Showing posts with label Maria. Show all posts
Showing posts with label Maria. Show all posts

Apakah Yesus akan tetap menjadi penyelamat seandainya Yesus dikandung oleh Maria sebagai anak biolgis Maria dan Yusuf?



Marta Lindawanti, Surabaya [Penanya]

Tentu saja identitas Yesus akan berubah dan hal ini akan mengubah juga arti penyelamatan. Dengan menyatakan bahwa Yesus dikandung oleh Maria melalui naungan Roh Kudus, di sini hendak ditegaskan bahwa Yesus bukanlah hasil benih manusia laki-laki biasa, tetapi bahwa Yesus berasal dari Allah, dank arena itu Dia adalah Anak Allah. Artinya, asal-usul Yesus adalah ilahi, bukan insani. Karena kodrat ilahinya itu,k Yesus bisa membawa manusia kembali kepada Allah. Iman Kristiani mengajarkan, bahwa Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Maka dia bisa menjadi pengantara antara kita manusia dengan Allah, Sang Pencipta. Bagaikan jembatan, Yesus bertumpu baik pada Allah maupun pada manusia. Dialah satu-satunya pengantara antara manusia dan Allah (1 Tim. 2:5).

Dengan menjadi sungguh manusia, Yesus mewakili seluruh umat manusia yang sudah berdosa itu di hadapan Allah. Yesus adalah keturunan Adam. Karena Adam yang berdosa, maka keturunannya yang harus melakukan pembayaran atas hutang dosa (bdk. Rom. 5:12-21). Karena Yesus adalah manusia, maka semua perbuatan yang dilakukan Yesus, juga diperhitungkan dan mempunyai dampak untuk seluruh umat manusia. 

Karena itu ketaatan Yesus merupakan kebalikan dari ketidaktaatan Adam, yang mau menentukan sendiri baik dan buruk dan mau menjadi seperti Allah. Jadi, ketaatan Yesus yang wafat di salib, menjadi sumber keselamatan bagi kita manusia. Natal adalah bukti ketaatan Sang Sabda yang rela menjadi manusia, bahkan menusia yang miskin dan taat sampai mati di salib. Ketaatan Yesus, yang sudah mulai diwujudkan dalam peristiwa penjelmaan menjadi manusia (inkarnasi), dilanjutkan sampai pada kepenuhannya melalui sengsara, penyaliban, dan wafatnya di kayu salib.


Konsultasi Iman “Majalah Hidup-Mingguan Katolik,51 tahun ke 71- 17 Desember 2017” hlm. 18, oleh Petrus Maria Handoko CM, Imam Kongregasi Misi, Doktor Teologi Dogmatik Universitas Gregoriana Roma. 

Disunting oleh Silvester Detianus Gea

Dia Yang Terlupakan


Nancy J. Duff dalam buku Blessed One-Terberkatilah Engkau-Perspektif Gereja Protestan tentang Maria berkata: “…umat Protestan praktis selama ini telah mengabaikan diri Maria. Umat Protestan selalu mengulang peneguhan iman mereka bahwa Yesus “dilahirkan oleh anak dara Maria”, kadang juga menyanyikan Ave Maria pada upacara perkawinan dan secara berkala mengakui Maria pada hari raya Natal, namun mereka jarang menganggap penting sosok Maria untuk maksud kontemplasi di dalam puji-pujian maupun pembentukan kerohanian. Umat Protestan selama ini banyak mencurahkan perhatian mereka terhadap kontroversi atas doktrin mengenai kelahiran Yesus dari seorang Perawan, tetapi jarang menyebut Perawan itu (Maria) di dalam khotbah, madah maupun doa.

Bunda Maria adalah figur yang selalu ditampilkan ketika perayaan natal tiba. Ada suatu keanehan jika denominasi Kristen tertentu mengabaikan siapa yang melahirkan Sang Juruselamat. Bayangkan jika ibu anda tidak diakui oleh orang yang anda cintai, apa yang anda lakukan? Tentu saja anda merasa kecewa. Terlepas dari ketuhanan Yesus, ia juga manusia yang pernah hidup dan diasuh orang tuanya (bdk. Luk. 2:51). Melupakan historis bahwa Maria sungguh-sungguh melahirkan Yesus di Betlehem membawa dampak buruk. Salah satu dampak buruk adalah menuduh umat Katolik menyembah Maria.

Apakah tuduhan mereka benar? Tidak! Lalu mengapa Maria begitu popular dalam iman Katolik? Adakah dasar Alkitabnya? Ya, ada! Iman Katolik bukanlah iman yang buta akan Alkitab. Namun dalam iman Katolik ada 2 pilar yakni Alkitab dan Tradisi Suci Para Rasul serta Magisterium sebagai penopang dan penjaga ajaran. Mengapa Maria Bunda Yesus sangat dihormati dan dikagumi oleh umat Katolik? Artikel ini akan membahas dari perspektif Alkitab dan sudut pandang beberapa teolog Protestan, bagaimana Maria mempunyai peran besar dalam karya keselamatan.

Joel B. Green dalam buku Blessed One-Terberkatilah Engkau-Perspektif Gereja Protestan tentang Maria mengutip Thomas D’Sa: “Maria dengan demikian menyatakan dirinya sebagai tokoh kontra yang melawan kultur yang didominasi oleh kaum pria dan dengan demikian menjalani hidupnya dengan berpatokan pada berbagai pola dan irama yang berasal pada karya penyelamatan Allah”. Telah kita ketahui bersama bahwa manusia pertama yang jatuh dalam dosa adalah Hawa (Kej. 3:6-7). Maria membuka harapan baru dan mengangkat derajat kaum Hawa yang telah jatuh karena dosa. Keturunan Hawa, yakni Maria. Maria inilah yang akan melahirkan Yesus yang akan meremukkan kepala Iblis (Kej. 3:15). Maria meremukkan iblis karena ketaatannya pada rencana Allah, demikian pula Yesus meremukkan iblis karena ketaatan-Nya pada Bapa. Maria adalah perawan yang suci dan telah ditetapkan oleh Allah sebagai Bunda Yesus. Maria terpilih dari antara perempuan, karena Ia seorang yang taat dan patuh pada kehendak Allah (Yes. 7:14, Mat. 1:23).

Ketika malaikat Gabriel datang ke rumah maria, ia menyampaikan salam. Malaikat Gabriel berkata: Salam, hai engkau yang dikarunia, Tuhan menyertai engkau (Luk. 1:28). Maria terkejut ketika mendengar salam dari malaikat Gabriel. Maria sendiri bertanya dalam hatinya mengapa malaikat Gabriel memberi salam yang sangat mulia itu (Luk.1:29). Sebab sepatutnya Maria-lah yang memberi penghormatan kepada malaikat Gabriel. Namun, malaikat Gabriel menyahut bahwa Maria beroleh dan akan rahmat untuk mengandung seorang anak laki-laki (bdk. Luk. 1:30-31).

Ketaatan dan kepatuhan Maria kepada Allah amat terbukti dalam reaksinya menanggapi kabar dari malaikat Gabriel. Maria berkata: sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu (Luk. 1:38). Maria menerima kabar dari malaikat Gabriel dengan penuh kegembiraan. Kegembiraan itu terlihat ketika Maria mengunjungi Elisabet. Ketika Maria memberi salam kepada Elisabet, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabeth penuh dengan Roh Kudus (Bdk. Luk. 1:39-41). Maria memberikan salam kepada Elisabet.

Maria penuh dengan Roh Kudus, maka Elisabet berseru dengan suara nyaring: Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? (Luk. 1:42-43). Lalu Maria melantunkan pujian: jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku. Sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.

Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus (Luk. 1:46-49).

Maria memadahkan pujian kepada Tuhan karena rahmat yang dilimpahkan padanya. Bunda Maria disebut berbahagia oleh segala keturunan (Bdk. Luk. 1:50-53). Maria adalah teladan bagi kaum beriman Katolik. Karena keteladanan Maria, karya keselamatan dapat terlaksana. Maria patut diberi penghormatan yang istimewa. Maria membuktikan kepatuhan dan ketaatannya kepada Allah melalui tindakan dan perbuatan. Maria tidak menolak rencana Allah dalam hidupnya, meskipun berat. Maka, bunda Maria menjadi tanda besar yang patut diteladani oleh umat beriman (Why. 12:1-6).

Maria adalah seorang ibu yang bertanggungjawab terhadap anaknya. Tindakan itu terlihat ketika Yesus ketinggalan di Yerusalem (Bdk. Luk. 2:41-44). Maria penuh tanggungjawab terhadap anaknya. Meskipun jarak Yerusalem dan Nazaret cukup jauh, namun Maria berusaha kembali lagi ke Bait Allah. Maria rela berkorban demi anaknya Bahkan Simeon berkata, bahwa suatu pedang akan menembus jiwa Maria. Jiwa Maria bagai ditembus pedang, ketika menyaksikan Putranya sengsara (Mat. 27:27-31, Mrk. 15:16-20, Yoh. 19:2-3), disalibkan ( Mat. 27:32-44, Mrk. 15:21-32, Luk. 23:26,33-43, Yoh. 19:17-24) dan wafat ( Mat. 27:45-56, Mrk. 15:33-41, Luk. 23:44-49, Yoh. 19:28-30) dikuburkan (Mat. 27:-61, Mrk. 15:42-47, Luk. 23:50-56, Yoh. 19:38-42), bangkit ( Mat. 28:1-10, Mrk. 16:1-8, Luk. 24:1-12, Yoh. 20:1-10).

Bunda Maria mengandung dari Roh Kudus. Bunda Maria melahirkan seorang anak laki-laki yang menyelamatkan umatnya dari dosa mereka. Bunda Maria menggenapi nubuat dalam Kitab Yesaya. Bunda Maria melahirkan seorang penyelamat yang menyertai umat-Nya (bdk. Mat. 1:18-25). Ketika penyingkiran ke Mesir, Bunda Maria penuh tanggugjawab untuk membawa anaknya. Bunda Maria tidak melepas tanggungjawabnya sebagai ibu Yesus (Mat 2:13-15). Begitu pula ketika kembali dari Mesir, bunda Maria penuh tanggungjawab untuk mengurus anaknya. Bunda Maria memberikan teladan yang baik bagi para ibu (Mat. 1:19-23).

Selain itu, Bunda Maria, seorang yang peduli dan solider terhadap kepentingan orang lain. Ketika dalam perkawinan di Kana yang di Galilea kehabisan anggur. Bunda Maria memberitahukan kepada Yesus, bahwa tuan rumah kehabisan anggur. Bunda Maria mengatakan kepada para pelayan; buatlah apa yang dikatakan Yesus kepadamu. Maka, Yesus pun melakukan mukjizat mengubah air menjadi anggur (Yoh. 2:1-11). Kepedulian dan solidaritas bunda Maria patut diteladani oleh umat beriman. Bunda Maria tidak melihat siapa yang dibantu. Tetapi bunda Maria turut peduli dan solider dengan apa yang dialami oleh tuan rumah. Kepedulian dan solidaritas bunda Maria, akhirnya membuat pesta semakin meriah dan tuan rumah merasa bahagia.

Yesus telah memberikan tanggungjawab kepada para rasul untuk menjaga Bunda-Nya. Yesus memberi tanggugjawab besar itu, ketika Ia akan wafat di atas kayu salib. Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya, Maria isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya:”Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya:”INILAH IBUMU!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya (Yoh. 19:25-27). Setelah Yesus naik ke surga, bunda Maria tinggal bersama para rasul. Mereka bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, bersama dengan ibu Yesus (Kis. 1:6-14).




Daftar Pustaka:
- Alkitab. Lembaga Alkitab Indonesia, 2012.
- Beverly Roberts Gaventa, dkk. 2006. Blessed One Terberkatilah Engkau-erspektif Gereja Protestan Tentang Maria, Medan: Bina Media Perintis.


Penulis Silvester Detianus Gea

Devosi kepada Bunda Maria


Mengapa orang Katolik berdoa kepada Bunda Maria, misal untuk meningkatkan jumlah imam, biarawan-biarawati, menjaga keutuhan keluarga? Bukankah Bunda Maria itu juga manusia, bukan Allah? Bahkan sebagai manusia, hanya Yesus adalah satu-satunya manusia yang benar (Doa Syukur Agung kelima), dan Maria tidak termasuk?


Maria Yustina Mirawati, Kediri [Penanya]


Pertama, dalam kodrat insani-Nya, Yesus memang adalah “satu-satunya Manusia yang benar (DSA V), artinya Yesus tidak terkena noda dosa asal, maka tidak membutuhkan penebusan. Di lain pihak, sebagai manusia keturunan Adam, Maria juga seharusnya terkena noda dosa asal, tetapi berkat jasa penebusan Putranya yang masihi akan dilakukan, Maria dilindungi dari sengat dosa asal, sehingga sebagai manusia, Maria tetap suci murni. Maria dikandung tanpa noda dosa asal. Dalam arti ini, Maria tidak termasuk manusia yang benar, tetapi manusia yang dibenarkan (ditebus) oleh Yesus Kristus, Putranya. Penebusan Maria disebut penebusan pencegahan.

Kedua, meskipun Maria adalah juga manusia seperti kita, Maria mempunyai beberapa keistimewaan. Sebagai pribadi, iman Maria kepada Allah dan Putranya sangat menonjol. Perjanjian Baru memberikan kesaksian akan keunggulan iman Maria ini. Maria juga mempunyai keistimewaan lain, yaitu dialah satu-satunya wanita (manusia) yang telah menyatukan diri dengan Sang Sabda dan melahirkan Sabda yang menjadi manusia Yesus. Sang Sabda menerima kemanusiaanNya dari Bunda Maria. Kedekatan Maria dengan Yesus ini mempunyai dampak langsung kepada kita murid-murid Yesus. Karena Yesus menerima dari Maria, ibu-Nya, hidup sebagai Sabda yang menjelma, dan kemudian Yesus memberikan hidup itu kepada kita murid-murid yang percaya kepada-Nya, maka Maria juga menjadi Bunda kita. Yesus menunjukkan hal ini ketika tergantung di salib. Yesus memberikan Maria kepada Yohanes, murid yang dikasihi-Nya (Yoh. 19:26-27).

Keistimewaan-keistimewaan Maria inilah yang membuat Maria ikut mengambil bagian dalam peran Yesus Kristus sebagai pengatara kita kepada Allah. Seperti tampak dalam perkawinan di Kana. Maria bertindak proaktif mengatasi kesulitan kekurangan anggur yang terjadi. Karena partisipasi Maria inilah, Yesus akhirnya mengubah air menjadi anggur untuk memecahkan permasalahan dalam perkawinan di Kana itu.

Ketiga, seperti dalam perkawian di Kana, kita boleh membawa permohonan kita kepada Bunda Maria agar kemudian melalui Putra dibawa kepada Allah Bapa. Setiap doa pada akhirnya tetap ditujukan kepada Allah Bapa. Kita juga bisa berdoa melalui santa-santo lainnya, yang juga mengambil bagian dalam kepengantaraan Yesus. Dibandingkan santa-santo lainnya, Maria adalah pribadi yang paling unggul, paling istimewa.

Keempat, Paus Yohanes Paulus II dalam ensikliknya Bunda Penebus (1987), melihat Maria hadir sebagai ibu dan ikut ambil bagian dalam masalah-masalah rumit masa kini, baik berkaitan dengan individu, keluarga, masyarakat maupun bangsa. Gereja melihat Maria ikut menolong dalam perjuangan Gereja melawan kejahatan. Bunda Maria memastikan bahwa Gereja tidak jauh atau jika sudah jatuh, Gereja dapat berdiri tegak kembali utuk melanjutkan memanggul salibnya dengan setia sampai kahir. Itulah sebabnya mengapa kita juga memohon pertolongan Bunda Maria dalam permasalahan-permasalahan kita. Sebagai ibu, Maria sangat peduli dan tidak membiarkan kita sendirian seprti yatim piatu.

Kelima, seringkali ada umat yang berdevosi kepada Maria secara berlebihan. Bunda Maria seolah dipertentangkan dengan Yesus: jia Yesus tidak mengabulkan maka kita akan minta melalui Bunda Maria. Kadang juga, Maria diunggulkan lebih daripada Yesus, karena alasan-alasan kedekatan emosional. Seolah Maria adalah sumber pengampunan dan belaskasihan. Praktik yang demikian ini, tentu saja tidak sesuai dengan ajaran resmi Gereja dan perlu dikoreksi.

Disunting oleh Silvester Detianus Gea

Konsultasi Iman “Majalah Hidup-Mingguan Katolik, 40 tahun ke 71- 01 Oktober 2017” hlm. 19, oleh Petrus Maria Handoko CM, Imam Kongregasi Misi, Doktor Teologi Dogmatik Universitas Gregoriana Roma.

“Wanita” itu Maria


Mengapa pada perkawinan di Kana, Yesus memanggil ibunya dengan sebutan “wanita” (Yoh. 2:4)? Bukankah sebutan demikian itu tidak pantas atau kurang ajar, jika ditujukan kepada seorang ibu kandung? Sebutan “wanita” juga digunakan Yesus untuk wanita Samaria, (Yoh. 4:21) dan untuk wanita yang tertangkap basah berzinah (Yoh. 8:1). Apakah kedua kasus itu mempunyai makna yang sama dengan penyebutan pada Maria?

Theresia Maria Agustyarini, Malang [Penanya]


Pertama, perlu melihat konteks budaya yang bersangkutan untuk dapat menafsirkan makna sebuah sebutan. Pada jaman Yesus, memanggil seorang perempuan dengan sebutan “wanita”, seperti kepada wanita Samaria (Yoh. 4:21) dan wanita yang berzinah (Yoh. 8:1), tidaklah dianggap kurang ajar atau merendahkan atau bermusuhan. Mungkin sebutan “wanita” itu bisa disejajarkan dengan sebutan “ibu” dalam bahasa Indonesia yang ditujukan secara umum untuk wanita, pada usia yang pantas menjadi seorang ibu. Pasti Maria tidak tersinggung atau merasa dilecehkan oleh sebutan Yesus kepadanya. Hal ini nampak dari reaksi Maria yang langsung memberitahu para pelayan, agar melakukan apapun yang diperintahkan Yesus.

Kedua, penyebutan Maria sebagai “wanita’ oleh Yesus pada Yoh. 2:4 bukanlah satu-satunya , sebab ketika tergantung di kayu salib, Yesus sekali lagi menyebut Maria sebagai “wanita”, yaitu ketika menyerahkan Yohanes kepada Maria, “Wanita, inilah anakmu” (Yoh. 19:26). Dalam teks terjemahan LAI-LBI, memang tertulis kata “ibu”, seperti yang ada pada Yoh. 2:4. Keduanya dalam bahasa Yunani adalah gune artinya “wanita”. Penampilan Maria pada awal dan akhir dari karya Yesus di depan umum, membentuk sebuah gaya bahasa biblis yang disebut inklusi. Dengan ini penulis Injil Yohanes hendak mengatakan, bahwa Maria selalu hadir dalam seluruh pelayanan Yesus, mulai awal (dalam perkawinan di Kana) sampai akhir (di bawah kayu salib di Kalvari).

Ketiga, menarik untuk dicermati bahwa Injil Yohanes dibuka dengan ungkapan yang sama dengan Kitab Kejadian, yaitu dengan ungkapan “Pada mulanya.” Seolah-olah Yohanes mengatakan, bahwa kemunculan Yesus dalam Injil itu sejajar dengan kisah penciptaan oleh Allah. Kesejajaran ini membuat pembaca yang mengenal kisah penciptaan untuk langsung membandingkan, inklusi penyebutan Maria sebagai “Wanita” dengan peran Hawa yang diuraikan dalam Kej. 3:15, yaitu “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya…”

Maka, menjadi jelas maksud dari penginjil Yohanes dalam inklusi penyebutan Maria sebagai “wanita” yaitu menunjukkan bahwa Maria itu tak lain adalah “perempuan” atau “wanita” (Yun: gune) yang dimaksud pada protoinjil Kej. 3:15. Hawa adalah mitra kerja Adam, yang telah menyebabkan Adam jatuh ke dalam dosa. Sedangkan Maria adalah Hawa baru, mitra kerja Kristus, yang membuka pintu untuk penebusan dosa seluruh keturunan Adam. Apa yang diikat Hawa dilepaskan oleh Maria.

Keempat,jadi penyebutan Maria sebagai “wanita” pada Injil Yohanes menunjukkan bahwa Maria adalah Hawa baru, ibu dari semua murid yang percaya kepada Yesus, Putranya. Yohanes yang berdiri di bawah kayu salib di Kalvari adalah wakil dari setiap murid Yesus. Maka, Maria menjadi bunda bagi semua murid Yesus. Keibuan Maria terhadap semua murid Yesus, bukan hanya menunjukkan sebuah status, tetapi lebih-lebih menunjuk pada peran Maria sebagai ibu yang melahirkan dan membesarkan kehadiran Yesus dalam diri kita. Maria sudah memberikan Yesus, Sang Kehidupan Baru kepada kita. Dia pula yang peduli dan berkehendak untuk menumbuhkan kehadiran Yesus itu dalam diri para murid Yesus. Maria hadir sebagai Bunda kita, mulai awal karya Yesus (seperti Kana) sampai pada akhirnya (seperti Kalvari). Maria adalah “wanita,” Bunda Kehidupan baru dalam Kristus.

Di sunting oleh Silvester Detianus Gea

Konsultasi Iman “Majalah Hidup-Mingguan Katolik, 41 tahun ke 71- 08 Oktober 2017” hlm. 18, oleh Petrus Maria Handoko CM, Imam Kongregasi Misi, Doktor Teologi Dogmatik Universitas Gregoriana Roma.

Maria Dikandung Tanpa Dosa


Mengapa Gereja mengajarkan bahwa Maria dikandung tanpa noda dosa, padahal dalam Roma 3:23 dikatakan bahwa “semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah”? Lalu apa artinya kata”semua’?

Yohana Gina, Pontianak [Penanya]

Pertama, perlu dibedakan terlebih dahulu antara dosa asal dan dosa pribadi. Dogma tentang Maria dikandung tanpa noda dosa, yang dinyatakan secara ex-cathedra oleh Paus Pius IX pada 8 Desember 1854, berbicara tentang dosa asal. Di lain pihak, Rom. 3:23 berbicara bukan tentang dosa asal, tetapi tentang dosa pribadi. Pertanyaan tersebut mencampur-adukkan antara dosa asal dan dosa pribadi.

Kedua, berbicara tentang dosa asal, dogma itu nampaknya bertentangan dengan pernyataan Paulus pada Rom. 5:12.18-19 (bukan Rom 3:23!)bahwa semua orang mewarisi dosa Adam. Dogma itu berarti bahwa semua orang seharusnya terkena dosa asal, tetapi dalam hal pribadi Bunda Maria , sengat dosa asal tidak pernah menyentuhnya sejak saat pertama keberadaannya di dunia ini. Maria dibebaskan bukan hanya dari sengat dosa asal, tetapi juga akibat dari dosa asal. Terbebasnya Maria terjadi bukan karena pahala atau kekuatan Maria sendiri, tetapi karena pahala yang masih akan dihasilkan oleh Yesus dalam misteri Paskah-Nya. Dalam hal ini, muncul pertanyaan yang sama, apa artinya “semua orang terkena dosa asal” jika ternyata Maria dinyatakan bebas dari sengat dosa asal.

Ketiga, berkaitan dengan dosa pribadi, Gereja mengajarkan bahwa Maria tetap suci sampai akhir hidupnya. Dalam hal pikiran, perkataan, perbuatan, dan kelalaian, Maria terbebas dosa sampai akhir hidupnya. Jadi, dosa pribadi juga tidak pernah mengenai pribadi Maria. Maria terbebas dari semua dosa pribadi. Ajaran tentang kesucian Maria inilah yang nampaknya bertentangan dengan pernyataan Paulus pada Rom 3:23, bahwa “semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah.” Sekali lagi, muncul pertanyaan tentang apa arti kata “semua.”

Keempat, dalam surat-suratnya, Paulus seringkali menggunakan kata “semua”. Kata “semua” bisa dimengerti dala arti mutlak, numerik, distributive, artinya “semua” mencakup setiap orang yang ada. Kata “semua” juga bisa dimengerti dalam arti kolektif, artinya sebagian besar dari apa yang ada. Misal dalam Roma 5:12.18-19, Paulus menyatakan bahwa semua orang terkena dosa asal. Kata “semua” di sini pasti tidak termasuk Yesus, juga Adam dan Hawa sebelum kejatuhan dalam dosa. Pengertian “semua” dalam arti kolektif ini, juga digunakan dalam Rom 3:9-10, “Kita telah menuduh, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar’,seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakalbudi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah”. Sekali lagi kata “semua” di sini pasti tidak termasuk Yesus, Adam dan Hawa sebelum kejatuhan dalam dosa. “semua” di sini harus dimengerti dalam arti kolektif, bukan distributif. Gereja percaya bahwa Maria sebagai Hawa Baru, juga termasuk yang tidak terkena.

Kelima, kesucian Maria sampai akhir hidupnya ditunjukkan oleh Kej 3:15, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya”. Kata permusuhan berarti tidak ada kompromi antara keduanya, atau bahwa ada pertentangan total antara keduanya. Seandainya Maria sudah jatuh ke dalam dosa, pasti permusuhan itu tidak total atau Maria sudah tunduk pada kekuasaan dosa. Demikian pula, sapaan Malaikat pada Maria “yang penuh rahmat” (Luk 1:28; Gratia Plena) menunjukkan bahwa dalam pribadi Maria tidak ada celah sedikitpun untuk dosa. Gelar “yang penuh rahmat” diberikan kepada Maria seolah menjadi gelar khusus Maria yang menunjuk pada kesucian Maria.

Konsultasi Iman “Majalah Hidup-Mingguan Katolik, 42 tahun ke 71- 15 Oktober 2017” hlm. 18, oleh Petrus Maria Handoko CM, Imam Kongregasi Misi, Doktor Teologi Dogmatik Universitas Gregoriana Roma.

Maria Cermin Kekudusan




Dalam Litani St. Perawan Maria, salah satu gelar Maria ialah Cermin Kekudusan yang merupakan terjemahan dari Speculum Justitiae. Mengapa tidak diterjemahkan Cermin Keadilan? Darimana berasal gelar itu? Apa artinya?.

Andreas Kilimotto, Banyuwangi. [Penanya]


Pertama, arti pertama kata iustitia (Latin) ialah “keadilan” tetapi dalam konteks biblis-teologis, kata “iustitia” mempunyai arti yang lebih luas. Dalam Injil, St. Yosef, suami Bunda Maria, disebut sebagai seorang yang “benar” (Mat. 1:19) (ing: Just), artinya Kudus, suci, benar, dan sempurna dalam mentaati perintah-perintah Allah. Demikian pula dalam kisah penciptaan, Allah menciptakan manusia pertama dengan “keadilan asali” (Ing: Original Justice), artinya dalam keadaan harmonis dengan Allah, sesama, diri sendiri dan dengan alam semesta. Kata “keadilan” disini diartikan sebagai harmonis, kudus, suci, benar dan sempurna. Dalam artin inilah, gelar Speculum Justitiae diterjemahkan menjadi Cermin Kekudusan. Terjemahan ini setia mempertahankan makna biblis-teologis, dan bukan makna sosio-kultural yang berarti keadilan.

Kedua, Maria diberi gelar Speculum iustitiae, artinya Maria penuh dengan dan memantulkan (seperti cermin) keutamaan keadilan dalam arti luas. Dengan kata lain, Maria itu mencerminkan kekudusan, ketaatan kepada kehendak ilahi Bapa dan kebenaran dalam relasi dengan Allah dan sesama. Dengan gelar Cermin Kekudusan (Speculum Iustitiae), dimaksudkan bahwa pribadi Maria adalah gambaran yang paling menakjubkan dari “kebenaran, kekudusan, keadilan, keselarasan, dan keindahan Allah” yang pernah terwujud dalam diri ciptaan manusiawi.

Karena Maria itu sungguh murni dan sungguh rendah hati, maka Maria menerima cahaya dari Kristus yang adalah Matahari Keadilan Ilahi. Seperti halnya cermin yang menerima cahaya dan memantulkannya, Maria menerima bukan hanya cahaya dari matahari tetapi bahkan Sang Matahari itu sendiri dan menerima dengan seluruh pribadinya. Maria memancarkan sinar Ilahi Sang Matahari itu kepada dunia. Seharusnya setiap orang yang diciptakan Allah seharusnya menjadi cermin dari kekudusan Allah, sebab setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26). Tetapi dosa asal telah mencemari dan merusak cermin sebagai citra Allah. Hanya Maria yang sungguh memantulkan kekudusan Allah secara sempurna.

Ketiga, gelar Cermin Kekudusan diambil dari Keb. 7:26, “Karena kebijaksanaan merupakan pantulan cahaya kekal, dan cermin tak bernoda dan kegiatan Allah, dan gambar kebaikan-Nya.” Allah telah memberi kita cermin tak bernoda dari kehidupan dan keutamaan Bunda Maria supaya kita renungkan, kita pandang dengan penuh cinta dan antusiasme. Maria menjadi model yang sempurna dari apa yang harus kita lakukan.

Jika doa Rosario dilakukan dalam konteks doa arwah, apakah boleh menggunakan Peristiwa Mulia meskipun bukan hari Rabu atau Minggu?

Yoseph Hung, Pontianak. [Penanya]

Peristiwa-peristiwa dalam doa Rosario (Gembira, Sedih, Mulia, dan Terang) bisa digunakan untuk membantu merenungkan saat-saat penting dalam hidup Yesus. Pembagian penggunaan peristiwa-peristiwa itu (dari Senin sampai Minggu) bukanlah sesuatu yang mutlak dan kaku, tetapi lebih merupakan pemerataan sehingga dengan mendoakan Rosario kita merenungkan seluruh hidup Yesus dan peran Mari di dalamnya.

Jadi, boleh saja dalam konteks doa arwah digunakan Peristiwa Mulia meskipun bukan hari Rabu atau Minggu. Penggunaan Peristiwa Mulia dalam konteks doa arwah akan membantu orang-orang yang hadir untuk merenungkan tentang kebangkitan dan harapan hidup kekal. Maka doa Rosario menjadi sarana bantu yang sungguh cocok dengan keadaan yang sedang dihadapi. Di lain pihak, jika doa arwah diadakan secara berturut-turut, baik untuk arwah yang sama maupun untuk arwah yang berbeda-beda, tentu akan menjemukan umat yang hadir, jika selalu digunakan sebuah peristiwa yang sama terus menerus, maka perlu fleksibel.

Konsultasi Iman “Majalah Hidup-Mingguan Katolik, 43 tahun ke 71- 22 Oktober 2017” hlm. 18, oleh Petrus Maria Handoko CM, Imam Kongregasi Misi, Doktor Teologi Dogmatik Universitas Gregoriana Roma.