(Sumber: Pixabay)
Pengantar
Dalam livestreaming saya sebelumnya,
saya sudah menunjukkan bahwa Martin Luther ketika menafsirkan Kitab Suci
mengatakan bahwa Yesus Kristus adalah pezinah; dan Yesus melakukan perzinahan
kepada tiga perempuan. Ini jelas tafsiran heretik. Anehnya, Dekky Nggadas dan
para pengikutnya tetap membela tafsiran-tafsiran Martin Luther.
Selain menuduh Yesus sebagai pezinah, Martin Luther juga menambahkan kata “hanya” (allein atau sola) dalam Roma 3: 28. Dan, Martin Luther tetap dibela mati-matian oleh Dekky Nggadas dan teman-temannya. Hal itu tampak dalam video Dekky Nggadas “VV-200 Pertanyaan yang Belum Terjawab (1)”. Dalam video tersebut (dan juga dalam beberapa video lainnnya), Dekky Nggadas berkali-kali memakai kata-kata kasar (seperti goblok, penipu) ketika menyampaikan pembelaannya. Artinya, ia memakai “ad hominem” dalam menyampaikan gagasannya. Sebenarnya kita tidak heran dengan kata-kata kasar itu. Dekky Nggadas hanya mengikuti Martin Luther yang juga memakai kata-kata kasar, menghina dan sekaligus memuji dirinya ketika menyampaikan ajarannya. Hal itu bisa kita baca dalam buku Martin Luther dengan judul: “Luther’s Work, Volume 35”, secara khusus halaman 182-202. Dalam halaman-halaman itu, Martin Luther menyampaikan ajaran heretiknya, yakni:
1)
menambahkan
kata “sola” (allein) dalam Roma 3: 28;
2)
merendahkan
Santo-Santa
3)
mengubah
kata-kata Malaikat “penuh rahmat” kepada Bunda Maria. Ini berarti Martin Luther
mengubah isi Kitab Suci yang secara khusus dialamatkan kepada Bunda Maria.
4)
Memuji
dirinya sendiri.
Dalam video VV 200, Dekky Nggadas merujuk
Luther’s Work, Volume 35 tersebut, dengan menyebut halaman spesifik, yakni:
halaman 189. Ketika mendengar video itu, saya menunggu-nunggu apakah Dekky
Nggadas BERANI memaparkan tulisan Martin Luther itu dari halaman 182 hingga
2002. Pasti menarik karena Martin Luther tidak sekadar menyampaikan
pengakuannya bahwa ia tambahkan kata sola (allein) dalam Roma 3: 28, tetapi
juga Martin Luther mengumpat, menghina, memakai kata-kata kasar.
Saya mau menunjukkan tulisan Martin Luther itu, untuk melihat kesesatannya dalam menambahkan kata “sola” untuk mendukung ajarannya mengenai “sola fide”. Maka saya mulai dari halaman 182 hingga 189 dan 193-195.
Kutipan dan Terjemahan Ajaran Martin Luther
Sekali lagi, supaya kita fokus, saya hanya membahas penambahan kata SOLA dalam Roma 3: 28 untuk membongkar kesesatan Martin Luther. Oleh karena itu, saya hanya menampilkan ajaran Luther dalam halaman 182 – 189 dan 193-195. Berikut pernyataan Martin Luther itu, yang tulis pada 8 September tahun 1530:
To the honorable and worthy N., my esteemed lord and friend.
Grace and peace in Christ, honorable,
worthy, and dear lord and friend. I have received your letter with the two
questions, or inquiries, to which you ask my reply. First you ask why in
translating the words of Paul in Romans 3 [:28], Arbitramur hominem
justificari ex fide absque operibus, I rendered them thus: “We hold that a
man is justified without the works of the law, by faith alone.” You tell me,
besides, that the Papists are making a tremendous fuss, because the word sola
(alone) is not in Paul’s text, and this addition of mine to the words of God is
not to be tolerated. Second you ask whether the departed saints too intercede
for us, since we read that angels indeed do intercede for us?
Kasih
karunia dan damai sejahtera dalam Kristus, tuan dan sahabat yang terhormat,
layak, dan terkasih. Saya telah menerima surat Anda dengan dua permasalahan,
atau pertanyaan, yang Anda minta untuk dijawab. Pertama, Anda bertanya mengapa
dalam menerjemahkan kata-kata Rasul Paulus dalam Roma 3 [:28], Arbitramur
hominem justificari ex fide absque operibus, saya menerjemahkannya sebagai
berikut: “Kami yakin bahwa manusia dibenarkan tanpa melakukan hukum Taurat,
hanya oleh iman.” Selain itu, Anda mengatakan kepada saya bahwa “Papists”[1] (para
pengikut Paus) membuat keributan yang luar biasa, karena kata sola (hanya)
tidak terdapat dalam teks Paulus, dan penambahan saya terhadap Firman Allah
tidak dapat ditoleransi. Kedua, Anda bertanya apakah orang-orang kudus yang
telah meninggal juga berdoa bagi kita, karena kita membaca bahwa malaikat
memang berdoa bagi kita?
With reference to the first question, you
may give your papists the following answer from me, if you like. First if I,
Dr. Luther, could have expected that all the Papists taken together would be
capable enough to translate a single chapter of the Scriptures correctly and
well, I should certainly have mustered up enough humility to invite their aid
and assistance in putting the New Testament into German. But because I knew—
and still see with my own eyes—that none of them knows how to translate, or to
speak German, I spared them and myself that trouble. It is evident, indeed,
that from my German translation they are learning to speak and write German,
and so are stealing from me my language, of which they had little knowledge
before. They do not thank me for it, however, but prefer to use it against me.
However, I readily grant them this, for it tickles me that I have taught my
ungrateful pupils, even my enemies, how to speak.
Sehubungan dengan pertanyaan pertama, Anda dapat memberikan jawaban berikut ini kepada Papists Anda, jika Anda mau. Pertama, jika saya, Dr. Luther, dapat mengharapkan bahwa semua Papists secara bersama-sama akan cukup mampu untuk menerjemahkan satu pasal dari Kitab Suci dengan benar dan baik, maka saya tentu saja harus memiliki cukup kerendahan hati untuk meminta bantuan dan pertolongan mereka dalam menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jerman. Tetapi karena saya tahu – dan masih melihat dengan mata kepala sendiri - bahwa tidak ada seorang pun dari mereka yang dapat menerjemahkan, atau berbicara dalam bahasa Jerman, maka saya menghindarkan diri dari kesulitan itu. Jelaslah bahwa dari terjemahan bahasa Jerman saya, mereka belajar berbicara dan menulis dalam bahasa Jerman, dan dengan demikian mencuri dari saya bahasa saya, yang sebelumnya tidak mereka ketahui. Akan tetapi, mereka tidak berterima kasih kepada saya untuk itu, tetapi lebih suka menggunakannya untuk melawan saya. Namun, saya dengan senang hati memberikannya kepada mereka, karena hal itu menggelitik saya bahwa saya telah mengajari murid-murid saya yang tidak tahu berterima kasih, bahkan musuh-musuh saya, cara berbicara.
|
Komentar
analitik: ·
Menarik menganalisis terjemahan Martin Luther
terhadap Roma 3 :28 dari teks Bahasa Latin: Arbitramur hominem justificari
ex fide absque operibus. Martin Luther menerjemahkan kalimat tersebut
dengan menambahkan kata “sola” (hanya) atau dalam bahasa Jerman: allein
(hanya). Terjemahkan Luther jika kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia,
demikian: “Kami yakin bahwa manusia dibenarkan tanpa melakukan hukum Taurat, hanya
oleh iman.” Dari sini, Luther kemudian memantapkan ajaran Sola Fide! ·
Martin Luther tentu tidak jujur menerjemahkan; ia
tidak menerjemahkan, dan bukan juga menafsirkan tetapi justru menambahkan Kitab
Suci. Dengan demikian, ia belokkan maksud dari Roma 3: 28 karena ia tambahkan
kata “hanya”. Argumentasi linguistiknya begini: berdasarkan tata bahasa
Latin, kata “fide” dalam “Arbitramur hominem justificari ex fide absque
operibus” (Roma 3: 28) tersebut, didahului oleh preposisi “ex”, maka kata
“fide” termasuk kata benda “ablativus”. Suatu kata dipastikan sebagai
“ablativus” jika didahului oleh preposisi “ex”. Dengan demikian kata fide
mesti diterjemahkan menjadi “by faith” (oleh iman/karena iman) atau “from
faith” (dari iman) atau “with faith” (dengan iman) atau “in faith” (dalam
iman). Dan tidak mungkin diterjemahkan menjadi “hanya oleh iman” (by faith
alone); tidak boleh juga diterjemahkan menjadi “oleh karena hanya
iman”. ·
Kita tahu bahwa kasus “ablativus” dalam bahasa Latin
bertujuan untuk menyatakan “perbandingan” dari dua hal/orang, atau
menunjukkan “pembedaan” dari dua hal/orang atau menyatakan “kesesuaian”
(accordance) dari sesuatu atau seseorang. Namun, dengan menambahkan kata
“hanya”, maka kalimat itu berubah 180 derajat. Tidak lagi membandingkan dua
hal, tetapi yang satu meniadakan yang lain. Dalam arti, iman dipertahankan
sebagai “satu-satunya” yang benar, sementara “perbuatan” dihilangkan. ·
Padahal, dalam teks tersebut, Rasul Paulus
membandingkan “iman kepada Kristus” dengan “melakukan Hukum Taurat” dan bukan
semua “perbuatan”. Martin Luther dan para pengikutnya justru hanya menyebut:
kita diselamatkan hanya karena iman dan bukan karena perbuatan. Dari
pernyataan ini, maka semua “perbuatan” menjadi tidak penting lagi dalam
keselamatan kita. Ini jelas bertentangan dengan isi Kitab Suci. Sekali lagi,
Roma 3: 28 itu sudah mengkhususkan perbandingan iman, yakni: “melakukan Hukum
Taurat”. Ajaran Luther ini juga bertentangan dengan Yakobus 2: 17; 2: 22; 2:
24 dan ayat 26. Bahkan, bertentangan dengan Matius 7: 21, dan lain sebagainya
(ada banyak kutipan Kitab Suci yang justru menegaskan bahwa iman dan
perbuatan tidak bisa dipisahkan). ·
Dengan menambahkan kata “allein” (sola) dalam Roma
3: 28, Martin Luther secara ekstrim meniadakan “hukum Taurat”. Ini jelas
bertentangan dengan Sabda Yesus sendiri dalam Matius 5:17-19. Yesus datang
bukan untuk MENIADAKAN Hukum Taurat, tetapi justru “menggenapinya”. Maksud
dari ‘menggenapi’ adalah menjadikan hukum Taurat itu sempurna. Hukum Taurat
menjadi sempurna kalau orang paham apa yang mendasari Hukum Taurat itu, yakni
agar orang Israel hidup sesuai dengan martabat mereka sebagai umat Allah. Dua
hal yang menjadi dasar adalah kasih kepada Tuhan dengan sepenuh hati dan
kasih kepada sesama dengan sepenuh hati pula. Jadi, “perbuatan” yang
dilandasi oleh “kasih”, tentu tidak bisa dipisahkan dari iman. Dan perbuatan
kasih tidak bertentangan dengan iman. Oleh karena itu, perbuatan kasih tidak
boleh dihilangkan! ·
Setelah membaca pernyataan Luther di atas, tampaknya
Luther tidak sedang menerjemahkan Sabda Allah dengan hati yang tulus dan
murni, tetapi sedang “curhat” atau sedang “menabuh genderang kebenciannya
kepada Paus dan Gereja Katolik”. Dalam kutipan-kutipan berikut, Martin Luther
berkata kasar, merendahkan dan menghina Paus dan umat Katolik dengan sebutan
Papists. ·
Sabda Allah dalam Kitab Suci itu tidak seperti
informasi di dalam koran atau majalah atau buku sejarah, yang “bebas”
ditafsirkan. Sabda Allah itu bukan kita “kuasai”, tetapi justru setelah
memahami Sabda Allah itu, lalu kita membiarkan diri kita “dikuasai dan
diarahkan” oleh Tuhan Allah. ·
Tuhan Allah tidak mengarahkan umatNya untuk menghina
dan menyerang orang lain. Tetapi Martin Luther melakukan sebaliknya: sambil
menerjemahkan Sabda Allah, ia juga menambah isi Kitab Suci sesuai “kemampuan
bahasa Jermannya”. Dengan demikian, ia berjuang “menguasai maksud Sabda Allah
sesuai rasa bahasa Jermannya”, dan bukan berdasarkan maksud asli Kitab Suci
itu sendiri. Dalam pendekatan penafsiran Kitab Suci tentu cara Martin Luther
ini jelas tidak akademik dan tidak sesuai dengan prinsip penerjemahan Kitab
Suci. ·
Martin Luther lebih mengikuti hasrat subjektif dan
berusaha menjadikan dirinya lebih superior dari yang lain. Martin Luther
memuji diri sendiri dan merendahkan yang lain dengan menyatakan: saya lebih
tahu bahasa Jerman, dan tidak ada satupun di antara Papists yang tahu menerjemahkan
Kitab Suci dari Bahasa Latin ke bahasa Jerman. Luther tidak sadar bahwa ia
sedang membuat dirinya sebagai pusat (self-centered) dan bukan Tuhan Allah
sebagai pusat (God-centered). Luther-sentris tampak dalam caranya menafsirkan
Kitab Suci semata-mata berdasarkan Pengetahuan Jermannya” dan bukan
berdasarkan “bahasa Kitab Suci”, sehingga Martin Luther juga “membiaskan”
(mengaburkan) maksud Tuhan Allah. |
Second you may say that I translated the
New Testament conscientiously and to the best of my ability. I have compelled
no one to read it, but have left that open, doing the work only as a service to
those who could not do it better. No one is forbidden to do a better piece of
work. If anyone does not want to read it, he can let it alone. I neither ask
anybody to read it nor praise anyone who does so. It is my Testament and my
translation, and it shall continue to be mine. If I have made some mistakes in
it—though I am not conscious of any and would certainly be most unwilling to
give a single letter a wrong translation intentionally—I will not allow the
papists [to act] as judges. For their ears are still too long, and their
hee-haws too weak, for them to criticize my translating. I know very well—and
they know it even less than the miller’s beast—how much skill, energy, sense,
and brains are required in a good translator. For they have never tried it.
Kedua, Anda dapat mengatakan bahwa saya menerjemahkan Perjanjian Baru dengan cermat dan sebaik mungkin. Saya tidak memaksa siapa pun untuk membacanya, tetapi membiarkannya terbuka, melakukan pekerjaan ini hanya sebagai pelayanan bagi mereka yang tidak dapat melakukannya dengan lebih baik. Tidak ada yang dilarang untuk melakukan pekerjaan yang lebih baik. Jika ada yang tidak ingin membacanya, biarkan saja. Saya tidak meminta siapa pun untuk membacanya atau memuji siapa pun yang membacanya. Ini adalah Perjanjian saya (my Testament; mungkin terjemahan itu bisa dikatakan sebagai Luther Testament hahahaha) dan terjemahan saya, dan akan terus menjadi milik saya. Jika saya telah membuat beberapa kesalahan di dalamnya - meskipun saya tidak sadar akan hal itu dan tentu saja saya tidak ingin memberikan satu huruf pun yang salah dalam terjemahan yang disengaja - saya tidak akan mengijinkan Papists [bertindak] sebagai hakim (untuk menilai terjemahan saya). Karena telinga mereka masih terlalu panjang, dan teriakan (hee-haws[2]) mereka terlalu lemah, untuk mengkritik terjemahan saya. Saya tahu betul - dan mereka bahkan lebih tidak tahu daripada binatang buas penerkam (the miller’s beast) - berapa banyak keahlian, energi, akal sehat, dan otak yang dibutuhkan dalam penerjemahan yang baik. Karena mereka tidak pernah mencobanya.
|
Komentar ·
Martin Luther percaya diri bahwa dengan menambahkan
kata “sola” ketika menerjemahkan Roma 3: 28 merupakan pekerjaan yang baik.
Padahal, jelas-jelas penambahan kata “sola” itu justru perbuatan menyimpang
karena menambahkan Sabda Allah. ·
Hal yang sangat fatal adalah pengakuan Martin Luther
bahwa kendati dia melakukan kesalahan dalam menerjemahkan Kitab Suci, dia
tidak mau dikritik oleh Paus. Di sini, Martin Luther tidak memiliki
kerendahan hati, dan bahkan sangat dominan karakter pembangkangnya. Intinya,
kendati salah, Luther tidak mau tunduk kepada otoritas kepausan yang tentu
punya kewenangan untuk menjaga kebenaran iman Katolik. ·
Kata hee-haws itu bisa berarti teriakan keras
dari keledai atau bagal. Jadi, Martin Luther menghina atau melakukan ad
hominem kepada Paus dan umat Katolik, yang juga ia hina sebagai Papists. |
There is a saying, “He who builds along
the road has many masters.” That is the way it is with me too. Those who have
never even been able to speak properly, to say nothing of translating, have all
at once become my masters and I must be the pupil of them all. If I were to
have asked them how to put into German the first two words of Matthew’s Gospel,
Liber Generationis (The book of the genealogy) none of them would have been
able to say Quack! And now they sit in judgment on my whole work! Fine fellows!
That is the way it was with St. Jerome too when he translated the Bible.
Everybody was his master. He was the only one who was totally incompetent. And
people who were not worthy to clean his shoes criticized the good man’s work.
It takes a great deal of patience to do a good thing publicly, for the world
always wants to be Master Know-it-all. It must always be putting the bit under
the horse’s tail, criticizing everything but doing nothing itself. That is its
nature; it cannot get away from it.
Ada pepatah mengatakan, “Siapa yang membangun di sepanjang jalan, maka ia akan memiliki banyak tuan.” Begitulah yang terjadi pada saya. Mereka yang bahkan tidak pernah bisa berbicara dengan baik, apalagi menerjemahkan, sekaligus menjadi guru saya dan saya harus menjadi murid mereka semua. Jika saya bertanya kepada mereka bagaimana cara menerjemahkan dua kata pertama dari Injil Matius, Liber Generationis (Kitab Silsilah) ke dalam bahasa Jerman, tak seorang pun dari mereka akan mampu mengatakan Quack! Dan sekarang mereka duduk menghakimi seluruh pekerjaan saya! Teman-teman yang baik! Jerome juga demikian ketika ia menerjemahkan Alkitab. Semua orang adalah tuannya. Dia adalah satu-satunya orang yang sama sekali tidak kompeten. Dan orang-orang yang tidak layak untuk membersihkan sepatunya mengkritik pekerjaan orang yang baik. Dibutuhkan banyak kesabaran untuk melakukan hal yang baik di depan umum, karena dunia selalu ingin menjadi Tuan yang tahu segalanya. Ia harus selalu berada di bawah ekor kuda, mengkritik segala sesuatu tetapi tidak melakukan apa-apa. Itulah sifatnya; ia tidak bisa melepaskan diri darinya.
|
Komentar:
·
Dengan pernyataan ini, Martin Luther juga
merendahkan guru-guru dan dosen-dosennya selama ia mengenyam pendidikan di
biara dan universitas. Tampak jelas bahwa dalam tulisan ini, Martin Luther
sedang menuliskan sesuatu dengan “luapan emosional” dari hatinya yang penuh
kebencian dan penghinaan. ·
Kata Quack itu sangat kasar. Sebab bisa diartikan
sebagai “mangab”, atau seperti suara bebek. ·
Apakah bisa kita percaya pengakuan Martin Luther
bahwa ia satu-satunya yang paling paham bagaimana menerjemahkan Kitab Suci
dari Bahasa Latin ke Bahasa Jerman pada waktu itu? Tentu tidak! Saat itu, ada
banyak Uskup dari Jerman yang bisa bahasa Latin dan juga tentu bisa bahasa
Jerman. Seolah-olah pada saat itu, hanya Martin Lutherlah “orang Katolik”
yang paling tahu Bahasa Latin dan Bahasa Jerman. Ini halusinasi tingkat
tinggi! Saat itu juga ada banyak biarawan-biarawan hebat dari Jerman yang
menguasai bahasa Latin dan bahasa Jerman dengan baik. |
I should like to see a papist who would
come forward and translate even a single epistle of St. Paul or one of the
prophets without making use of Luther’s German translation. Then we should see
a fine, beautiful, praiseworthy German translation! We have seen the Dresden
scribbler who played the master to my New Testament. I shall not mention his
name?” again in my books as he has his Judge now, and is already well known
anyway. He admits that my German is sweet and good. He saw that he could not improve
on it. But eager to discredit it, he went to work and took my New Testament
almost word for word as I had written it. He removed
my
introductions and explanations, inserted his own, and thus sold my New
Testament under his name. Oh my, dear children, how it hurt me when his prince,
in a nasty preface, condemned Luther's New Testament and forbade the reading of
it; yet commanded at the same time that the scribblers New Testament be read,
even though it was the very same one that Luther had produced!
Saya
ingin melihat seorang Papist yang mau maju dan menerjemahkan bahkan satu surat
Santo Paulus atau salah satu kitab dari para nabi tanpa menggunakan terjemahan
bahasa Jerman Luther. Maka kita akan melihat sebuah terjemahan bahasa Jerman
yang bagus, indah, dan patut dipuji! Kita telah melihat juru tulis dari (kota)
Dresden yang telah menjadi ahli dalam Perjanjian Baru. Saya tidak akan
menyebutkan namanya lagi dalam buku-buku saya karena dia sudah menjadi hakim
sekarang, dan sudah sangat terkenal. Dia mengakui bahwa bahasa Jerman saya manis/memuaskan)
dan bagus. Dia melihat bahwa dia tidak dapat memperbaikinya. Tetapi karena
ingin mendiskreditkannya, ia mulai bekerja dan mengambil Perjanjian Baru saya
hampir kata demi kata seperti yang saya tulis. Dia menghapus pengantar dan
penjelasan saya, menyisipkan kata-katanya sendiri, dan dengan demikian menjual
Perjanjian Baru saya dengan namanya. Oh, anak-anakku yang terkasih, betapa
sakitnya hati saya ketika pangerannya, dalam kata pengantar yang keji, mengutuk
Perjanjian Baru Luther dan melarang membacanya; tetapi pada saat yang sama
memerintahkan agar Perjanjian Baru yang ditulis oleh para pencetaknya dibaca,
meskipun Perjanjian Baru tersebut adalah Perjanjian Baru yang sama dengan yang
telah dibuat oleh Luther!
|
Komentar: ·
Dalam paragraf ini, Martin Luther sedang
berhalusinasi bahwa ketika Paus (dan Kardinal/Uskup utusan Paus) melarang
terjemahan Luther, itu sebagai upaya Paus untuk sekadar mendeskritkan Martin
Luther. Padahal, pada saat itu, Paus melarang terjemahan Kitab Suci versi
Luther oleh karena Martin Luther menambahkan beberapa kata di dalamnya.
Bahkan, tidak menerjemahkan Kitab Suci sesuai dengan kebenaran yang diilhami
oleh Roh Kudus. Martin Luther menerjemahkan Kitab Suci dari bahasa Latin ke
Bahasa Jerman sambil menyisipkan pandangan pribadinya, dan bahkan untuk
menyerang ajaran Gereja Katolik. ·
Kita tahu bahwa Martin Luther itu seorang Pastor
Katolik. Ia seharusnya sudah tahu bahwa jika para Pastor Katolik (dan juga
awam) menulis buku seputar Kitab Suci, Teologi, Spiritualitas, Liturgi, Moral
atau menerjemahkan Kitab Suci, maka mesti bebas dari KESESATAN. Maka,
tulisan-tulisan itu perlu diperiksa oleh otoritas Gereja Katolik. Maka, dalam
buku-buku Katolik hingga kini selalu tertulis NIHIL OBSTAT, dan juga
IMPRIMATUR. Nihil Obstat berarti TIDAK ADA KESESATAN. Sementara IMPRIMATUR
berarti layak disebarluaskan/dipublikasikan. ·
Pada tahun 1520, Paus Leo X dalam Bulla Exsurge
Domine (melalui Bulla ini, Paus mengekskomunikasi Martin Luther), menyatakan:
·
Versi Inggris: “Some, putting aside her true
interpretation of Sacred Scripture, are blinded in mind by the father of
lies. Wise in their own eyes, according to the ancient practice of heretics,
they interpret these same Scriptures otherwise than the Holy Spirit demands,
inspired only by their own sense of ambition, and for the sake of popular
acclaim, as the Apostle declares. In fact, they twist and adulterate the
Scriptures. As a result, according to Jerome, "It is no longer the
Gospel of Christ, but a man's, or what is worse, the devil's." ·
Versi Indonesia: Beberapa orang, mengesampingkan
penafsiran yang benar atas Kitab Suci, dibutakan pikirannya oleh bapa segala
dusta. (Merasa) bijaksana di mata mereka sendiri, sesuai dengan praktik kuno
para bidat, mereka menafsirkan Kitab Suci yang sama ini secara berlawanan
dengan yang dituntut oleh Roh Kudus, diilhami hanya oleh rasa ambisi mereka
sendiri, dan demi pujian yang populer, seperti yang dinyatakan oleh Rasul.
Bahkan, mereka memutarbalikkan dan memalsukan Kitab Suci.
Akibatnya, menurut Jerome (Eusebius Hieronymus), “Itu bukan lagi Injil
Kristus, tetapi Injil manusia, atau yang lebih buruk lagi, Injil Iblis.” ·
Dari Bulla Paus Leo X di atas, ternyata bukan hanya
Martin Luther yang menerjemahkan Kitab Suci, tetapi ada beberapa yang lain.
Dan, kenderungan mereka adalah menambahkan kata-kata atau maksud dari Kitab
Suci. Ini jelas heretik atau menyesatkan umat Kristini, maka mesti dilarang! |
That no one may think I am lying, just
take the two Testaments, Luther’s and the scribbler’s, and compare them; you
will see who is the translator in both of them. He has patched and altered it
in a few places. And though not all of it pleases me, still I can let it go; it
does me no particular harm, so far as the text is concerned. For this reason I
never intended to write against it either. But I did have to laugh at the great
wisdom that so terribly slandered, condemned, and forbade my New Testament, when
it was published under my name, but made it required reading when it was
published under the name of another. What kind of virtue that is, to heap
slander and shame on somebody else’s book, then to steal it and publish it
under one’s own name—thus seeking personal praise and reputation through the
slandered work of somebody else—I leave that for his Judge to discover.
Meanwhile I am satisfied and glad that my work (as St. Paul also boasts [Phil.
1:18]) must be furthered even by enemies; and that Luther's book, without
Luther’s name but under that of his enemies, must be read. How could I avenge
myself better?
Agar
tidak ada orang yang mengira saya berbohong, ambillah dua Perjanjian,
Perjanjian Luther dan Perjanjian juru tulis, dan bandingkanlah keduanya; Anda
akan melihat siapa yang menjadi penerjemah di dalam keduanya. Ia telah menambal
dan mengubahnya di beberapa tempat. Dan meskipun tidak semuanya menyenangkan
saya, namun saya dapat membiarkannya; hal itu tidak membahayakan saya, sejauh
menyangkut teksnya. Untuk alasan ini, saya juga tidak pernah berniat untuk
menulis menentangnya. Tetapi saya harus menertawakan kebijaksanaan besar
yang dengan sangat memfitnah, mengutuk, dan melarang Perjanjian Baru saya,
ketika itu diterbitkan di bawah nama saya, tetapi menjadikannya sebagai bacaan
wajib ketika diterbitkan di bawah nama orang lain. Kebajikan macam apa itu,
menumpuk fitnah dan aib pada buku orang lain, lalu mencurinya dan
menerbitkannya di bawah nama sendiri - dengan demikian mencari pujian dan
reputasi pribadi melalui karya orang lain yang difitnah - saya serahkan hal itu
kepada Hakim untuk menemukannya. Sementara itu, saya puas dan senang bahwa
pekerjaan saya (seperti yang juga dibanggakan oleh Paulus [Flp. 1:18]) harus
diteruskan bahkan oleh para musuh, dan bahwa buku Luther, tanpa nama Luther
tetapi dengan nama para musuhnya, harus dibaca. Bagaimana saya dapat
membalaskan dendam saya dengan lebih baik?
|
Komentar:
·
Martin Luther sedang “playing victim” bahwa ketika
otoritas Gereja Katolik MENGOREKSI dan menegaskan terjemahan yang benar
mengenai Kitab Suci, justru dipandang oleh Martin Luther sebagai tindakan
memfitnahnya, mengutuknya, dan melarang terjemahannya. Padahal, Martin Luther
harus dikoreksi, terjemahannya pun mesti dilarang, karena Luther telah
menambahkan isi Kitab Suci. Ini fatal, karena menyisipkan ajaran heretiknya. ·
Di sini, Martin Luther juga membuat pernyataan yang
tidak dapat dibenarkan karena ia menganggap Kitab Suci terjemahannya sebagai
“Kitab Perjanjian Luther”. Kitab Suci sudah dikanonkan oleh Gereja Katolik
melalui Bapa-Bapa Gereja dalam Konsili-Konsili sejak tahun 382, dan Martin
Luther dengan gampang mengklaim sebagai “Kitab Perjanjian Luther”! |
But to return to the matter in hand! If
your papist wants to make so much fuss about the word sola (alone) tell him
this, “Dr. Martin Luther will have it so, and says that a papist and an ass
are the same thing.” Sic volo, sic jubeo; sit pro ratione voluntas. We are
not going to be the pupils and disciples of the papists, but their masters and
judges. For once, we too are going to be proud and brag with these blockheads;
and as St. Paul boasts over against his mad raving saints [II Cor. 11:21f.], so
I shall boast over against these asses of mine. Are they doctors? So am I. Are
they learned? So am I. Are they preachers? So am I. Are they theologians? So am
I. Are they debaters? So am I. Are they philosophers? So am I. Are they
dialecticians? So am I. Are they lecturers? So am I. Do they write books? So do
I.
Tetapi
kembali ke masalah yang sedang dibahas! Jika seorang Paus (Luther memakai
kata hinaan “Papist” dan bukan “Pope”) Anda ingin meributkan kata sola
(hanya), katakan padanya, “Dr. Martin Luther akan memintanya begitu, dan mengatakan
bahwa seorang paus dan keledai (kata ass itu bisa diartikan sebagai keledai,
tetapi bisa juga pantat, bodoh, idiot) adalah hal yang sama.” Sic volo,
sic jubeo; sit pro ratione voluntas. Kita tidak akan menjadi murid dan
pengikut para paus (papists), tetapi kita akan menjadi tuan dan hakim mereka.
Untuk kali ini, kita juga akan menjadi sombong dan membanggakan diri di hadapan
orang-orang dungu (blockheads) ini; dan seperti Santo Paulus yang
membanggakan diri dengan ocehan gilanya berhadapan dengan orang-orang kudus [2
Kor. 11:21 dst.], demikian juga saya akan membanggakan diri di hadapan orang-orang
idiot ini. Apakah mereka doktor? Saya juga doktor. Apakah mereka
terpelajar? Saya juga terpelajar. Apakah mereka pengkhotbah? Saya juga
pengkhotbah. Apakah mereka teolog? Saya juga teolog. Apakah mereka ahli debat? Saya
juga ahli debat. Apakah mereka filsuf? Begitu juga saya. Apakah mereka ahli
dialektika? Begitu juga saya. Apakah mereka dosen? Begitu juga saya. Apakah mereka
menulis buku? Saya juga menulis buku.
|
Komentar: ·
Ketika saya membaca kata-kata kasar Martin Luther
ini, saya geleng-geleng kepala. Ia merendahkan Paus dengan istilah papist.
Bahkan, ia menghina paus dan para pengikut paus sebagai orang dungu
(blockheads). ·
Tidak berhenti di situ, Martin Luther juga memakai
kata “ass” ketika menghina paus dan orang-orang yang bersama paus (misalnya
beberapa uskup dan kardinal). Kata ass itu bisa diterjemahkan sebagai
keledai, tetapi bisa diartikan sebagai “dungu, tolol, idiot. Bahkan, ass juga
bisa diartikan sebagai “pantat” atau anus. Ini sangat kasar. ·
Dari pernyataan ini, kita bisa melihat betapa
sombongnya Martin Luther. Ia menyamakan dirinya dengan Rasul Paulus. Ia juga
memuji dirinya sendiri bahwa ia seorang doktor, terpelajar, pengkhotbah,
teolog, ahli debat, filsuf, ahli dialektika, dosen, penulis buku. Martin
Luther hendak mengatakan: “saya tahu segalanya”! ·
Kalimat “Sic volo, sic jubeo; sit pro ratione
voluntas”, dijelaskan dalam buku Martin Luther ini, di dalam catatan kaki no.
21. Terjemahannya, yakni: “Aku menghendakinya, aku memerintahkannya,
kehendakku cukup beralasan”. Kalimat itu adalah baris ke-223 dari syair satire
keenam yang terkenal dari penyair Romawi, Juvenal (sekitar tahun 60-140
Masehi), yang ditujukan kepada kaum perempuan. Luther menggunakan kutipan
tersebut ketika ia ingin mengkarakterisasi kekuasaan paus yang tidak terbatas
dan berubah-ubah. Anda bayangkan, Martin Luther sungguh merendahkan Paus
seperti “perempuan”. Kita heran sekali dengan karakter Martin Luther ini. Saat
itu, Luther itu seorang biarawan Katolik. Dia mengucapkan 3 kaul: ketaatan,
kemiskinan dan kemurnian/selibat. Salah satu karakter yang mesti dihidupi
oleh biarawan (dan biarawati) adalah kerendahan hati, ramah, hidup miskin,
taat, dan juga “menyangkal diri” tidak justru menyombongkan diri. |
I will go further with my boasting. I can
expound psalms and prophets; they cannot. I can translate; they cannot. I can
read the Holy Scriptures; they cannot. I can pray; they cannot. And, to come
down to their level, I can use their own dialectics and philosophy better than
all of them put together; and besides I know for sure that none of them
understands their Aristotle. If there is a single one among them all who
correctly understands one proemium [preface] or chapter in Aristotle, I'll
eat my hat. I am not saying too much, for I have been trained and practiced
from my youth up in all their science and am well aware how deep and broad it
is. They are very well aware, too, that I can do everything they can. Yet these
incurable fellows treat me as though I were a stranger to their field, who had
just arrived this morning for the first time and had never before either seen
or heard what they teach and know. So brilliantly do they parade about with
their science, teaching me what I outgrew twenty years ago, that to all their
blatting and shouting I have to sing, with the harlot, “I have known for seven
years that horseshoe-nails are iron.”
Saya
akan melangkah lebih jauh dengan kesombongan saya. Saya dapat menguraikan
mazmur dan kitab para nabi; mereka tidak bisa. Saya dapat menerjemahkan; mereka
tidak bisa. Saya bisa membaca Kitab Suci; mereka tidak bisa. Saya bisa berdoa;
mereka tidak bisa. Dan, untuk mencapai tingkat mereka, saya dapat menggunakan
dialektika dan filosofi mereka sendiri dengan lebih baik daripada mereka semua secara
bersama-sama; dan selain itu saya tahu dengan pasti bahwa tidak satupun dari
mereka yang memahami Aristoteles mereka. Jika ada satu saja di antara mereka
semua yang memahami dengan benar satu proemium [kata pengantar] atau bab
dari Aristoteles, saya akan makan topi saya. Saya tidak berkata terlalu banyak,
karena saya telah dilatih dan berlatih sejak masa muda saya dalam semua ilmu
pengetahuan mereka dan sangat menyadari betapa dalam dan luasnya ilmu pengetahuan
itu. Mereka juga sangat menyadari bahwa saya bisa melakukan semua yang mereka
bisa. Namun, orang-orang yang tidak dapat disembuhkan ini memperlakukan saya seolah-olah
saya adalah orang asing di bidang mereka, yang baru saja tiba pagi ini untuk
pertama kalinya dan belum pernah melihat atau mendengar apa yang mereka ajarkan
dan ketahui. Begitu cemerlangnya mereka berparade dengan ilmu pengetahuan
mereka, mengajari saya apa yang telah saya kuasai dua puluh tahun yang lalu,
sehingga untuk semua ngembikkan (blatting; maksudnya: ngembikkan seperti
kambing) dan teriakan mereka, saya harus bernyanyi, dengan pelacur, “Saya telah
mengetahui selama tujuh tahun bahwa paku tapal kuda adalah besi.”
Let this be the answer to your first
question. And please give these asses no other and no further answer to their
useless braying about the word sola than simply this, “Luther will have it so,
and says that he is a doctor above all the doctors of the whole papacy.” It
shall stay at that! Henceforth I shall simply hold them in contempt, and have
them held in contempt, so long as they are the kind of people—I should say,
asses—that they are. There are shameless nincompoops among them who have never
learned their own art of sophistry—like Dr. Schmidt and Doctor Snotty-Nose, and
their likes—and who set themselves against me in this matter, which transcends
not only sophistry, but (as St. Paul says [I Cor. 1:19- 25]), all the world’s
wisdom and understanding as well. Truly an ass need not sing much; he is
already well known anyway by his ears.
Biarlah
ini menjadi jawaban untuk pertanyaan pertama Anda. Dan tolong berikanlah kepada
orang-orang dungu ini jawaban yang tidak lain dan tidak lebih jauh lagi atas
ocehan mereka yang tidak berguna tentang kata sola, selain jawaban
sederhana ini, “Luther memang menghendaki demikian, dan ia mengatakan bahwa
ia adalah seorang doktor di atas semua doktor di dalam kepausan.” Akan
tetap seperti itu! Untuk selanjutnya saya hanya akan menganggap mereka hina,
dan membuat mereka hina, selama mereka adalah jenis orang - saya harus
mengatakan, orang-orang dungu - itulah mereka adanya. Ada orang-orang yang
tidak tahu malu di antara mereka yang tidak pernah mempelajari seni
sofistri/kecerdikan mereka sendiri – seperti Dr. Schmidt dan Dokter Hidung
Ingusan (Doctor Snotty-Nose; ini juga ejekan Luther), dan orang-orang
sejenisnya – dan yang menempatkan diri mereka sendiri melawan saya dalam hal
ini, yang tidak hanya melampaui seni sofistri, tetapi (seperti yang dikatakan
oleh Santo Paulus [I Korintus 1:19-25]), demikianlah semua hikmat dan
pengertian di dunia ini. Sesungguhnya orang dungu tidak perlu banyak bernyanyi;
ia sudah dikenal baik oleh telinganya.
|
Komentar: ·
Anda bisa bayangkan betapa “labil”nya Martin Luther.
Dia menyombongkan dirinya sendiri. Dari pernyataan Martin Luther ini bisa
jadi ia mengidap penyakit psikis “megalomania” karena ia sangat dominan
menyombongkan diri, merasa LEBIH hebat, pintar, bisa semuanya daripada yang
lain. ·
Semoga ke depan semakin banyak yang membongkar dan
menampilkan ke publik ajaran-ajaran Martin Luther sehingga semakin BANYAK
ORANG tahu kualitas pengajaran Martin Luther yang sangat jelas sebagai ajaran
heretik. |
To you and to our people, however, I shall
show why I chose to use the word sola—though in Romans 3 [:28] it was
not sola, but solum or tantum that I used, so sharply do the asses look at my
text!
Nevertheless I have used sola fide elsewhere, and I want both: solum and sola.
I have constantly tried, in translating, to produce a pure and clear German,
and it has often happened that for two or three or four weeks we have searched
and inquired for a single word and sometimes not found it even then. In
translating Job, Master Philip, Aurogallus, and I labored so, that sometimes we
scarcely handled three lines in four days.
Namun,
kepada Anda dan umat kita, saya akan menunjukkan mengapa saya memilih untuk
menggunakan kata sola – meskipun dalam Roma 3:28 tidak ada kata sola,
tetapi saya tetap menggunakan kata solum atau tantum, kendati begitu
tajamnya orang-orang dungu itu melihat teks saya! Namun demikian, saya telah
menggunakan sola fide di tempat lain, dan saya menginginkan
keduanya: solum dan sola. Dalam menerjemahkan, saya selalu
berusaha untuk menghasilkan bahasa Jerman yang murni dan jelas, dan sudah
sering terjadi bahwa selama dua atau tiga atau empat minggu kami mencari dan
menanyakan satu kata dan kadang-kadang tidak menemukannya. Dalam menerjemahkan
kitab Ayub, Tuan Philip, Aurogallus, dan saya bekerja keras, sehingga
kadang-kadang kami hampir tidak dapat menyelesaikan tiga baris dalam empat
hari.
Now that it is translated and finished,
everybody can read and criticize it. One now runs his eyes over three or four
pages and does not stumble once—without realizing what boulders and clods had
once lain there where he now goes along as over a smoothly-planed board. We had
to sweat and toil there before we got those boulders and clods out of the way,
so that one could go along so nicely. The plowing goes well when the field is
cleared. But rooting out the woods and stumps, and getting the field ready—this
is a job nobody wants. There is no such thing as earning the world’s thanks.
Even God himself can earn no thanks, with the sun, indeed with heaven and
earth, or with his own Son’s death. It simply is and remains world, in the
devil’s name, because it just will not be anything else.
Sekarang
setelah diterjemahkan dan selesai, semua orang dapat membaca dan
mengkritisinya. Orang sekarang membaca tiga atau empat halaman dan tidak
tersandung sekali pun – tanpa menyadari batu-batu besar dan gumpalan-gumpalan
yang pernah ada di sana, di mana dia sekarang berjalan di atas papan yang telah
direncanakan dengan mulus. Kami harus berkeringat dan bekerja keras di sana
sebelum menyingkirkan batu-batu besar dan gumpalan itu, agar bisa berjalan
dengan baik. Pembajakan berjalan dengan baik ketika lahan sudah bersih. Namun,
membabat habis hutan dan tunggul-tunggul, serta menerima ladang yang telah tersedia
– ini adalah pekerjaan yang tidak diinginkan oleh siapa pun. Tidak ada yang
namanya mendapatkan ucapan terima kasih dari dunia. Bahkan Allah sendiri tidak
bisa mendapatkan ucapan terima kasih, dengan matahari, bahkan dengan langit dan
bumi, atau dengan kematian Putra-Nya sendiri. Itu hanyalah dan tetaplah dunia, dalam
nama iblis, karena itu tidak akan menjadi sesuatu yang lain.
|
Komentar: ·
Kesalahan fatal Martin Luther adalah “starting
point” dalam menerjemahkan Roma 3: 28 itu, yakni “menerjemahkan Kitab Suci ke
dalam Bahasa Jerman yang menurut Luther terbaik”. Padahal, semestinya
“starting point” dalam menerjemahkan Kitab Suci adalah “memahami dengan
sungguh maksud yang benar dari isi Kitab Suci itu”. Oleh karena itu,
penerjemah Kitab Suci, tidak boleh menambahkan isi Kitab Suci, dan juga tidak
memanipulasi maksud dari teks Kitab Suci. ·
Jika kita amati, dalam pernyataan di atas, dasar
Martin Luther memakai kata “sola fide” tidak didasari pada pemahaman yang
benar mengenai isi Kitab Suci. Martin Luther memaksakan ajaran “sola
fide”nya, karena ia menolak ikut aturan untuk taat pada aturan Gereja, taat
kepada otoritas Gereja. Menurut Luther, aturan-aturan ini sama seperti “hukum
Taurat”. Ini salah besar! Otoritas uskup dan paus diajarkan dalam Kitab Suci
sebagai suksesi apostolik! ·
Martin Luther merasa bahwa melalui terjemahannya,
pembaca Kitab Suci tidak tehalang lagi dengan batu-batu besar dan
gumpalan-gumpalan tanah (mungkin ini maksudnya adalah keterbatasan memahami
Kitab Suci karena masih ditulis dalam Bahasa Latin). Padahal, yang jauh lebih
fatal adalah heresi yang disisipkan oleh Martin Luther dalam terjemahannya
dengan menambahkan kata “sola”. Ini batu besar yang justru “menghambat” para
pembaca memperoleh maksud yang benar dari isi Kitab Suci. |
Here, in Romans 3 [:28], I knew very well
that the word solum is not in the Greek or Latin text; the
papists did not have to teach me that. It is a fact that these four letters sola
are not there. And these blockheads stare at them like cows at a new gate. At
the same time they do not see that it conveys the sense of the text; it belongs
there if the translation is to be clear and vigorous. I wanted to speak German,
not Latin or Greek, since it was German I had undertaken to speak in the
translation. But it is the nature of our German language that in speaking of
two things, one of which is affirmed and the other denied, we use the word solum
(allein) along with the word nicht [not] or kein [no]. For example,
we say, “The farmer brings allein grain and kein money”; “No, really I have now
nicht money, but allein grain”; “I have allein eaten and nicht yet drunk”; “Did
you allein write it, and nicht read it over?” There are innumerable cases of
this kind in daily use.
Di
sini, dalam Roma 3 [:28], saya tahu betul bahwa kata solum tidak
ada dalam teks Yunani atau Latin; para papists tidak perlu mengajari
saya hal itu. Itu adalah fakta bahwa keempat huruf sola tidak ada
di sana. Dan orang-orang tolol (blockheads) ini menatap mereka seperti sapi
di gerbang baru. Pada saat yang sama mereka tidak melihat bahwa hal itu menyampaikan
makna dari teks; kata (sola) tersebut seharusnya ada di sana jika terjemahannya
ingin jelas dan kuat. Saya ingin menggunakan bahasa Jerman, bukan bahasa Latin
atau Yunani, karena bahasa Jermanlah yang saya gunakan dalam penerjemahan ini.
Namun, sudah menjadi sifat bahasa Jerman kita bahwa dalam membicarakan dua hal,
yang satu ditegaskan dan yang lain disangkal, kita menggunakan kata solum
(allein) bersama dengan kata nicht (tidak) atau kein (bukan).
Sebagai contoh, kita berkata, “Petani itu membawa allein (hanya) gandum
dan kein (bukan) uang”; “Tidak, sesungguhnya saya sekarang nich (tidak)
memiliki uang, tapi allein (hanya) gandum”; “Saya allein (hanya) makan
dan nicht (tidak) minum”; “Apakah kamu allein (hanya) menulis ini,
dan nicht (tidak) membacanya?” Ada banyak sekali kasus semacam ini dalam
penggunaan sehari-hari.
In all these phrases, this is the German
usage, even though it is not the Latin or Greek usage. It is the nature of the
German language to add the word allein in order that the word nicht or kein may
be clearer and more complete. To be sure, I can also say, “The farmer brings
grain and kein money,” but the words “kein money” do not sound as full and
clear as if I were to say, “The farmer brings allein grain and kein money.”
Here the word allein helps the word kein so much that it becomes a complete,
clear German expression.
Dalam
semua frasa ini, demikianlah cara penggunaan bahasa Jerman, meskipun bukan
penggunaan bahasa Latin atau Yunani. Sudah menjadi sifat bahasa Jerman untuk
menambahkan kata allein agar kata nicht atau kein
menjadi lebih jelas dan lengkap. Tentu saja, saya juga dapat mengatakan,
“Petani itu membawa gandum dan kein bukan) uang,” namun kata “kein (bukan)
uang” tidak terdengar selengkap dan sejelas jika saya mengatakan, “Petani itu allein
(hanya) membawa gandum dan kein (bukan)
uang.” Di sini kata allein sangat membantu kata kein sehingga
menjadi ungkapan bahasa Jerman yang lengkap dan jelas.
|
Komentar:
·
Argumen Martin Luther dalam menambahkan kata “sola”
dalam Roma 3: 28 didasari pada pendekatan linguistik Jermanik. Dalam analogi
linguistik yang dipakai oleh Luther justru Luther semakin tampak kesesatannya
dalam memahami Roma 3: 28 itu. Misalnya, analogi “makan-minum”. Luther
memberi analogi: Saya allein
(hanya) makan dan nicht (tidak) minum”. Pertanyaannya:
apakah untuk selama-lamanya seseorang yang makan juga tidak akan minum? Tentu
tidak. Orang yang makan, mungkin bisa menahan untuk tidak minum sekali atau
dua kali. Tapi, tidak mungkin selamanya. Sama halnya dengan iman dan
perbuatan: tidak mungkin iman itu dipisahkan dari perbuatan. Iman mesti
disertai dengan perbuatan, atau iman terwujud dalam tindakan, dalam perbuatan
nyata. ·
Mari kita uji analogi Martin Luther ini: Apakah kamu allein (hanya)
menulis ini, dan nicht (tidak) membacanya?”. Apakah ada orang
yang tidak akan membaca apa yang ia tulis? Ini mustahil. Analogi ini sangat
rapuh jika dipakai untuk memahami Roma 3: 28. ·
Anda bayangkan jika masing-masing orang, suku dan
negara memakai pendekatan linguistiknya – seperti Luther – dalam
menerjemahkan dan menafsirkan isi Kitab Suci, bisa saja isi Kitab Suci
diubah-ubah, ditambah-tambahkan. Dan akitbanya: isi Kitab Suci tidak lagi
sesuai maksud Kitab Suci, tetapi justru sesuai maksud dari penerjemah. Ini
fatal sekali! ·
Martin Luther memakai logika yang salah “Iman atau
perbuatan”, dan bukan “iman dan perbuatan”. Dari logika Luther ini, maka
seolah iman menjadi saingan dari perbuatan, maka perbuatan mesti disangkal.
Logika yang salah Luther ini juga diteruskan oleh para pengikutnya hingga
kini. |
|
Saya
tidak menerjemahkan halaman 190-192 karena Martin Luther sudah ganti topik,
tidak membahas SOLA FIDE dalam halaman-halaman itu. Saya fokus pada
penambahan kata SOLA. Maka berikut, saya mulai lagi pada halaman 193 hingga
195. |
Therefore, I will tolerate no papal ass[3]
or mule to be my judge or critic, for they have never tried it. He who desires
none of my translating may let it alone. If anyone dislikes it or criticizes it
without my knowledge and consent, the devil repay him![4]
If it is to be criticized, I shall do it myself. If I do not do it, then let
them leave my translation in peace. Let each of them make for himself one that
suits—what do I care?
Oleh
karena itu, saya tidak akan membiarkan keledai atau bagal kepausan menjadi
hakim atau pengkritik saya, karena mereka tidak pernah mencobanya. Barangsiapa
yang tidak menyukai terjemahan saya, biarlah ia membiarkannya. Jika ada orang
yang tidak menyukainya atau mengkritiknya tanpa sepengetahuan dan persetujuan
saya, setan akan membalasnya! Jika harus dikritik, saya akan melakukannya
sendiri. Jika saya tidak melakukannya, maka biarkanlah mereka meninggalkan
terjemahan saya dengan tenang. Biarlah mereka masing-masing membuat terjemahan
yang cocok untuk dirinya sendiri – emang gue peduli?
|
Komentar: ·
Kata ass sangat kasar. Kata itu bisa juga diartikan:
pantat/anus, orang bodoh, badut, idiot, bajingan, dungu, tolol; mule bisa
berarti: keledai, bagal. ·
Martin Luther sungguh seperti oleh yang kesurupan
dengan mengatakan bahwa dia bekerja sama dengan setan untuk membalas
pengkritiknya (yang adalah Paus). Jelas-jelas, kata-kata Luther ini penuh
kebencian! |
This I can testify with a good
conscience—I gave it my utmost in care and effort, and I never had any ulterior
motives. I have neither taken nor sought a single penny for it, nor made one by
it. Neither have I sought my own honor by it; God, my Lord, knows this. Rather
I have done it as a service to the dear Christians and to the honor of One who
sitteth above, who blesses me so much every hour of my life that if I had
translated a thousand times as much or as diligently, I should not for a single
hour have deserved to live or to have a sound eye. All that I am and have is of
his grace and mercy, indeed, of his precious blood and bitter sweat.
Hal
ini dapat saya saksikan dengan hati nurani yang baik – saya memberikan yang
terbaik dalam perhatian dan upaya saya, dan saya tidak pernah memiliki motif
tersembunyi. Saya tidak pernah mengambil atau mencari satu sen pun untuk itu,
atau tidak menghasilkan satu sen pun darinya. Saya juga tidak mencari
kehormatanku sendiri dengan itu; Allah, Tuhanku, mengetahui hal ini.
Sebaliknya, saya telah melakukannya sebagai pelayanan kepada orang-orang
Kristen yang terkasih dan untuk menghormati Dia yang duduk di atas, yang
memberkati saya begitu banyak setiap jam dalam hidup saya, sehingga jika saya
menerjemahkan seribu kali lebih banyak atau lebih tekun, saya tidak akan layak
untuk hidup atau memiliki mata yang sehat selama satu jam pun. Semua diriku dan
yang yang saya miliki adalah berkat kasih karunia dan kemurahan-Nya, sungguh,
dari darah dan keringat-Nya yang berharga.
Therefore, God willing, all of it shall
also serve to his honor, joyfully and sincerely. Scribblers and papal asses may
blaspheme me, but real Christians—and Christ, their Lord—bless me! And I am
more than plentifully repaid, if even a single Christian acknowledges me as an
honest workman. I care nothing for the papal asses; they are not worthy of
acknowledging my work, and it would grieve me to the bottom of my heart if they
blessed me. Their blasphemy is my highest praise and honor. I shall be a doctor
anyway, yes even a distinguished doctor; and that name they shall not take from
me till the Last Day, this I know for certain.
Oleh
karena itu, jika Tuhan menghendaki, semua itu juga akan melayani untuk
kehormatan-Nya, dengan sukacita dan tulus. Para juru tulis dan para paus
yang dungu boleh saja menghujat saya, tetapi orang-orang Kristen sejati - dan
Kristus, Tuhan mereka - memberkati saya! Dan saya akan dibalas dengan
berlimpah, jika ada satu orang Kristen saja yang mengakui saya sebagai seorang
pekerja yang jujur. Saya tidak peduli dengan kedunguan kepausan; mereka tidak
layak untuk mengakui pekerjaan saya, dan akan dari hati yang paling dalam
sangat menyedihkan bagi saya jika mereka memberkati saya. Hujatan mereka adalah
pujian dan kehormatan tertinggi bagi saya. Saya akan tetap menjadi seorang
doktor, ya, bahkan seorang doktor yang terhormat; dan nama itu tidak akan
mereka cabut dari saya sampai Hari Akhir, ini saya ketahui dengan pasti.
|
Komentar:
·
Di
sini, Luther tidak konsisten. Dia mengatakan bahwa dia tidak mencari
kehormatan atas dirinya dari usahanya menerjemahkan Kitab Suci. Tapi, dalam
pernyataan-pernyataan sebelumnya, Luther justru menyombongkan diri bahwa
hanya dia yang paling bisa menerjemahkan Kitab Suci dibanding Paus dan
orang-orang Katolik. Bahkan, Luther menyombongkan diri: saya seorang doktor,
terpelajar, filsuf, teolog, dll. ·
Luther
mengakui bahwa ia dengan sengaja menambhkan kata sola dalam
Roma 3: 28. Apakah Luther pada saat itu BELUM membaca Amsal 30:6: “Jangan
menambahi firman-Nya, supaya engkau tidak ditegur-Nya dan dianggap pendusta”.
Dan Kitab Wahyu 22: 18: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada
perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya
malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini.” |
On the
other hand I have not just gone ahead anyway and disregarded altogether the
exact wording of the original. Rather with my helpers I have been very careful
to see that where everything turns on a single passage, I have kept to the
original quite literally and have not lightly departed from it. For example, in
John 6 [:27] Christ says, “Him has God the Father sealed [versie- gelt].” It
would have been better German to say, “Him has God the Father signified
[gezeichent],” or, “He it is whom God the Father means [meinet].” But I
preferred to do violence to the German language rather than to depart from the
word. Ah, translating is not every man’s skill as the mad saints imagine. It
requires a right, devout, honest, sincere, God-fearing, Christian, trained,
informed, and experienced heart. Therefore I hold that no false Christian or
factious spirit can be a decent translator. That becomes obvious in the
translation of the Prophets made at Worms. It has been care- fully done and
approaches my German very closely. But Jews had a hand in it, and they do not
show much reverence for Christ. Apart from that there is plenty of skill and
craftsmanship there. So much for translating and the nature of the languages!
Di sisi lain, saya juga tidak begitu
saja meneruskan atau mengabaikan kata-kata yang tepat dari aslinya. Sebaliknya,
dengan para pembantu saya, saya telah sangat berhati-hati untuk melihat bahwa
di mana segala sesuatu berubah pada satu perikop, saya tetap berpegang teguh
pada kata aslinya secara harfiah dan tidak dengan mudah meninggalkannya.
Sebagai contoh, dalam Yohanes 6 [:27] Kristus berkata, “Dia telah dimeteraikan
oleh Allah Bapa [versie- gelt].” Akan lebih baik jika dalam bahasa
Jerman dikatakan, “Dia yang telah Allah Bapa tandai [gezeichent],” atau,
“Dialah yang Allah Bapa maksudkan [meinet].” Tetapi saya lebih suka
melakukan penegasan terhadap bahasa Jerman daripada menyimpang dari
kata-katanya. Ah, menerjemahkan bukanlah keahlian setiap orang seperti yang
dibayangkan oleh orang-orang kudus yang gila (mad saints). Hal ini
membutuhkan hati yang benar, taat, jujur, tulus, takut akan Tuhan, Kristen,
terlatih, berpengetahuan, dan berpengalaman. Oleh karena itu, saya berpendapat
bahwa tidak ada orang Kristen palsu atau roh palsu yang dapat menjadi penerjemah
yang baik. Hal ini terlihat jelas dalam terjemahan Kitab Para Nabi yang dibuat
di Worms. Terjemahan ini dikerjakan dengan penuh perhatian dan sangat mendekati
bahasa Jerman saya. Namun orang-orang Yahudi memiliki andil di dalamnya, dan
mereka tidak menunjukkan rasa hormat yang besar kepada Kristus. Selain itu, ada
banyak keahlian dan keterampilan di sana. Begitu banyak hal yang dapat
diterjemahkan dan sifat dari bahasa-bahasa tersebut!
|
Komentar:
·
Salah
satu ciri khas kaum heretik adalah MEMILIH-MILIH yang ia suka dan membuang
yang tidak ia sukai. Martin Luther melakukan ini, dan dia akui sendiri. Dalam
Roma 3: 28, agar sesuai dengan cara berpikirnya, maka ia tambahkan kata SOLA.
Tetapi, jika dalam ayat lain, tidak mengganggu ajarannya, maka ia tetap
mempertahankan maksud asli dari ayat Kitab Suci tersebut! |
Now I was not relying on and following the
nature of the languages alone, however, when, in Roman 3 [:28] I inserted the
word solum (alone). Actually the text itself and the meaning of St. Paul
urgently require and demand it. For in that very passage he is dealing with the
main point of Christian doctrine, namely, that we are justified by faith in
Christ without any works of the law. And Paul cuts away all works so
completely, as even to say that the works of the law—though it is God’s law and
word—do not help us for justification [Rom. 3:20]. He cites Abraham as an
example and says that he was justified so entirely without works that even the
highest work—which, moreover, had been newly commanded by God, over and above
all other works and ordinances, namely circumcision—did not help him for
justification; rather he was justified without circumcision and without any
works, by faith, as he says in chapter 4[:2], “If Abraham was justified by
works, he may boast, but not before God.” But when all works are so completely
cut away—and that must mean that faith alone justifies—-whoever would speak
plainly and clearly about this cutting away of works will have to say, “Faith
alone justifies us, and not works.” The matter itself, as well as the nature of
the language, demands it.
Namun
sekarang, saya tidak hanya mengandalkan dan mengikuti sifat bahasa saja,
ketika, dalam Roma 3 [:28] saya memasukkan kata solum
(hanya/satu-satunya). Sebenarnya teks itu sendiri dan makna dari Santo Paulus
sangat membutuhkan dan menuntutnya. Karena dalam perikop tersebut, ia (Rasul
Paulus) sedang membahas poin utama dari doktrin Kristen, yaitu bahwa kita
dibenarkan oleh iman di dalam Kristus tanpa melakukan hukum Taurat. Dan Paulus
meniadakan semua perbuatan dengan sangat tegas, bahkan sampai mengatakan bahwa
perbuatan hukum Taurat - meskipun itu adalah hukum Allah dan firman Allah
- tidak menolong kita untuk justifikasi [Rm. 3:20]. Ia mengutip Abraham sebagai
contoh dan mengatakan bahwa ia dibenarkan sepenuhnya tanpa perbuatan sehingga
bahkan perbuatan yang paling tinggi sekalipun - yang baru saja diperintahkan
oleh Allah, di atas segala perbuatan dan ketetapan lainnya, yaitu sunat – tidak
menolongnya untuk dibenarkan; sebaliknya, ia dibenarkan tanpa sunat dan tanpa
perbuatan apa pun, yaitu melalui iman, seperti yang dikatakannya dalam pasal
4[:2] dari Kitab Roma, “Jikalau Abraham dibenarkan karena
perbuatan-perbuatannya, maka ia bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah.” Tetapi
ketika semua perbuatan ditiadakan sama sekali – dan ini berarti hanya iman yang
membenarkan - maka siapa pun yang berbicara dengan gamblang dan jelas tentang
peniadaan perbuatan ini harus berkata, “Hanya iman yang membenarkan kita, dan
bukan perbuatan.” Masalahnya sendiri, dan juga sifat bahasanya, menuntut
demikian.
|
Komentar:
·
Dalam ilmu filsafat ada teori falsifikasi (bisa
dibaca dalam teori Filsuf Karl R. Popper). Maksud sederhananya adalah ‘suatu
hipotesis atau ide/argumen akan dinyatakan benar jika ia tahan terhadap semua
fakta, bukti dan kritik yang
melawannya; dan dinyatakan salah jika ada fakta lain yang menyangkalnya atau
menyatakan sebaliknya (falsifikasi)’. Argumen Luther meniadakan PERBUATAN dan
HANYA IMAN SAJA, tidak tahan pada falsifikasi. Mengapa? Sebab, Yakobus 2: 17;
21-26 justru menyatakan dengan sangat jelas bahwa iman tanpa perbuatan pada
hakikatnya adalah mati. “..Jika iman
itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati […] Bukankah
Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia
mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? Kamu lihat, bahwa iman
bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman
menjadi sempurna. Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan:
"Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal
itu kepadanya sebagai kebenaran. " Karena itu Abraham disebut:
"Sahabat Allah." Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena
perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman. Dan bukankah demikian
juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia
menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong
mereka lolos melalui jalan yang lain? Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah
mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati”. ·
Martin Luther sebagai Pastor Katolik” saat itu,
tentu sudah belajar filsafat. Maka, ia semestinya tidak membiarkan dirinya
terperangkap dalam kedangkalan pemahaman ketika menerjemahkan Roma 3: 28
tersebut. ·
Suatu ajaran dapat disebut heretik jika ajaran itu
mempertentangkan isi Kitab Suci. Martin Luther dengan menambahkan kata “sola”
dalam Roma 3: 28, maka ia telah mempertentangkannya dengan Yakobus bab 2! |
Saya
cukupkan sampai di sini. Anda bisa membaca lanjutan dari tulisan Martin Luther
itu sampai halaman 202.
[1] Dalam
terjemahan selanutnya, saya tetap menggunakan kata “Papists”. Istilah Papists yang sering digunakan oleh
Martin Luther adalah ejekannya kepada umat Katolik pada saat itu, yang ia sebut
“Katolik Roma”. Martin Luther mengklaim bahwa umat Katolik adalah para pengikut
Paus. Dengan kata lain, Martin Luther menyatakan diri sebagai orang yang “tidak
taat kepada Paus”. Dan dengan begitu, Martin Luther juga menyatakan dirinya
bukan sebagai Katolik!
[2] Kata hee-haws itu bisa berarti
teriakan keras dari keledai atau bagal. Jadi, Martin Luther itu menghina atau
melakukan ad hominem kepada Paus dan umat Katolik, yang juga ia hina sebagai
Papists.
[3] Kata
ass sangat kasar. Kata itu bisa diartikan: pantat, orang bodoh, badut, idiot, bajingan, dungu,
tolol; mule bisa berarti: keledai, bagal.

EmoticonEmoticon