Showing posts with label Apologetika. Show all posts
Showing posts with label Apologetika. Show all posts

Benarkah Konsili Nicea Mengangkat Yesus Sebagai Tuhan ?

Sumber: https://pixabay.com


Benarkah Konsili Nicea Mengangkat Yesus Sebagai Tuhan ?

Perdebatan tentang ‘Yesus Kristus” agaknya tidak pernah usai, mungkin sampai ia datang kembali. Adapun yang sering diperdebatkan adalah seputar ‘ketuhanan’ atau ‘keilahian Yesus’. Apakah Yesus sungguh-sungguh Ilahi/Tuhan atau Yesus pernah diangkat menjadi Tuhan dalam konsili?. Tidak dapat dipungkiri banyak pendapat yang ‘menuduh’ bahwa Yesus diangkat menjadi Tuhan dalam Konsili Nicea (325). Namun secara historis ‘tuduhan’ tersebut tidak benar dan tidak pernah terjadi. Konsili Ekumenis di Nicea tahun 325 diadakan oleh Gereja universal untuk menanggapi ajaran sesat Arius, seorang pastor dari Gereja Alexandria, Mesir (319). Arius berupaya merasionalisasikan misteri tentang Allah Tritunggal. Arius tidak dapat menerima bahwa Kristus, Sang Putra Allah berasal dari Allah Bapa, dan sehakekat dengan Bapa. Oleh sebab itu, ia mengajarkan bahwa karena Yesus ‘berasal’ dari Bapa, maka Yesus adalah ciptaan yang paling tinggi. Arius tidak mengerti bahwa Pribadi Yesus terdiri dari dua kodrat, yakni kodrat Allah dan kodrat manusia.

Adapun ajaran-ajaran Arius antara lain jiwa dari Kristus yang sudah ada sebelumnya (super archangel) mengambil tempat jiwa manusia dalam kemanusiaan Yesus, Kristus tidak dapat memahami Allah Bapa, Tuhan bukan Trinitas secara kodrat, Kristus tidak sama-sama kekal seperti Bapa melainkan mempunyai awal, Kristus bukan Putera Allah secara kodrati, melainkan Putera angkat, Kristus tidak sehakekat dengan Bapa, Kristus adalah ciptaan, yang diciptakan dari sesuatu yang tidak ada, berupa kodrat malaikat (super archangel), yang tidak sehakekat dengan Bapa, Kristus tidak tanpa cela, tetapi dapat secara kodrati berdosa, Allah Bapa secara tak terbatas lebih mulia dari pada Kristus, dan Kristus diciptakan dengan kehendak bebas Allah Bapa. Arius mengutip Yoh. 1:14 “Firman itu menjadi manusia…” untuk menyimpulkan bahwa Firman hanya menjelma menjadi daging, sementara jiwanya tidak. Oleh sebab itu Arius meyakini bahwa Kristus adalah sungguh-sungguh Allah, tetapi bukan sungguh-sungguh manusia, karena jiwanya bukan jiwa manusia. Ajaran serupa dapat ditemukan pada ajaran sesat Apollinaris (300-390).

Santo Aleksander, Patriarkh Alexandria menanggapi ajaran Arius yang memang masuk dalam wilayahnya. Santo Aleksander mengadakan Konsili Alexandria (sekitar 321) yang dihadiri oleh sekitar 100 uskup yang berasal dari Mesir, Lybia. Konsili Alexandria mengecam ajaran Arius, namun Arius mempunyai pendukung baik dadri pemerintahan maupun dari beberapa orang pejabat Gereja. Pendukung Arius yang berasal dari pejabat Gereja adalah Eusebius, Uskup Kaisarea, Palestina dan Uskup Eusebius dari Nikomedia, yang menjadi pemimpin Arian sekaligus pelindung Arius.

Arius yang telah diekskomunikasi oleh Konsili Alexandria pergi ke Palestina dan Nikomedia. Kemudian, St. Aleksander mengeluarkan surat berjudul “Epistola Encyclica”, yang ditanggapi oleh Arius sehingga menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat. Kegaduhan tersebut diperparah dengan pertikaian Kaisar Konstatin dan Licinius (322-323). Pada saat Kaisar Konstantin menjadi penguasa, ia menginginkan agar wilayah pemerintahannya damai. Oleh sebab itu ia menulis sepucuk surat untuk St. Aleksander dan Arius. Maksud dari surat tersebut agar St. Aleksander dan Arius secepatnya membuat persetujuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi melalui Konsili Ekumenis. Setelah itu, Kaisar Konstantin menulis surat undangan untuk para uskup supaya datang ke Nicea. Oleh sebab itu para uskup dari Mesir, Persia, Asia, Syria, Yunani, Thrace dan lain sebagainya datang menghadiri Konsili yang diadakan di Nicea. Kemungkinan secara historis Konsili tersebut diprakarsai oleh Kaisar Konstantin dan Paus Sylvester I. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya uskup yang hadir dalam konsili. Selain itu Kanon ke-20 yang membahas tentang ketentuan Gerejawi menunjukkan bahwa Kaisar Konstantin dan Paus Sylvester I bertindak dalam persetujuan tentang Konsili yang diadakan di Nicea.

Konsili Nicea dipimpin oleh pihak otoritas Gereja, yakni Hosius dari Kordova, Vitus dan Vincentius (perwakilan Paus), Patriarkh Aleksander dari Alexandria dan Eustathius dari Antiokhia. Sementara itu, Kaisar Konstantin hadir dalam setiap sesi-sesi Konsili sebagai tuan rumah Nicea. Adapun Konsili Nicea dihadiri sekitar 300 uskup untuk meluruskan ajaran sesat Arius.[1] Ajaran Arius dikecam dan dibuat pernyataan Credo untuk menegaskan kembali ajaran para rasul tentang Kristus yang ‘sehakekat dengan Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar.’ Ketika penandatangan tentang ajaran ini, hampir semua uskup setuju. Hanya ada 17 orang uskup yang enggan bersuara. Meskipun demikian selain Arius, ada 2 orang uskup yang menolak untuk menandatangani teks Syahadat Nicea yakni Theonas dari Marmarica dan Secundus dari Ptolemais. Hasil Konsili Nicea mencakup pernyataan iman dari ke 318 Bapa Gereja dan ke 20 kanon yang ditetapkan. Selain itu, ada surat kepada umat di Mesir dan kecaman terhadap Arius, Theonas dari Marmarica dan Secundus dari Ptolemais

Umat non-Kristen seringkali membuat tuduhan tanpa dasar bahwa Konsili Nicea (325) ‘menobatkan atau mengangkat Yesus sebagai Tuhan.’. Salah satu contoh tuduhan tersebut dapat kita temukan dalam buku Dan Brown yang berjudul Da Vinci Code yang mengatakan bahwa sebelum Konsili Nicea Yesus dianggap sebagai nabi, dan baru diangkat menjadi ‘Putra Allah’ oleh Konsili Nicea, yang diperoleh melalui voting. Namun tuduhan tersebut tidak benar atau salah besar. Konsili Nicea sama sekali tidak menobatkan atau mengangkat Yesus sebagai Tuhan. Konsili Nicea diadakan untuk meluruskan ajaran sesat Arianism dan menegaskan iman Gereja yang telah diwariskan oleh para rasul yakni bahwa Kristus sehakekat dengan Bapa. Kini, umat mengenal iman Gereja tersebut sebagai ‘Syahadat Para Rasul’ yang mencantumkan pokok-pokok iman dari para rasul. Selain itu, ajaran tentang Trinitas telah ada sejak zaman Para Rasul, meskipun kata ‘Trinitas’ tidak ditulis secara eksplisit dalam Kitab Suci. Bahkan Bapa Gereja sebelum Konsili Nicea (325) telah mengajarkan tentang Trinitas.[2]

St. Athanasius dari Alexandria (296-373) adalah pembela ulung iman Gereja yang telah ditegaskan dalam Konsili Nicea. St. Athanasius mengajarkan tentang homoousios yang berbicara tentang substansi yang sama dan homoiousios yang berbicara tentang substansi yang serupa.[3] Salah satu ajaran St. Athanasius yang terkenal adalah ‘kalau Kristus mempunyai awal mula, maka artinya ada saat bahwa Allah Bapa bukan Allah Bapa, dan di mana Allah Bapa tidak punya Sabda ataupun Kebijaksanaan….menurutnya hal ini bertentangan dengan Wahyu Allah dan akal sehat. “Sebab jika Allah Bapa itu kekal, tak berawal dan tak berakhir maka Sabda-Nya dan Kebijaksanaan-Nya pasti juga kekal, tak berawal dan berakhir.[4] 

Berikut adalah pernyataan Iman Konsili Nicea:

Kami percaya akan satu Allah, Bapa yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan; dan akan satu Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah yang tunggal, yang dari Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan bukan dijadikan, sehakekat dengan Bapa; segala sesuatu dijadikan oleh-Nya. Untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita, Ia turun dari surge dan menjelma menjadi manusia, menderita dan bangkit pada hari ketiga, Ia naik ke surga, Ia akan datang kembali untuk mengadili orang hidup dan yang mati. Dan [aku percaya akan] Roh Kudus.[5]

Dan barangsiapa yang berkata bahwa ada waktunya ketika Putera Allah tidak ada, atau sebelum Ia lahir Ia tidak ada, atau Ia diciptakan dari benda-benda yang tadinya tidak ada, atau bahwa Ia berasal dari hakikat yang berbeda dengan Bapa, atau bahwa Ia adalah makhluk ciptaan, atau Ia dapat berubah atau bertobat-semua yang serupa itu, Gereja Katolik dan Apostolik meng-anathema mereka.[6]

Referensi:
Kristiyanto, Eddy. 2003. Visi Historis Komprehensif. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.


[1] Menurut catatan St. Athanasius jumlah uskup yang hadir sekitar 300 orang. Ia menyebut 318 orang dalam suratnya Ad Afros. Sementara itu, Eusebius menyebut jumlah uskup yang hadir 250 orang yang mayoritas berasal dari wilayah timur.
[2] Baca http://www.katolisitas.org/ajaran-bapa-gereja-sebelum-abad-ke-4-tentang-trinitas/.
[3] Eddy Kristiyanto, OFM, Visi Historis Komprehensif (Yogyakarta:Penerbit Kanisius, 2003), hlm. 51. 
[4] Lihat Nicene and Post Nicene Fathers [NPNF] 4:311.
[5] Lihat Puji Syukur No. 2, merupakan hasil dari Konsili Nicea (325) dan Konsili Konstantinopel (381).
[6] Anathema artinya bahwa sekelompok orang atau seseorang yang mengajarkan ajaran yang menyimpang, dinyatakan sebagai kelompok atau orang-orang yang berada di luar Gereja.

Benarkah Ajaran Tritunggal Buat oleh Konsili Nicea?

Sumber: https://pixabay.com


Benarkah Ajaran Tritunggal Buat oleh Konsili Nicea?



Banyak orang non-Kristen menuduh bahwa ajaran Trinitas dibuat atau diajarkan oleh Konsili Nicea. Oleh sebab itu mereka mengatakan bahwa ajaran Kristiani tentang AllahTritunggal baru ada setelah Konsili Nicea (325). Namun pandangan tersebut keliru dan ahistori, karena ajaran tentang Allah Tritunggal dapat ditemukan dalam berbagai ayat Kitab Suci. Selain itu, Para Bapa Gereja sebelum Konsili Nicea (sebelum abad ke-4) juga mengajarkan tentang Allah Tritunggal. Berikut beberapa kutipan Para Bapa Gereja tentang Allah Tritunggal:

Pertama, St. Polycarpus (69-155), sebelum ia dibunuh sebagai martir, ia berkata “….Aku memuji Engkau (Allah Bapa),…aku memuliakan Engkau, melalui Imam Agung yang ilahi dan surgawi, Yesus Kristus, Putera-Mu yang terkasih, melalui Dia dan bersama Dia, dan Roh Kudus, kemuliaan bagi-Mu sekarang dan sepanjang segala abad, Amin.”[1]

Kedua, St. Athenagoras (133-190), “Sebab…kita mengakui satu Tuhan, dan PuteraNya yang adalah Sabda-Nya, dan Roh Kudus yang bersatu dalam satu kesatuan,-Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus.”[2]

[For, as we acknowledge a God, and a Son his Logos, and a Holy Spirit, united in essence — the Father, the Son, the Spirit, because the Son is the Intelligence, Reason, Wisdom of the Father, and the Spirit an effluence, as light from fire; so also do we apprehend the existence of other powers, which exercise dominion about matter, and by means of it, and one in particular, which is hostile to God:…]

Ketiga, St. Aristides sang filsuf (90-150 AD), “Orang-orang Kristen, adalah mereka yang, di atas segala bangsa di dunia, telah menemukan kebenaran, sebab mereka mengenali Allah, Sang Pencipta segala sesuatu, di dalam Putera-Nya yang Tunggal dan di dalam Roh Kudus.”[3]

Keempat, St. Teofilus dari Antiokhia (180), “Demikianlah juga ketiga hari sebelum diciptakannya terang (pada hari ke-empat), adalah lambang dari Trinitas, Allah, dan Firman-Nya  dan kebijaksanaan-Nya.”[4]

Kelima, St. Clement dari Alexandria (150-215), “Sang Sabda, Kristus, adalah penyebab, dari asal mula kita-karena Ia ada di dalam Allah-dan penyebab dari kesejahteraan kita. Dan sekarang, Sang Sabda yang sama ini telah menjelma menjadi manusia. Ia sendiri adalah Tuhan dan manusia, dan sumber dari semua yang baik yang ada pada kita.”[5]

[The world is essentially dependent on God, and this dependence implies (1) that God is the Creator of the world — the producer of its whole substance; and (2) that its continuance in being at every moment is due to His sustaining power. The Trinity is the term employed to signify the central doctrine of the Christian religion — the truth that in the unity of the Godhead there are Three truly distinct Persons: the Father, the Son, and the Holy Spirit]
Berdasarkan data di atas, kita mengetahui bahwa ajaran Trinitas bukanlah buatan Konsili Nicea. Ajaran Trinitas berasal dari Alkitab dan ajaran yang diwariskan oleh para rasul.


[2] St. Athenagoras, A Plea for Christians, Chap. 24, lihat http://www.newadvent.org/fathers/0205.htm.
[3] Aristides, Apology 16 lihat http://www.newadvent.org/fathers/1012.htm.
[4] St. Theophilus of Antioch,  To Autolycus II lihat http://www.newadvent.org/fathers/02041.htm.
[5] St. Clement, Exhortation to the Greeks lihat http://www.newadvent.org/cathen/06608a.htm.


Benarkah Yesus Tidak Disalib? Apa Kata Sejarawan?




Benarkah Yesus Tidak Disalib? Apa Kata Sejarawan?

Hingga kini sebagian orang meragukan peristiwa penyaliban Yesus. Bahkan ada tulisan-tulisan yang membantah tentang penyaliban Yesus. Namun demikian data-data sejarah tentang peristiwa penyaliban Yesus cukup banyak. Oleh sebab itu banyak orang meyakini bahwa penyaliban Yesus adalah suatu peristiwa nyata atau sebuah fakta sejarah. Berikut adalah tulisan para ilmuan tentang peristiwa penyaliban Yesus

Pertama, Flavius Josephus, Sejarawan Yahudi. Flavius Josephus bernama asli Joseph bin Matthias yang lahir dari keluarga imam pada tahun 37 Masehi di Yerusalem. Ia meninggal pada tahun 100 Masehi di Roma. Dalam bukunya berjudul Antiquitates Judaicae 18, 63-64 ia menulis tentang peristiwa penyaliban Yesus.

“Pada masa inilah muncul Yesus, seorang yang bijaksana, kalau boleh dia disebut manusia. Karena dia adalah seorang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang menakjubkan dan seorang guru bagi mereka yang menerima kebenaran yang menyenangkan, dan dia telah memikat banyak orang Yahudi dan orang Yunani. Dia ini adalah Kristus. Dan ketika Pilatus, atas desakan orang-orang terkemuka di antara kita, telah menghukum-Nya di kayu salib, mereka yang sejak semula mengasihinya tidak berhenti (mengasihinya) karena pada hari ketiga dia telah menampakkan diri kepada mereka dalam keadaan hidup kembali. Para nabi Allah telah menubuatkan hal ini dan berbicara tentang aneka hal ajaib tentang dia. Dan klan [suku] Kristen, demikian disebut menurut [nama]nya, masih bertahan sampai hari ini.[1]

Kedua, Cornelius Tacitus, Sejarawan Romawi. Cornelius Tacitus lahir sekitar tahun 52-54 Masehi dan meninggal sekitar tahun 120 Masehi. Dalam bukunya berjudul Annals Volume XV, 15, 44. 2-3 ia menulis tentang peristiwa penyaliban Yesus.

“…Nero dari keaiban oleh karena dituduh telah sengaja menimbulkan kebakaran besar di Roma. Jadi, untuk menghentikan desas-desus itu dia mengalihkan tuduhan dengan memfitnah dan menghukum dengan siksaan paling keji terhadap orang-orang yang disebut Kristen, yang dibenci karena kejahatannya, Kristus, dari mana nama ia berasal, yang menderita hukuman ekstrem dalam pemerintahan Tiberius, di tangan prokurator kita, Pontius Pilatus, dan suatu hal yang tidak masuk akal yang banyak mencelakakan, karena ketika dicek pada waktu itu, meletus lagi tidak hanya di Yudea, sumber pertama kejahatan ini, tetapi bahkan di Roma, dimana segala kengerian dan kebencian dari setiap bagian dunia mendapatkan pusatnya dan menjadi popular.[2]

Ketiga, Lucianus dari Samosata, filsuf dan sejarawan Yunani. Lucianus dari Samosata lahir di Samosata pada tahun 120 Masehi dan meninggal sekitar tahun 180 Masehi di Athena. Dalam bukunya yang berjudul De Morte Peregrini (Kematian Peregrinus) ia menulis tentang “Peregrinus yang telah memeluk agama Kristen dan memiliki sesama pemeluk di Palestina yang masih menyembah orang yang telah disalibkan di Palestina”.[3]

Keempat, Mara Bar Sarapion, filsuf Stoa dari Syria. Mara Bar Sarapion menulis surat yang ditujukan kepda anaknya, Sarapion yang berada dalam penjara Romawi.
“Apakah baiknya orang-orang Athena membunuh Socrates, karena perbuatan mereka dibalas kelaparan dan wabah?Apakah faedahnya orang-orang Samian membakar Phytagoras, karena akhirnya negeri mereka seluruhnya terkubur di bawah pasir pada saat itu? Dan apakah manfaatnya orang-orang Yahudi membunuh raja mereka yang bijaksana, karena kerajaan mereka akhirnya direbut dari mereka dari saat itu?Tuhan dengan adil telah membalaskan ketiga orang bijaksana ini. Orang-orang Athena mati oleh kelaparan, orang-orang Samian ditenggelamkan ke laut, dan orang-orang Yahudi disembelih dan dihalau dari kerajaannya, sehingga mereka hidup terpencar di mana-mana. Socrates tidak mati, berterimakasihlah pada Plato; demikian pula Phytagoras, karena patung Hera. Demikian juga sang raja bijaksana tidak mati, karena hukum baru yang ia berikan.[4]

Dari data di atas kita dapat menyimpulkan bahwa peristiwa penyaliban Yesus adalah fakta sejarah. Jika muncul data yang mengatakan bahwa Yesus tidak disalibkan, maka data tersebut tidak valid karena jarak penulisan dan peristiwa penyaliban sangat jauh.


[1] Gerd Theissen dan Annete Merz, The Historical Jesus: A Comprehensive Guide (London: SCM Press, 1998), hlm. 64-65.
[2] Ibid, Gerd Theissen dan Annete Merz, hlm. 82.
[3] Raymond Brown, The Death of Messiah (New York: Double Day, 1994), hlm. 381.
[4] Ibid, Gerd Theissen dan Annete Merz, hlm. 77

Doa Bapa Kami Tidak Diubah

Sumber: Pixabay


Beberapa hari ini beredar kabar bahwa Paus Fransiskus mengubah Doa Bapa Kami. Banyak netizen media sosial membagikan berbagai berita yang intinya menuduh bahwa tindakan Paus tidak tepat. Tindakan tersebut banyak dilakukan oleh sebagian orang yang memang tidak begitu senanga dengan iman Katolik. Berita tersebut mereka jadikan sebagai bahan untuk menyerang umat Katolik. Meskipun pada kenyataannya mereka tidak membaca isi dari berita yang mereka bagikan. Tak dipungkiri banyak juga umat Katolik yang bertanya-tanya tentang berita tersebut. Bagaimana seharusnya kita menjelaskan? Setidaknya kita perlu menjelaskan beberapa hal:

Pertama. Paus Fransiskus menyetujui perubahan terjemahan Misale (Buku Misa) bahasa Italia, antara lain terjemahan Doa Bapa Kami dan Kemuliaan. Oleh sebab itu, tidak benar bahwa Paus mengubah Doa Bapa Kami dalam bahasa asli, Yunani atau Latin. Doa Bapa Bapa Kami dalam bahasa asli tidak pernah diubah, tetap seperti apa adanya.

Kedua, perubahan terjemahan adalah hal yang wajar. Bahkan Lembaga Alkitab Indonesia telah merevisi beberapa kali terjemahan Alkitab, misalnya Alkitab Terjemahan Lama (TL), Alkitab Terjemahan Baru (TB), Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) atau Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK), Alkitab Terjemahan Baru versi 2. Perlu diketahui yang direvisi bukan bahasa asli dari Alkitab melainkan terjemahan dari Alkitab. Revisi diadakan untuk menyesuaikan dengan perkembangan bahasa. Demikian pula yang terjadi dengan Doa Bapa Kami dalam bahasa Italia, bukan direvisi bahasa asli Alkitabnya, melainkan direvisi bahasa terjemahannya agar sesuai dengan perkembangan bahasa.

Ketiga, revisi terjemahan diperlukan karena  terjemahan pada masa lampau memiliki kata/kalimat yang sulit dipahami pada masa kini, dalam terjemahan dalam bahasa Indonesia misalnya ada beberapa kalimat yang pada masa kini agaknya tidak dimengerti oleh banyak orang; fasik, bertarak dan lain sebagainya. Bisa juga ada kata yang maknanya bergeser, misalnya perkasa dan lain sebagainya.

Keempat, perubahan terjemahan yang dilakukan pada terjemahan Misale (Buku Misa) bahasa Italia tidak berdampak terhadap Misale (Buku Misa) di Indonesia. Dengan kata lain, perubahan terjemahan itu hanya berlaku di Italia.

Kelima, kalimat yang direvisi dari terjemahan lama adalah ‘dan jangan masukkan kami ke dalam pencobaan’ menjadi ‘dan jangan biarkan kami jatuh ke dalam pencobaan’. Dua terjemahan ini sama sekali tidak saling bertentangan, maka tidak ada yang perlu dipersoalkan.




Doa Rosario Bertele-tele? Kamu harus tahu!

(Sumber: katolisitas.org)


Pada suatu kesempatan seorang teman bertanya: Benarkah Doa Rosario itu bertele-tele seperti yang dimaksud Matius 6:7 "Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan."? Hal itu ia tanyakan karena banyak orang non-Katolik yang menuduh bahwa doa Rosario adalah doa yang bertele-tele. Bagaimana menjawab pertanyaan tersebut? Setidaknya ada beberapa hal yang perlu kita jelaskan kepada orang yang bertanya:

Pertama, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bertele-tele adalah bercakap-cakap tidak jelas ujung pangkalnya; melantur-lantur; berlarut-larut. Sementara itu, doa Rosario jelas mempunyai ujung pangkal, tidak melantur dan berlarut-larut. Doa Rosario justru bukan bertele-tele melainkan mengulang-ulang doa Salam Maria, Bapa Kami, Kemuliaan, dan Terpujilah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mengulang-ulang adalah mengerjakan/melakukan hal yang sama berkali-kali; mengulang lagi beberapa kali; mengulangi. Dengan demikian doa Rosario tidak masuk dalam kategori bertele-tele seperti yang dimaksud Matius 6:7.

Kedua, Kitab Suci tidak melarang doa yang diulangi berkali-kali. Yesus sendiri di atas kayu salib mengulangi kata-kata Eli-Eli atau Eloi-Eloi Lama Sabakhtani (bdk. Mat. 27:46, Mrk. 15:34). Selain itu, kata yang diulangi pula bisa ditemukan dalam Mazmur 22:1-3. Bahkan dalam Kitab Wahyu Para Kudus memuji Allah dengan mengulang kata, kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa..(bdk. Why. 4:8). Masih banyak doa atau kata yang diulang-ulang dalam Kitab Suci sebab hal itu tidak dilarang atau tidak seperti yang dimaksud oleh Matius 6:7.

Ketiga, doa Rosario merupakan doa renungan atas misteri keselamatan mulai ketika Yesus dikandung hingga Roh Kudus diutus. Selain itu, doa Salam Maria didaraskan sebanyak sepuluh kali. Didaraskan berulang-ulang bertujuan untuk memusatkan perhatian pada misteri keselamatan. Kemudian disisipkan bacaan singkat, renungan atau nyanyian di antara dasa Salam Maria. Berikut adalah dua puluh peristiwa yang direnungkan: Peristiwa-peristiwa Gembira, khususnya selama Masa Adven dan Natal [Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel (Luk 1:26-38), Maria mengunjungi Elisabet, saudarinya (Luk 1:39-45), Yesus dilahirkan di Bethlehem (Luk 2:1-7), Yesus dipersembahkan dalam Bait Allah (Luk 2:22-40), Yesus diketemukan dalam Bait Allah (Luk 2:41-52)], Peristiwa-peristiwa Sedih, khususnya selama Masa Prapaskah dan tiap hari Jumat [Yesus berdoa kepada Bapa-Nya di surga dalam sakratul maut (Luk 22:39-46), Yesus didera (Yoh 19:1), Yesus dimahkotai duri (Yoh 19:2-3),Yesus memanggul salib-Nya (ke Gunung Kalvari) (Luk 22:26-32), Yesus wafat di salib (Luk 23:44-49)], Peristiwa-peristiwa Mulia, khususnya selama Masa Paskah dan tiap hari Minggu [Yesus bangkit dari kematian (Luk 24:1-5), Yesus naik ke surga (Luk 24:50-53), Roh Kudus turun atas para Rasul (Kis 2:1-13), Maria diangkat ke surga (1Ko r15:23; DS 3903), Maria dimahkotai di surga (Why 12:1, DS 3913-3917)], Peristiwa-peristiwa Terang [Yesus di baptis di sungai Yordan (Ma 3:16-17),Yesus menyatakan diri-Nya dalam pesta pernikahan di Kana (Yoh 2:11), Yesus memberitakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan (Mat4:17-23), Yesus menampakan kemuliaan-Nya (Mat 17:2-5), Yesus menetapkan Ekaristi (Mrk 14:22-24)].[1]


[1] Baca tata cara berdoa Rosario di https://www.imankatolik.or.id/doarosario.html

Benarkah Kidung Agung 5:16 Menubuatkan Seorang Nabi?


Benarkah Kidung Agung 5:16 Menubuatkan Seorang Nabi? 


Seorang pemuda bertemu dengan saya dan berkata, apakah benar ada nubuat seorang nabi dalam Kidung Agung 5:16 seperti yang saya tonton di youtube?. Saya tidak langsung menjawab. Saya mencoba mencari sumber dari pandangan itu. Setelah saya temukan ada sebuah juplikan doa yang didaraskan oleh orang Yahudi ketika berdoa di depan tembok ratapan. Doa itu merupakan kutipan dari Kidung Agung 5:16 yang berbunyi, חכו ממתקים וכלו מחמדים זה דודי וזה רעי בנות ירושלם Dibaca, “Khikko mamtaqqim wekhullo Mukhammadim ze dodee weze r’ee baynot Yerushalam”

Bagaimana bunyi Bahasa Indonesianya?

Kidung Agung 5:16 Kata-katanya manis semata-mata, dia semuanya bagus. Demikianlah kekasihku, demikianlah temanku, hai puteri-puteri Yerusalem.” [terjemahan KJV)
"Kid. 5:16 "Kata-katanya manis semata-mata, segala sesuatu padanya menarik. Demikianlah kekasihku, demikianlah temanku."[LAI]

Benarkah ayat itu mengandung Nubuat ?

Tidak! Kitab Kidung Agung bagian dari kitab-kitab hikmat, sehingga tidak berisi nubuat. Oleh sebab itu, satu ayat yang dikutip di atas perlu dibaca secara utuh dalam kesatuan dengan ayat lain sebelum dan sesudahnya. Mari kita lihat perikop di mana ayat 5:16 berada:[1]
--Aku datang ke kebunku, dinda, pengantinku, kukumpulkan mur dan rempah-rempahku, kumakan sambangku dan maduku, kuminum anggurku dan susuku. Makanlah, teman-teman, minumlah, minumlah sampai mabuk cinta!
Aku tidur, tetapi hatiku bangun. Dengarlah, kekasihku mengetuk. "Bukalah pintu, dinda, manisku, merpatiku, idam-idamanku, karena kepalaku penuh embun, dan rambutku penuh tetesan embun malam!"
"Bajuku telah kutanggalkan, apakah aku akan mengenakannya lagi? Kakiku telah kubasuh, apakah aku akan mengotorkannya pula?"
Kekasihku memasukkan tangannya melalui lobang pintu, berdebar-debarlah hatiku.
Aku bangun untuk membuka pintu bagi kekasihku, tanganku bertetesan mur; bertetesan cairan mur jari-jariku pada pegangan kancing pintu.
Kekasihku kubukakan pintu, tetapi kekasihku sudah pergi, lenyap. Seperti pingsan aku ketika ia menghilang. Kucari dia, tetapi tak kutemui, kupanggil, tetapi tak disahutnya.
Aku ditemui peronda-peronda kota, dipukulinya aku, dilukainya, selendangku dirampas oleh penjaga-penjaga tembok.
Kusumpahi kamu, puteri-puteri Yerusalem: bila kamu menemukan kekasihku, apakah yang akan kamu katakan kepadanya? Katakanlah, bahwa sakit asmara aku!
--Apakah kelebihan kekasihmu dari pada kekasih yang lain, hai jelita di antara wanita? Apakah kelebihan kekasihmu dari pada kekasih yang lain, sehingga kausumpahi kami begini?
--Putih bersih dan merah cerah kekasihku, menyolok mata di antara selaksa orang.
Bagaikan emas, emas murni, kepalanya, rambutnya mengombak, hitam seperti gagak.
Matanya bagaikan merpati pada batang air, bermandi dalam susu, duduk pada kolam yang penuh.
Pipinya bagaikan bedeng rempah-rempah, petak-petak rempah-rempah akar. Bunga-bunga bakung bibirnya, bertetesan cairan mur.
Tangannya bundaran emas, berhiaskan permata Tarsis, tubuhnya ukiran dari gading, bertabur batu nilam.
Kakinya adalah tiang-tiang marmar putih, bertumpu pada alas emas murni. Perawakannya seperti gunung Libanon, terpilih seperti pohon-pohon aras.
Kata-katanya manis semata-mata, segala sesuatu padanya menarik. Demikianlah kekasihku, demikianlah temanku, hai puteri-puteri Yerusalem.

Kiranya jelas bahwa yang dimaksud adalah dia (perempuan). Seperti diketahui, penulis Kitab Kidung Agung adalah Salomo/Sulaiman. Jika demikian maka tulisan yang ia tulis ditujukan kepada kekasihnya (perempuan). Salomo dalam perikop itu memuji keelokan, keindahan, keanggunan kekasihnya. Hal itu ia sampaikan kepada puteri-puteri Yerusalem. Jika hal ini dipaksakan sebagai nubuat dari ‘seorang nabi’ maka akan fatal karena Salomo mengagumi seorang laki-laki, padahal pada ayat sebelumnya ia kekasihnya (perempuan). Selama ini umat beriman tidak pernah mendengar pengajaran bahwa Salomo seorang HOMO, bukan?. Jadi klaim yang beredar di youtube dan berbagai media itu tidak benar alias HOAX.


Kata ‘Mukhammadim’ artinya dia semuanya bagus [KJV] atau segala sesuatu padanya menarik [LAI]. Siapa dia yang dimaksud atau siapa yang segala sesuatu yang ada padanya menarik? Tidak lain adalah kekasih Salomo. Karena Songs Of Salomon sebagian besar berisi kekaguman akan keelokan, keindahan perempuan/kekasih Salomo. So, bagi tukang klaim berhenti membuat lelucon yang membuat banyak orang tertawa.

Tambahan untuk disimak, jawaban dari apologet Nabeel Qureshi
https://www.youtube.com/watch?v=J2CV5Z2NWp8



[1] Lihat http://www.sabda.org/sabdaweb/bible/chapter/?b=22&c=5.