Showing posts with label Ajaran Marthin Luther. Show all posts
Showing posts with label Ajaran Marthin Luther. Show all posts

Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa, Mungkinkah?

Banyak orang-orang Kristen non-Katolik yang bertanya terkait mengapa Gereja Katolik mengajarkan bahwa Maria dikandung tanpa noda dosa. Menurut mereka dalam Roma 3:23 mencatat bahwa “semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah.” Tak dapat dipungkiri banyak orang Katolik belum mampu menjawabnya secara singkat, padat dan jelas. Maka pertama-tama orang Katolik perlu menjelaskan dengan sabar, karena orang-orang non-Katolik seringkali menafsirkan Alkitab secara harafiah atau keluar dari konteks. Perlu diketahui bahwa dosa asal dan dosa pribadi berbeda.  Setelah mengetahui hal itu, baiklah kita melihat konteks Rom. 3:23.
Roma 3:23 sama sekali tidak berbicara tentang dosa asal, melainkan tentang dosa pribadi. Oleh sebab itu, kita dapat mengetahui bahwa pertanyaan orang-orang Kristen non-Katolik campuraduk antara dosa asal dan dosa pribadi. Setelah kita menemukan hal itu, maka akan dibenturkan kembali dengan Rom. 5:12.18-19, sehingga seolah-olah dogma Gereja Katolik tersebut bertentangan dengan pernyataan rasul Paulus. Ayat itu berbicara bahwa semua orang mewarisi dosa Adam. Ya, dalam ayat itu kita menemukan bahwa semua orang mewarisi dosa asal. Namun Gereja Katolik meyakini bahwa Allah membebaskan Maria dari sengat dosa asal dan akibat dosa asal. Hal itu terjadi bukan karena pahala atau kekuatan Maria, melainkan karena pahala yang masih akan dihasilkan oleh Yesus dalam misteri Paskah. Tentu setelah kita menjawab demikian, maka akan muncul pertanyaan berkaitan dengan kalimat “semua orang terkena dosa asal, jika Maria bebas dari sengat dosa asal.” tidak masuk Akal.
Tenang, Gereja mengajar bahwa Maria tetap suci sampai akhir hidupnya. Ia bebas dari segala dosa mulai dari pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian. Dengan demikian Maria terbebas dari semua dosa pribadi dan dosa asal. Rasul Paulus menggunakan kata “semua” dalam arti mutlak, numeric, distributive yang mencakup setiap orang. Namun kata “semua” dapat diartikan secara kolektif, sehingga yang dimaksud adalah sebagian besar dari yang ada. Perkataan Rasul Paulus dalam Roma 5:12.18-19 tentang dosa asal, tentu saja tidak termasuk Yesus, dan Adam-Hawa sebelum mereka jatuh dalam dosa. Pengertian kolektif lain dipakai pula dalam Roma 3:9-10, sehingga kata “semua” pada konteks ini diartikan secara kolektif bukan distributif. Hal itu karena Gereja percaya bahwa Maria Hawa Baru, yang tidak terkena dosa asal dan dosa pribadi. Bagian Alkitab yang menjelaskan bahwa Maria suci hingga akhir hidupnya, bisa kita temukan dalam Kej. 3:15, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya”. Kita dapat melihat bahwa kalimat “permusuhan” berarti tidak ada kompromi atau pertentangan total. Jika Maria sudah jatuh dalam dosa, tentu permusuhan itu tidak total dan Maria tunduk pada kuasa dosa.
Selain itu, Malaikat berkata kepada Maria, χαῖρε, κεχαριτωμένη, ὁ κύριος μετὰ σοῦ (Chaire, kecharitōmenē, ho kyrios meta sou!). Yang dapat kita baca dalam bahasa Inggris “ Hail, “Full of Grace,” the Lord is with you!(bdk. Luk 1:28).” Gelar “yang penuh rahmat” diberikan kepada Maria secara khusus oleh Allah sendiri, sehingga menunjukkan Bunda Maria dibebaskan dari noda dosa asal dan dosa pribadi. Dengan demikian Dogma tentang Maria dikandung tanpa noda dosa , yang dinyatakan secara ex cathedra oleh Paus Pius IX pada 8 Desember 1854 berlandaskan kepada Alkitab.
Penulis: Silvester Detianus Gea

Menelusuri Ajaran Luther, Alkitabiah kah?


Martin Luther menolak 'Roti dan Anggur' yang sudah dikonsekrir sebagai benar-benar Tubuh dan darah Kristus. Ia mengajarkan bahwa itu hanya lambang semata. Benarkah demikian?. Mari kita lihat Alkitab. Rasul Paulus mengatakan bahwa, apa yang diajarkan dan diteruskan, ia terima dari Tuhan Yesus sendiri. Bahwa pada malam sebelum Ia diserahkan, Yesus memecah-mecahkan roti dan berkata 'Inilah Tubuhku, yang diserahkan bagi kamu perbuatlah ini untuk mengenangkan daku. Demikian pula ia mengambil cawan dan berkata, cawan ini adalah perjanjian baru yang dimateraikan oleh Darahku, perbuatlah ini untuk mengenangkan daku (bdk. 1 Kor. 11:23-24, Luk. 22:19). Selanjutnya Rasul Paulus berkata bahwa siapa memakan dan meminum perjamuan itu secara tidak pantas ia akan menanggung dosa.

Mengapa berdosa? Karena apa yang dimakan bukanlah lambang, melainkan sungguh-sungguh tubuh dan darah Kristus (Yoh. 6: 53-58). Maka 1 Kor. 11:24 Rasul Paulus berkata dalam bahasa Yunani: Touto mou estin soma. Estin artinya 'adalah benar-benar. Perkataan yang sama dalam bahasa Yunani juga diucapkan oleh Yesus: Touto estin to soma mou (bdk. Mat. 26:26; Mrk. 14:22). Maka, Roti dan Anggur perjamuan yang sudah dikonsekrir adalah benar-benar Tubuh dan darah Kristus, sehingga tidak bisa disambut dalam keadaan tidak layak, karena akan mendatangkan dosa.


Penulis: Silvester Detianus Gea


Silahkan reformasi asal jangan kebablasan.


Salam

Menelusuri Sejarah Reformasi dan Tindakan Fatal Pendirinya


Martin Luther adalah salah seorang biarawan Ordo Agustinus, yang cukup kritis pada zamannya. Martin Luther sebenarnya protes terhadap salah satu kalimat dari perkataan salah seorang pengkhotbah bernama Johann Tetzel-dari Ordo Dominikan. Tetzel membuat sebuah pantun yang disalahartikan oleh Martin Luther, pantun itu berbunyi: “Begitu terdengar bunyi koin emas di kotak, bangkitlah jiwa menuju Surga.” Pantun tersebut disalahartikan oleh Martin Luther sebagai penjualan Surat Pengampunan dosa. Tentu tuduhan ini tidak benar karena tidak pernah Surat Pengampunan Dosa dijual. Memang saat itu temanya adalah mengenai derma/amal (Mat. 6:2), dan uang pemberian itu digunakan untuk membangun basilika. Tentu saja menyumbang atau memberi kolekte bukanlah membayar pengampunan dosa. Jika demikian yang terjadi, lalu apa bedanya dengan Gereja-gereja Protestan zaman Martin Luther hingga sekarang yang mewajibkan perpuluhan?

Martin Luther mungkin melihat akan adanya penyelewengan yang akan terjadi karena ucapan Tetzel tersebut, maka ia protes kepada Uskup Agung Albert dari Mainz. Protes Martin Luther merupakan awal perubahan Gereja yang pada masa itu dapat dikatakan sedang berada dalam keadaan “gelap”. Protes Martin Luther sebenarnya merupakan puncak dari serangkaian protes-protes sebelumnya. Memang tak dapat dipungkiri bahwa pada masa itu ada pula penyelewengan dari oknum-oknum tertentu, namun tentu itu bukan ajaran dari Gereja Katolik. Adalah kesalahan besar jika salah satu oknum yang salah, digeneralisir kepada seluruh Gereja Katolik. Lagi pula kejadian yang dilakukan Tetzel hanya terjadi di Jerman,dan bukan disegala tempat. Jika saja Martin Luther melakukan reformasi dari dalam seperti Ignatius dari Loyola tentu tidak akan terjadi perpecahan yang tidak diharapkan.

Ada beberapa tanggapan berkaitan dengan reformasi yang dilakukan Martin Luther, antara lain:

Pertama, Martin Luther hampir membuang Kitab Yakobus dan Wahyu dan ia mengatakan bahwa Kitab itu "Kitab Jerami' dalam arti tertentu adalah Palsu.

Sebenarnya penolakan akan Kitab Yakobus yang dilakukan oleh Martin Luther, karena ajaran Sola Fidei dan Sola Gracia buatannya sangat bertentangan dengan isi keseluruhan kitab Yakobus. Martin Luther pun memberi lebel pada kitab ini sebagai Kitab Apocrypha perjanjian Baru bersama dengan Kitab Wahyu. Apocrypha artinya tidak Kanonik, sehingga dalam Kitab terjemahan Martin Luther dalam bahasa Jerman, ia menempatkan Kitab Yakobus dan Wahyu sebagai Appendix

Kedua, Martin Luther tidak pernah berniat mendirikan ribuan aliran melainkan pembaharuan dari dalam. Namun akhirnya kebablasan karena ia mengikuti anjuran politis bangsawan Jerman.

Marthin Luther hampir tidak pernah berpikir jika reformasi yang ia buat akan berakibat seperti sekarang, dengan ribuan aliran bahkan ada aliran yang justru menolak ajaran-ajarannya. Reformasi artinya membaharui dari dalam sebagaimana diteladankan oleh Ignatius dari Loyola. Tetapi Marthin Luther semakin berani protes karena dukungan para bangsawan Jerman, yang pada masa itu membuat propaganda bahwa Vatikan akan menguasai Jerman dalam bidang politik dan ekonomi, sehingga para bangsawan mendukung supaya ada reformasi agar keagamaan di Jerman pun tidak berkaitan lagi dengan Vatikan.

Ketiga, Martin Luther menghilangkan 7 Kitab PL yang sudah dipakai sejak abad pertama dan bahkan dikutip oleh Rasul-rasul dalam surat mereka.

Salah satu Kitab yang bertentangan dengan Sola dari Martin Luther adalah Kitab 2 Makabe, dimana di sana dijelaskan bagaimana setiap orang dapat mendoakan orang yang sudah meninggal, yang dilakukan oleh Gereja Katolik setiap tanggal 2 November. Marthin Luther pun merasa bahwa ketujuh Kitab tidaklah kanonik, meskipun Kitab tersebut sudah masuk dalam Kanon Kitab Suci Umat Kristiani sejak abad ke 3, dan merupakan bagian dari Perjanjian Lama. Meskipun Marthin Luther tidak mengakuinya sebagai Kanonik, namun ia tetap menyertakan ketujuh kita itu dalam Alkitab yang ia terjemahkan. Marthin Luther mengatakan bahwa Kitab-kitab itu hanya layak dibaca saja. Namun, menurut Admin Katolisitas baru tahun 1827 the British and Foreign Bible Society mencoret dan membuang ke 7 Kitab dalam Kitab mereka dan itulah yang diikuti oleh sebagian besar penganut Protestan hingga saat ini. Pdt. Anwar Tjen, Phd dalam sebuah seminar di Gereja Katedral Jakarta yang membahas mengenai Kitab Deuterokanonika pernah berkata dan menjelaskan bahwa para rasul dan bahkan penulis Injil mengutip sebagian isi Kitab Deuterokanonika.

Keempat, Martin Luther membuat ajaran 'Sola' yang sesungguhnya bertentangan dengan Alkitab.Sola artinya "Hanya" dan Scriptura artinya Alkitab/Kitab. Ajaran Sola Scriptura sebenarnya bertentangan dengan Alktiab. Sebab Rasul Paulus pernah berkata 2Tes 2:15 Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis. Jadi, Ajaran Lisan dan Tertulis itu tetap ada, tidak semua hal tercatat di Alkitab (Yoh. 21:25). Sementara itu ajaran Sola Fidei bertentangan dengan sebagian besar isi Surat Yakobus, terutama perkataan: Iman tanpa perbuatan adalah mati, sehingga iman harus bekerjasama dengan perbuatan dan diwujudkan dalam perbuatan. Kemudian Sola Gracia, yang menekankan hanya rahmat saja, tentu ada benar tetapi kurang lengkap, bahwa Rahmat itu membutuhkan sarana yakni Sakramen yang diikuti dengan tindakan dan respon dari manusia. Maka Rahmat Tuhan selalu ada, tetapi juga membutuhkan respon dan tindakan manusia dalam bentuk-bentuk simbolik, misalnya Sakremen-sakramen.

Penulis: Silvester Detianus Gea

KONSILI JAMNIA TAK PERNAH TERJADI

Oleh : Steve Ray (mantan Protestan Injili)

Kebanyakan mitos dipercayai bukan karena mitos-mitos tersebut benar tapi sekedar karena orang ingin mempercayainya. Tapi angan-angan bukan pengganti suatu kebenaran. Selalu lebih baik untuk menggali lebih dalam dan menemukan fakta-faktanya dan tidak mempercayai sesuatu hanya karena engkau menghendaki agar itu menjadi kebenaran.

Sebagai contoh, cukup populer dalam kalangan Protestant tertentu untuk meng-klaim bahwa orang Yahudi mempunyai kanon Kitab Suci yang telah ditutup pada abad pertama, dan bahwa umat Kristen awal menerima koleksi Yahudi yang final atas tulisan-tulisan ter-ilhami tersebut sebagai [keputusan yang juga] final dan mengikat Gereja. Umumnya, Konsili Jabneh (biasanya disebut literatur Katolik sebagai Jamnia) diasumsikan sebagai "bukti" atas klaim ini. Pada "Konsili Jabneh," para Rabi Yahudi, dikatakan berkumpul—seperti konsili ekumenis di Gereja Katolik—untuk menetapkan kriteria spesifik bagi Kitab Suci yang ter-ilhami dan pada akhirnya mendefinisikan dan menutup kanon Perjanjian Lama.

Apakah ini benar? Pertama-tama, kita akan melihat bagaimana berbagai penulis mempertahankan pengecualian Protestant atas tujuh buku [ie. Deuterokanonika] yang didasarkan atas pemahaman yang cacat atas apa yang disebut "Konsili Jabneh." Kedua, apakah anggota-anggota "konsili" ini benar-benar mendiskusikan batasan kanon Perjanjian Lama, dan ketiga, kalau memang begitu, apakah mereka mempunyai otoritas untuk menutup kanon? Keempat, apakah mereka benar-benar mengkompilasi sebuah daftar final mengenai tulisan-tulisan yang diakui, dan, kelima—dan yang penting—bila keputusan semacam itu telah dibuat, apakah umat Kristen terikat oleh keputusan itu? Kita akan mengakhiri dengan ajaran Gereja Katolik dan mengapa kita bisa mempercayai [ajaran tersebut].

Mari mengklarifikasi beberapa istilah. [Yang dimaksud] kanon Kitab Suci adalah koleksi final dari buku-buku ter-ilhami yang dimasukkan dalam Alkitab. Alkitab katolik mengandung tujuh buku yang tidak tampak di Perjanjian Lama Protestant. Tujuh tulisan ini disebut sebagai deuterokanonika atau Hukum Kedua [catatan DeusVult: "deuterokanonika" = "kanon tambahan." Disebut "tambahan" karena baru diterima belakangan.

Perjanjian Baru pun mempunyai buku-buku yang diterima belakangan alias "deuterokanonika," yaitu surat Yohanes, Surat Yakobus, Surat kepada umat Ibrani dan Wahyu]. Protestant biasanya menyebut tujuh tulisan ini Apokripha (yang berarti tersembunyi), buku-buku yang menurut mereka berada diluar kanon. Termasuk didalam tujuh tulisan ini adalah Makabe 1 dan 2, Tobit, Yudit, Sirakh, Kebijaksanaan Salomo, dan Barukh, dan juga tambahan-tambahan untuk Daniel dan Ester. Sebelum jaman Kristus, tulisan-tulisan ini dimasukkan dalam Septuaginta Yunani para Yahudi (disebut juga LXX)—yaitu terjemahan Yunani atas Kitab Suci Yahudi—namun [tujuh buku dan tambahan-tambahan tersebut] tidak diikutkan dalam teks Masoretic Ibrani. [catatan DeusVult: Septuaginta tidak hanya mengandung tambahan deuterokanonika saja tapi juga buku-buku lain seperti Makabe III, Makabe IV dan lain-lain. Buku-buku lain tersebut dinilai oleh Gereja Katolik sebagai bukan bagian kanon PL meskipun baik untuk dibaca]

KANON YAHUDI
Kebanyakan orang Yahudi pada abad pertama sebelum masehi dan abad pertama sesudah masehi tinggal diluar Israel. Mereka disebut diaspora, [yang artinya] mereka yang tersebar di semerata Kekaisaran Roma. Banyak dari mereka telah ter-Hellenisasi—maksudnya, mereka telah mengasimilasi budaya Greco-Romano, termasuk bahasa Yunani. Septuaginta, yang mengandung buku-buku deuterokanonika, adalah Alkitab utama yang digunakan para umat Yahudi diaspora ini.

Kebanyakan umat Yahudi non-Kristen di abad pertama menganggap Gereja sebagai suatu kultus Yahudi yang bidat dan keliru, mungkin mirip dengan bagaimana umat Kristen menganggap Mormon atau saksi Yehuwa jaman sekarang ini. Pada abad pertama, beberapa dekade setelah kehidupan Kristus, mayoritas umat Kristen berasal dari kalangan non-Yahudi, dan mereka menggunakan Septuaginta Yunani sebagai Perjanjian Lama mereka, mengikuti contoh umat Yahudi berbahasa Yunani, termasuk Yesus dan para rasul (note 1, sidebar, page 25).

Ketika umat Kristen mulai menggunakan terjemahan Yunani ini untuk mempertobatkan orang-orang Yahudi ke iman [Kristen], para Yahudi mulai merasa jijik dengan terjemahan tersebut (note 2, sidebar, page 25). Apakah mengejutkan siapapun kalau mereka kemudian mengutuk kanon dan terjemahan yang digunakan umat Kristen, bahkan kalaupun [kanon dan terjemahan tersebut] pada awalnya diterjemahkan, diakui, dan disebarkan oleh para Yahudi sendiri tiga ratus lima puluh tahun sebelumnya (c. 250 B.C.)? Gereja awal, yang mengikuti Septuaginta Yunani dan [mengikuti teladan] para rasul yang menggunakan [Septuaginta Yunani tersebut] (Paulus mengambil kebanyakan kutipan Perjanjian Lama dari [Septuaginta Yunani]), menerima buku-buku deuterokanonika. Ketika kanon secara resmi ditutup oleh konsili-konsili Gereja Katolik, buku-buku ini telah dimasukkan.

Apa yang disebut "Konsili Jabneh" adalah sekelompok pelajar Yahudi yang diberi ijin oleh Roma pada sekitar tahun 90 untuk bertemu di Palestina didekat Laut Mediterania di Jabneh (Jamnia). Disini mereka mengadakan sebuah Sanhedrin [catatan DeusVult: semacam konsili atau mahkamah Yahudi] yang tidak otoritatif dan "reconstituted" (note 3, sidebar, page 25). Diantara hal-hal yang mereka diskusikan adalah kejelasan status dari beberapa tulisan-tulisan yang ada di Alkitab Yahudi. Mereka juga menolak tulisan-tulisan Kristen dan membuat sebuah terjemahan baru dari Septuaginta Yunani.

Karena banyak penulis Protestant yang merujuk kepada "Konsili Jabneh" sebagai argumen melawan buku-buku deuterokanonika yang terdapat di Alkitab Katolik, maka baiklah bagi kita untuk melihat beberapa contoh [dari rujukan para penulis Protestant terhadap konsili tersebut].

Dalam buku populernya Roman Catholics and Evangelicals: Agreements and Differences (ditulis bersama Ralph MacKenzie [Baker Books, 1995]), Norman Geisler, dekan dari Southern Evangelical Seminary, menolak kanon Perjanjian Lama Katolik dan mengklaim bahwa rabbi-rabbi Yahudi di Jabneh mengecualikan buku-buku deuterokanonika yang diterima umat Katolik dan [meng-klaim] bahwa kanon ditetapkan (di-finalisasi) di Jabneh.

Geisler menulis, "Para pelajar Yahudi di Jabneh (sekitar A.D. 90) tidak menerima Apokripha [ie. deuterokanonika] sebagai bagian dari kanon Yahudi yang di-ilhami [Allah]. Karena Perjanjian Lama secara eksplisit menyatakan bahwa kepada Israel dipercayakan firman Allah dan [Israel] adalah penerima perjanjian-perjanjian [covenants] dan Hukum (Rom 3:2), para Yahudi harus dianggap sebagai penjaga dari batasan kanon mereka sendiri. Dan mereka selalu menolak Apokripha [ie. deuterokanonika]" (169). Dan meskipun Geisler tampaknya menolak otoritas para rabbi di Jabneh di [bukunya] yang lain A General Introduction to the Bible (dengan W. E. Nix [Moody Press, 1996]), dia kemudian menuliskan dalam sebuah diagram, "Konsili Jabneh (A.D. 90), Kanon Perjanjian Lama ditetapkan" (286).

Geisler tidak sendirian dalam menilai bahwa pada Konsili Jabneh Apokripha ditolak dan Kanon Perjanjian Lama ditetapkan. Penilaian tersebut tampaknya bagai suatu legenda umum yang digunakan sebagai "bukti" untuk menguatkan sebuah asumsi tidak historis dan keliru. Sebelum kita melihat mitos tersebut, kita akan menunjukkan bagaimana [mitos] tersebut selalu dirujuk. Beberapa contoh akan rujukan yang dibuat pada "Konsili Jabneh" akan mencukupi:

"Pada akhir abad Kristen pertama, para rabbi Yahudi, pada Konsili Gamnia [Jamnia], menutup kanon buku Ibrani (yang dipandang otoritatif)" (Jimmy Swaggart, Catholicism & Christianity [Jimmy Swaggart Ministries, 1986], 129).

"Setelah kehancuran Yerusalem, Jamnia menjadi tempat bagi salah satu Sanhedrin Agung. Pada sekitar [tahun] 100, sebuah konsili para rabbi di tempat tersebut menetapkan kanon final Perjanjian Lama" (Ed. Martin, Ralph P., dan Peter H. Davids, Dictionary of the Later New Testament and Its Developments [InterVarsity Press, 2000, c1997], 185).

Meskipun banyak [penulis Protestant] sekarang yang mengakui bahwa Jabneh tidak mengecualikan buku-buku deuteokanonika atau secara otoritatif menutup kanon Perjanjian Lama, masih banyak sumber-sumber yang meng-klaim dan mengasumsikan bahwa hal tersebut dilakukan pada Konsili Jabneh.

Apakah Jabneh punya otoritas?

Menurut Oxford Dictionary of the Christian Church, "konsili" di Jabneh pada tahu 90 bahkan bukanlah suatu konsili "resmi" dengan otoritas mengikat untuk membuat keputusan seperti itu [ie. menetapkan kanon bagi umat Yahudi]:

"Setelah kehancuran Yerusalem (A.D.70), sebuah perserikatan guru-guru agama didirikan di Jabneh; badan ini dianggap menggantikan Sanhedrin, meskipun [badan ini] tidak memiliki karakter perwakilan atau otoritas nasional. Tampaknya salah satu subyek yang didiskusikan diantara para rabbi adalah status dari buku-buku Alkitab tertentu (sebagai contoh, Pengkhotbah dan Kidung Agung) yang kanonitas-nya masih terbuka untuk dipertanyakan pada abad pertama. Pandangan bahwa pada sinode Jabneh tertentu, yang diadakan sekitar 100 AD, yang dengan final menetapkan batasan-batasan dari kanon Perjanjian Lama, diutarakan oleh H.E. Tyle; meskipun [pandangan tersebut] beredar luas, tidak ada bukti yang meneguhkannya" (ed. oleh F. L. Cross dan E. A. Livingston [Oxford Univ. Press, 861], penekanan ditambahkan).

Bukankah menarik bahwa orang Yahudi tidak memiliki sebuah "kanon tertutup" Kitab Suci pada jaman Kristus, [atau] sebelum tahun 100, atau bahkan setelah Jabneh? Bahkan selama jaman Kristus ada pandangan-pandangan yang bersaingan mengenai buku-buku apa yang ada. Para Saduki dan Samaria menerima hanya Pentateukh, lima buku pertama, sementara Farisi menerima kanon yang lebih penuh termasuk Mazmur dan [tulisan-tulisan] para nabi. Teks Masoretic tidak mengandung deuterokanonika, sementara Septuaginta Yunani yang lebih luas dipakai [mengandung deuterokanonika].

Ketidakpastian ini berlanjut sampai abad kedua. Diskusi mengenai buku-buku di kanon Perjanjian Lama berlangsung diantara orang Yahudi jauh setelah Jabneh, [dimana hal ini] menunjukkan bahwa kanon masih didiskusikan di abad ketiga—jauh setelah periode apostolik. Tantangan [yang dibahas] pada Jabneh hanya mengenai Pengkhotbah dan Kidung Agung, tapi debat mengenai kanon [Perjanjian Lama] terus berlangsung sesudah Jabneh, bahkan sampai abad kedua dan ketiga. Bahkan kanon Ibrani yang diterima Protestant sekarang ini diperselisihkan oleh para Yahudi selama dua ratus tahun setelah Kristus.

Beberapa point yang harus diperhatikan:

1. Meskipun penulis-penulis Kristen sepertinya mengira bahwa ada sebuah konsili formal di Jabneh, [sebenarnya] tidak ada yang seperti itu. Adalah satu sekolah untuk mempelajari Hukum [Taurat] di Jabneh, dan para rabbi disana melakukan fungsi-fungsi legal dalam komunitas Yahudi.
2. Tidak hanya tidak pernah ada suatu konsili formal, tidak ada pula bukti adanya daftar buku apapun yang dihasilkan di Jabneh.
3. Suatu diskusi spesifik mengenai penerimaan di Jabneh hanyalah [penerimaan] atas buku Pengkhotbah dan Kidung Agung. Meskipun begitu, argumen mengenai [status penerimaan buku-buku tersebut] masih terus berlanjut di Yudaisme berabad-abad setelah periode Jabneh. Juga ada perdebatan-perdebatan lanjutan mengenai [buku] Ester.
4. Kita tahu bahwa tidak satupun buku dikecualikan di Jabneh. Bahkan, Sirakh, yang dibaca dan di-kopi oleh para Yahudi setelah periode Jabneh, lama-lama tidak menjadi bagian dari Alkitab Ibrani (cf. Raymond Edward Brown, Joseph A. Fitzmyer, and Roland Edmund Murphy, The Jerome Biblical Commentary [Prentice-Hall, 1996, c. 1968], vol. 2, 522).


MENGAPA GEREJA MENOLAK KANON YAHUDI
Kalaupun para rabbi di Jabneh memang mempunyai otoritas untuk menetapkan kanon dan memang telah menutup kanon. Siapa yang bisa berkata bahwa mereka punya otoritas dari Allah untuk membuat ketetapan yang mengikat tersebut? Mengapa umat Kristen mesti menerima ketetapan mereka? Allah telah secara publik berpaling dari para Yahudi sebagai "suara kenabian"-Nya dua puluh tahun sebelum [Jabneh] ketika Yerusalem dihancurkan dan dibakar api. Allah menghakimi mereka dan menolak kantong-kantong kulit yang tua [bdk.Mat 9:17]. Anggur tua dan kantongnya (Yudaisme) sekarang telah diganti dengan anggur baru (Injil) dan kantong-kantong baru (Gereja). Kenapa [malahan] menerima ketetapan para rabbi yang tidak punya otoritas daripada [ketetapan] Gereja?

Ada alasan lebih lanjut mengapa kita tidak seharusnya bersandar kepada para Yahudi abad pertama atas ketetapan mereka mengenai kanon [Perjanjian Lama], bahkan kalaupun mereka telah membuatketetapan seperti itu: Para rabbi di Jabneh kemudian menghasilkan sebuah terjemahan Yunani baru untuk menggantikan terjemahan Spetuaginta mereka sebelumnya. Mengapa? Karena umat Kristen non-Yahudi menggunakan Spetuaginta untuk tujuan apologetik dan penginjilan—dengan kata lain, mereka mempertobatkan umat Yahudi [catatan DeusVult: menjadi Kristen Katolik tentunya] dengan menggunakan Kitab Suci Yunani milik mereka sendiri!

Sebagai contoh, mereka [umat Kristen] menggunakan Septuaginta untuk membuktikan kelahiran perawan atas Yesus.

Di Alkitab Ibrani, Yesaya 7:14 ditulis, "Seorang wanita muda akan mengandung dan melahirkan seorang putra," sementara di Septuaginta Yunani, yang dikutip Matius (1:23), ditulis, "Seorang perawan akan mengandung dan melahirkan seorang putra" (penekanan ditambahkan). Para rabbi yang mestinya "menetapkan" kanon Protestant juga meng-otorisasi sebuah terjemahan Yunani baru yang secara spesifik menghalang-halangi injil. Aquila, penerjemah Yahudi untuk versi baru tersebut, mengingkari Kalahiran Perawan dan merubah kata Yunani dari perawan menjadi wanita muda [catatan DeusVult:

Salah satu issu utama dalam pemikiran Yahudi abad pertama mengenai kanon bukanlah mengenai [status] ilham [ilahi dari buku-buku Kitab Suci] tetapi melawan penginjilan Kristen terhadap orang Yahudi dan non-Yahudi. Issue [utamanya] adalah Yahudi melawan ajaran Kristen baru dan penggunaan umat Kristiani atas Kitab Suci Yahudi yang berbahasa Yunani. Cukup aneh bagi Protestant untuk memilih kanon yang dipotong pendek yang dipilih oleh pemimpin-pemimpin Yahudi, dan karena tindakan tersebut mereka menempatkan diri di sisi Yahudi yang anti-Kristen dan telah ditanggalkan [otoritasnya] (see note 4, sidebar, page 25).

Kita tidak tahu banyak mengenai hasil-hasil dari Jabneh, tapi kita tahu bahwa mereka menyebut Injil Perjanjian Baru. Mereka menyebutnya untuk secara spesifik menolaknya. F. F. Bruce menulis, "Beberapa yang berdebat juga bertanya apakah Kebijaksanaan Yesus bin Sirakh (Sirakh), dan gilyonim (tulisan-tulisan injil Aramaic) dan beberapa buku-buku dari para minim (para bidat, termasuk umat Kristen Yahudi), harus diakui, namun dalam hal ini jawabannya adalah negatif tanpa kompromi" (The Books and the Parchments [Fleming H. Revell, 1984], 88).

Kebanyakan Protestant menerima perlawanan para Yahudi atas kanon Kitab Suci Katolik karena [perlawanan tersebut] mendukung ke-anti-Katolik-an mereka. Namun umat Katolik telah menerima ketetapan dan kanon dari umat Allah Perjanjian Baru, mereka yang adalah para imamat baru (bdk. 1 Pet 2:9), kantong-kantong anggur baru. Sebagaimana kita perhatikan di awal-awal, komentar Geisler, "Karena Perjanjian Lama secara eksplisit menyatakan bahwa kepada Israel dipercayakan firman Allah dan [Israel] adalah penerima perjanjian-perjanjian [covenants] dan Hukum (Rom 3:2), para Yahudi harus dianggap sebagai penjaga dari batasan kanon mereka sendiri." (Roman Catholics and Evangelicals, 169).

Apakah aku mesti menerima ketetapan pada rabbi sebagai sesuatu yang otoritatif dan mengikat bagi jiwaku, ketika jubah otoritas telah diberikan kepada Gereja oleh tindakan Roh Kudus? Apakah Geisler memberi pembaca-pembacanya informasi historis dan timeline ini, [yang bisa] mengingatkan [para pembacanya] bahwa Allah telah berpaling dari umat Yahudi dan menghancurkan kuil mereka sebelum "konsili" tanpa otoritas tersebut menolak Injil dan "seluruh kanon Kristen," termasuk Perjanjian Baru?

Orang Yahudi tidak mempunyai kanon tertutup sebelum tahun 300AD, dan mereka "membentengi [kanon]" supaya umat Kristen tetap diluar. Mengapa bergantung kepada mereka? Aku menerima kanon para rasul dan Gereja awal, yang telah ditetapkan oleh Uskup-Uskup Gereja. Dan, seperti mereka, aku tidak menerima kanon dari pemimpin-pemimpin Yahudi anti-kristen

(Beberapa Bapa Gereja Awal, seperti Hieronimus, menerima kanon Masoretic Yahudi, tapi tidak pernah satu Bapa Gereja Awal secara individu yang membuat keputusan mengikat bagi Gereja, hanya konsili-konsili [Gereja] yang dapat melakukannya)

Kanon Perjanjian Lama tidak ditutup di Jabneh, dan deuterokanonika juga tidak dikecualikan dari Perjanjian Lama di Jabneh. Siapa yang mempunyai otoritas dari Allah untuk menetapkan dan menutup kanon Kitab Suci? Sederhananya, Gereja. Hierarkhi Yahudi pada masa Kristus meng-klaim otoritas untuk mengikat dan melepas, [dimana istilah "mengikat dan melepas"] dengan jelas dipahami sebagai istilah tekhnis, tapi Yesus secara spesifik menetapkan sebuah hierarkhi baru atas "Israel baru"—[yaitu] Gereja—dan memindahkan kepada magisterium baru ini kuasa untuk mengikat dan melepas (Matt. 16:19; 18:18). Gereja, karenanya, ditunjuk untuk berbicara bagi Allah, dan kanon final Kitab Suci termasuk dalam otoritas [Gereja].

Penulis Protestant Paul Achtemeier memberitahu kita, "tradisi Timur dan Katolik Roma umumnya menganggap buku-buku 'apokripha' Perjanjian Lama sebagai bagian dari kanon. Baru setelah munculnya Reformasi Protestantisme buku-buku tersebut ditolak status kanonikalnya (di lingkungan Protestant). Namun Gereja Roma tetap meneguhkan tempat [buku-buku tersebut] di kanon Kitab Suci" (Harper’s Bible Dictionary, 1st ed. [Harper & Row, c1985], 69).

Pada Konsili Trent Gereja menyelesaikan masalah tersebut dengan mendaftarkan secara definitif buku-buku yang diterima, termasuk deuterokanonika, dan Katekismus Gereja Katolik meneguhkan daftar ini (KGK 120). Inilah Alkitab Katolik yang kita punyai saat ini.

Tidakkah menarik bahwa Martin Luther mengakui Gereja Katolik sebagai penjaga Kitab Suci (note 5, sidebar, page 25) ketika dia menulis, "Kami mengakui—sebagaimana kami harus—bahwa banyak yang mereka [Gereja Katolik] katakan adalah benar: [yaitu] bahwa kepausan memiliki firman Allah dan jabatan para rasul, dan bahwa kami menerima kitab suci, baptisan, sakramen, dan mimbar dari mereka. Apa yang kita ketahui akan semua ini kalau tidak berkat mereka?"


Sumber:
http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?p=88567