Showing posts with label Katakese. Show all posts
Showing posts with label Katakese. Show all posts

Maria Dikandung Tanpa Dosa


Mengapa Gereja mengajarkan bahwa Maria dikandung tanpa noda dosa, padahal dalam Roma 3:23 dikatakan bahwa “semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah”? Lalu apa artinya kata”semua’?

Yohana Gina, Pontianak [Penanya]

Pertama, perlu dibedakan terlebih dahulu antara dosa asal dan dosa pribadi. Dogma tentang Maria dikandung tanpa noda dosa, yang dinyatakan secara ex-cathedra oleh Paus Pius IX pada 8 Desember 1854, berbicara tentang dosa asal. Di lain pihak, Rom. 3:23 berbicara bukan tentang dosa asal, tetapi tentang dosa pribadi. Pertanyaan tersebut mencampur-adukkan antara dosa asal dan dosa pribadi.

Kedua, berbicara tentang dosa asal, dogma itu nampaknya bertentangan dengan pernyataan Paulus pada Rom. 5:12.18-19 (bukan Rom 3:23!)bahwa semua orang mewarisi dosa Adam. Dogma itu berarti bahwa semua orang seharusnya terkena dosa asal, tetapi dalam hal pribadi Bunda Maria , sengat dosa asal tidak pernah menyentuhnya sejak saat pertama keberadaannya di dunia ini. Maria dibebaskan bukan hanya dari sengat dosa asal, tetapi juga akibat dari dosa asal. Terbebasnya Maria terjadi bukan karena pahala atau kekuatan Maria sendiri, tetapi karena pahala yang masih akan dihasilkan oleh Yesus dalam misteri Paskah-Nya. Dalam hal ini, muncul pertanyaan yang sama, apa artinya “semua orang terkena dosa asal” jika ternyata Maria dinyatakan bebas dari sengat dosa asal.

Ketiga, berkaitan dengan dosa pribadi, Gereja mengajarkan bahwa Maria tetap suci sampai akhir hidupnya. Dalam hal pikiran, perkataan, perbuatan, dan kelalaian, Maria terbebas dosa sampai akhir hidupnya. Jadi, dosa pribadi juga tidak pernah mengenai pribadi Maria. Maria terbebas dari semua dosa pribadi. Ajaran tentang kesucian Maria inilah yang nampaknya bertentangan dengan pernyataan Paulus pada Rom 3:23, bahwa “semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah.” Sekali lagi, muncul pertanyaan tentang apa arti kata “semua.”

Keempat, dalam surat-suratnya, Paulus seringkali menggunakan kata “semua”. Kata “semua” bisa dimengerti dala arti mutlak, numerik, distributive, artinya “semua” mencakup setiap orang yang ada. Kata “semua” juga bisa dimengerti dalam arti kolektif, artinya sebagian besar dari apa yang ada. Misal dalam Roma 5:12.18-19, Paulus menyatakan bahwa semua orang terkena dosa asal. Kata “semua” di sini pasti tidak termasuk Yesus, juga Adam dan Hawa sebelum kejatuhan dalam dosa. Pengertian “semua” dalam arti kolektif ini, juga digunakan dalam Rom 3:9-10, “Kita telah menuduh, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar’,seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakalbudi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah”. Sekali lagi kata “semua” di sini pasti tidak termasuk Yesus, Adam dan Hawa sebelum kejatuhan dalam dosa. “semua” di sini harus dimengerti dalam arti kolektif, bukan distributif. Gereja percaya bahwa Maria sebagai Hawa Baru, juga termasuk yang tidak terkena.

Kelima, kesucian Maria sampai akhir hidupnya ditunjukkan oleh Kej 3:15, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya”. Kata permusuhan berarti tidak ada kompromi antara keduanya, atau bahwa ada pertentangan total antara keduanya. Seandainya Maria sudah jatuh ke dalam dosa, pasti permusuhan itu tidak total atau Maria sudah tunduk pada kekuasaan dosa. Demikian pula, sapaan Malaikat pada Maria “yang penuh rahmat” (Luk 1:28; Gratia Plena) menunjukkan bahwa dalam pribadi Maria tidak ada celah sedikitpun untuk dosa. Gelar “yang penuh rahmat” diberikan kepada Maria seolah menjadi gelar khusus Maria yang menunjuk pada kesucian Maria.

Konsultasi Iman “Majalah Hidup-Mingguan Katolik, 42 tahun ke 71- 15 Oktober 2017” hlm. 18, oleh Petrus Maria Handoko CM, Imam Kongregasi Misi, Doktor Teologi Dogmatik Universitas Gregoriana Roma.

Maria Cermin Kekudusan




Dalam Litani St. Perawan Maria, salah satu gelar Maria ialah Cermin Kekudusan yang merupakan terjemahan dari Speculum Justitiae. Mengapa tidak diterjemahkan Cermin Keadilan? Darimana berasal gelar itu? Apa artinya?.

Andreas Kilimotto, Banyuwangi. [Penanya]


Pertama, arti pertama kata iustitia (Latin) ialah “keadilan” tetapi dalam konteks biblis-teologis, kata “iustitia” mempunyai arti yang lebih luas. Dalam Injil, St. Yosef, suami Bunda Maria, disebut sebagai seorang yang “benar” (Mat. 1:19) (ing: Just), artinya Kudus, suci, benar, dan sempurna dalam mentaati perintah-perintah Allah. Demikian pula dalam kisah penciptaan, Allah menciptakan manusia pertama dengan “keadilan asali” (Ing: Original Justice), artinya dalam keadaan harmonis dengan Allah, sesama, diri sendiri dan dengan alam semesta. Kata “keadilan” disini diartikan sebagai harmonis, kudus, suci, benar dan sempurna. Dalam artin inilah, gelar Speculum Justitiae diterjemahkan menjadi Cermin Kekudusan. Terjemahan ini setia mempertahankan makna biblis-teologis, dan bukan makna sosio-kultural yang berarti keadilan.

Kedua, Maria diberi gelar Speculum iustitiae, artinya Maria penuh dengan dan memantulkan (seperti cermin) keutamaan keadilan dalam arti luas. Dengan kata lain, Maria itu mencerminkan kekudusan, ketaatan kepada kehendak ilahi Bapa dan kebenaran dalam relasi dengan Allah dan sesama. Dengan gelar Cermin Kekudusan (Speculum Iustitiae), dimaksudkan bahwa pribadi Maria adalah gambaran yang paling menakjubkan dari “kebenaran, kekudusan, keadilan, keselarasan, dan keindahan Allah” yang pernah terwujud dalam diri ciptaan manusiawi.

Karena Maria itu sungguh murni dan sungguh rendah hati, maka Maria menerima cahaya dari Kristus yang adalah Matahari Keadilan Ilahi. Seperti halnya cermin yang menerima cahaya dan memantulkannya, Maria menerima bukan hanya cahaya dari matahari tetapi bahkan Sang Matahari itu sendiri dan menerima dengan seluruh pribadinya. Maria memancarkan sinar Ilahi Sang Matahari itu kepada dunia. Seharusnya setiap orang yang diciptakan Allah seharusnya menjadi cermin dari kekudusan Allah, sebab setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26). Tetapi dosa asal telah mencemari dan merusak cermin sebagai citra Allah. Hanya Maria yang sungguh memantulkan kekudusan Allah secara sempurna.

Ketiga, gelar Cermin Kekudusan diambil dari Keb. 7:26, “Karena kebijaksanaan merupakan pantulan cahaya kekal, dan cermin tak bernoda dan kegiatan Allah, dan gambar kebaikan-Nya.” Allah telah memberi kita cermin tak bernoda dari kehidupan dan keutamaan Bunda Maria supaya kita renungkan, kita pandang dengan penuh cinta dan antusiasme. Maria menjadi model yang sempurna dari apa yang harus kita lakukan.

Jika doa Rosario dilakukan dalam konteks doa arwah, apakah boleh menggunakan Peristiwa Mulia meskipun bukan hari Rabu atau Minggu?

Yoseph Hung, Pontianak. [Penanya]

Peristiwa-peristiwa dalam doa Rosario (Gembira, Sedih, Mulia, dan Terang) bisa digunakan untuk membantu merenungkan saat-saat penting dalam hidup Yesus. Pembagian penggunaan peristiwa-peristiwa itu (dari Senin sampai Minggu) bukanlah sesuatu yang mutlak dan kaku, tetapi lebih merupakan pemerataan sehingga dengan mendoakan Rosario kita merenungkan seluruh hidup Yesus dan peran Mari di dalamnya.

Jadi, boleh saja dalam konteks doa arwah digunakan Peristiwa Mulia meskipun bukan hari Rabu atau Minggu. Penggunaan Peristiwa Mulia dalam konteks doa arwah akan membantu orang-orang yang hadir untuk merenungkan tentang kebangkitan dan harapan hidup kekal. Maka doa Rosario menjadi sarana bantu yang sungguh cocok dengan keadaan yang sedang dihadapi. Di lain pihak, jika doa arwah diadakan secara berturut-turut, baik untuk arwah yang sama maupun untuk arwah yang berbeda-beda, tentu akan menjemukan umat yang hadir, jika selalu digunakan sebuah peristiwa yang sama terus menerus, maka perlu fleksibel.

Konsultasi Iman “Majalah Hidup-Mingguan Katolik, 43 tahun ke 71- 22 Oktober 2017” hlm. 18, oleh Petrus Maria Handoko CM, Imam Kongregasi Misi, Doktor Teologi Dogmatik Universitas Gregoriana Roma.

Tradisi Penumpangan Tangan


Apakah penumpangan tangan oleh umat awam bisa dibenarkan menurut Ajaran Gereja? Bukankah dalam tradisi Gereja penumpangan tangan hanya dilakukan mereka yang tertahbis? Apakah selama ini Magisterium melakukan pembiaran praktik penumpangan tangan oleh awam meskipun salah/

Amel Christine, Jakarta. [Penanya].


Pertama, penumpangan tangan itu sendiri tak mempunyai kuasa magis yang dapat memberikan kekuatan tertentu. Dalam Kitab Suci dan tradisi Gereja tindakan penumpangan tangan dimaknai sebagai tindakan simbolis religius untuk memohonkan rahmat Roh Kudus atau biasa disebut epiklese. Sebagai doa, orang yang menumpangkan tangan memohon kepada Allah karunia Roh Kudus. Menurut Ajaran Gereja, penumpangan tangan adalah “tanda pencurahan Roh Kudus” (KGK 699). Ajaran ini harus dimengerti bahwa karunia Roh Kudus yang diterima bukan berasal dari orang yang menumpangi tangan, tetapi pemberian Roh Kudus melalui doa orang yang menumpangi tangan.

Kedua, ada bermacam-macam karunia Roh Kudus yang bisa dimohonkan dan masing-masing permohonan bisa diungkapkan dengan tindakan simbolis penumpangan tangan. Karena itu dalam Gereja-Gereja Kristen, penumpangan tangan digunakan dalam aneka upacara, baik yang resmi maupun yang tak resmi, missal upacara sakramen-sakramen, pelantikan fungsionaris Gereja, pelayanan penyembuhan, permohonan berkat secara umum dan upacara-upacara religius lainnya.

Dalam Kitab Suci tidak ada pembatasan tentang siapa yang boleh secara eksklusif menggunakan tindakan simbolis penumpangan tangan. Tentu saja karunia Roh Kudus yang dimohonkan dan kemudian diberikan Tuhan tergantung kepada status dan wewenang orang yang menumpangkan tangan. Missal hanaya uskup yang bisa memohonkan dan menerimakan karunia tahbisan Uskup, imam, dan daikon. Hanya imam yang boleh menumpangkan tangan atas roti dan anggur dan memohon perubahan menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Kaum awam boleh menumpangkan tangan untuk memohon karunia Roh Kudus kesehatan, pencerahan, juga yang terkait dengan sakramentali, dan lain-lain.

Ketiga, dalam tradisi Gereja, terutama sejak Konsili Trente, penumpangan tangan memang banyak dilakukan mereka yang tertahbis sehingga terkesan seolah tindakan simbolis itu menjadi eksklusif milik kaum tertahbis. Hal ini terjadi karena Gereja pada waktu itu sangat menekankan imamat ministerial yang diserang oleh kaum Protestan dan sebaliknya kurang menekankan imamat umum, yaitu imamat semua orang yang dibaptis, yang dipromosikan kaum Protestan. Konsili Vatikan II mengembalikan fungsi imamat umum (1 Ptr. 2:4-10) yang seolah terlupakan itu (LG 10-11). Maka sebagai konsekuensinya, kaum beriman awam juga bisa memohonkan karunia Roh Kudus sesuai dengan imamat umum mereka. itulah yang diungkapkan dalam SC 79 (tahun 1963) dan lebih lanjut dituangkan dalam KHK 1168 (1983), “…beberapa sakramentali, sesuai norma buku-bukun liturgi, menurut penilaian Ordinaris wilayah, dapat juga dilayani oleh orang awam yang memiliki sualitas yang sesuai.” Katekismus No. 1669 (1993) merinci dengan lebih jelas, “ Sakramentali termasuk wewenang imamat umum semua orang yang dibaptis, setiap orang yang dibaptis dipanggil menjadi “berkat” dan untuk memberkati. Karena itu, kaum awam dapat melayani pemberkatan-pemberkatan tertentu. Semakin satu pemberkatan menyangkut kehidupan Gereja dan sacramental, semakin pelaksanaannya dikhususkan untuk jabatan tertahbis (Uskup, Imam, dan daikon).”

Keempat, jika setiap orang yang dibaptis dipanggil untuk menjadi berkat dan memberkati, maka mereka secara absah dapat menggunakan tindakan simbolis penumpangan tangan sebagai tandanya, misal untuk memohonkan rahmat bagi anak-anak mereka, memberkati makanan, memberkati anak-anak pada saat Ekaristi. Jadi penumpangan tangan oleh mereka yang tidak tertahbis yang dilakukan dalam doa penyembuhan bisa dibenarkan, dan bukan bentuk pembiaran oleh hirarki.

Disunting oleh Silvester Detianus Gea


Konsultasi Iman “Majalah Hidup-Mingguan Katolik, 30 tahun ke 70- 24 Juli 2016” hlm. 14, oleh Petrus Maria Handoko CM, Imam Kongregasi Misi, Doktor Teologi Dogmatik Universitas Gregoriana Roma.

Katakese Singkat Mengenal Persekutuan Para Kudus

 “Janganlah kita melupakan mereka yang telah meninggal dalam doa kita. Janganlah kita melupakan Para Bapa Bangsa, Para Nabi, Para Rasul, dan Para Martir yang membawa permohonan-permohonan kita kepada Allah; janganlah kita melupakan Para Bapa Suci dan Para Uskup yang telah meninggal juga semua orang yang paling dekat dengan kita yang membawa permohonan-permohonan kita kepada Allah.” (St. Cyril of Jerusalem (ca. 350) Catechetical Lectures, 23 [Mystagogic 5], 90)
Kami sebagai orang Katolik menghormati Persekutuan Para Orang Kudus, tetapi kami sebagai umat Katolik tidak menyembah Para Kudus tersebut. Karena Hanya Allah yang layak dan patut untuk disembah (Mat 4:10; Luk 4:8; Kis 10:26). Kami menghormati para kudus sebab jika kita boleh menghormati ayah dan ibu kita ,maka mengapa kita tidak boleh menghormati Para Kudus? Dalam kitab suci tertulis bahwa Petrus ,Yakobus, dan Yohanes menyembah Yesus sambil menghormati Elia dan Musa pada waktu peristiwa Transfiguraasi (Markus 9:4),Yosua jatuh bersujud di hadapat seorang malaikat (Yos 5:14),Daniel Jatuh bersujud di hadapan Malaikat Gabriel(Dan 8:17),Tobias dan Tobit jatuh ke tanah di hadapan Malaikat Rafael (Tob 12:16). Jika orang-orang besar ini boleh menghormati Para Malaikat dan Orang Kudus, mengapa kita tidak boleh?

Sebagai umat Katolik kami mengakui bahwa hanya ada satu Pengantara, Yesus Kristus (1 Tim 2:5). Kami mengakui bahwa Yesus Kristus merupakan satu-satunya Pengantara, tetapi Ia telah mengaruniakan kami dan Para Kudus dengan kemampuan untuk terikat satu sama lain dalam satu kepengantaraan tersebut.

Seperti yang di katakan Paulus: “Jadilah pengikutku sama seperti aku juga jadi pengikut Kristus” (1 Kor 11:1; juga 1 Tes. 1:6-7; 2 Tes. 3:7). Dengan kata lain, lakukan apa yang saya lakukan seperti saya melakukan apa yang Kristus lakukan. Bukankah ini berarti melayani dalam Pengantaraan Kristus? Demikian juga, 1 Tes 1:5-8 mengingatkan kita bahwa kita harus menjadi teladan bagi orang beriman dan Ibrani 13:7 mengingatkan kita supaya mengingat para pemimpin kita dan supaya kita mengingat dan mencontoh iman dan kehidupan mereka. Dengan menjadi seorang Kristiani dan dengan menjadi seorang teladan dari Kristus, seseorang berbagi dalam kepengantaraan Kristus. Paulus juga mengingatkan kita bahwa kita menggenapkan apa yang kurang pada penderitaan Kristus untuk Tubuh-Nya, yaitu Gereja (Kol 1:24). Jika demikian, maka menjadi seorang Kristiani berarti bahwa kita, oleh karena kodrat kita, berbagi dalam satu kepengantaraan Kristus.

Kodrat sesungguhnya dalam menjadi seorang Kristiani adalah untuk menjadi seorang pengantara / mediator karena kita adalah gambar dan rupa Kristus, yang mana hal ini berarti kita harus bertumbuh dalam kekudusan, berbagi dalam penderitaan Kristus. Dan dengan berbagi dalam penderitaan-Nya berarti bahwa seseorang berbagi dalam pengorbanan Yesus dalam Salib kepada Allah Bapa. Seperti Kristus yang menderita pada kayu salib untuk keselamatan kita, kita merupakan orang-orang yang berperan dalam karya penebusan Kristus oleh karena penderitaan kita sebagai seorang Kristiani dan oleh karena kita adalah gambar dan rupa Kristus. Kehidupan orang beriman adalah pengorbanan yang hidup bagi Allah.

Kitab Suci menunjukkan bahwa Para Kudus adalah yang pertama dan terutama berada di Surga bersama Kristus sebelum kebangkitan badan pada akhir zaman nanti (2 Makabe 15:11-16; Markus 12:26-27; Luk 23:43; 2 Kor 5:1, 6-9; Fil 1:23-25; Wahyu 4:4, 6:9, 7:9; 14:1, 19:1,4-6). Allah adalah Allah orang hidup bukan Allah orang mati (Mrk 12:26-27). Penyamun di kayu salib yang memandang Yesus, bertobat dan diberitahu Yesus bahwa ia akan berada di Firdaus bersama dengan Kristus pada hari itu. (Luk 23:43). Dalam Ibrani 12:1, kita diingatkan bahwa kita dikelilingi oleh awan saksi-saksi surgawi. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengingatkan kita bahwa Para Martir berada dalam tangan Allah (Wahyu 6:9-11; 20:4 ; Kebijaksanaan Salomo 3:1-6). Kitab Didache yang memuat pengajaran Para Rasul menegaskan: “Tuhan akan datang dan seluruh orang kudus-Nya bersama Dia.”

Kitab Suci menunjuk pada fakta bahwa umat beriman di bumi berada dalam persekutuan dengan Para Kudus di surga (1 Kor 12:26; Ibr 12:22-24), dan bahwa mereka membantu kita melalui doa-doa syafaat mereka (Luk 16:9, 1 Cor 12:20; Why 5:8). Sebagai contoh, Kitab Suci menunjukkan bahwa “Dalam hidupnya (Elisa) memperlihatkan mujizat-mujizar dan setelah kematiannya, perbuatan-perbuatan  yang mengagumkan” (Sir 48:14). Bahkan setelah kematiannya, Elisa menjadi perantara bagi kita dan membawakan kita hal-hal “yang mengagumkan”. Dalam Tobit 12:12, kita melihat bagaimana seorang Malaikat mempersembahkan doa-doa dari dua orang manusia kepada Allah.

Betapa sedih bagi saya sebagai seorang Imam Katolik ketika mendengar kalimat “sampai kita bertemu kembali” dari orang-orang atau denominasi-denominasi Protestan lain ketika ada anggota keluarga mereka yang meninggal. Bagi umat Katolik, hubungan kita tidak pernah berakhir. Persekutuan yang kita bagi dengan orang lain di bumi (1 Kor 12:24-27) adalah sesuatu yang berlanjut di dalam Api Penyucian dan Surga. Bentuk hubungan kita memang berubah, tetapi hubungan tersebut berlanjut ke dalam keabadian. Betapa membahagiakan mengetahui bahwa kita dapat membantu orang-orang melalui doa-doa kita ketika mereka sedang dimurnikan dalam Api Penyucian (2 Mak 12:45). Betapa membahagiakan mengetahui bahwa dari surga, mereka sedang menjadi pendoa dan perantara bagi kita dalam kehadiran Allah. (bdk Why 5:8; 1 Kor 12:20; Ibr 12:22)

Saya memikirkan ayah saya yang meninggal 20 tahun lalu. Seperti dia yang mencintai saya, merawat saya dan berdoa bagi saya dalam perjalanan duniawinya, apa yang kamu pikirkan yang sedang ia lakukan di surga? Dia sedang mencintai saya, sedang merawat saya dan sedang berdoa bagi saya. Tetapi sekarang doa-doanya lebih berdaya guna, karena doa-doa tersebut adalah doa-doa dari seorang manusia yang telah dimurnikan dan disempurnakan. Doa-doa tersebut adalah doa-doa yang sungguh terbaik dari ayah saya. Jadi ketika saya sedang mengalami hari yang sulit, saya dapat berdoa kepada ayah saya dan berkata, “Hei Ayah, daraskanlah sedikit doa kepada Allah bagiku.” dan ia akan melakukannya. Atau saya dapat berkata ketika saya sedang mengalami hari yang menyenangkan, “Hei Ayah, katakanlah sedikit ucapan terimakasih kepada Allah bagiku.” dan ia akan melakukannya. Dalam banyak cara, ayah saya lebih dekat dengan saya sekarang dari pada sebelumnya. Betapa karunia yang begitu mulia!

Marilah kita jangan pernah menjadi takut untuk meminta perantaraan Para Kudus di surga, karena mereka adalah karunia yang telah Allah percayakan kepada dunia. Berapa banyak tumor dan kanker yang menghilang melalui perantara Para Kudus? Berapa banyak penyakit telah disembuhkan melalui perantara Para Kudus? Sejarah menunjukkan perantara yang menakjubkan dari Para Kudus dan persekutuan mereka dengan kita.

Saya menganjurkan anda sekalian untuk memeriksa peristiwa-peristiwa sejarah mengenai Para Kudus yang dikanonisasi dan proses kanonisasi itu sendiri. Saya juga menganjurkan untuk memeriksa peristiwa-peristiwa mengenai penampakan Bunda Maria khususnya Lourdes dan Fatima. Allah kita bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. (Mat 22:32; Mrk 12:27)

Kristus adalah Satu-satunya Pengantara yang benar, tetapi kita dan Para Kudus yang berada dalam persekutuan dengan kita telah dikaruniai untuk berbagi dalam satu kepengantaraan tersebut.

Lebih jauh lagi, kita tidak boleh pernah melupakan Orang Kudus terbesar dari semuanya, St. Perawan Maria. Pada pesta perkawinan di Kana, adalah St. Maria yang menyampaikan permintaan dari pasangan mempelai supaya mereka memiliki lebih banyak anggur. Yesus melakukan mujizat pertamanya, mengubah air menjadi anggur, untuk ibu-Nya. (Yoh 2:1-11)

Semoga kita tetap berada dalam persekutuan dengan Allah dan semua Para Kudus-Nya, karena mencintai dan menghormati Para Kudus adalah berarti menghormati Allah (bdk Gal 1:24) karena Para Kudus adalah keindahan dari ciptaan dan kehendak-Nya.

Persekutuan Para Kudus merupakan tanda dari realitas Tritunggal Mahakudus. Semua manusia menggemakan gambar Tritunggal Mahakudus. Karena Tritunggal Mahakudus adalah persekutuan Pribadi-pribadi Ilahi, sebuah persekutuan Cinta Kasih (Kej 1:26), maka sangat masuk akal bahwa apa yang Ia ciptakan dalam gambar dan rupa-Nya akan terikat satu sama lain dalam sebuah persekutuan Cinta Kasih yang sama.

Kita layak untuk memberikan perhormatan kepada Para Kudus dan Para Malaikat karena persatuan mereka dengan Pencipta meraka,Allah Bapa Seperti 1 Yoh 3:2 jelaskan, “kita akan menjadi sama seperti Dia,  sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.” Jika demikian, maka Para Kudus layak untuk dihargai dan dihormati.

sumber : http://www.indonesianpapist.com/2011/11/katekese-mengenai-persekutuan-para.html

Merah Putih di Altar



Pada Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia, apakah pemasangan bendera Merah Putih di panti imam, tidak bertentangan dengan sifat Gereja yang universal? Bagaimana jika bendera Merah Putih dipajang di altar untuk seterusnya demi menekankan moto 100 persen Katolik 100 persen Indonesia? Bolehkah disertai dengan bendera Vatikan? Bagaimana jika bendera Vatikan (Kuning Putih) yang terus menerus dipajang di panti imam?

Stefanus Hari Widjaja, Malang.


Pertama, Gereja kita adalah Katolik, artinya bahwa Gereja tidak terikat pada satu budaya, tetapi bisa masuk dan diungkapkan dengan setiap budaya yang ada di seluruh dunia. Iman Kristiani bisa meresapi bukan hanya budaya, tetapi juga setiap negara. Karena itu, pada kesempatan perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, sungguh sangat cocok menempatkan bendera Merah Putih di panti imam sebagai ungkapan sifat universal dari Gereja. Jadi, hal ini justru harus dilihat sebagai ungkapan konkret yang sesuai, dan bukan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan sifat Universal (Katolik) Gereja..

Perlu diperhatikan, bahwa penempatan bendera Merah Putih itu hanya terjadi pada perayaan Kemerdekaan 17 Agustus dan bukan sepanjang tahun. Seandainya pada hari itu ada orang-orang asing (bukan WNI) yang ikut serta dalam perayaan Ekaristi itu, kiranya mereka akan bisa mengerti dan sama sekali tidak akan berkeberatan. Juga, tidak ada peraturan liturgis yang dilanggar oleh penempatan Bendera Merah Putih di panti imam, pada perayaan Kemerdekaan seperti itu.

Kedua, penempatan bendera Merah Putih pada perayaan Kemerdekaan, bisa dibandingkan dengan Misa inkulturasi dengan gaya budaya-budaya di Indonesia. Misalnya, Misa inkulturasi Jawa, Bali, Batak, Sunda, Madura, Tionghoa, dll. Demikian pula, pada perayaan Kemerdekaan itu, hiasan dan pakaian bisa menggunakan ungkapan kekayaan budaya Indonesia yang ada.

Ketiga, masalahnya menjadi berbeda jika bendera Merah Putih diletakkan di panti imam terus-menerus sepanjang tahun (permanen). Moto 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia harus diakui kebenarannya, tetapi hal ini tidak boleh melukai umat yang bukan WNI yang kebetulan mengikuti perayaan Ekaristi. Jadi, sifat particular (Indonesia) bisa dibenarkan tetapi sifat universal (Katolik) juga harus tetapi dijaga. Pada umumnya di seluruh Gereja Katolik di seluruh dunia, bendera negara tidak ditempatkan terus-menerus di panti imam, termasuk juga bendera Vatikan (Kuning Putih). Perayaan Ekaristi tidak mengenal atau terkait dengan negara tertentu dan tidak mengenal batas politis. Dari sudut ajarannya, perayaan Ekaristi tidak terkait dengan negara Vatikan. Maka, tidak perlu secara permanen memasang baik bendera Merah Putih maupun bendera Kuning Putih di panti imam pada perayaan Ekaristi.

Keempat, Penempatan bendera Merah Putih tidak perlu ditemani dengan bendera Vatikan, karena yang dirayakan ialah Kemerdekaan Republik Indonesia yang tidak terkait dengan negara Vatikan. Bapa Suci adalah kepala negara Vatikan. Memang dia juga adalah pemimpin iman kita. Tetapi kita bukanlah warga negara Vatikan. Menjadi Katolik tidak secara otomatis membuat kita menjadi warga negara Vatikan. Bagi negara Vatikan kita warga negara Indonesia adalah orang asing. Perlu paspor dan visa untuk masuk ke dalam Vatikan. Bendera Vatikan Kuning Putih bisa dipasang ketika kita menyambut kedatangan Bapa Suci sebagai tamu negara.

Kelima, Pedoman Umum Misa Romawi tidak memasukkan bendera atau simbol nasional lainnya sebagai barang yang harus dipasang di altar pada saat perayaan Ekaristi. Uskup setempat bisa memberikan tuntunan pastoral tentang kapan dan bagaimana simbol-simbol nasional boleh dipasang dalam perayaan Ekaristi, yang dibaktikan khusus untuk negara. Pemasangan secara permanen simbol nasional, regional atau budaya tentu dirasa tidak cocok.

Konsultasi Iman “Majalah Hidup-Mingguan Katolik, 35 tahun ke- 71, 27 Agustus 2017” hlm. 18, oleh Petrus Maria Handoko CM, Imam Kongregasi Misi, Doktor Teologi Dogmatik Universitas Gregoriana Roma.

7 Sakramen Dalam Gereja Katolik

Sakramen merupakan sebuah tanda yang menyampaikan Kasih dan Rahmat Allah Bapa Secara Nyata.Hal ini terdapat pada Injil Yohanes 14 : 18 yang menyatakan pemenuhan janji Kristus bahwa Ia tidak akan meninggalkan kita sebagai yatim piatu.Maka Melalui sakramen Allah mengirimkan Roh Kudus-Nya untuk memberi makan dan menguatkan Kita.

Sebenarnya keberadaan sakramen sudah ada sejak perjanjian lama,hanya saja berupa simbol Sunat dan Perjamuan paskah dan bukan sebagai tanda yang menyampaikan rahmat Tuhan.Kemudian Kristus datang bukan untuk menghapuskan Perjanjian Lama namun untuk menggenapinya. Maka Kristus tidak menghapuskan simbol-simbol tersebut namun menggenapinya dan menjadikan nya sebagai tanda rahmat Tuhan.Sunat disempurnakan menjadi Pembaptisan dan perjamuan paskah menjadi Ekaristi.Dengan demikian Ekaristi bukan hanya menjadi simbol semata tapi Ekaristi menjadi tanda yang sungguh menyampaikan rahmat Tuhan.





7 Sakramen yang ada Dalam Gereja Katolik

1. Sakramen Pembaptisan

Sakramen Baptis merupakan sakramen yang pertama kali kita terima sebelum sakramen sakramen yang lain.Pada saat penerimaan Sakramen Baptis kita diperciki air kemudian diolesi minyak serta diberi kain putih dan lilin bernyala.Semua itu merupakan lambang bahwa kita telah di bersihkan dari dosa asal dan siap menjadi terang bagi sesama.Dengan menerima sakramen baptis kita telah diangkat menjadi anak Allah dan digabungkan dengan gereja yang menjadikan kita anggota Tubuh Kristus serta siap diutus untuk berbuat baik kepada semua orang.Pembaptisan hanya dapat di terima satu kali untuk selamanya namun meninggalkan material rohani yang tidak dapat di hapuskan.

2.Sakramen Ekaristi

Perayaan Syukur atas Kasih Allah Bapa Lewat Pengorbanan Tuhan Yesus Kristus dirayakan setiap kali kita mengikuti Misa atau Sakramen Ekaristi.Pada saat Ekaristi kita mengenang karya penyelamatanYesus Kristus bagi manusia,yang terjadi melalui wafat dan kebangkitan-Nya.

Perayaan ekaristi dapat mengingatkan kita pada malam perjamuan terakhir yang diadakan Yesus bersama sama dengan para murid-Nya. Pada saat itu Yesus mengambil roti ,mengucap syukur ,lalu memecah-mecahkanya dan kemudian membagikan roti itu kepada para murid sambil berkata,"Ambilah,makanlah,Inilah tubuh-Ku."Setelah itu,Ia mengambil cawan dan kemudian mengucap berkat dan memberikan kepada para murid-Nya dan berkata,"Minumlah kamu semua dari cawan ini.Sebab inilah darah-Ku ,darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa."Perkataan dan tindakan Yesus menunjukan bahwa Ia rela mengorbankan diri untuk keselamatan dan kehidupan seluruh umat manusia tanpa terkecuali.Keselamatan yang diberikan Yesus tidak hanya untuk orang katolik saja tapi itu semua orang.

Pada saat menerima komuni,kita menyambut Tubuh Kristus dan kita di persatukan dengan Yesus dan sesama karena kita menerima Yesus yang sama

3.Sakramen Krisma

Allah Bapa memperkuat jiwa kita lewat Sakramen penguatan atau sakramen Krisma.Hal ini dapat dilihat Dalam Kisah Para Rasul 2:2-13 yang menceritakan bahwa setelah Yesus Kristus naik ke Surga Roh Kudus dicurahkan kepada para rasul.Karena karunia Roh kudus inilah para rasul menjadi berani berbicara dan bersaksi di tengah banyak orang.Turunnya roh kudus atas para rasul dirayakan pada hari Raya Pentekosta.

Pada waktu di baptis kita mendapatkan Anugrah Roh Kudus yang mendampingi kita sebagai anak Allah.Dan ketika kita menerima sakramen krisma kita akan mengalami bahwa Roh Kudus yang telah kita terima pada saat pembaptisan dapat berkarya secara khusus dalam diri kita untuk menguatkan dan mendorong kita untuk bisa menjadi semakin kuat dan dewasa dalam beriman.

4.Sakramen Pengakuan Dosa /Tobat

Setiap orang pernah berbuat dosa.Dosa dapat merusak hubungan kita dengan sesama dan Tuhan sehingga membuat kita merasa tidak senang dan bahagia.Oleh Karena itu Allah Bapa menganugerahkan kepada kita sakramen Tobat atau pengakuan dosa.Di dalam sakramen ini kita mengakukan dosa dosa kita kepada Imam,karena Yesus Kristus sendiri telah memberi kuasa kepada para Imam-Nya untuk melepaskan umatnya dari dosa setelah kebangkitanNya(Yoh 20:22-23).Melalui sakramen tobat kita menerima pengampunan dosa dari Allah Bapa beserta rahmatnya yang dapat membantu kita untuk menolak godaan dosa di waktu yang akan datang sehingga menjadikan hidup kita lebih damai.

5.Sakramen Perkawinan

Dalam perjalan hidup manusia sebagian besar orang dipanggil untuk hidup berumah tangga.Nah melalui Sakramen perkawainan Allah Bapa memberikan sakramen secara khusus kepada pasangan yang menikah agar dapat menghadapi berbagai macam problema yang akan timbul setelah pernikahan nanti.Teutama di dalam mengasuh dan membesarkan anak anak untuk didik menjadi pengikut Kristus yang sejati.

Dalam sakramen perkawinan terdapat tiga pihak yang terlibat yakni mempelai pria,wanita dan Allah Bapa Sendiri.Ketika mempelai pria dan wanita menerima sakramen ini,maka Allah hadir ditengah tengah mereka untuk menjadi saksi dan memberkati melalui perantaraan Imam atau diakon yang berdiri sebagai saksi dari pihak gereja.Oleh karena itu dalam geraja katolik perkawinan bersifat kudus dan tidak dapat terceraikan(Mat 19:6).

6.Sakramen Tahbisan/Imamat

Pada saat kita ke geraja dan mengikuti perayaan Ekaristi maka yang mempersembahkan misa Kudus adalah seorang Imam.Para Imam adalah orang yang dipanggil secara khusus oleh Tuhan Yesus.Untuk menjawab panggilan Tuhan tersebut maka mereka harus mengikuti pendidikan di sekolah seminari menengah,tinggi serta menjalani masa orientasi di pastoral di tengah umat.Setelah menyelesaikan tahapan pendidikan tersebut,maka mereka ditahbiskan oleh uskup untuk menjadi seorang imam.Nah Pada saat tahbisan itulah mereka menerima sakramen imamat dengan mengucapkan janji untuk taat kepada pemimpin gereja,untuk hidup miskin dan selibat yaitu tidak menikah.

7.Sakramen Pengurapan Orang Sakit

Semua orang pasti mengalami sakit.Ada yang mengalami sakit berat maupun ringan.Orang sakit biasanya pergi ke dokter untuk mendapatkan pengobatan.Ada yang berhasil sembuh,tapi ada juga yang tetap sakit bahkan sakitnya menjadi semakin parah.

Sebagai seorang beriman selain berobat ke dokter kita juga dapat menyerahkan segala persoalan penyakit kita kepada Tuhan.Karena kita yakin bahwa Tuhan selalu memperhatikan orang sakit dan menyembuhkan banyak orang sakit.Tuhan Yesus Kristus membuat orang lumpah menjadi berjalan,orang buta dapat melihat dan orang Kusta menjadi tahir.

Saat ini penganti para rasul adalah para Imam.Jika ada saudara atau umat katolik yang mengalami sakit berat hedanknya memberitahukan kepada seorang Imam.Ia akan datang untuk memberikan sakramen pengurapan orang sakit sebagaimana yang tertulis dalam Surat Yakobus yang mennyatakan "Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit,baiklah ia memanggil para penatua jemaat supaya mendoakan dia serta mengolesi dengan minyak dalam nama Tuhan(Yak 5:14)"

Sakramen Pengurapan orang sakit bukan semata-mata untuk menyembuhkan orang dari sakit yang dideritanya.Melainkan dengan menerima sakramen tersebut orang yang sakit akan diberi kekuatan dan penghburan supaya sanggup menjalankan penderitaannya seperti saat Yesus menderita di kayu salib.

Kesimpulan Sakramen merupakan rahmat terbesar yang disediakan Allah Bapa melalui gereja-Nya.Oleh Karena itu sebagai umat beriman sudah seharisnya kita menerima sakramen-sakramen tersebut agar kita dapat memperoleh anugerah keselamatan dan perlindungan dari Tuhan.

Aku Menemukan-Mu Dalam Pergumulanku

Saya sebelumnya beragama non-Kristen. Bahkan saya tidak mengenal mengenai Gereja, Injil, dan lain sebagainya, karena saya dari kecil hingga besar berada di lingkungan non-Kristen. Saya baru menjadi seorang Kristen Katolik tahun 2015. Saya menjadi seorang Katolik karena mengikuti hati nurani saya.Awalnya saya tertarik dengan teman-teman Kristiani yang notabene minoritas di sekolah saya. Memang pertemanan saya dengan orang Kristiani sudah sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), meskipun keluarga saya tergolong keluarga yang taat beragama. Saya pernah baca-baca tentang Kitab Suci Injil dan beberapa isinya menampilkan keistimewaan Yesus sebagai utusan Tuhan [Karena saat itu, saya belum meyakini bahwa Yesus  sebagai inkarnasi dari Tuhan]. Sejak Sekolah Menengah Atas (SMA) saya suka baca-baca tentanga artikel Kristologi dan Sejarah Perjanjian Lama yang menceritakan tentang kehadiran Mesias di akhir zaman. Saya menyukai cerita konflik antara Kristus dengan Anti Kristus [Dajjal]. Entah mengapa dari situ muncul ketertarikan saya terhadap sosok Yesus, yang dalam Kitab lain, juga ditemukan tentang keistimewaannya. Akhirnya, saya memiliki niat untuk belajar agama Kristiani dan hal itu saya ungkapkan pada ibu saya. Ibu saya mendukung pilihan saya, tetapi merahasiakannya kepada ayah, dan keluarga lainnya hingga waktu yang tepat. 

Selama saya kuliah, saya mencoba menggali beberapa informasi tentang ilmu agama Kristiani. Tetapi selama masa pencarian itu, saya sempat terjebak dalam  lingkungan pergaulan yang justru menjauhkan saya dari niat awal. Banyak teman-teman Kristiani saya yang mempertontonkan hal-hal yang kurang terpuji, bahkan mereka menganggap tindakan salah itu sebagai suatu kewajaran. Akhirnya saya bergabung ke forum non-Kristen, karena saya masih tetap non-Kristen. Tetapi dalam forum itu, justru banyak pembahasan yang menjelekkan kaum Kristiani dengan mengatakan, Yesus itu Tuhan tanpa busana. Justru itu yang membuat hati saya memberontak dan kembali mencari teman-teman yang dapat berbagi mengenai iman Kristiani. Pada saat itu saya tidak cerita kepada mereka tentang niat saya untuk menjadi Kristen. Dalam proses pencarian itu saya terus menyelesaikan studi saya. Menjelang akhir studi saya, ibu saya menanyakan niat saya, untuk menjadi seorang Kristiani. Saya menjawab ibu saya dengan berkata bahwa saya menemukan banyak sekte dalam Kekristenan, yang membuat saya bingung dan aneh. Pernah sesekali saya ikut ibadat teman saya di salah satu Gereja Non-Katolik. Tetapi saya merasa tidak nyaman, karena berbagai alasan. Dari semua pengalaman itu, saya coba diskusi dengan ibu saya. Kemudian ibu saya bercerita, kalau saya seharusnya mencari yang lebih murni. Pada saat itu saya belum mengerti perbedaan Kristen Katolik dan non-Katolik. Namun demikian, saya pernah melihat video misa di luar negeri, yang ternyata menggunakan Kerudung Misa/Mantila. Saya merasa lebih pantas dan santun, karena memang latar belakang saya dari non-Kristen. 

 Ternyata Tuhan menyiapkan rencana yang terindah. Pada suatu waktu seorang Suster berkunjung ke rumah dan bertemu dengan ibu saya, untuk keperluan tertentu. Dari situlah ibu saya cerita kepada suster, tentang keinginan saya untuk mempelajari ilmu agama Kristen. Ibu saya juga cerita tentang kebingungan saya terhadap banyaknya sekte dalam Kekristenan. Suster itu pun menawarkan kepada saya untuk berkunjung ke biara mereka yang terletak tidak jauh dari rumah saya.  Ketika saya pertama kali datang ke biara, saya langsung diajak untuk menyaksikan Misa. Dari situlah muncul ketertarikan saya terhadap iman Katolik. Dan akhirnya saya menjalani masa katekumenat hampir 1 tahun. saya dibaptis tahun 2015 menjelang Hari Raya Natal. Sekarang saya sedang berusaha menjaga iman saya di tengah dominasi non-Kristen. Benar bahwa menjadi pengikut Yesus itu tidak mudah, karena banyak tantangan yang bisa menjauhkan kita daripada-Nya.

Editor: Silvester Detianus Gea

[Catatan: Sharing dikirimkan melalui WA. Pihak yang bersharing meminta agar identitasnya disembunyikan]. Kirimkan sharing anda ke nomor WA 0812 8228 1208 untuk dimuat di website:www.cahayakristus7.blogspot.com.

Aku Menemukan Salib-Mu


Saya sudah sejak lama berteman di Facebook dengan seorang Katolik. Sebelum itu dari kecil saya sudah pernah belajar tentang Kristen non Katolik. Namun dari pertemanan di Facebook itu saya mendapatkan pewartaan tentang iman Katolik. Memang selama ini sudah puluhan tahun tidak pergi ke gereja manapun, Tetapi dalam setiap iman dan doa saya tertuju kepada Tuhan Yesus. Saya didorong untuk kembali ke Gereja, tetapi Gereja Katolik. Saya pada awalnya mengalami kebingungan, karena saya belum pernah masuk ke Gereja Katolik dan tidak tahu tata cara ibadahnyak, saya takut jadi sorotan, dan takut ditertawakan . Tetapi teman itu yang selalu memberikan dorongan, akhirnya saya coba mengikuti misa pertama, dalam bahasa Mandarin, awalnya saya nervous. Karean saya tidak mengenal siapa-siapa. Saya sudah lama mempunyai kerinduan untuk ke gereja, tetapi saya tidak berani dan malu. Pada akhirnya saya di dorong dan dikuatkan untuk mencoba pergi ke gererja. Tetapi saat misa bahasa Mandarin tersebut, hati saya masih belum puas, karena tidak mengerti firman yang disampaikan melalui Homili.

Kemudian saya melanjutkan untuk mengikuti kebaktian di gereja Non Katolik di suatu kota. Lagi-lagi saya tidak tahu jadwal ibadahnya, saya melihat kebaktian sedang berlangusng, akhirnya saya masuk juga, namun saya tidak mendengarkan Firman Tuhan, karena terlambat. Akhirnya saya mengikuti sesi kebaktian kedua. Saya kebaktian di gereja non Katolik memakai bahasa Indonesia. Hari demi hari saya terus bertanya jawab dengan teman saya, karena saya pun tahu sedikit tentang cerita Alkitab. Saya sering juga membaca di FP Page, yang membahas mengenai iman Katolik. Pada tanggal 20 September 2015, saya pertama kali ke gereja, karena mengikuti masa katekumenat. Saya harus menunggu bulan Mei 2016, untuk mendapatkan Sakramen Baptis dan saya merasa lama sekali. Padahal ketika saya ke gereja non Katolik, ada pengumuman bagi yang mau baptis untuk mendaftarkan diri. Saya hampir saja mendaftar karena saya tidak sabar, tetapi sebelum daftar saya diskusi terlebih dahulu dengan teman saya. Berdasarkan saran dari teman saya, maka saya tetap menjalani masa katekumenat. Saya mengikuti masa katekumenat di dua tempat. Saya pun kewalahan karena bolak balik di antara ke dua tempat itu. Akhirnya saya mendapat info ditempat yang lebih dekat, akan menerimakan sekaligus tiga Sakramen. Maka, saya putuskan untuk mengikuti ditempat yang lebih dekat itu. Saya pernah complain pada teman, karena dalam Gereja Katolik, susah sekali proses menuju pembaptisan, padahal menurutku ditempat lain begitu gampang. Tetapi teman saya menjelaskan tentang hakekat iman Katolik, sehingga membuat saya sabar.

Saya juga merasa bersukacita, ketika saat saya dalam perjalanan menuju gereja pada hari minggu untuk mengikuti kelas katekumen, saya menemukan SALIB yang ada corpusnya. Tanpa sengaja saya melangkah dan melihat ke bawah, sudah melewati beberapa langkah, tetapi rasanya ada sesuatu benda tergeletak di lantai gedung. Kemudian saya kembali melihat dan tenyata sebuah SALIB. Saya berpikir jangan sampai salib terinjak-injak di jalan, kemudian saya pungut. Saya melihat salibnya berwarna kuning dan ada corpusnya. Saya senang, sekaligus takut, dan bingung, dan bertanya dalam hati ini milik siapa?. kemudian saya melanjutkan perjalanan ke gereja untuk mengikuti pelajaran masa katekumenat dan ikut Misa. Setelah Misa sore, saya bercerita kepada suster, suster melihat SALIB tersebut, dan mengatakan itu hanya kuningan, dan karena tak ada yang punya, saya pun menyimpannya. Ketika pulang saya penasaran saya mencoba bertanya ke toko emas, pura-pura mau jual, orangnya juga mengatakan, SALIB itu hanyalah berbahan chrome. Lalu dia pun mengetes, dan melihat nilai jualnya. kemudian, orang itu tidak mengatakan emas, dia justru mengatakan mereka akan membeli dengan harga $200 Sin. Itu artinya salib itu adalah emas, kalau chrome tidak mungkin ada harganya. Akhrinya, saya berkata kepada mereka, saya akan pikir-pikir dahulu sebelum menjual. Saya sebenarnya hanya ingin tes saja. Saya senang bukan karena itu emas, tetapi saya memaknai ini dalam perjalanan masa katekumenat yang saya lalui, karena pada waktu itu masih ada kebimbangan. Saya maknai penemunan SALIB itu, sebagai petunjuk dari Tuhan, untuk kembali kepangkuan keGereja Katolik. SALIB itu mempunyai makna rohani bagi saya pribadi. Saya sangat bersukacita karena Tuhan menunjukkan jalan kemana saya harus berlabuh.

Saya pun bingung mau ditaruh di mana lagi salib itu. Sempat hilang 8 bulan, entah terselip di mana. Saya merasa sedih ketika salib itu hilang, namun saya mencoba berpikir positif mungkin itu hanya titipan, dan kalau tercecer bisa didapati oleh orang lain, mungkin salib itu membawa jiwa baru. Saya berkata dalam hati, Tuhan sebuah SALIB saja, saya tidak mampu menjaganya. Namun saya berjanji tidak mau kehilangan “salib” itu dalam hatiku, salib sesungguhnya. Saya terus menghibur diri dengan berpikir positif, mungkin itu hanya sarana untuk saya masuk ke Gereja Katolik. Delapan bulan kemudian, ketika saya sedang membaca Alkitab, lalu saya berniat mencari Rosario gelang yang diberikan sebagai souvenir, ketika saya dibaptis. Saya ingin melihat cara penggunaannya, begitu kata hatiku. Kemudian saya bongkar barang-barang yang saya terima, pada saat saya dibaptis. Dan ternyata saya menemukan SALIB emas itu kembali. Saya sangat senang dan penuh sukacita. Kemudian saya pastikan supaya tidak hilang lagi, “saya pakai sebagai kalung sampai sekarang.” Memang ada rasa canggung karena SALIB itu emas. Terkadang ada rasa kecil hati, apabila orang menyindir dengan berkata “pakai kalung salib, tetapi tidak mampu pikul salib yang sebenarnya.” Saya merasa senang bisa bertemu dengan teman Katolik, sehingga saya mengenal iman Katolik dan sekarang menjadi seorang Katolik. Terima kasih telah berkenan menyediakan waktu untuk membaca sharing saya. Kalau ada waktu saya ingin menghubungi Silvester Detianus Gea, untuk bertanya mengenai Iman Katolik.

Editor: Silvester Detianus Gea

[catatan: Sharing dikirim melalui WA. Pihak yang bersharing meminta agar identitasnya disembunyikan]

BAGAIMANA MEMAHAMI ARTI DUDUK DI SEBELAH KANAN ALLAH BAPA


Syahadat para Rasul menyebutkan bahwa kita percaya akan Kristus…. “yang naik ke Surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Mahakuasa…”

Ada sejumlah orang yang mempertanyakan arti kalimat ini, sebab dengan Kristus duduk di “sebelah kanan Allah” maka sepertinya ada dua Allah yang dibicarakan di sini. Bagaimana memahami istilah ini? Mari mengacu kepada penjelasan St. Thomas Aquinas, sebab pertanyaan/ keberatan serupa juga pernah ditanyakan kepadanya. Yaitu: 1) Kalau Allah adalah Roh (Yoh 4:24) dan tidak bertubuh, maka bagaimana mungkin istilah “duduk di sebelah kanan” dapat digunakan di sini, sebab “duduk” itu mengacu kepada sikap tubuh. 2) Kalau dikatakan bahwa Kristus duduk di sisi kanan, artinya Bapa duduk di sisi kiri Kristus, sepertinya tidak mungkin demikian….

St. Thomas Aquinas menjawab keberatan/ pertanyaan ini, dengan mengacu kepada teks Kitab Suci, Mrk 16:19: “Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk (kathizō) di sebelah kanan Allah.”

“Saya menjawab, kata “duduk (kathizō)” mempunyai arti ganda; yaitu “tinggal (abide)” seperti dalam ayat Luk 24:49, “Tetapi kamu harus tinggal (kathizō) di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi,” dan juga “kuasa kerajaan/ pemerintahan”, sebagaimana dalam Ams 20:8: “Raja yang bersemayam (kathizō ) di atas kursi pengadilan dapat mengetahui segala yang jahat dengan matanya.” Nah, dalam kedua arti inilah Kristus dikatakan “duduk” di sisi kanan Allah Bapa. Pertama-tama, sebab Ia tinggal secara kekal dan tak tergantikan dalam kebahagiaan Allah Bapa, maka Ia disebut sebagai tangan kanan-Nya, menurut Mzm 16:11, “…di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.” Maka St. Agustinus mengatakan (De Symb. i), “Duduk di sebelah kanan Allah Bapa’: Duduk artinya tinggal, seperti kita mengatakan tentang siapapun: ‘Ia duduk di negara itu selama tiga tahun’: Maka, percayalah, bahwa Kristus tinggal di sebelah kanan Allah Bapa: sebab Ia bahagia dan tangan kanan Bapa adalah istilah bagi nikmat-Nya.” Kedua, Kristus dikatakan duduk di sebelah kanan Allah Bapa, karena Ia berkuasa bersama Bapa, dan mempunyai kuasa memerintah dari Dia, seperti seseorang yang duduk di sebelah kanan raja membantu sang raja dalam memerintah dan menghakimi. Maka St. Agustinus mengatakan (De Symb. ii): “Dengan istilah ‘tangan kanan’, pahamilah kuasa yang diterima oleh Orang ini yang dipilih Allah, sehingga dapat datang untuk mengadili, yang dulunya datang [ke dunia] untuk diadili.

Jawaban untuk keberatan 1): Sebagaimana dikatakan oleh St. Damaskinus (De Fide Orth. IV): “Kita tidak berbicara tentang sebelah kanan Allah Bapa sebagai sebuah tempat, sebab bagaimanakah mungkin sebuah tempat ditandai sebagai sebelah kanan-Nya, padahal DiriNya sendiri berada mengatasi segala tempat? Sebelah kanan dan kiri merupakan sesuatu yang ditentukan oleh suatu batasan. Namun kita mengartikan, sebelah kanan Allah Bapa, sebagai kemuliaan dan penghormatan bagi Allah.

Jawaban terhadap keberatan 2): Argumen ini baik seandainya ‘duduk di sebelah kanan’ itu diartikan secara lahiriah. Oleh karena itu St. Agustinus (De Symb. i) mengatakan: “Jika kita menerimanya dalam arti jasmani bahwa Kristus duduk di sebelah kanan Allah Bapa, maka Bapa akan duduk di sebelah kiri. Tetapi di sana”, yang adalah kebahagiaan/nikmat kekal, “itulah tangan kanan, sebab tak ada kesengsaraan di sana.”….” (Summa Theology III, q. 58, a.1)

Dengan penjelasan ini, kita mengetahui bahwa Gereja mengartikan istilah ‘duduk di sebelah kanan Allah Bapa’ tidak terbatas dengan pengertian kata duduk sebagaimana kita pahami pada dua orang yang duduk bersebelahan. Karena kata ‘duduk’ sendiri mempunyai arti yang lebih luas dari sekedar meletakkan tubuh kita sedemikian di kursi/ tempat duduk. Maka Yesus dikatakan ‘duduk’ di sebelah kanan Allah Bapa, karena Ia tinggal bersama-sama Bapa dan mempunyai kuasa kepemimpinan, yang diterima-Nya dari Allah Bapa.

http://www.katolisitas.org/bagaimana-memahami-arti-duduk-di-sebelah-kanan-allah-bapa/

APA DAN MENGAPA SELIBAT?


oleh: Romo Francis J Peffley

Tuhan Yesus adalah seorang imam (Ibrani 4:14: “Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah”). Ia hidup selibat dan memanggil kita untuk melakukan hal yang sama. Petrus berkata: "Kami ini telah meninggalkan segala kepunyaan kami dan mengikut Engkau." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, isterinya atau saudaranya, orangtuanya atau anak-anaknya, akan menerima kembali lipat ganda pada masa ini juga, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.” (Luk 18:28-30).

Abraham diminta untuk mengorbankan anaknya, Ishak (Kej 22). Melalui hidup selibat, seorang imam diminta untuk mengorbankan bukan hanya anaknya, tetapi juga isterinya. Yesus mengajarkan bahwa tidak semua orang dapat hidup selibat, tetapi mereka yang dipanggil baiklah ia melakukannya demi Kerajaan Allah: Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin." Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja - ada orang yang membuat dirinya demikian (selibat) karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.” (Mat 19:10-12).

Selibat adalah tanda kebangkitan; kita semua akan hidup selibat di kehidupan yang akan datang. Yesus mengatakan: “Pada waktu kebangkitan, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga.” (Mat 22:30). Sesuai dengan teladan Kristus, para imam dipanggil untuk hidup selibat di kehidupan sekarang ini dan di kehidupan yang akan datang. Elia dan Yohanes Pembaptis, dua orang nabi besar, juga hidup selibat. St. Paulus bahkan menganjurkan hidup selibat di antara kaum awam. Ia menulis: “Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin, tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri. Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu. Adakah engkau terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mengusahakan perceraian! Adakah engkau tidak terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mencari seorang! Tetapi, kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa. Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya. Orang yang beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan isterinya, dan dengan demikian perhatiannya terbagi-bagi. Perempuan yang tidak bersuami dan anak-anak gadis memusatkan perhatian mereka pada perkara Tuhan, supaya tubuh dan jiwa mereka kudus. Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya” (1Kor 7).

Selibat bukanlah sesuatu yang tidak wajar, melainkan sesuatu yang adikodrati. Selibat adalah karunia khusus dari Tuhan. Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh Manusia. Sebagai manusia, Ia hidup sepenuhnya sebagai seorang manusia, dengan memilih hidup selibat. Selibat adalah mengorbankan keindahan hidup perkawinan demi Kerajaan Allah. Selibat bukan untuk orang yang tidak tertarik kepada lawan jenisnya. Tetapi, untuk mereka yang memang tertarik oleh lawan jenisnya. Jika mereka memang tidak tertarik, tidak akan ada pengorbanan untuk tidak menikmati hidup perkawinan. Selibat tidak menarik bagi dunia sekarang ini, karena selibat merupakan pengorbanan, dan pengorbanan bagi Tuhan bukanlah sesuatu yang disukai orang pada masa ini. Namun demikian, pendapat dunia tidaklah meresahkan Tuhan Yesus yang mengatakan: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini.” (Yoh 18:36)

“Kemurnian bukannya layak dipuji karena dilakukan oleh para martir, tetapi karena kemurnian itu sendiri menjadikan kita martir.” ~ St. Ambrosius


sumber : Romo Francis J. Peffley; Father Peffley's Web Site; www.transporter.com/fatherpeffley

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Francis J. Peffley.”

http://yesaya.indocell.net/id432.htm

WASPADALAH TERHADAP AJARAN MORMON'


Oleh: Fransiskus Silvester Detianus Gea

Pada hari ini saya sangat beruntung karena mendapat Kitab Mormon dari seorang teman. Mungkin karena saya suka mempelajari aliran-aliran yang nyeleneh, makanya auranya kebawa-bawa. Ketika saya ketemu teman langsung diberikan karena menurut dia ajarannya aneh.

Penganut Mormon meyakini bahwa Joseph Smith adalah Seorang Nabi. Nabi JS diyakini menerima Kitab Mormon dalam bentuk Lempengan-Lempengan. Menurut Kitab Mormon ada 3 Orang yang menyaksikan Joseph Smith menerima Wahyu yaitu; Oliver Cowdery, David Whitmer, Martin Harris.

Menurut kesaksian Joseph Smith ; pada malam...tanggal 21 September 1823...ia berdoa dan membawa permohonan kepada Yang Maha Kuasa...saat dia dalam tindakan dalam meminta permohonan pada Allah, ia melihat seberkas cahaya yang tampak dalam ruangannya. menurutnya ruangan itu terus meningkat terangnya hingga tengah hari, dan suatu sosok makhluk menampakkan diri ditempat tidurnya, berdiri di udara, dan kakinya tidak menyentuh lantai, dll.

Pengikut Nabi Joseph Smith menamakan diri 'Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir. Dalam kitab Mormon ada beberapa kitab yang sama sekali tidak ada dalam Alkitab Umat Kristiani sejak abad pertama. Kitab-kitab Mormon itu adalah 1-2 Nefi, Yakub, Enos,Yarom, Omni, kata-kata Mormon, Mosia, Alma, Helaman, 3-4 Nefi, Mormon, Eter, dan Moroni. Mereka mengatakan kitab ini sejajar dengan Alkitab Kristiani. Namun kitab ini katanya sebuah catatan sakral tentang orang-orang di Amerika Kuno, dan diukur di atas Lempengan-Lempengan logam. Isi kitab Mormon ini mereka cocoklogi dengan Alkitab yang sudah ada sebelum ajaran Mormon ini ada.

Bagi saya inilah yang dimaksud nabi palsu, menciptakan kitab lalu mengarang bahwa Tuhan memberi kitab padanya. Lebih ngerinya mereka mengklaim diri orang-orang suci akhir zaman dan kunci kepemimpinan Rasul Petrus telah di serahkan kepada Joseph Smith. Saya jadi berpikir apakah kalau saya bermimpi di siang bolong lalu saya tulis 'bisa jadi kitab'? Atau sedang berdoa saking khusuknya tidak bangun-bangun 'lalu saya catat kisahnya? Kemudian saya berkata ini Kitab yang diturunkan padaku oleh malaikat? Saya yakin kalau begitu sudah lama Fransiskus Silvester Detianus Gea, sudah menjadi nabi.

Sumber: Kitab Mormon-Satu Kesaksian Lagi Tentang Yesus Kristus. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia 2016. New York, 1830. hlm. Vii-ix.

MENGUAK INJIL-INJIL RAHASIA

Menguak Injil-Injil Rahasia
Tulisan ini boleh dikatakan merupakan ringkasan/resensi dari buku ‘Menguak Injil-injil Rahasia’ yang ditulis oleh Romo Deshi Ramadhani, diterbitkan oleh Penerbit Kanisius, tahun 2007.

Kitab Suci orang Kristen yang  biasa disebut Alkitab adalah kebenaran mutlak bagi orang Kristen. Ia merupakan suatu identitas yang melekat pada umat ini. Hubungan antara orang Kristen dan Alkitab itu adalah seperti antara umat Islam dengan Al Quran, Negara Indonesia dengan mata uang Rupiah, atau antara Negara Indonesia dengan bahasa Indonesia. Dengan kata lain keduanya tak terpisahkan. Apalagi bagi umat Kristen, sepertinya, Alkitab merupakan DNA yang mengandung kode genetik dirinya.

Memang pada sekitar abad ke-4 sangat marak dengan ditemukannya banyak sekali injil-injil atau tulisan-tulisan suci yang lain dari yang diakui oleh jemaat Kristen. Dengan itu berkembang pula bidat-bidat dengan ajaran-ajarannya yang sesat, yang mau menumpang nama Kristen. Situasi ini mirip sekali sebuah negara yang sedang dibanjiri dengan uang palsu. Tentu saja tujuan dari semua itu adalah untuk mencegah orang luar untuk masuk memeluk iman Kristen yang benar, dan juga untuk membingungkan umat Kristen dan menghancurkan pesan suci. Situasi tersebut kemudian dapat dikendalikan dengan melalui penegasan para Bapa Gereja mengenai kanon Alkitab yang benar. Antara lain melalui Konsili Nicea yang terkenal itu.

Gereja Katolik atas kuasa Paus Roma telah mengkanonkan Kitab Suci.
Di bawah kepemimpinan Paus ke-37, St. Damasus I (366-384), dengan kuasa infallible (tidak dapat salah), Paus Roma menentukan kitab-kitab yang dimasukkan ke dalam Kanon Kitab Suci dan membuang beberapa kitab untuk tidak dimasukkan ke dalam Kanon Kitab Suci. Demikianlah umat Kristen menjadi yakin bahwa Alkitabnya yang digunakan sekarang sesuai dengan iman Gereja perdana.

Jangan terkejut! Demikianlah fakta sejarah. Ada RATUSAN Injil. Hanya 4 yang diakui oleh GEREJA. Mengapa?
Daftar kitab-kitab yang DITERIMA oleh Paus St. Damasus I untuk dimasukkan ke dalam Kanon Kitab Suci antara lain :
Injil Matius
Injil Markus
Injil Lukas
Injil Yohanes
- Kisah Para Rasul
- Surat Paulus kepada jemaat di Roma
- Surat Paulus kepada jemaat di Korintus 1
- Surat Paulus kepada jemaat di Korintus 2
- Surat Paulus kepada jemaat di Galatia
- Surat Paulus kepada jemaat di Efesus
- Surat Paulus kepada jemaat di Filipi
- Surat Paulus kepada jemaat di Kolose
- Surat Paulus kepada jemaat di Tesalonika 1
- Surat Paulus kepada jemaat di Tesalonika 2
- Surat Paulus kepada Timotius 1
- Surat Paulus kepada Timotius 2
- Surat Paulus kepada Titus
- Surat Paulus kepada Filemon
- Surat kepada orang Ibrani
- Surat Yakobus
- Surat Petrus 1
- Surat Petrus 2
- Surat Yohanes 1
- Surat Yohanes 2
- Surat Yohanes 3
- Surat Yudas
- Wahyu kepada Yohanes

Selain injil-injil kanonik yang tercantum dalam alkitab Perjanjian Baru seperti Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, sebetulnya terdapat lebih dari 300 Injil yang berbeda yang tersebar di masing-masing Gereja tanpa diketahui siapa penulisnya. Ada banyak injil dan surat-surat yang dimusnahkan dan dibakar oleh gereja perdana. Gereja Katolik melarang keras para jemaat mengetahui dan membaca injil-injil tersebut karena tidak sesuai dengan iman katolik sebagai gereja perdana. 

Daftar kitab-kitab yang DITOLAK oleh Paus St. Damasus I untuk dimasukkan ke dalam Kanon Kitab Suci antara lain :
Injil Thomas
Injil Maria Magdalena
Injil Masa Kecil Yesus menurut Thomas
Injil Masa Kecil Yesus menurut Yakobus
Injil Petrus
Injil Bartolomeus
Injil Nikodemus
Injil Nazorean
Injil kaum Ebionit
Injil Filipus
Injil Ibrani
Injil Andreas
Injil Apelles
Injil Barnabas
Injil Basilides
Injil Bardesanes
Injil Eva
Injil Fayum
Injil Yakobus Kecil
Injil Yudas Iskariot
Injil Marcion
Injil Mani
Injil Maria
Injil Matias
Injil Thaddeus
Injil Titan
Injil Pseudo-Matius
Injil Rahasia Markus
Injil Valentinus
Injil Scythianus
Injil Hesychius
Injil Encratites
Injil Cerinthus
Injil Dua Belas
Injil Empat Wilayah Surgawi
Injil Hidup
Injil Kesempurnaan
Injil Kebenaran
Injil orang-orang Mesir
- Kisah Petrus dan Kedua belas Rasul
- Kisah Andreas
- Kisah Yohanes
- Kisah Thomas
- Kisah Paulus
- Dialog Sang Penyelamat
- Peribahasa Yesus
- Ajaran Yesus Kristus
- Ajaran Duabelas Rasul
- Rahasia dari Yohanes
- Konstitusi Kerasulan
- Keturunan Maria
- Pertanyaan dari Maria
- Apokrifa Yakobus
- Apokrifa Yohanes
- Khotbah Petrus
- Surat Abgar
- Surat Barnabas
- Surat Clement
- Surat Clement kepada jemaat di Korintus 1
- Surat Clement kepada jemaat di Korintus 2
- Surat Clement untuk kegadisan
- Surat Clement kepada Yakobus
- Surat Ignatius
- Surat Paulus kepada jemaat di Leodicea dan Alexandria
- Wahyu kepada Paulus
- Wahyu kepada Yakobus 1
- Wahyu kepada Yakobus 2
- Wahyu kepada Petrus

Kitab-kitab tersebut ditolak karena tidak sesuai dengan Tradisi Suci dan Magisterium Gereja Katolik. Dengan infalibilitas Paus Roma maka kitab-kitab tersebut dinyatakan sebagai bidaah (sesat) dan tidak layak untuk dibaca oleh umat kristen gereja perdana. Menarik bahwa orang-orang Kristen non-Katolik tidak menolak atau mempertanyakan otoritas dan karya Paus St. Damasus I ini. Dengan kata lain, mereka menerima bahwa Paus St. Damasus I adalah infallible (tidak dapat salah) dalam menentukan kitab-kitab dalam Kanon Kitab Suci.

Inilah dasar bahwa Magisterium Gereja Katolik kebal terhadap kesalahan (infalibilitas).
"Ciri tidak dapat sesat itu ada pada Imam Agung di Roma, kepala dewan para Uskup, berdasarkan tugas beliau, bila selaku gembala dan guru tertinggi segenap umat beriman, yang meneguhkan saudara-saudara beliau dalam iman, menetapkan ajaran tentang iman atau kesusilaan dengan tindakan definitif. Sifat tidak dapat sesat, yang dijanjikan kepada Gereja, ada pula pada Badan para Uskup, bila melaksanakan wewenang tertinggi untuk mengajar bersama dengan pengganti Petrus" (LG 25) terutama dalam konsili ekumenis. Apabila Gereja melalui Wewenang Mengajar tertingginya "menyampaikan sesuatu untuk diimani sebagai diwahyukan oleh Allah" (DV 10) dan sebagai ajaran Kristus, maka umat beriman harus "menerima ketetapan-ketetapan itu dengan ketaatan iman" (LG 25). Infallibilitas ini sama luasnya seperti warisan wahyu ilahi."
~ Katekismus Gereja Katolik 891
"Kebal Salah dari magisterium para gembala mencakup segala unsur ajaran, juga ajaran kesusilaan yang mutlak perlu untuk mempertahankan, menjelaskan, dan melaksanakan kebenaran-kebenaran iman yang menyelamatkan."
~ Katekismus Gereja Katolik 2051

Tidak ada Kitab Suci tanpa Gereja Katolik 
"Dalam tradisi apostolik Gereja menentukan, kitab-kitab mana yang harus dicantumkan dalam daftar kitab-kitab suci. Daftar yang lengkap ini dinamakan "Kanon" Kitab Suci. Sesuai dengan itu Perjanjian Lama terdiri dari 46 (45, kalau Yeremia dan Lagu-lagu Ratapan digabungkan) dan Perjanjian Baru terdiri atas 27 kitab. Perjanjian Lama: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Yosua, Hakim-Hakim, Rut, dua buku Samuel, dua buku Raja-Raja, dua buku Tawarikh, Esra dan Nehemia, Tobit, Yudit, Ester, dua buku Makabe, Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, Kebijaksanaan, Yesus Sirakh, Yesaya, Yeremia, Ratapan, Barukh, Yeheskiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi.Perjanjian Baru: Injil menurut Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, Kisah para Rasul, surat-surat Paulus: kepada umat di Roma, surat pertama dan kedua kepada umat Korintus, kepada umat di Galatia, kepada umat di Efesus, kepada umat di Filipi, kepada umat di Kolose, surat pertama dan kedua kepada umat di Tesalonika, surat pertama dan kedua kepada Timotius, surat kepada Titus, surat kepada Filemon, surat kepada orang Ibrani, surat. Yakobus, surat pertama dan kedua Petrus, surat pertama, kedua, dan ketiga Yohanes, surat Yudas, dan Wahyu kepada Yohanes."
~ Katekismus Gereja Katolik 120
Dari berbagai penjelasan di atas, kita lalu sampai pada kesimpulan logis bahwa: "Tidak ada Kitab Suci tanpa Gereja Katolik". Gereja Katoliklah yang mengadakan Kitab Suci, yang sekarang malah diklaim oleh banyak orang sebagai miliknya, dan lebih parah lagi jika mereka berani mengatakan bahwa mereka lebih benar dan lebih tahu tentang Kitab Suci daripada Gereja Katolik. Ini sungguh sebuah lawak yang tidak lucu.

Mengapa banyak sekali injil dan tulisan-tulisan yang DITOLAK oleh Gereja Katolik?
Menurut Pastor Deshi Ramadhani, SJ, kebanyakan dari tulisan-tulisan itu mengandung ajaran Gnostisisme, yang sangat bertentangan dengan ajaran Yesus Kristus. Bahkan juga dari uraian beliau tampaknya ada kemiripan antara Gnostisisme dengan ajaran New Age. Dan yang jelas, mereka bertentangan dengan semua agama samawi. Mari kita bedah kesesatan injil-injil tersebut satu persatu.

Injil Filipus
Injil Filipus melihat sakramen baptisan yang dilakukan kekristenan tidaklah benar. Baptisan yang sesungguhnya diperlukan adalah baptisan spiritual. Hal tersebut berkaitan juga dalam menentukan mana orang Kristen yang 'benar' dengan yang 'tidak benar'. Injil Filipus menyatakan: Banyak orang akan turun ke dalam air dan muncul ke permukaan kembali tanpa menerima apapun, namun mereka masih mengaku diri sebagai orang Kristen. Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik menekankan pentingnya sakramen baptis sebagai sarana keselamatan.

Di dalam kepercayaan Kristen, Yesus dipercaya lahir dari perawan Maria, namun di dalam InjilFilipus kepercayaan tersebut ditolak. Di dalam Injil Filipus dikatakan: "Tuhan tidak akan pernah berkata, 'Bapaku yang ada di dalam sorga', kecuali dia memiliki bapa di tempat lain. Dia hanya akan berkata, 'Bapaku'."

Ajaran penciptaan yang ditampilkan di dalam Injil Filipus sangat dipengaruhi pemikiran Gnostik. Dikatakan di dalam injil tersebut:
"Dunia ada karena sebuah kekeliruan. Karena dia yang menciptakannya ingin menciptakannya sebagai yang abadi dan tidak bisa mati. Ia tidak berhasil memenuhi dambaannya. Karena dunia tidak pernah abadi; dan juga, karena itu, ia yang membuat dunia juga tidak pernah abadi..."
Di sini terkandung ajaran Gnostik tentang dua allah, yang benar dan yang jahat, dan allah pencipta dunia adalah allah yang jahat.
Di dalam injil ini terdapat pandangan khas Gnostik tentang keterpilihan sebagian orang saja. Orang-orang yang dianggap sebagai orang benar adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran, yakni para pengikut Gnostik. Hal tersebut dinyatakan melalui:
"Ada banyak hewan di dunia yang berwujud manusia. Ketika Allah mengidentifikasi mereka, kepada babi ia akan memberikan buah ek, kepada hewan ternak ia akan melemparkan gandum, dedak, dan rumput, dan kepada anjing-anjing ia akan melemparkan tulang. Kepada para budak, ia hanya akan memberi pelajaran-pelajaran dasar, namun kepada anak-anak ia akan memberi keseluruhan pelajaran."
Di sini, orang-orang Kristen disimbolkan sebagai budak-budak yang menerima pelajaran Allah dengan tidak lengkap. Para pengikut Gnostik disebut sebagai anak-anak yang telah menerima seluruh kebenaran.

Injil Basilides
Juga ada tulisan Basilides, seorang bidat yang hidup pada abad ke-2, yang menentang ajaran yang mengatakan bahwa Yesus telah menderita disalib. Menurut Basilides, Yesus  menyerahkan salibnya kepada Simon dari Kirene dan dengan suatu cara Yesus berhasil mengelabui mata semua orang ketika Yesus meminjamkan bentuk raganya kepada Simon. Pada saat penyaliban Yesus memandang kejadian itu sambil tertawa. Menurut Deshi Ramadhani kisah-kisah seperti ini juga ada dalam tulisan-tulisan yang lain yang bersifat Gnostik, seperti misalnya injil Filipus seperti yang disebutkan di atas.

Injil Masa Kecil Yesus menurut Thomas
Dalam kitab-kitab Injil yang diakui sejak semula, kehidupan Yesus Kristus pada masa kecil tidaklah banyak dicatat. Bahkan sejak umur 12 tahun sampai umur 30 tahun tidak ada catatan sama sekali mengenai kehidupan Yesus Kristus. Dalam injil-injil tertentu  ada banyak diceritakan kehidupan Yesus pada waktu masih kecil. Inilah yang disebut injil-injil Masa Kecil. Tetapi injil-injil itu mengandung banyak cerita yang terasa seperti dibuat-buat dan berlebih-lebihan, sehingga mirip dengan cerita-cerita dongeng.

Sebagai contoh dalam injil Masa Kecil menurut Thomas, diceritakan bahwa pada waktu masih kanak-kanak Yesus membuat 12 burung pipit dari tanah liat, dan kemudian ia menghidupkan burung-burung itu. Dalam injil ini ada kesan bahwa Yesus pada waktu kecil nakal, tidak mempunyai belas kasihan, ugal-ugalan, dan suka  membuat mukjizat sesuka hatinya. Misalnya ada dikisahkan seorang anak berlari dan menabrak bahunya, kemudian karena marah ia mengutuk anak tersebut, dan anak itupun jatuh dan mati.

Juga ada kisah semacam ini: Seorang anak terjatuh dari atap rumah dan mati, dan kemudian Yesus dituduh mendorongnya. Kemudian Yesus membangkitkan anak itu dari kematian  dan bertanya kepadanya apakah ia yang mendorongnya hingga jatuh mati. Juga ada mukjizat-mukjizat lain seperti membuat seorang anak menjadi kering, membawa air dengan jubahnya, dan lain sebagainya. 

Injil Masa Kecil Yesus menurut Pseudo-Matius
Ada orang yang mencatat salah satu dari injil-injil Gnostik itu menceritakan Yesus sudah bisa berbicara pada waktu masih bayi! Kisah yang lain menceritakan bagaimana Yesus pada waktu masih bayi selama perjalanan ke Mesir bersama orang tuanya tiba di sebuah gua. Tiba-tiba munculah banyak naga dari dalam gua itu. Maka Yesus yang masih bayi itu turun dari pangkuan ibunya dan berdiri. Kemudian naga-naga itu menyembah Yesus, dan sambil tetap menyembah merekapun mundur menjauhi mereka. Yesus yang masih bayi itu memerintahkan naga-naga itu untuk tidak melukai siapapun. Dan ia yang masih bayi itu berkata-kata dengan lancar kepada ayah ibunya. Ada juga kisah Yesus mengubah anak-anak menjadi kambing-kambing!

Dalam injil-injil yang diakui jemaat (kanonik), Yesus Kristus tidak pernah sembarangan membuat mukjizat. Ia membuat mukjizat seperlunya saja dan semata-mata hanya berdasarkan perintah Allah saja, bukan hanya atas izin Allah, apalagi dari kehendaknya sendiri. 

Dalam injil-injil yang ditolak itu sepertinya Yesus membuat mukjizat sesuka hatinya tanpa tujuan yang jelas sehingga terasa seperti dongeng yang dibuat-buat. Pendeknya injil-injil yang ditolak tersebut memang memiliki ‘rasa’ dan ‘aroma’ yang asing bagi kepekaan jemaat.

Injil Thomas
Dalam injil Thomas dikisahkan perkataan Yesus bahwa perempuan akan masuk surga jika ia menjadi laki-laki. Di sini kentara sekali ada persoalan serius mengenai gender. Perempuan diremehkan dengan mengatakan hanya laki-laki saja yang akan masuk surga!
114. Simon Petrus berkata kepada mereka, "Suruh Maria meninggalkan kita, karena perempuan tidak pantas mendapatkan kehidupan." Yesus berkata, "Lihatlah, aku akan membimbingnya untuk menjadikannya laki-laki, sehingga ia pun dapat menjadi roh yang hidup seperti kalian laki-laki. Karena setiap perempuan yang menjadikan dirinya laki-laki akan masuk ke dalam Kerajaan Surga."
Ucapan 114 dalam Injil Tomas menggambarkan Yesus yang menolak kaum perempuan, dan karenanya, bersifat apokrif. Namun, harus diingat bahwa yang digambarkan mengatakan bahwa kaum perempuan tidak layak adalah Petrus, bukan Yesus, dan bahwa Yesuslah yang menegaskan bahwa Maria Magdalena, seorang perempuan, mempunyai hak untuk menerima ajaran-ajaran rohani.

Injil Tomas TIDAK dimasukkan ke dalam kanon Perjanjian Baru karena:
  • Isinya dianggap sesat.
  • Dianggap tidak otentik.
  • Tidak dikenal oleh para penyusun Kanon.
  • Dianggap dikalahkan oleh Injil-injil Naratif.
  • Tergolong dalam suatu cabang kekristenan yang berada di luar lingkaran Atanasius dari Alexandria yang dominan.
  • Penekanannya pada spiritualitas pribadi di luar Gereja dianggap anatema bagi kepentingan agama yang terorganisasi.

Injil Yakobus
Menggambarkan kelahiran dan masa kecil Maria serta perkawinannya dengan Yusuf. Bagian yang cukup panjang pasal 17-20 beralih fokus ke kelahiran Yesus, tidak lagi terpusat pada figur Maria sendiri (yang dikisahkan dalam pasal 1-16), sehingga bisa jadi bagian ini pun suatu tambahan editorial belakangan. Tetapi bagian tentang kelahiran Yesus ini juga memuat sebuah tema penting tentang diri Maria juga, karena di dalamnya dikisahkan tentang keperawanan Maria yang tak hilang kendatipun dia baru saja memperanakkan bayi Yesus, sebagaimana telah diuji oleh bidan Salome yang memasukkan jarinya ke dalam vagina Maria untuk memeriksa selaput daranya yang ternyata tetap utuh (19:18-20:2).

Kelahiran Maria digambarkan dalam dokumen ini sebagai suatu kelahiran yang suci dan ajaib, kelahiran yang terjadi karena Tuhan Allah menghendakinya. Anna, ibu Maria, digambarkan menyatakan dirinya sudah mengandung begitu baru bertemu dengan Yoakhim, ayahnya, yang, setelah sekian waktu berlalu, baru kembali dari pengasingan dirinya di padang gurun (4:1, 3, 9). Maria dikandung tanpa hubungan seksual sebelumnya antara Yoakhim dan Anna.

Selanjutnya ketika Maria dibesarkan, dalam tiga tahun pertama kehidupannya kesucian dirinya dijaga betul oleh kedua orangtuanya, termasuk juga kesucian semua makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Maria diberi tempat khusus yang disucikan sebagai kamar tidurnya. Pada usia satu tahun, dia menerima berkat dari para imam. Ketika dia diserahkan ke bait suci Tuhan pada waktu dia sudah berusia tiga tahun, Maria tinggal di situ di Ruang Maha Kudus dengan diberi makan oleh seorang malaikat Tuhan (PJ 13:7; 15:10), sampai dia memasuki usia dua belas tahun. Setelah berusia dua belas tahun, karena sudah mulai menstruasi, Maria harus meninggalkan bait suci Tuhan, dan mulai hidup di bawah naungan dan perlindungan Yusuf sebagai walinya, sementara Yusuf sendiri adalah seorang lelaki tua yang sudah menjadi duda dengan memiliki sekian putera dari isterinya sebelum dia bertemu dengan Maria dan menjadi wali perawan ini.

Sejauh ini konsep Imakulata menurut Injil Yakobus sesuai dengan Iman Katolik, tetapi dengan menyatakan bahwa Yusuf sudah memiliki beberapa putera sebelum bertemu dengan Maria, Injil Yakobus secara tak langsung menegaskan bahwa Bunda Maria dan Yusuf sama sekali tidak mendapatkan seorang anakpun. Ini sangat bertentangan dogma Gereja Katolik yang memandang saudara-saudara yang dimiliki Yesus (baik saudara lelaki maupun saudara perempuan) bukanlah saudara-saudara kandung Yesus, melainkan saudara-saudara sepupunya, menurut Injil Yakobus saudara-saudara lelaki yang dimiliki Yesus adalah saudara-saudara tiri, anak-anak Yusuf dari isteri terdahulunya.

Injil Maria Magdalena

Injil Maria Magdalena
Injil Maria Magdalena banyak membahas tentang tiga hal:
  1. Kematian sebagai akibat dari Demiurgos
  2. Kenaikan Yesus
  3. Kenaikan jiwa dalam pandangan gnostik
Ketiga tema utama tersebut diajarkan melalui percakapan antara murid-murid Yesus dan Maria Magdalena yang ditampilkan sebagai pemberi jawab atas pertanyaan murid-murid. Sebagian besar kitab ini juga menggambarkan diskusi antara Yesus yang bangkit dengan Maria Magdalena tentang kehidupan setelah kematian.

Tidak ada yang spesial dari kitab ini. Jumlah halaman yang ditemukan yang terlalu sedikit membuat para sarjana kesulitan mengetahui penekanan maupun konsistensi teologi dari kitab ini. Secara umum apa yang ditampilkan sangat mirip dengan tulisan-tulisan gnostik yang lain. Bagaimanapun, ada satu bagian yang mengundang kontroversi para sarjana.

Injil Maria 17:10 - 18:2
Tetapi Andreas menjawab dan berkata kepada saudara-saudara, “katakan apa yang ingin kalian katakan tentang apa yang telah ia (Maria Magdalena) katakan. Aku setidaknya tidak percaya kalau Juru Selamat mengatakan seperti itu, karena ajaran-ajaran itu jelas merupakan hal yang aneh”. Petrus menjawab dan mengatakan hal yang sama.
Ia menanyakan mereka tentang Juru Selamat: “apakah Ia sungguh-sungguh berbicara dengan seorang wanita tanpa pengetahuan kita dan tidak secara publik?
Akankah kita berpaling dan semua mendengarkan dia (Maria Magdalena)?
Apakah Ia lebih memilih dia daripada kita?”
Lalu Maria meratap dan berkata kepada Petrus, “Saudaraku Petrus, apa yang engkau pikirkan?
Apakah engkau berpikir bahwa aku sendiri telah memikirkan hal ini atau aku sedang berdusta tentang Juru Selamat?”
Lewi menjawab dan berkata kepada Petrus, “Petrus, engkau selalu temperamental. Sekarang aku melihat engkau menentang seorang wanita seperti musuh. Tetapi jika Juru Selamat membuat dia layak, akankah engkau sungguh-sungguh menolaknya?
Juru Selamat tentu mengenal dia sangat baik. Itulah sebabnya Ia mengasihi dia lebih daripada kita. Sebaliknya, biarlah kita malu dan memakai Manusia sempurna, berpisah sebagaimana Ia memerintahkan kita dan memberitakan Injil, tidak meletakkan hukum atau peraturan lain selain apa yang Juru Selamat katakan.

Teks di atas menyiratkan posisi Maria Magdalena yang lebih istimewa dibandingkan para rasul lain. Kontroversi seputar teks ini menjadi semakin mencuat seiring dengan penafsiran para sarjana liberal yang mengatakan bahwa untuk menyerang dominasi Maria Magdalena, Gereja Katolik (secara khusus Paus Gregorius I, tahun 591 M) kemudian menampilkan Maria Magdalena sebagai pelacur. Mereka berpendapat bahwa Gereja Katolik melakukan itu sebagai sentimen gender dan perebutan kekuasaan gereja.

Sebagaimana dalam tulisan Gnostik lainnya, kitab ini juga memiliki ungkapan-ungkapan yang simbolis dan misterius, tidak terkecuali Injil Maria Magdalena 17:10-18:21. Teks ini menggambarkan pertentangan antara Gereja Katolik (diwakili oleh Petrus) dan aliran minoritas lain (diwakili tokoh wanita Maria Magdalena). Seperti kebanyakan konsep gnostik, yang dianggap lebih hebat adalah sebagian kecil orang yang mendapatkan wahyu khusus secara rahasia.

Pemunculan Maria Magdalena sebagai orang yang terkemuka dalam kitab ini diduga para sarjana berhubungan dengan sebuah sekte Kristen yang dulu mungkin didirikan oleh atau memuja Maria Magdalena. Sekte ini mengekspresikan pemujaan tersebut dalam konsep gnostik. Kemungkinan besar hal ini berkaitan dengan konsep gnostik yang mengagungkan “hikmat” (sophia) yang ditampilkan sebagai figur feminin. Teks di atas juga tidak boleh diartikan sebagai indikasi adanya perebutan jabatan gerejawi. Kaum Gnostik menganggap diri sebagai penerima pengetahuan yang rahasia dari Kristus, sedangkan pengetahuan ini bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik yang menekankan penerusan  tradisi dari saksi mata.

Injil Petrus
Injil Petrus menyoroti peristiwa seputar pengadilan, kematian, dan kebangkitan Yesus. Yang lain, misalnya ”Kisah Pilatus”, bagian dari ”Injil Nikodemus”, mengisahkan orang-orang yang terkait dengan peristiwa tersebut. Karena berisi keterangan yang tidak benar dan tokoh yang fiktif, teks-teks ini tidak dapat dipercaya. ”Injil Petrus” berupaya menggambarkan Pontius Pilatus sebagai sosok yang baik dan menceritakan kebangkitan Yesus secara berlebihan.

Injil Nikodemus
Injil ini merupakan injil "belas kasihan" yang isi pokoknya adalah laporan resmi pengasulnya Pilatus yang sebenarnya merupakan satu dari dua bagian Injil. Bagian yang kedua adalah Turunnya Kristus ke Neraka yang di dalamnya Yusuf dari Arimatea menggambarkan masuknya Kristus yang dahsyat ke Hades, membebaskan orang mati, dan penangkapan Iblis. Di antara dokumen-dokumen dan surat-surat yang dilampirkan dalam injil adalah Paradosis yaitu laporan penyerahan Yesus kepada orang Yahudi yang dilakukan oleh Pilatus. Injil Nikodemus merupakan salah satu dokumen yang paling dramatis dan menyentuh di awal kekristenan.

Injil Kebenaran
Injil Kebenaran yang terdapat dalam koleksi manuskrip Nag Hammadi, memberikan kesan bahwa berbagai gagasan Gnostik yang mistis berasal dari Yesus. Seorang pakar menyatakan bahwa injilini menggambarkan Yesus sebagai ”guru dan penyingkap hikmat serta pengetahuan, bukan juru selamat yang mati demi dosa dunia”. Hal ini bertentangan dengan iman katolik dimana  mengajarkan bahwa Yesus benar-benar mati sebagai korban untuk dosa dunia. (Matius 20:28; 26:28; 1 Yohanes 2:1, 2) Jelaslah, tujuan injil Gnostik adalah melemahkan, bukannya menguatkan iman. (Kisah 20:30).

Injil Yudas

Injil Yudas 
Dalam ”Injil Yudas”, Yesus menertawakan murid-muridnya yang kurang berpengetahuan. Hanya Yudas yang benar-benar mengerti keinginan Yesus. Jadi, Yesus secara pribadi memberi tahu Yudas ”rahasia-rahasia kerajaan”. Injil tersebut juga mengungkap bahwa Yudas sebenarnya pahlawan, rasul yang paling memahami Yesus, dan bahwa ia membantu kematian Yesus karena permintaan Yesus sendiri.

Injil Yudas menyatakan bahwa para rasul Yesus yang terkenal tidak memahami ajaran Yesus dan bahwa ada suatu ajaran rahasia dari Yesus yang hanya dimengerti segelintir orang pilihan. Injil itu diawali dengan kata-kata, ”Pernyataan rahasia yang diucapkan oleh Yesus dalam pembicaraan dengan Yudas Iskariot, selama delapan hari, tiga hari sebelum ia merayakan Paskah.”

Saat pembicaraan antara Yesus dengan Yudas, dikatakan bahwa Yudas Iskariot adalah murid yang dipercaya Yesus dan diberikan pengetahuan rahasia tersebut, serta mendapatkan perintah dari Yesus untuk menyerahkan Yesus supaya disalibkan. Murid-murid yang lain dipandang sebagai orang-orang yang salah memahami siapa Yesus, berbeda dengan Yudas yang mendapat pengetahuan rahasia dari Yesus tentang kefanaan raga dan kebakaan jiwa. Melalui peristiwa penyaliban, Yesus dapat terbebas dari tubuh ragawi yang fana dan jiwanya dapat kembali ke alam spiritual yang kekal bersama Allah, dan hal itu dimungkinkan melalui peran Yudas, sang murid istimewa. Hal ini sangat bertentangan dengan iman Gereja Katolik, dimana Yesus disalibkan untuk menebus dosa umat manusia.

Injil Barnabas

Injil Barnabas
Dalam Injil Barnabas diungkapkan tentang akan datangnya Rasul bernama Muhammad SAW, setelah Nabi Isa. Berikut ini isi Injil Barnabas yang menyebut tentang Nabi Muhammad :
"Yesus menjawab: `Nama sang Mesias adalah yang terpuji, karena Allah sendiri telah memberikan nama itu ketika Ia menciptakan jiwanya, dan menempatkannya di dalam kemuliaan surgawi. Allah berkata: "Nantikanlah Muhammad; demi engkau, Aku akan menciptakan firdaus, dunia, dan begitu banyak makhluk, yang akan Aku serahkan kepadamu sebagai hadiah, sedemikian rupa sehingga barangsiapa memberkai engkau, dia akan diberkati, dan barangsiapa mengutuk engkau, ia akan dikutuk. Ketika Aku mengutus engkau ke dalam dunia, Aku akan mengutus engkau sebagai utusan keselamatan-Ku dan kata-katamu akan menjadi kenyataan, sedemikian rupa sehingga meskipun langit dan bumi akan gagal, imanmu tidak akan pernah gagal." Muhammad adalah namanya yang diberkati.' Kemudian khalayak itu mengangkat suara mereka, lalu berkata, `O Allah, utuslah kepada kami utusan-Mu: O Yang Terpuji, datanglah segera demi perdamaian dunia!'" (Barnabas 97:9-10)
Menurut salah satu versi dari Injil Barnabas:
'Kemudian imam itu berkata: "Dengan nama apakah Mesias itu akan dipanggil?" {Yesus menjawab} "Muhammad adalah namanya yang diberkati" ' (ps. 97).

Menurut salah satu versi dari Injil Barnabas, Yesus menyangkal bahwa dialah sang Mesias itu, dan mengklaim bahwa Mesias akan datang dari kalangan keturunan Ismael (yakni, Arab):
"Pada saat itu Yesus berkata: 'Engkau menipu dirimu sendiri; karena Daud di dalam Roh menyebutnya Tuan, dan dengan demikian berkata: "Allah berkata kepada tuanku, duduklah di sebelah kananku, sampai musuh-musuhmu kutaruh di bawah kakimu lawan-lawanmu pijakan kakimu. Allah akan mengirimkan tongkatmu sehingga engkau berkuasa di antara lawan-lawanmu." Bila utusan Allah yang engkau sebut Mesias adalah anak Daud, bagaimana mungkin Daud menyebutnya tuan? Percayalah padaku, karena sesungguhnya aku berkata kepadamu, bahwa janji itu telah dibuat dalam diri Ismael, bukan Ishak.'" (Barnabas 43:10)

Menurut Injil Barnabas, Yesus meramalkan dan menolak penyembahan dirinya sebagai Allah:
dan setelah mengatakan hal ini, Yesus memukul wajahnya dengan kedua tangannya, dan kemudian menutupi tanah dengan kepalanya, sambil berkata: "Terkutuklah barangsiapa yang memasukkan ke dalam ucapan-ucapanku bahwa aku adalah anak Allah"

dan setelah berkata demikian Yesus keluar dari Bait Allah. Dan rakyat mengagungkannya, karena mereka membawa semua orang yang sakit yang dapat mereka kumpulkan, dan Yesus setelah berdoa memulihkan kesehatan mereka: oleh karena itu, pada hari itu di Yerusalem tentara-tentara Romawi, melalui pekerjaan Setan, mulai menghasut rakyat, sambil berkata Yesus adalah Allah Israel, yang telah datang untuk melawat umat-Nya." (69:6)

Yesus menjawab: "Dan engkau; menurut engkau siapakah aku?" Petrus menjawab: "Engkau adalah Kristus, anak Allah". Lalu Yesus menjadi marah, dan dengan murka Yesus menegurnya sambil berkata: "Pergilah daripadaku, karena engkau adalah iblis yang berusaha membuat aku berdosa."

Yesus berkata lagi: "Aku mengaku di hadapan surga, dan meminta kesaksian dari semua yang hidup di muka bumi, bahwa aku adalah seorang asing bagi semua orang yang telah berkata tentang aku, yakni, bahwa aku lebih daripada seorang manusia biasa. Karena aku, yang lahir dari seorang perempuan, takluk kepada penghakiman Allah; yang hidup di sini seperti semua orang lainnya, sama-sama dapat mengalami penderitaan yang sama." (94:1)

Kemudian imam itu menjawab, dengan gubernur dan raja: "Jangan sesali dirimu, O Yesus, yang kudus dari Allah, karena pada masa kita pemisahan ini tidak akan ada lagi, karena kami akan menulis kepada senat Romawi yang suci dengan cara yang sedemikian bijaksana sehingga dengan dekrit kaisar tak seorangpun akan menyebut engkau Allah atau anak Allah." Kemudian Yesus berkata: "Kata-katamu tidak menghibur aku, karena ketika engkau mengharapkan terang, kegelapanlah yang akan datang; tetapi penghiburanku terdapat dalam kedatangan sang Utusan, yang akan menghancurkan setiap pandangan yang salah tentang aku, dan imannya akan menyebar dan akan menguasai seluruh dunia, karena demikianlah yang telah Allah janjikan kepada Abraham bapak kita." (97:1)

Semua sarjanawan kristen setuju bahwa injil Barnabas bukanlah kitab yang ditulis berdasarkan kebenaran, karena jelas kitab barnabas bukanlah berasal dari penulis atupun seorang yang berasal dari jemaat mula-mula dan jarak waktu penulisan kitab dan injil lainnya yang sangat jauh sedangkan injil barnabas baru ada di abad 16 dan ditulis oleh seorang moor Ibrahim al-Taybili di Tunisia yang notabennya ialah seorang muslim sehingga dapat dipastikan injil barnabas bukanlah sebuah kitab yang memuat konteks kebenaran jemaat mula-mula (palsu).

Injil-injil semacam itu akhirnya ditolak oleh Gereja Katolik karena tidak jelas siapa penulisnya, dan tidak dapat ditelusuri sampai dengan jaman para Rasul dan para saksi mata. Dan juga kisah-kisah itu terasa mengada-ada dan berlebihan.

St. Barnabas
Ikon St. Barnabas
Surat Barnabas
Surat Barnabas adalah sebuah traktat Kristen pseudonim yang ditulis di Aleksandria pada akhir abad pertama Masehi. Karangan ini berasal dari orang-orang Kristen Aleksandria yang berkebudayaan Yunani. Surat ini mencela nilai ketaatan harfiah terhadap hukum-hukum ritual Yahudi. Karya yang seluruhnya dalam bahasa Yunani ini terdapat pada Kodeks Sinaitikus. Untuk beberapa kalangan Kristen, karya ini tampaknya sangat mendekati batas kanon Perjanjian Baru meskipun tidak pernah benar-benar diterima. Dalam Surat Barnabas ini diusahakan untuk menunjukkan bahwa Perjanjian Lama hanya punya arti apabila dimengerti dari sudut pandangan Injil. Surat Barnabas merupakan kitab yang disebutkan banyak sekali pendeta gereja awal termasuk oleh Eusebius, Origenes, dan Jerome. Ada pendapat bahwa Surat Barnabas ini ditemukan dalam Suriah Sinaitik, versi Alkitab abad ke-4 CE. Meskipun tidak dikatakan dengan tegas, Surat Barnabas ini jelas-jelas menentang doketisme dan gnostis. Ignatius, Polikarpus bersama dengan Surat Barnabas melawan gnostis tetapi tidak berhasil mengalahkan gnosis.

Injil Marcion
Marcion adalah seorang uskup dalam gereja mula-mula di kota Sinope. Salah satu pemikirannya yang banyak memicu perdebatan adalah pemisahan radikal antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Teologi yang diajarkannya menganggap Allah dalam Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama di Alkitab Kristen) lebih rendah tingkatannya daripada Allah dalam Injil (Perjanjian Baru), karenanya Marsion menganggap bahwa Perjanjian Lama yang diwakili oleh Taurat tidak dapat disandingkan dengan Injil. Ajarannya diikuti oleh sejumlah orang dan disebut aliran Marsionisme. Ajaran ini ditentang oleh bapa-bapa gereja (antara lain Ireneus dalam karyanya "Melawan Ajaran Sesat") dan ia di-ekskomunikasi oleh Gereja Katolik Roma. Penolakannya atas kitab-kitab yang dianggap bagian Kitab Suci dalam gereja mula-mula menyebabkan gereja memulai penetapan kanon Alkitab.

Injil Kaum Ebionit
Ebionisme adalah sebuah sekte yang muncul di dalam komunitas orang-orang Kristen Yahudi. Muncul sekitar abad pertama atau pada awal kekristenan dan pengikutnya disebut kaum "Ebionit".Ebionit merupakan sekte di kalangan orang Kristen Yahudi yang muncul pada awal kekristenan. Kata "ebionit" berasal dari bahasa Ibrani, artinya miskin. Sekte ini berkembang di sebelah timur sungai Yordan. Ebionit mengajarkan bahwa Yesus hanyalah anak Maria dan Yusuf, yang pada waktu pembaptisan diangkat menjadi putera Allah dan dipersatukan dengan 'Kristus abadi', yang lebih tinggi dari malaikat agung, tetapi Yesus bukan Allah.

Menurut mereka, Kristus telah menjelma beberapa kali di dalam diri tokoh-tokoh seperti Adam. Hal ini menyebabkan pandangan mereka tentang Yesus hanyalah sebatas guru dan bukan penyelamat.Kelompok Ebionit menekankan bahwa hukum Taurat masih berlaku. Mereka mempertahankan hukum Sabat, pembasuhan sebelum berdoa, peraturan tentang makanan haram, dan melakukan sunat. Injil yang dipakainya hanyalah Injil Matius (tanpa bab 1 dan 2), yang mereka sebut sebagai injil ebionit atau 'injil menurut umat Ibrani'. Mereka menolak surat-surat Paulus dan menekankan hidup askese yang berat.
Mengapa Gereja Katolik memusnahkan injil-injil palsu? 
Demikianlah kita melihat dua arti dalam kata apokrif. Pertama, bagi mereka yang mengakui kebenaran tulisan-tulisan tersebut, apokrif memiliki arti positif. Artinya, tulisan-tulisan tersebut tersembunyi bagi orang kebanyakan, karena tulisan-tulisan ini berisi bahan yang terlalu dalam, terlalu sulit untuk dipahami oleh orang biasa. Kedua, sebaliknya, bagi mereka yang tidak mengakui kebenaran tulisan-tulisan tersebut, apokrif memiliki arti negatif. Artinya, tulisan-tulisan ini disembunyikan karena isinya memang dinilai sesat (heretis), palsu, tidak sesuai dengan ajaran Gereja yang resmi (Gereja Katolik).

Meskipun demikian, sejarah juga mencatat bahwa ada banyak tulisan yang dinilai sesat. Jemaat dilarang untuk membaca, menyimpan, atau menyebar-luaskan tulisan-tulisan semacam itu. Tulisan-tulisan ini dinyatakan tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Dalam arti inilah kita sekarang bisa berbicara tentang injil apokrif sebagai "injil yang disembunyikan" atau "injil yang dilarang" atau lebih tegas lagi "injil sesat". Maka meskipun arti kata apokrif sendiri pada dasarnya netral, kata tersebut menjadi berarti "sesat" atau" tidak resmi" ketika digunakan untuk menunjuk pada tulisan-tulisan yang dilarang oleh pemimpin Gereja.

Pada akhir abad kedua, St. Ireneus dari Lyon menulis bahwa orang-orang Kristen yang murtad memiliki ”sejumlah besar tulisan yang apokrif dan palsu”, termasuk injil-injil yang ”dikarang-karang oleh mereka sendiri, untuk membuat bingung orang-orang bodoh”. Karena itu, injil apokrifa akhirnya dianggap berbahaya untuk dibaca atau bahkan untuk dimiliki.

Dalam konteks perang melawan ajaran-ajaran sesat semacam inilah Gereja Katolik juga menyita banyak tulisan yang dinilai sesat. Banyak dokumen dirampas dan dibakar. Bahkan mereka yang masih menyimpannya bisa diseret ke pengadilan karena telah melakukan tindakan yang digolongkan sebagai sebuah tindak kriminal.

Dalam situasi semacam itu, mungkin, seorang rahib dari biara Santo Pakomius (292-349 M), melarikan buku-buku papirus yang dilarang tersebut dan menyembunyikannya di Nag Hammadi. Kondisi yang sangat kering dan tempat yang sangat tersembunyi itu memungkinkan buku-buku terlarang itu bertahan meskipun telah terkubur selama kurang lebih 1600 tahun.

Apakah kitab-kitab yang dikanonkan oleh Gereja Katolik adalah sudah pasti benar?
Di tengah kekacauan dan kebingungan tersebut, ada satu hal dasar yang penting untuk diperhatikan. Kriteria usia sebuah tulisan menjadi sebuah kriteria sangat penting untuk menentukan apakah tulisan itu bisa diterima sebagai tulisan iman atau tidak. Dengan demikian, tulisan-tulisan lain yang disusun selama abad pertama akan dipandang lebih memiliki wibawa atau otoritas daripada tulisan-tulisan yang disusun selama abad kedua. Dalam tulisan-tulisan yang lebih awal tersebut terlihatlah sebuah kriteria yang menentukan, yakni bahwa sebuah dokumen memang ditulis dengan maksud untuk menumbuhkan iman pembaca. Hal inilah yang ditegaskan dalam Yohanes 20:31, "semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya."

Dalam perjalanan sejarah, tulisan-tulisan itu melewati proses yang kurang lebih alamiah di dalam penggunaannya di kalangan Gereja perdana. Melalui pertemuan-pertemuan iman atau dalam perayaan-perayaan liturgis, orang mulai tahap demi tahap bisa membedakan mana tulisan-tulisan yang dirasa lebih cocok untuk iman mereka ketika itu, dan mana yang tidak. Proses seleksi tulisan-tulisan secara alamiah ini berjalan seiring juga dengan proses seleksi yang dilakukan oleh Paus Roma sebagai pemimpin Gereja perdana. Paus St. Damasus I dengan kuasa infallible (tidak dapat sesat dalam pengajaran iman dan moral) berperan untuk menilai tulisan-tulisan yang beredar itu sebagai tulisan yang benar sesuai dengan Iman Katolik atau tidak.

Ini adalah dasar bahwa Kitab Suci yang telah dikanonkan dijamin dari kesalahan (infalibilitas).
"Allah adalah penyebab Kitab Suci: Ia mengilhami pengarang-pengarang manusia: Ia bekerja dalam mereka dan melalui mereka. Dengan demikian Ia menjamin, bahwa buku-buku mereka mengajarkan kebenaran keselamatan tanpa kekeliruan."
~ Katekismus Gereja Katolik 136
Karena itu, perjuangan untuk memasukkan sebuah kitab/Surat dalam Kitab Suci sungguh memakan waktu dan pertimbangan yang matang dari sisi pewahyuan dan isinya yang mendukung perkembangan iman umat, seperti misalnya; Kitab Wahyu. Kitab ini awalnya tidak diterima oleh umat kristen perdana. Tapi hanya karena keputusan dari Paus Roma (bersifat infallible / tidak dapat salah) yang mempertimbangkan bahwa isi kitab ini dapat membantu umat dalam mengenal dan mengimani Allah, maka akhirnya Kitab Wahyu dimasukkan dalam Kitab Suci seperti sekarang ini. Kuasa Paus untuk menentukan ini berdasar pada Mat 28:20; "Ajarilah mereka tentang segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan, lihatlah, Aku akan menyertaimu sampai akhir zaman." (kamu di sini adalah para rasul dibawa komando Petrus sebagai pemimpin resmi yang diangkat oleh Yesus).

Tulisan yang dialami sebagai tulisan yang sesuai dengan iman katolik akan terus digunakan, disalin, dan disebarluaskan. Sebaliknya, tulisan yang dirasa membingungkan atau menyesatkan, ditambah dengan pernyataan-pernyataan tegas dari para Bapa Gereja yang melawan kesesatan tulisan tersebut, akhirnya tidak lagi digunakan. Karena dirasa tidak begitu berguna, mungkin kemudian tidak disimpan dengan baik, tidak disalin, tidak disebarluaskan, atau bahkan dengan sengaja dibakar dan dimusnahkan. Meskipun demikian, pada kenyataannya, tidak semua tulisan tersebut telah sama sekali musnah ditelan sejarah. Sejumlah teks kuno tersebut akhirnya sampai juga kepada kita.

https://jakartaberdoa.wordpress.com/2010/12/03/kitab-nikodemus/
http://id.wikipedia.org/wiki/Marsion
http://id.wikipedia.org/wiki/Ebionisme
http://id.wikipedia.org/wiki/Surat_Barnabas
http://www.bersatulahdalamgerejakatolik.com/2015/02/menguak-injil-injil-rahasia.html