanpa ragu menyebut diri sendiri sebagai “bapak” dari orang-orang yang bertobat melalui pelayanannya. Kepada orang-orang di Korintus, Paulus berkata, “Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu.” Juga kepada Timotius, Paulus menyebut dirinya sebagai bapa dan dua kali memanggil Timotius sebagai anaknya karena Paulus sudah membawa Timotius dan keluarganya kepada iman pada Kristus (bdk. Flp. 2:22 dan 1 Tim. 1:2). Contoh konkret dari sang Rasul Agung ini tentu sangat mendukung seluruh Gereja untuk tanpa ragu memanggil para gembala sebagai Bapak (Pater, Romo). Maka, kita bisa mengerti mengapa pemanggilan “Pater” (Romo) sudah setua usia Gereja itu sendiri.

Keempat,jika kita mengerti secara harafiah teks Mat. 23:9, maka kita akan dilarang memanggil ayah-ayah alami kita sebagai bapak, atau memanggil para pengajar kita sebagai guru. Jika demikian, semua praktik pemanggilan bapak, bukna hanya dalam Gereja tetapi juga di bidang lain, bertentangan dengan Mat. 23:9. Maka, kita perlu mengerti Mat. 23:9 dalam konteks asli dan menggali maksud pengajaran Yesus.

Konteks asli Mat. 23:9 adalah kecaman Yesus kepada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Kedua golongan ini dikecam karena munafik. Mereka mengejar penghormatan dari manusia dan mengabaikan apa yang dilihat Allah. Hal-hal lahiriah dipentingkan tanpa pendasaran yang sungguh pada penghayatan. Mereka berusaha mendapatkan penghormatan dari orang-orang, sehingga mereka suka berada di keramaian untuk memamerkan hidup kerohanian mereka yang luarnya saja tanpa dasar yang mendalam. Dalam konteks ini, larangan Yesus dalam Mat 23:9 berarti agar jangan menumpuk gelar-gelar (Bapa, Guru, doctor, professor) hanya untuk menyombongkan diri dan merasa diri penting, atau untuk mendapatkan penghormatan orang-orang. Dengan penafsiran seperti ini, berarti Yesus tidak melarang pemakaian kata panggilan “bapak” (Romo, Pater) atau “guru”.


Sumber: Majalah Hidup.

Konsultasi Iman “Majalah Hidup-Mingguan Katolik, oleh Petrus Maria Handoko CM, Imam Kongregasi Misi, Doktor Teologi Dogmatik Universitas Gregoriana Roma.

INJIL YANG TERSEMBUNYI

Seorang teman Muslim mengatakan bahwa sebenarnya ada banyak Injil lain, selain empat Injil yang diakui secara resmi oleh Gereja. Dikatakan bahwa Injil-Injil itu sengaja disingkirkan karena Injil-injil itu memuat tentang kedatangan Nabi Muhammad. Benarkah demikian? Jika tidak benar, apa alasan injil-injil yang lain itu ditolak? Dan mengapa keempat Injil itu diterima?

Monika Joanita, Jakarta.


Pertama, daftar (Kanon) Perjanjian Baru seperti yang kita miliki sekarang ini, untuk pertama kali dinyatakan secara resmi pada Sinode Hippo, Afrika Utara pada tahun 393 Masehi. Namun, dokumen-dokumen hasil sinode tersebut sudah tidak bisa ditemukan lagi. Yang bisa ditemukan ialah rangkuman tentang keputusan Sinode Hippo dalam dokumen hasil Sinode Kartago yang diadakan pada tahun 397 Masehi. Kanon Perjanjian Baru ini mengakui 27 buku, termasuk keempat Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Sebanyak 27 buku Perjanjian Baru itu disebut Kanonik.

Kedua, pada akhir abad IV Masehi ini, memang bisa ditemukan banyak Injil lain, selain keempat Injil yang diakui secara resmi oleh Gereja. Jumlahnya sangat banyak, sampai ada penulis yang memperkirakan adanya sekitar 70 buah Injil. Meskipun sudah dilarang dan dinyatakan tidak sah, ada sekitar 30 buah injil yang bertahan dan masih bisa ditemukan secara utuh atau sebagian saja. Kebanyakan injil-injil itu dialamatkan pada pribadi-pribadi yang terkenal, misalnya Inji Tomas, Injil Yakobus, Injil Yudas, Injil Petrus, Injil Maria, dll. Injil-injil ini disebut Apokrif, artinya di luar kanon (non-kanonik, atau ekstra-kanonik). Kata Apokrif itu sendiri sebenarnya ‘tersembunyi’, ‘disembunyikan’, atau ‘rahasia’. Disebut “rahasia’ karena memang dimaksudkan untuk dibaca oleh kalangan terbatas karena bisa membingungkan bila dibaca oleh kalangan luas yang belum mempunyai perangkat pemahaman yang memadai. Jadi kata apokrif tidak boleh diartikan sebagai sengaja disembunyikan oleh Gereja. Tulisan-tulian ini ditolak oleh Gereja karena dipandang tidak sesuai dengan keyakinan iman Gereja dan tidak diilhami oleh Roh Allah. Kebanyakan tulisan itu berasal dari abad II atau III Masehi dan sangat dipengaruhi oleh aliran Gnostisisme.

Ketiga, karena penetapan Kanon Perjanjian Baru itu terjadi pada Sinode Hippo pada tahun 393 Masehi, maka sangat aneh bila dikatakan bahwa Gereja sengaja menyingkirkan tulisan-tulisan apokrif itu karena memuat tentang kedatangan Muhammad (lahir tahun 571 Masehi). Agama Islam baru muncul pada abad ke VII, bagaimana mungkin pada tahun 393 sudah diprediksi dan diantisipasi? Sulit menemukan alasan-alasan yang sungguh bisa diterima.

Keempat, empat Injil Kanonik (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) adalah tulisan dengan bentuk sastra yang khas yang kurang lebih menceritakan secara utuh kisah Yesus Kristus sejak awal hidup-Nya sampai sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Banyak injil non-kanonik menyajikan hanya sebagian dari kisah Yesus. Misalnya, Injil Yudas, hanya berkisah tentang hari-hari terakhir Yesus. Keempat Injil kanonik juga berasal dari abad pertama, yang dipandang lebih memiliki wibawa atau otoritas daripada tulisan-tulisan yang disusun selama abad kedua. Tulisan-tulisan dari abad pertama menunjukkan kriteria yang menentukan, yaitu bahwa tulisan itu disusun dengan maksud menumbuhkan iman pembaca. Ini sesuai dengan Yoh. 20:31, “semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.” Tulisan yang mengembangkan iman ini terus digunakan, disalin dan disebarluaskan. Biasanya tulisan-tulisan ini mendapatkan dukungan dari pemimpin Gereja. Sebaliknya, tulisan-tulisan yang non-Kanonik biasanya dinyatakan dilarang. Penggunaan tulisan-tulisan itu oleh komunitas-komunitas dan restu dari pemimpin Gereja juga ikut mempengaruhi penentuan kanon.

Konsultasi Iman “Majalah Hidup-Mingguan Katolik, 37 tahun ke- 71, 10 September 2017” hlm. 18, oleh Petrus Maria Handoko CM, Imam Kongregasi Misi, Doktor Teologi Dogmatik Universitas Gregoriana Roma.