Tulisan ini boleh dikatakan merupakan ringkasan/resensi dari buku ‘Menguak
Injil-injil Rahasia’ yang ditulis oleh Romo Deshi Ramadhani, diterbitkan oleh Penerbit Kanisius, tahun 2007.
Kitab
Suci orang Kristen yang biasa disebut Alkitab adalah kebenaran mutlak
bagi orang Kristen. Ia merupakan suatu identitas yang melekat pada umat
ini. Hubungan antara orang Kristen dan Alkitab itu adalah seperti antara
umat Islam dengan Al Quran, Negara Indonesia dengan mata uang Rupiah,
atau antara Negara Indonesia dengan bahasa Indonesia. Dengan kata lain
keduanya tak terpisahkan. Apalagi bagi umat Kristen, sepertinya, Alkitab
merupakan DNA yang mengandung kode genetik dirinya.
Memang pada sekitar abad ke-4 sangat marak dengan ditemukannya banyak sekali injil-injil atau tulisan-tulisan suci yang
lain dari yang diakui oleh jemaat Kristen. Dengan itu berkembang pula
bidat-bidat dengan ajaran-ajarannya yang sesat, yang mau menumpang nama
Kristen. Situasi ini mirip sekali sebuah negara yang sedang dibanjiri
dengan uang palsu. Tentu saja tujuan dari semua itu adalah untuk
mencegah orang luar untuk masuk memeluk iman Kristen yang benar, dan
juga untuk membingungkan umat Kristen dan menghancurkan pesan suci.
Situasi tersebut kemudian dapat dikendalikan dengan melalui penegasan
para Bapa Gereja mengenai kanon Alkitab yang benar. Antara lain melalui
Konsili Nicea yang terkenal itu.
Gereja Katolik atas kuasa Paus Roma telah mengkanonkan Kitab Suci.
Di
bawah kepemimpinan Paus ke-37, St. Damasus I (366-384), dengan kuasa
infallible (tidak dapat salah), Paus Roma menentukan kitab-kitab yang
dimasukkan ke dalam Kanon Kitab Suci dan membuang beberapa kitab untuk
tidak dimasukkan ke dalam Kanon Kitab Suci. Demikianlah umat Kristen
menjadi yakin bahwa Alkitabnya yang digunakan sekarang sesuai dengan
iman Gereja perdana.
Jangan terkejut! Demikianlah fakta sejarah. Ada RATUSAN Injil. Hanya 4 yang diakui oleh GEREJA. Mengapa?
Daftar kitab-kitab yang DITERIMA oleh Paus St. Damasus I untuk dimasukkan ke dalam Kanon Kitab Suci antara lain :
-
Injil Matius
-
Injil Markus
-
Injil Lukas
-
Injil Yohanes
- Kisah Para Rasul
- Surat Paulus kepada jemaat di Roma
- Surat Paulus kepada jemaat di Korintus 1
- Surat Paulus kepada jemaat di Korintus 2
- Surat Paulus kepada jemaat di Galatia
- Surat Paulus kepada jemaat di Efesus
- Surat Paulus kepada jemaat di Filipi
- Surat Paulus kepada jemaat di Kolose
- Surat Paulus kepada jemaat di Tesalonika 1
- Surat Paulus kepada jemaat di Tesalonika 2
- Surat Paulus kepada Timotius 1
- Surat Paulus kepada Timotius 2
- Surat Paulus kepada Titus
- Surat Paulus kepada Filemon
- Surat kepada orang Ibrani
- Surat Yakobus
- Surat Petrus 1
- Surat Petrus 2
- Surat Yohanes 1
- Surat Yohanes 2
- Surat Yohanes 3
- Surat Yudas
- Wahyu kepada Yohanes
Selain injil-injil kanonik yang tercantum dalam alkitab Perjanjian Baru seperti Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, sebetulnya terdapat lebih dari 300 Injil yang berbeda yang tersebar di masing-masing Gereja tanpa diketahui siapa penulisnya. Ada banyak injil dan surat-surat yang dimusnahkan dan dibakar oleh gereja perdana. Gereja Katolik melarang keras para jemaat mengetahui dan membaca injil-injil tersebut karena tidak sesuai dengan iman katolik sebagai gereja perdana.
Daftar kitab-kitab yang DITOLAK oleh Paus St. Damasus I untuk dimasukkan ke dalam Kanon Kitab Suci antara lain :
- Injil Thomas
-
Injil Maria Magdalena
-
Injil Masa Kecil Yesus menurut Thomas
-
Injil Masa Kecil Yesus menurut Yakobus
-
Injil Petrus
-
Injil Bartolomeus
-
Injil Nikodemus
-
Injil Nazorean
-
Injil kaum Ebionit
-
Injil Filipus
-
Injil Ibrani
-
Injil Andreas
-
Injil Apelles
-
Injil Barnabas
-
Injil Basilides
-
Injil Bardesanes
-
Injil Eva
-
Injil Fayum
-
Injil Yakobus Kecil
-
Injil Yudas Iskariot
-
Injil Marcion
-
Injil Mani
-
Injil Maria
-
Injil Matias
-
Injil Thaddeus
-
Injil Titan
-
Injil Pseudo-Matius
-
Injil Rahasia Markus
-
Injil Valentinus
-
Injil Scythianus
-
Injil Hesychius
-
Injil Encratites
-
Injil Cerinthus
-
Injil Dua Belas
-
Injil Empat Wilayah Surgawi
-
Injil Hidup
-
Injil Kesempurnaan
-
Injil Kebenaran
-
Injil orang-orang Mesir
- Kisah Petrus dan Kedua belas Rasul
- Kisah Andreas
- Kisah Yohanes
- Kisah Thomas
- Kisah Paulus
- Dialog Sang Penyelamat
- Peribahasa Yesus
- Ajaran Yesus Kristus
- Ajaran Duabelas Rasul
- Rahasia dari Yohanes
- Konstitusi Kerasulan
- Keturunan Maria
- Pertanyaan dari Maria
- Apokrifa Yakobus
- Apokrifa Yohanes
- Khotbah Petrus
- Surat Abgar
- Surat Barnabas
- Surat Clement
- Surat Clement kepada jemaat di Korintus 1
- Surat Clement kepada jemaat di Korintus 2
- Surat Clement untuk kegadisan
- Surat Clement kepada Yakobus
- Surat Ignatius
- Surat Paulus kepada jemaat di Leodicea dan Alexandria
- Wahyu kepada Paulus
- Wahyu kepada Yakobus 1
- Wahyu kepada Yakobus 2
- Wahyu kepada Petrus
Kitab-kitab
tersebut ditolak karena tidak sesuai dengan Tradisi Suci dan
Magisterium Gereja Katolik. Dengan infalibilitas Paus Roma maka
kitab-kitab tersebut dinyatakan sebagai bidaah (sesat) dan tidak layak
untuk dibaca oleh umat kristen gereja perdana. Menarik bahwa orang-orang
Kristen non-Katolik tidak menolak atau mempertanyakan otoritas dan
karya Paus St. Damasus I ini. Dengan kata lain, mereka menerima bahwa
Paus St. Damasus I adalah
infallible (tidak dapat salah) dalam menentukan kitab-kitab dalam Kanon Kitab Suci.
Inilah dasar bahwa Magisterium Gereja Katolik kebal terhadap kesalahan (infalibilitas).
"Ciri
tidak dapat sesat itu ada pada Imam Agung di Roma, kepala dewan para
Uskup, berdasarkan tugas beliau, bila selaku gembala dan guru tertinggi
segenap umat beriman, yang meneguhkan saudara-saudara beliau dalam iman,
menetapkan ajaran tentang iman atau kesusilaan dengan tindakan
definitif. Sifat tidak dapat sesat, yang dijanjikan kepada Gereja, ada
pula pada Badan para Uskup, bila melaksanakan wewenang tertinggi untuk
mengajar bersama dengan pengganti Petrus" (LG 25) terutama dalam konsili
ekumenis. Apabila Gereja melalui Wewenang Mengajar tertingginya
"menyampaikan sesuatu untuk diimani sebagai diwahyukan oleh Allah" (DV
10) dan sebagai ajaran Kristus, maka umat beriman harus "menerima
ketetapan-ketetapan itu dengan ketaatan iman" (LG 25). Infallibilitas
ini sama luasnya seperti warisan wahyu ilahi."
~ Katekismus Gereja Katolik 891
"Kebal
Salah dari magisterium para gembala mencakup segala unsur ajaran, juga
ajaran kesusilaan yang mutlak perlu untuk mempertahankan, menjelaskan,
dan melaksanakan kebenaran-kebenaran iman yang menyelamatkan."
~ Katekismus Gereja Katolik 2051
Tidak ada Kitab Suci tanpa Gereja Katolik
"Dalam
tradisi apostolik Gereja menentukan, kitab-kitab mana yang harus
dicantumkan dalam daftar kitab-kitab suci. Daftar yang lengkap ini
dinamakan "Kanon" Kitab Suci. Sesuai dengan itu Perjanjian Lama terdiri
dari 46 (45, kalau Yeremia dan Lagu-lagu Ratapan digabungkan) dan
Perjanjian Baru terdiri atas 27 kitab. Perjanjian Lama: Kejadian,
Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Yosua, Hakim-Hakim, Rut, dua buku
Samuel, dua buku Raja-Raja, dua buku Tawarikh, Esra dan Nehemia, Tobit,
Yudit, Ester, dua buku Makabe, Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung
Agung, Kebijaksanaan, Yesus Sirakh, Yesaya, Yeremia, Ratapan, Barukh,
Yeheskiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum,
Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi.Perjanjian Baru: Injil
menurut Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, Kisah para Rasul, surat-surat
Paulus: kepada umat di Roma, surat pertama dan kedua kepada umat
Korintus, kepada umat di Galatia, kepada umat di Efesus, kepada umat di
Filipi, kepada umat di Kolose, surat pertama dan kedua kepada umat di
Tesalonika, surat pertama dan kedua kepada Timotius, surat kepada Titus,
surat kepada Filemon, surat kepada orang Ibrani, surat. Yakobus, surat
pertama dan kedua Petrus, surat pertama, kedua, dan ketiga Yohanes,
surat Yudas, dan Wahyu kepada Yohanes."
~ Katekismus Gereja Katolik 120
Dari berbagai penjelasan di atas, kita lalu sampai pada kesimpulan logis bahwa: "
Tidak ada Kitab Suci tanpa Gereja Katolik".
Gereja Katoliklah yang mengadakan Kitab Suci, yang sekarang malah
diklaim oleh banyak orang sebagai miliknya, dan lebih parah lagi jika
mereka berani mengatakan bahwa mereka lebih benar dan lebih tahu tentang
Kitab Suci daripada Gereja Katolik. Ini sungguh sebuah lawak yang tidak
lucu.
Mengapa banyak sekali injil dan tulisan-tulisan yang DITOLAK oleh Gereja Katolik?
Menurut
Pastor Deshi Ramadhani, SJ, kebanyakan dari tulisan-tulisan itu
mengandung ajaran Gnostisisme, yang sangat bertentangan dengan ajaran
Yesus Kristus. Bahkan juga dari uraian beliau tampaknya ada kemiripan
antara Gnostisisme dengan ajaran New Age. Dan yang jelas, mereka
bertentangan dengan semua agama samawi. Mari kita bedah kesesatan injil-injil tersebut satu persatu.
Injil Filipus
Injil Filipus
melihat sakramen baptisan yang dilakukan kekristenan tidaklah benar.
Baptisan yang sesungguhnya diperlukan adalah baptisan spiritual
. Hal tersebut berkaitan juga dalam menentukan mana orang Kristen yang 'benar' dengan yang 'tidak benar'.
Injil Filipus
menyatakan: Banyak orang akan turun ke dalam air dan muncul ke
permukaan kembali tanpa menerima apapun, namun mereka masih mengaku diri
sebagai orang Kristen. Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran Gereja
Katolik menekankan pentingnya sakramen baptis sebagai sarana
keselamatan.
Di dalam kepercayaan Kristen, Yesus dipercaya lahir dari perawan Maria, namun di dalam
InjilFilipus
kepercayaan tersebut ditolak. Di dalam Injil Filipus dikatakan: "Tuhan
tidak akan pernah berkata, 'Bapaku yang ada di dalam sorga', kecuali dia
memiliki bapa di tempat lain. Dia hanya akan berkata, 'Bapaku'."
Ajaran penciptaan yang ditampilkan di dalam
Injil Filipus sangat dipengaruhi pemikiran Gnostik. Dikatakan di dalam injil tersebut:
- "Dunia
ada karena sebuah kekeliruan. Karena dia yang menciptakannya ingin
menciptakannya sebagai yang abadi dan tidak bisa mati. Ia tidak berhasil
memenuhi dambaannya. Karena dunia tidak pernah abadi; dan juga, karena
itu, ia yang membuat dunia juga tidak pernah abadi..."
Di
sini terkandung ajaran Gnostik tentang dua allah, yang benar dan yang
jahat, dan allah pencipta dunia adalah allah yang jahat.
Di dalam
injil ini
terdapat pandangan khas Gnostik tentang keterpilihan sebagian orang
saja. Orang-orang yang dianggap sebagai orang benar adalah orang-orang
yang mengetahui kebenaran, yakni para pengikut Gnostik. Hal tersebut
dinyatakan melalui:
- "Ada
banyak hewan di dunia yang berwujud manusia. Ketika Allah
mengidentifikasi mereka, kepada babi ia akan memberikan buah ek, kepada
hewan ternak ia akan melemparkan gandum, dedak, dan rumput, dan kepada
anjing-anjing ia akan melemparkan tulang. Kepada para budak, ia hanya
akan memberi pelajaran-pelajaran dasar, namun kepada anak-anak ia akan
memberi keseluruhan pelajaran."
Di sini, orang-orang
Kristen disimbolkan sebagai budak-budak yang menerima pelajaran Allah
dengan tidak lengkap. Para pengikut Gnostik disebut sebagai anak-anak
yang telah menerima seluruh kebenaran.
Injil Basilides
Juga
ada tulisan Basilides, seorang bidat yang hidup pada abad ke-2, yang
menentang ajaran yang mengatakan bahwa Yesus telah menderita disalib.
Menurut Basilides, Yesus menyerahkan salibnya kepada Simon dari Kirene
dan dengan suatu cara Yesus berhasil mengelabui mata semua orang ketika
Yesus meminjamkan bentuk raganya kepada Simon. Pada saat penyaliban
Yesus memandang kejadian itu sambil tertawa. Menurut Deshi Ramadhani
kisah-kisah seperti ini juga ada dalam tulisan-tulisan yang lain yang
bersifat Gnostik, seperti misalnya injil Filipus seperti yang disebutkan di atas.
Injil Masa Kecil Yesus menurut Thomas
Dalam kitab-kitab Injil yang
diakui sejak semula, kehidupan Yesus Kristus pada masa kecil tidaklah
banyak dicatat. Bahkan sejak umur 12 tahun sampai umur 30 tahun tidak
ada catatan sama sekali mengenai kehidupan Yesus Kristus. Dalam injil-injil tertentu ada banyak diceritakan kehidupan Yesus pada waktu masih kecil. Inilah yang disebut injil-injil Masa Kecil. Tetapi injil-injil itu mengandung banyak cerita yang terasa seperti dibuat-buat dan berlebih-lebihan, sehingga mirip dengan cerita-cerita dongeng.
Sebagai contoh dalam injil Masa
Kecil menurut Thomas, diceritakan bahwa pada waktu masih kanak-kanak
Yesus membuat 12 burung pipit dari tanah liat, dan kemudian ia
menghidupkan burung-burung itu. Dalam injil ini
ada kesan bahwa Yesus pada waktu kecil nakal, tidak mempunyai belas
kasihan, ugal-ugalan, dan suka membuat mukjizat sesuka hatinya.
Misalnya ada dikisahkan seorang anak berlari dan menabrak bahunya,
kemudian karena marah ia mengutuk anak tersebut, dan anak itupun jatuh
dan mati.
Juga
ada kisah semacam ini: Seorang anak terjatuh dari atap rumah dan mati,
dan kemudian Yesus dituduh mendorongnya. Kemudian Yesus membangkitkan
anak itu dari kematian dan bertanya kepadanya apakah ia yang
mendorongnya hingga jatuh mati. Juga ada mukjizat-mukjizat lain seperti
membuat seorang anak menjadi kering, membawa air dengan jubahnya, dan
lain sebagainya.
Injil Masa Kecil Yesus menurut Pseudo-Matius
Ada orang yang mencatat salah satu dari injil-injil Gnostik
itu menceritakan Yesus sudah bisa berbicara pada waktu masih bayi!
Kisah yang lain menceritakan bagaimana Yesus pada waktu masih bayi
selama perjalanan ke Mesir bersama orang tuanya tiba di sebuah gua.
Tiba-tiba munculah banyak naga dari dalam gua itu. Maka Yesus yang masih
bayi itu turun dari pangkuan ibunya dan berdiri. Kemudian naga-naga itu
menyembah Yesus, dan sambil tetap menyembah merekapun mundur menjauhi
mereka. Yesus yang masih bayi itu memerintahkan naga-naga itu untuk
tidak melukai siapapun. Dan ia yang masih bayi itu berkata-kata dengan
lancar kepada ayah ibunya. Ada juga kisah Yesus mengubah anak-anak
menjadi kambing-kambing!
Dalam injil-injil yang
diakui jemaat (kanonik), Yesus Kristus tidak pernah sembarangan membuat
mukjizat. Ia membuat mukjizat seperlunya saja dan semata-mata hanya
berdasarkan perintah Allah saja, bukan hanya atas izin Allah, apalagi
dari kehendaknya sendiri.
Dalam injil-injil yang
ditolak itu sepertinya Yesus membuat mukjizat sesuka hatinya tanpa
tujuan yang jelas sehingga terasa seperti dongeng yang dibuat-buat.
Pendeknya injil-injil yang ditolak tersebut memang memiliki ‘rasa’ dan ‘aroma’ yang asing bagi kepekaan jemaat.
Injil Thomas
Dalam
injil Thomas
dikisahkan perkataan Yesus bahwa perempuan akan masuk surga jika ia
menjadi laki-laki. Di sini kentara sekali ada persoalan serius mengenai
gender. Perempuan diremehkan dengan mengatakan hanya laki-laki saja yang
akan masuk surga!
114.
Simon Petrus berkata kepada mereka, "Suruh Maria meninggalkan kita,
karena perempuan tidak pantas mendapatkan kehidupan." Yesus berkata,
"Lihatlah, aku akan membimbingnya untuk menjadikannya laki-laki,
sehingga ia pun dapat menjadi roh yang hidup seperti kalian laki-laki.
Karena setiap perempuan yang menjadikan dirinya laki-laki akan masuk ke
dalam Kerajaan Surga."
Ucapan 114 dalam
Injil Tomas
menggambarkan Yesus yang menolak kaum perempuan, dan karenanya,
bersifat apokrif. Namun, harus diingat bahwa yang digambarkan mengatakan
bahwa kaum perempuan tidak layak adalah Petrus, bukan Yesus, dan bahwa
Yesuslah yang menegaskan bahwa Maria Magdalena, seorang perempuan,
mempunyai hak untuk menerima ajaran-ajaran rohani.
Injil Tomas
TIDAK dimasukkan ke dalam kanon Perjanjian Baru karena:
- Isinya dianggap sesat.
- Dianggap tidak otentik.
- Tidak dikenal oleh para penyusun Kanon.
- Dianggap dikalahkan oleh Injil-injil Naratif.
- Tergolong dalam suatu cabang kekristenan yang berada di luar lingkaran Atanasius dari Alexandria yang dominan.
- Penekanannya pada spiritualitas pribadi di luar Gereja dianggap anatema bagi kepentingan agama yang terorganisasi.
Injil Yakobus
Menggambarkan
kelahiran dan masa kecil Maria serta perkawinannya dengan Yusuf. Bagian
yang cukup panjang pasal 17-20 beralih fokus ke kelahiran Yesus, tidak
lagi terpusat pada figur Maria sendiri (yang dikisahkan dalam pasal
1-16), sehingga bisa jadi bagian ini pun suatu tambahan editorial
belakangan. Tetapi bagian tentang kelahiran Yesus ini juga memuat sebuah
tema penting tentang diri Maria juga, karena di dalamnya dikisahkan
tentang keperawanan Maria yang tak hilang kendatipun dia baru saja
memperanakkan bayi Yesus, sebagaimana telah diuji oleh bidan Salome yang
memasukkan jarinya ke dalam vagina Maria untuk memeriksa selaput
daranya yang ternyata tetap utuh (19:18-20:2).
Kelahiran
Maria digambarkan dalam dokumen ini sebagai suatu kelahiran yang suci
dan ajaib, kelahiran yang terjadi karena Tuhan Allah menghendakinya.
Anna, ibu Maria, digambarkan menyatakan dirinya sudah mengandung begitu
baru bertemu dengan Yoakhim, ayahnya, yang, setelah sekian waktu
berlalu, baru kembali dari pengasingan dirinya di padang gurun (4:1, 3,
9). Maria dikandung tanpa hubungan seksual sebelumnya antara Yoakhim dan
Anna.
Selanjutnya
ketika Maria dibesarkan, dalam tiga tahun pertama kehidupannya kesucian
dirinya dijaga betul oleh kedua orangtuanya, termasuk juga kesucian
semua makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Maria diberi tempat khusus
yang disucikan sebagai kamar tidurnya. Pada usia satu tahun, dia
menerima berkat dari para imam. Ketika dia diserahkan ke bait suci Tuhan
pada waktu dia sudah berusia tiga tahun, Maria tinggal di situ di Ruang
Maha Kudus dengan diberi makan oleh seorang malaikat Tuhan (PJ 13:7;
15:10), sampai dia memasuki usia dua belas tahun. Setelah berusia dua
belas tahun, karena sudah mulai menstruasi, Maria harus meninggalkan
bait suci Tuhan, dan mulai hidup di bawah naungan dan perlindungan Yusuf
sebagai walinya, sementara Yusuf sendiri adalah seorang lelaki tua yang
sudah menjadi duda dengan memiliki sekian putera dari isterinya sebelum
dia bertemu dengan Maria dan menjadi wali perawan ini.
Sejauh ini konsep Imakulata menurut Injil Yakobus
sesuai dengan Iman Katolik, tetapi dengan menyatakan bahwa Yusuf sudah
memiliki beberapa putera sebelum bertemu dengan Maria, Injil Yakobus
secara tak langsung menegaskan bahwa Bunda Maria dan Yusuf sama sekali
tidak mendapatkan seorang anakpun. Ini sangat bertentangan dogma Gereja
Katolik yang memandang saudara-saudara yang dimiliki Yesus (baik saudara
lelaki maupun saudara perempuan) bukanlah saudara-saudara kandung
Yesus, melainkan saudara-saudara sepupunya, menurut Injil Yakobus saudara-saudara lelaki yang dimiliki Yesus adalah saudara-saudara tiri, anak-anak Yusuf dari isteri terdahulunya.

Injil Maria Magdalena
Injil Maria Magdalena banyak membahas tentang tiga hal:
- Kematian sebagai akibat dari Demiurgos
- Kenaikan Yesus
- Kenaikan jiwa dalam pandangan gnostik
Ketiga
tema utama tersebut diajarkan melalui percakapan antara murid-murid
Yesus dan Maria Magdalena yang ditampilkan sebagai pemberi jawab atas
pertanyaan murid-murid. Sebagian besar kitab ini juga menggambarkan
diskusi antara Yesus yang bangkit dengan Maria Magdalena tentang
kehidupan setelah kematian.
Tidak ada yang spesial dari kitab
ini. Jumlah halaman yang ditemukan yang terlalu sedikit membuat para
sarjana kesulitan mengetahui penekanan maupun konsistensi teologi dari
kitab ini. Secara umum apa yang ditampilkan sangat mirip dengan
tulisan-tulisan gnostik yang lain. Bagaimanapun, ada satu bagian yang
mengundang kontroversi para sarjana.
Injil Maria 17:10 - 18:2
Tetapi
Andreas menjawab dan berkata kepada saudara-saudara, “katakan apa yang
ingin kalian katakan tentang apa yang telah ia (Maria Magdalena)
katakan. Aku setidaknya tidak percaya kalau Juru Selamat mengatakan
seperti itu, karena ajaran-ajaran itu jelas merupakan hal yang aneh”.
Petrus menjawab dan mengatakan hal yang sama.
Ia
menanyakan mereka tentang Juru Selamat: “apakah Ia sungguh-sungguh
berbicara dengan seorang wanita tanpa pengetahuan kita dan tidak secara
publik?
Akankah kita berpaling dan semua mendengarkan dia (Maria Magdalena)?
Apakah Ia lebih memilih dia daripada kita?”
Lalu Maria meratap dan berkata kepada Petrus, “Saudaraku Petrus, apa yang engkau pikirkan?
Apakah engkau berpikir bahwa aku sendiri telah memikirkan hal ini atau aku sedang berdusta tentang Juru Selamat?”
Lewi
menjawab dan berkata kepada Petrus, “Petrus, engkau selalu
temperamental. Sekarang aku melihat engkau menentang seorang wanita
seperti musuh. Tetapi jika Juru Selamat membuat dia layak, akankah
engkau sungguh-sungguh menolaknya?
Juru
Selamat tentu mengenal dia sangat baik. Itulah sebabnya Ia mengasihi
dia lebih daripada kita. Sebaliknya, biarlah kita malu dan memakai
Manusia sempurna, berpisah sebagaimana Ia memerintahkan kita dan
memberitakan Injil, tidak meletakkan hukum atau peraturan lain selain apa yang Juru Selamat katakan.
Teks
di atas menyiratkan posisi Maria Magdalena yang lebih istimewa
dibandingkan para rasul lain. Kontroversi seputar teks ini menjadi
semakin mencuat seiring dengan penafsiran para sarjana liberal yang
mengatakan bahwa untuk menyerang dominasi Maria Magdalena, Gereja
Katolik (secara khusus Paus Gregorius I, tahun 591 M) kemudian
menampilkan Maria Magdalena sebagai pelacur. Mereka berpendapat bahwa
Gereja Katolik melakukan itu sebagai sentimen gender dan perebutan
kekuasaan gereja.
Sebagaimana dalam tulisan Gnostik lainnya,
kitab ini juga memiliki ungkapan-ungkapan yang simbolis dan misterius,
tidak terkecuali Injil Maria Magdalena
17:10-18:21. Teks ini menggambarkan pertentangan antara Gereja Katolik
(diwakili oleh Petrus) dan aliran minoritas lain (diwakili tokoh wanita
Maria Magdalena). Seperti kebanyakan konsep gnostik, yang dianggap lebih
hebat adalah sebagian kecil orang yang mendapatkan wahyu khusus secara
rahasia.
Pemunculan Maria Magdalena sebagai orang yang terkemuka
dalam kitab ini diduga para sarjana berhubungan dengan sebuah sekte
Kristen yang dulu mungkin didirikan oleh atau memuja Maria Magdalena.
Sekte ini mengekspresikan pemujaan tersebut dalam konsep gnostik.
Kemungkinan besar hal ini berkaitan dengan konsep gnostik yang
mengagungkan “hikmat” (sophia) yang ditampilkan sebagai figur
feminin. Teks di atas juga tidak boleh diartikan sebagai indikasi adanya
perebutan jabatan gerejawi. Kaum Gnostik menganggap diri sebagai
penerima pengetahuan yang rahasia dari Kristus, sedangkan pengetahuan
ini bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik yang menekankan penerusan
tradisi dari saksi mata.
Injil Petrus
Injil Petrus
menyoroti peristiwa seputar pengadilan, kematian, dan kebangkitan
Yesus. Yang lain, misalnya ”Kisah Pilatus”, bagian dari ”Injil Nikodemus”,
mengisahkan orang-orang yang terkait dengan peristiwa tersebut. Karena
berisi keterangan yang tidak benar dan tokoh yang fiktif, teks-teks ini
tidak dapat dipercaya. ”Injil Petrus” berupaya menggambarkan Pontius Pilatus sebagai sosok yang baik dan menceritakan kebangkitan Yesus secara berlebihan.
Injil Nikodemus
Injil ini merupakan injil "belas kasihan" yang isi pokoknya adalah laporan resmi pengasulnya Pilatus yang sebenarnya merupakan satu dari dua bagian Injil.
Bagian yang kedua adalah Turunnya Kristus ke Neraka yang di dalamnya
Yusuf dari Arimatea menggambarkan masuknya Kristus yang dahsyat ke
Hades, membebaskan orang mati, dan penangkapan Iblis. Di antara
dokumen-dokumen dan surat-surat yang dilampirkan dalam injil adalah Paradosis yaitu laporan penyerahan Yesus kepada orang Yahudi yang dilakukan oleh Pilatus. Injil Nikodemus merupakan salah satu dokumen yang paling dramatis dan menyentuh di awal kekristenan.
Injil Kebenaran
Injil Kebenaran
yang terdapat dalam koleksi manuskrip Nag Hammadi, memberikan kesan
bahwa berbagai gagasan Gnostik yang mistis berasal dari Yesus. Seorang
pakar menyatakan bahwa injilini menggambarkan Yesus
sebagai ”guru dan penyingkap hikmat serta pengetahuan, bukan juru
selamat yang mati demi dosa dunia”. Hal ini bertentangan dengan iman
katolik dimana mengajarkan bahwa Yesus benar-benar mati sebagai korban
untuk dosa dunia. (Matius 20:28; 26:28; 1 Yohanes 2:1, 2) Jelaslah,
tujuan injil Gnostik adalah melemahkan, bukannya menguatkan iman. (Kisah 20:30).

Injil Yudas
Dalam ”Injil Yudas”,
Yesus menertawakan murid-muridnya yang kurang berpengetahuan. Hanya
Yudas yang benar-benar mengerti keinginan Yesus. Jadi, Yesus secara
pribadi memberi tahu Yudas ”rahasia-rahasia kerajaan”. Injil tersebut
juga mengungkap bahwa Yudas sebenarnya pahlawan, rasul yang paling
memahami Yesus, dan bahwa ia membantu kematian Yesus karena permintaan
Yesus sendiri.
Injil Yudas
menyatakan bahwa para rasul Yesus yang terkenal tidak memahami ajaran
Yesus dan bahwa ada suatu ajaran rahasia dari Yesus yang hanya
dimengerti segelintir orang pilihan. Injil itu
diawali dengan kata-kata, ”Pernyataan rahasia yang diucapkan oleh Yesus
dalam pembicaraan dengan Yudas Iskariot, selama delapan hari, tiga hari
sebelum ia merayakan Paskah.”
Saat
pembicaraan antara Yesus dengan Yudas, dikatakan bahwa Yudas Iskariot
adalah murid yang dipercaya Yesus dan diberikan pengetahuan rahasia
tersebut, serta mendapatkan perintah dari Yesus untuk menyerahkan Yesus
supaya disalibkan. Murid-murid yang lain dipandang sebagai orang-orang
yang salah memahami siapa Yesus, berbeda dengan Yudas yang mendapat
pengetahuan rahasia dari Yesus tentang kefanaan raga dan kebakaan jiwa.
Melalui peristiwa penyaliban, Yesus dapat terbebas dari tubuh ragawi
yang fana dan jiwanya dapat kembali ke alam spiritual yang kekal bersama
Allah, dan hal itu dimungkinkan melalui peran Yudas, sang murid
istimewa. Hal ini sangat bertentangan dengan iman Gereja Katolik, dimana
Yesus disalibkan untuk menebus dosa umat manusia.
Injil Barnabas
Dalam Injil Barnabas diungkapkan tentang akan datangnya Rasul bernama Muhammad SAW, setelah Nabi Isa. Berikut ini isi Injil Barnabas yang menyebut tentang Nabi Muhammad :
"Yesus
menjawab: `Nama sang Mesias adalah yang terpuji, karena Allah sendiri
telah memberikan nama itu ketika Ia menciptakan jiwanya, dan
menempatkannya di dalam kemuliaan surgawi. Allah berkata: "Nantikanlah
Muhammad; demi engkau, Aku akan menciptakan firdaus, dunia, dan begitu
banyak makhluk, yang akan Aku serahkan kepadamu sebagai hadiah,
sedemikian rupa sehingga barangsiapa memberkai engkau, dia akan
diberkati, dan barangsiapa mengutuk engkau, ia akan dikutuk. Ketika Aku
mengutus engkau ke dalam dunia, Aku akan mengutus engkau sebagai utusan
keselamatan-Ku dan kata-katamu akan menjadi kenyataan, sedemikian rupa
sehingga meskipun langit dan bumi akan gagal, imanmu tidak akan pernah
gagal." Muhammad adalah namanya yang diberkati.' Kemudian khalayak itu
mengangkat suara mereka, lalu berkata, `O Allah, utuslah kepada kami
utusan-Mu: O Yang Terpuji, datanglah segera demi perdamaian dunia!'"
(Barnabas 97:9-10)
Menurut salah satu versi dari Injil Barnabas:
'Kemudian
imam itu berkata: "Dengan nama apakah Mesias itu akan dipanggil?"
{Yesus menjawab} "Muhammad adalah namanya yang diberkati" ' (ps. 97).
Menurut salah satu versi dari Injil Barnabas,
Yesus menyangkal bahwa dialah sang Mesias itu, dan mengklaim bahwa
Mesias akan datang dari kalangan keturunan Ismael (yakni, Arab):
"Pada
saat itu Yesus berkata: 'Engkau menipu dirimu sendiri; karena Daud di
dalam Roh menyebutnya Tuan, dan dengan demikian berkata: "Allah berkata
kepada tuanku, duduklah di sebelah kananku, sampai musuh-musuhmu kutaruh
di bawah kakimu lawan-lawanmu pijakan kakimu. Allah akan mengirimkan
tongkatmu sehingga engkau berkuasa di antara lawan-lawanmu." Bila utusan
Allah yang engkau sebut Mesias adalah anak Daud, bagaimana mungkin Daud
menyebutnya tuan? Percayalah padaku, karena sesungguhnya aku berkata
kepadamu, bahwa janji itu telah dibuat dalam diri Ismael, bukan Ishak.'"
(Barnabas 43:10)
Menurut Injil Barnabas, Yesus meramalkan dan menolak penyembahan dirinya sebagai Allah:
dan
setelah mengatakan hal ini, Yesus memukul wajahnya dengan kedua
tangannya, dan kemudian menutupi tanah dengan kepalanya, sambil berkata:
"Terkutuklah barangsiapa yang memasukkan ke dalam ucapan-ucapanku bahwa
aku adalah anak Allah"
dan
setelah berkata demikian Yesus keluar dari Bait Allah. Dan rakyat
mengagungkannya, karena mereka membawa semua orang yang sakit yang dapat
mereka kumpulkan, dan Yesus setelah berdoa memulihkan kesehatan mereka:
oleh karena itu, pada hari itu di Yerusalem tentara-tentara Romawi,
melalui pekerjaan Setan, mulai menghasut rakyat, sambil berkata Yesus
adalah Allah Israel, yang telah datang untuk melawat umat-Nya." (69:6)
Yesus
menjawab: "Dan engkau; menurut engkau siapakah aku?" Petrus menjawab:
"Engkau adalah Kristus, anak Allah". Lalu Yesus menjadi marah, dan
dengan murka Yesus menegurnya sambil berkata: "Pergilah daripadaku,
karena engkau adalah iblis yang berusaha membuat aku berdosa."
Yesus
berkata lagi: "Aku mengaku di hadapan surga, dan meminta kesaksian dari
semua yang hidup di muka bumi, bahwa aku adalah seorang asing bagi
semua orang yang telah berkata tentang aku, yakni, bahwa aku lebih
daripada seorang manusia biasa. Karena aku, yang lahir dari seorang
perempuan, takluk kepada penghakiman Allah; yang hidup di sini seperti
semua orang lainnya, sama-sama dapat mengalami penderitaan yang sama."
(94:1)
Kemudian
imam itu menjawab, dengan gubernur dan raja: "Jangan sesali dirimu, O
Yesus, yang kudus dari Allah, karena pada masa kita pemisahan ini tidak
akan ada lagi, karena kami akan menulis kepada senat Romawi yang suci
dengan cara yang sedemikian bijaksana sehingga dengan dekrit kaisar tak
seorangpun akan menyebut engkau Allah atau anak Allah." Kemudian Yesus
berkata: "Kata-katamu tidak menghibur aku, karena ketika engkau
mengharapkan terang, kegelapanlah yang akan datang; tetapi penghiburanku
terdapat dalam kedatangan sang Utusan, yang akan menghancurkan setiap
pandangan yang salah tentang aku, dan imannya akan menyebar dan akan
menguasai seluruh dunia, karena demikianlah yang telah Allah janjikan
kepada Abraham bapak kita." (97:1)
Semua sarjanawan kristen setuju bahwa
injil Barnabas
bukanlah kitab yang ditulis berdasarkan kebenaran, karena jelas kitab
barnabas bukanlah berasal dari penulis atupun seorang yang berasal dari
jemaat mula-mula dan jarak waktu penulisan kitab dan
injil lainnya yang sangat jauh sedangkan
injil barnabas baru ada di abad 16 dan ditulis oleh seorang moor
Ibrahim al-Taybili di Tunisia yang notabennya ialah seorang muslim sehingga dapat dipastikan
injil barnabas bukanlah sebuah kitab yang memuat konteks kebenaran jemaat mula-mula (palsu).
Injil-injil semacam
itu akhirnya ditolak oleh Gereja Katolik karena tidak jelas siapa
penulisnya, dan tidak dapat ditelusuri sampai dengan jaman para Rasul
dan para saksi mata. Dan juga kisah-kisah itu terasa mengada-ada dan
berlebihan.
 |
| Ikon St. Barnabas |
Surat Barnabas
Surat Barnabas adalah
sebuah traktat Kristen pseudonim yang ditulis di Aleksandria pada akhir
abad pertama Masehi. Karangan ini berasal dari orang-orang Kristen
Aleksandria yang berkebudayaan Yunani. Surat ini mencela nilai ketaatan
harfiah terhadap hukum-hukum ritual Yahudi. Karya yang seluruhnya dalam
bahasa Yunani ini terdapat pada Kodeks Sinaitikus. Untuk beberapa
kalangan Kristen, karya ini tampaknya sangat mendekati batas kanon
Perjanjian Baru meskipun tidak pernah benar-benar diterima. Dalam Surat
Barnabas ini diusahakan untuk menunjukkan bahwa Perjanjian Lama hanya
punya arti apabila dimengerti dari sudut pandangan
Injil.
Surat Barnabas merupakan kitab yang disebutkan banyak sekali pendeta
gereja awal termasuk oleh Eusebius, Origenes, dan Jerome. Ada pendapat
bahwa Surat Barnabas ini ditemukan dalam Suriah Sinaitik, versi Alkitab
abad ke-4 CE. Meskipun tidak dikatakan dengan tegas, Surat Barnabas ini
jelas-jelas menentang doketisme dan gnostis. Ignatius, Polikarpus
bersama dengan Surat Barnabas melawan gnostis tetapi tidak berhasil
mengalahkan gnosis.
Injil Marcion
Marcion adalah
seorang uskup dalam gereja mula-mula di kota Sinope. Salah satu
pemikirannya yang banyak memicu perdebatan adalah pemisahan radikal
antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Teologi yang diajarkannya
menganggap Allah dalam Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama di Alkitab
Kristen) lebih rendah tingkatannya daripada Allah dalam
Injil (Perjanjian
Baru), karenanya Marsion menganggap bahwa Perjanjian Lama yang diwakili
oleh Taurat tidak dapat disandingkan dengan Injil. Ajarannya diikuti
oleh sejumlah orang dan disebut aliran Marsionisme. Ajaran ini ditentang
oleh bapa-bapa gereja (antara lain Ireneus dalam karyanya "Melawan
Ajaran Sesat") dan ia di-ekskomunikasi oleh Gereja Katolik Roma.
Penolakannya atas kitab-kitab yang dianggap bagian Kitab Suci dalam
gereja mula-mula menyebabkan gereja memulai penetapan kanon Alkitab.
Injil Kaum Ebionit
Ebionisme adalah
sebuah sekte yang muncul di dalam komunitas orang-orang Kristen Yahudi.
Muncul sekitar abad pertama atau pada awal kekristenan dan pengikutnya
disebut kaum "Ebionit".Ebionit merupakan sekte di kalangan orang Kristen
Yahudi yang muncul pada awal kekristenan. Kata "ebionit" berasal dari
bahasa Ibrani, artinya miskin. Sekte ini berkembang di sebelah timur
sungai Yordan. Ebionit mengajarkan bahwa Yesus hanyalah anak Maria dan
Yusuf, yang pada waktu pembaptisan diangkat menjadi putera Allah dan
dipersatukan dengan 'Kristus abadi', yang lebih tinggi dari malaikat
agung,
tetapi Yesus bukan Allah.
Menurut
mereka, Kristus telah menjelma beberapa kali di dalam diri tokoh-tokoh
seperti Adam. Hal ini menyebabkan pandangan mereka tentang Yesus
hanyalah sebatas guru dan bukan penyelamat.Kelompok Ebionit menekankan
bahwa hukum Taurat masih berlaku. Mereka mempertahankan hukum Sabat,
pembasuhan sebelum berdoa, peraturan tentang makanan haram, dan
melakukan sunat.
Injil yang dipakainya hanyalah
Injil Matius (tanpa bab 1 dan 2), yang mereka sebut sebagai
injil ebionit atau '
injil menurut umat Ibrani'.
Mereka menolak surat-surat Paulus dan menekankan hidup askese yang berat.
Mengapa Gereja Katolik memusnahkan injil-injil palsu?
Demikianlah kita melihat dua arti dalam kata apokrif. Pertama,
bagi mereka yang mengakui kebenaran tulisan-tulisan tersebut, apokrif
memiliki arti positif. Artinya, tulisan-tulisan tersebut tersembunyi
bagi orang kebanyakan, karena tulisan-tulisan ini berisi bahan yang
terlalu dalam, terlalu sulit untuk dipahami oleh orang biasa. Kedua,
sebaliknya, bagi mereka yang tidak mengakui kebenaran tulisan-tulisan
tersebut, apokrif memiliki arti negatif. Artinya, tulisan-tulisan ini
disembunyikan karena isinya memang dinilai sesat (heretis), palsu, tidak sesuai dengan ajaran Gereja yang resmi (Gereja Katolik).
Meskipun
demikian, sejarah juga mencatat bahwa ada banyak tulisan yang dinilai
sesat. Jemaat dilarang untuk membaca, menyimpan, atau menyebar-luaskan
tulisan-tulisan semacam itu. Tulisan-tulisan ini dinyatakan tidak sesuai
dengan ajaran Gereja Katolik. Dalam arti inilah kita sekarang bisa
berbicara tentang injil apokrif sebagai "injil yang disembunyikan" atau "injil yang dilarang" atau lebih tegas lagi "injil sesat".
Maka meskipun arti kata apokrif sendiri pada dasarnya netral, kata
tersebut menjadi berarti "sesat" atau" tidak resmi" ketika digunakan
untuk menunjuk pada tulisan-tulisan yang dilarang oleh pemimpin Gereja.
Pada
akhir abad kedua, St. Ireneus dari Lyon menulis bahwa orang-orang
Kristen yang murtad memiliki ”sejumlah besar tulisan yang apokrif dan
palsu”, termasuk injil-injil yang ”dikarang-karang oleh mereka sendiri, untuk membuat bingung orang-orang bodoh”. Karena itu, injil apokrifa akhirnya dianggap berbahaya untuk dibaca atau bahkan untuk dimiliki.
Dalam
konteks perang melawan ajaran-ajaran sesat semacam inilah Gereja
Katolik juga menyita banyak tulisan yang dinilai sesat. Banyak dokumen
dirampas dan dibakar. Bahkan mereka yang masih menyimpannya bisa diseret
ke pengadilan karena telah melakukan tindakan yang digolongkan sebagai
sebuah tindak kriminal.
Dalam
situasi semacam itu, mungkin, seorang rahib dari biara Santo Pakomius
(292-349 M), melarikan buku-buku papirus yang dilarang tersebut dan
menyembunyikannya di Nag Hammadi. Kondisi yang sangat kering dan tempat
yang sangat tersembunyi itu memungkinkan buku-buku terlarang itu
bertahan meskipun telah terkubur selama kurang lebih 1600 tahun.
Apakah kitab-kitab yang dikanonkan oleh Gereja Katolik adalah sudah pasti benar?
Di
tengah kekacauan dan kebingungan tersebut, ada satu hal dasar yang
penting untuk diperhatikan. Kriteria usia sebuah tulisan menjadi sebuah
kriteria sangat penting untuk menentukan apakah tulisan itu bisa
diterima sebagai tulisan iman atau tidak. Dengan demikian,
tulisan-tulisan lain yang disusun selama abad pertama akan dipandang
lebih memiliki wibawa atau otoritas daripada tulisan-tulisan yang
disusun selama abad kedua. Dalam tulisan-tulisan yang lebih awal
tersebut terlihatlah sebuah kriteria yang menentukan, yakni bahwa sebuah
dokumen memang ditulis dengan maksud untuk menumbuhkan iman pembaca.
Hal inilah yang ditegaskan dalam Yohanes 20:31, "semua
yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa
Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh
hidup dalam nama-Nya."
Dalam
perjalanan sejarah, tulisan-tulisan itu melewati proses yang kurang
lebih alamiah di dalam penggunaannya di kalangan Gereja perdana. Melalui
pertemuan-pertemuan iman atau dalam perayaan-perayaan liturgis, orang
mulai tahap demi tahap bisa membedakan mana tulisan-tulisan yang dirasa
lebih cocok untuk iman mereka ketika itu, dan mana yang tidak. Proses
seleksi tulisan-tulisan secara alamiah ini berjalan seiring juga dengan
proses seleksi yang dilakukan oleh Paus Roma sebagai pemimpin Gereja
perdana. Paus St. Damasus I dengan kuasa
infallible (tidak dapat sesat dalam pengajaran iman dan moral)
berperan untuk menilai tulisan-tulisan yang beredar itu sebagai tulisan yang benar sesuai dengan Iman Katolik atau tidak.
Ini adalah dasar bahwa Kitab Suci yang telah dikanonkan dijamin dari kesalahan (infalibilitas).
"Allah
adalah penyebab Kitab Suci: Ia mengilhami pengarang-pengarang manusia:
Ia bekerja dalam mereka dan melalui mereka. Dengan demikian Ia menjamin,
bahwa buku-buku mereka mengajarkan kebenaran keselamatan tanpa
kekeliruan."
~ Katekismus Gereja Katolik 136
Karena
itu, perjuangan untuk memasukkan sebuah kitab/Surat dalam Kitab Suci
sungguh memakan waktu dan pertimbangan yang matang dari sisi pewahyuan
dan isinya yang mendukung perkembangan iman umat, seperti misalnya;
Kitab Wahyu. Kitab ini awalnya tidak diterima oleh umat kristen perdana.
Tapi hanya karena keputusan dari Paus Roma (bersifat
infallible /
tidak dapat salah) yang mempertimbangkan bahwa isi kitab ini dapat
membantu umat dalam mengenal dan mengimani Allah, maka akhirnya Kitab
Wahyu dimasukkan dalam Kitab Suci seperti sekarang ini. Kuasa Paus untuk
menentukan ini berdasar pada Mat 28:20;
"Ajarilah
mereka tentang segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan,
lihatlah, Aku akan menyertaimu sampai akhir zaman." (kamu di sini adalah para rasul dibawa komando Petrus sebagai pemimpin resmi yang diangkat oleh Yesus).
Tulisan
yang dialami sebagai tulisan yang sesuai dengan iman katolik akan terus
digunakan, disalin, dan disebarluaskan. Sebaliknya, tulisan yang dirasa
membingungkan atau menyesatkan, ditambah dengan pernyataan-pernyataan
tegas dari para Bapa Gereja yang melawan kesesatan tulisan tersebut,
akhirnya tidak lagi digunakan. Karena dirasa tidak begitu berguna,
mungkin kemudian tidak disimpan dengan baik, tidak disalin, tidak
disebarluaskan, atau bahkan dengan sengaja dibakar dan dimusnahkan.
Meskipun demikian, pada kenyataannya, tidak semua tulisan tersebut telah
sama sekali musnah ditelan sejarah. Sejumlah teks kuno tersebut
akhirnya sampai juga kepada kita.
https://jakartaberdoa.wordpress.com/2010/12/03/kitab-nikodemus/
http://id.wikipedia.org/wiki/Marsion
http://id.wikipedia.org/wiki/Ebionisme
http://id.wikipedia.org/wiki/Surat_Barnabas
http://www.bersatulahdalamgerejakatolik.com/2015/02/menguak-injil-injil-rahasia.html