Showing posts with label Kesaksian. Show all posts
Showing posts with label Kesaksian. Show all posts

MENEMUKAN GEREJA KATOLIK MELALUI SEJARAH



(Dr. David Anders, Ph.D.)

MENEMUKAN GEREJA KATOLIK MELALUI SEJARAH
Kisah Dr. David Anders, Ph.D.

Saya tumbuh sebagai seorang Kristen Protestan Injili di Birmingham, Alabama. Kedua orang tua saya itu penuh kasih dan pengabdian, tulus dalam iman, dan sangat terlibat dalam gereja kami.

Dalam diri saya, mereka menanamkan penghormatan terhadap Alkitab sebagai Firman Allah, dan menginginkan saya supaya hidup dalam iman akan Kristus.

Para misionaris (penginjil Protestan –red.) sering mengunjungi rumah kami dan mereka membawa antusiasme untuk pekerjaan mereka. Rak-rak buku di rumah kami dipenuhi dengan buku teologi dan apologetika.

Sejak usia dini, saya meresapkan keinginan bahwa panggilan hidup tertinggi saya adalah mengajarkan iman Kristen. Saya kira tidak mengherankan jika saya kemudian menjadi seorang sejarawan Gereja, tapi saya tidak mengira menjadi seorang Katolik.

Gereja keluarga saya secara istilah adalah Presbiterian, tapi perbedaan denominasi tidak begitu penting bagi kami. Saya sering mendengar tentang perbedaan pendapat mengenai Pembaptisan, Perjamuan Tuhan, atau kepemimpinan dalam gereja, semuanya tidak penting selama seseorang percaya akan Injil.

Dengan ini, kami bermaksud bahwa seseorang harus “dilahirkan kembali,” keselamatan hanyalah oleh iman semata, dan Alkitab adalah satu-satunya otoritas dalam iman Kristen.

Gereja kami mendukung pelayanan dalam berbagai macam denominasi Protestan, tapi satu-satunya kelompok yang tentu saja kami tentang adalah Gereja Katolik.

Mitos tentang “pemulihan” Protestan akan Injil begitu kuat dalam gereja kami. Sejak awal saya belajar untuk mengidolakan para reformis Protestan yaitu Martin Luther dan John Calvin, karena mereka diduga telah menyelamatkan Kekristenan dari kegelapan agama Katolik pada abad pertengahan.

Orang Katolik itu adalah mereka yang percaya dalam “perbuatan baik” untuk membawa mereka ke Surga, mereka yang tunduk terhadap tradisi Gereja dari pada Kitab Suci, mereka yang menyembah Maria dan para kudus daripada Allah sendiri.

Obesesi mereka dengan sakramen-sakramen juga menciptakan rintangan besar kepada iman yang sejati dan hubungan pribadi dengan Yesus. Tidak diragukan lagi, orang Katolik bukan orang Kristen sejati.

Gereja kami bercirikan dengan semacam intelektualitas yang penuh keyakinan. Presbiterian cenderung untuk lebih berpikiran teologis, maka yang sering menjadi pembicara dalam konferensi kami adalah para profesor, apologis, ilmuwan, dan filsuf.

Suasana intelektual itulah yang menarik ayah saya kepada gereja itu, dan rak-rak bukunya dipenuhi dengan karya-karya para reformis seperti John Calvin, Johathan Edwards seorang teolog Puritan, serta penulis-penulis yang lebih baru lainnya seperti B. B. Warfield, A. A. Hodge, C. S. Lewis, dan Francis Schaeffer. Sebagai bagian dari budaya akademis ini, kami menerima begitu saja bahwa penyelidikan yang jujur akan membawa siapa saya ke dalam iman Kristen versi kami.

Semua pengaruh ini meninggalkan kesan yang jelas bagi diri saya sebagai seorang anak. Saya mulai melihat Kekristenan sebagai sesuatu yang mirip dengan ilmu fisika Newton. Iman Kristen terdiri dari hukum-hukum tertentu yang sangat masuk akal dan tidak dapat diubah, maka Anda dijamin akan memperoleh kehidupan kekal asalkan Anda membangun hidup Anda dengan prinsip-prinsip tersebut.

Saya juga berpikir bahwa inilah pesan yang jelas sekali dijabarkan dalam buku resmi teologi Kristen, yaitu Alkitab. Hanya orang yang tidak memiliki akal sehat yang percaya akan tradisi manusia atau orang yang bersikap masa bodoh yang akan merusak moral. Sikap-sikap yang bisa menggambarkan kegagalan seseorang untuk memahami kebenaran yang sederhana ini.

Namun dalam suasana yang sangat religius dan teologis ini, ada satu ironi yang aneh. Kami menekankan bahwa imanlah yang menyelamatkan, bukan perbuatan. Kami juga mengakui kepercayaan Protestan klasik yang mempercayai bahwa semua orang itu “benar-benar rusak,” yang berarti bahwa upaya moral terbaik yang dilakukan pada hakekatnya adalah kebencian kepada Allah dan tidak bisa mendapatkan apa-apa.

Pada saat saya berada di SMA, saya mengumpulkan kepingan-kepingan ini dan menyimpulkan bahwa praktik hidup beragama dan perjuangan moral itu kurang lebih tidak relevan dengan kehidupan saya.

Saya sudah menerima Kristus sebagai Juruselamat dan sudah “dilahirkan kembali.” Saya percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah. Saya juga percaya bahwa perbuatan menurut agama atau perbuatan menurut moral itu tidak memiliki nilai. Jadi saya berhenti menjalankan agama dan moral.

Untungnya, ketidakpedulian saya hanya bertahan beberapa tahun saja, dan di perguruan tinggi saya mengalami suatu perubahan keyakinan kepada iman yang begitu tulus.

Saya menemukan bahwa kebutuhan saya akan Allah begitu dalam dari pada sekadar “asuransi kebakaran.” Saya juga bertemu dengan seorang gadis cantik yang kemudian, bersama dengan dia, kami memulai pelayanan di gereja Protestan. Jill secara formalitas tumbuh sebagai seorang Katolik, namun gagal mempertahankan imannya setelah menerima Sakramen Peneguhan.

Bersama-sama, kami bertumbuh lebih dalam lagi di iman Protestan kami, dan setelah beberapa bulan, kami berdua merasa kecewa dengan suasana duniawi di New Orleans University. Kami menyimpulkan bahwa Midwestern and Evangelical Wheaton College bisa menyediakan lingkungan yang lebih spiritual, dan kita berdua dipindahkan di tengah tahun kedua kami belajar (Januari 1991).

Wheaton College adalah mercusuar bagi orang Kristen Injili yang tulus hati dari berbagai latar belakang. Orang-orang Protestan dari berbagai denominasi ada di sana, mereka dipersatukan dalam komitmen mereka kepada Kristus dan Alkitab.

Masa kecil saya telah mengajarkan bahwa teologi, apologetika, dan penginjilan adalah panggilan hidup tertinggi sebagai seorang Kristen, dan saya menemukan semuanya itu begitu melimpah di Wheaton. Di sanalah saya pertama kali berpikir untuk membaktikan diri saya untuk belajar teologi. Di Wheaton juga, saya dan Jill bertunangan.

Setelah lulus, saya dan Jill menikah dan akhirnya menemukan jalan kami ke Trinity Evangelical Divinity School di Chicago. Tujuan saya di sana adalah untuk mendapatkan pendidikan seminari, dan juga untuk menyelesaikan gelar Ph.D saya. Saya ingin menjadi salah seorang profesor teologi yang sangat dikagumi di gereja sewaktu saya masih muda.

Saya menenggelamkan diri sepenuhnya ke seminari. Saya sangat menyukai mata kuliah teologi, Kitab Suci, dan sejarah Gereja, dan saya bertumbuh dalam iman, kepercayaan diri, dan rasa akan misi yang melingkupi sekolah saya itu. Saya juga menyerap lingkungannya yang anti-Katolik.

Saya berada di sana pada tahun 1994 ketika dokumen “Evangelicals and Catholics Together[1]” dipublikasikan untuk pertama kalinya, dan hampir semua fakultas sepakat untuk menentangnya. Mereka melihat adanya kompromi dengan orang Katolik yang berarti pengkhianatan terhadap Reformasi. Orang Katolik itu sama sekali bukan saudara di dalam Tuhan. Mereka adalah orang-orang murtad.

Saya menerima sikap anti-Katolik dari profesor seminari saya, jadi ketika tiba saatnya saya untuk melanjutkan studi, saya memutuskan untuk fokus pada studi sejarah Reformasi.

Saya pikir tidak ada persiapan yang lebih baik untuk menyerang Gereja Katolik dan memenangkan jiwa-jiwa selain dari memahami sepenuhnya pemikiran pemimpin besar iman kita, yaitu Martin Luther dan John Calvin.

Saya juga ingin memahami sejarah Kekristenan secara menyeluruh, sehingga saya bisa menempatkan Reformasi dalam konteks itu. Saya ingin menunjukkan bahwa gereja pada abad pertengahan telah meninggalkan iman yang sejati dan bagaimana para Reformis memulihkannya.

Untuk tujuan ini, saya memulai studi Ph.D. dalam bidang teologi historis di University of Iowa. Saya tidak pernah membayangkan bahwa sejarah Gereja Reformasi akan membawa saya kepada Gereja Katolik.

Sebelum saya memulai studi di Iowa, saya dan Jill menyaksikan kelahiran anak pertama kali, dia seorang anak laki-laki. Adik laki-lakinya lahir dalam waktu kurang dari dua tahun kemudian, dan adik perempuannya lahir sebelum kita meninggalkan Iowa (sekarang kami memiliki lima orang anak – artikel ini ditulis tahun 2012).

Istri saya sangat sibuk dalam merawat anak-anak kami ini, sementara itu saya berkomitmen hampir sepenuhnya untuk studi saya.

Saya sekarang menyadari bahwa waktu itu saya terlalu banyak menghabiskan waktu di perpustakaan, dan sedikit waktu dengan istri, kedua putra saya yang masih bayi, dan putri saya. Saya pikir bahwa saya telah membenarkan sikap pengabaian terhadap mereka dengan mengandalkan rasa akan misi saya.

Saya memiliki panggilan hidup yang tinggi untuk menjadi saksi iman melalui studi teologi dan melihat dari sudut pandang seorang intelektual terhadap iman Kristen dan tugas saya sebagai seorang Kristen.

Bagi umat Kristen Injili, apa yang seseorang yakini itu lebih penting daripada bagaimana seseorang itu hidup. Pada waktu itu, saya belajar bagaimana mempertahankan dan mempromosikan kepercayaan itu. Mana yang lebih penting?

Saya memulai studi Ph.D. saya pada bulan September 1995. Saya mengambil kuliah sejarah awal mula Kekristenan, abad pertengahan dan Reformasi Gereja. Saya membaca tulisan para Bapa Gereja, para teolog Skolastik, dan Pencetus Reformasi Protestan.

Pada setiap tahap itu, saya berusaha untuk menghubungkan para teolog yang ada kemudian dengan para teolog sebelum mereka, dan juga menghubungkan semua teolog itu dengan Kitab Suci.

Saya bertujuan untuk membenarkan Reformasi, dan ini berarti intinya untuk menyelidiki doktrin “dibenarkan hanya oleh karena iman / sola fide.” Bagi umat Protestan, hal ini menjadi salah satu doktrin yang terpenting yang “dipulihkan” oleh Reformasi.

Para Reformis bersikeras bahwa mereka mengikuti Gereja kuno dalam ajaran “hanya iman,” dan mereka membuktikan dengan menunjuk tulisan Bapa Gereja Agustinus dari Hippo (354-430).

Para profesor seminari saya juga menunjuk Agustinus sebagai mata air asli teologi Protestan. Alasannya karena Agustinus menaruh minat yang dalam terhadap doktrin dosa asal, rahmat, dan dasar kebenaran.

Beliau merupakan Bapa Gereja pertama yang berusaha menjelaskan secara sistematik pembahasan-pembahasan bertema Pauline[2]. Beliau juga menarik suatu perbedaan yang jelas antara “perbuatan” dan “iman” (lihat dalam “On the Spirit and the Letter” / Tentang Roh dan Surat, 412 M).

Ironisnya, penyelidikan terhadap doktrin ini dan tentang St. Agustinus yang memulai perjalanan saya menuju Gereja Katolik.

Kesulitan pertama yang muncul ketika saya mulai memahami apa yang sebenarnya Agustinus ajarkan tentang keselamatan. Singkatnya, Agustinus menolak pemahaman “hanya iman.”

Memang benar beliau sangat menghargai iman dan rahmat, namun beliau melihat bahwa keduanya itu terutama sebagai sumber dari perbuatan kita. Agustinus mengajarkan bahwa kita secara harafiah “layak” untuk hidup kekal ketika hidup kita diubah oleh kasih karunia. Hal ini sangat berbeda dengan sudut pandang Protestan.

Implikasi dari penemuan saya sangat mendalam. Sewaktu kuliah dan di seminari, saya cukup tahu pemahaman bahwa Agustinus itu mengajarkan tidak lebih dari doktrin Katolik Roma tentang dasar kebenaran. Kemudian saya memutuskan untuk pindah ke Bapa Gereja sebelumnya untuk mencari “iman yang murni” pada zaman Kekristenan kuno. Sayangnya, para Bapa Gereja sebelumnya tidak seberapa membantu seperti Agustinus.

Agustinus berasal dari Afrika Utara yang berbahasa Latin. Para Bapa Gereja lainnya berasal dari Asia Kecil, Palestina, Suriah, Roma, Gaul, Galia, dan Mesir. Mereka mewakili berbagai macam budaya, berbicara bahasa yang berbeda, dan berkaitan dengan Rasul yang berbeda pula.

Saya berpikir mungkin saja beberapa dari mereka telah salah memahami Injil, tetapi sepertinya tidak mungkin mereka semua keliru. Iman yang benar harus dinyatakan di suatu tempat di dunia zaman kuno.

Satu-satunya masalahnya adalah saya tidak bisa menemukannya. Ke mana pun saya mencarinya, di belahan benua mana pun, pada abad berapa pun, Para Bapa Gereja sepakat: keselamatan itu ada melalui perubahan kehidupan moral dan bukan hanya dengan iman.

Mereka juga mengajarkan bahwa perubahan itu dimulai dan dipelihara dalam sakramen, dan bukan melalui pengalaman pertobatan individu.

Pada tahap perjalanan iman saya ini, saya masih ingin tetap menjadi seorang Protestan. Seluruh hidup, perkawinan, keluarga, dan karir saya terikat dalam Protestanisme.

Pencarian saya dalam sejarah Gereja adalah ancaman besar bagi identitas saya itu, jadi saya pindah jurusan ke studi Alkitab untuk mencari kenyamanan dan bantuan peneguhan.

Saya berpikir bahwa jika saya sangat yakin akan sikap protes para Reformis terhadap Kitab Suci, maka pada dasarnya saya dapat mengabaikan sejarah Kekristenan selama seribu lima ratus tahun.

Saya menghindari berbagai hal berbau Katolik yang bisa melemahkan iman saya, seperti bidang ilmu ataupun buku-bukunya.

Yang saya lakukan adalah fokus tentang tujuan, sejarah, dan karya-karya Protestan dalam studi Alkitab saya. Pada saat itu saya sedang mencari bukti yang kuat bahwa para Reformis itu benar dalam pemahaman mereka akan Paulus. Apa yang saya tidak tahu adalah pengajaran terbaik Protestan pada abad ke-20 telah menolak ajaran Luther tentang membaca Alkitab.

Luther telah mendasarkan seluruh penolakannya terhadap Gereja berdasarkan perkataan Paulus, “Bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat” (Roma 3:28).

Luther berasumsi bahwa perbedaan antara “iman” dan “perbuatan” berarti tidak adanya peran moralitas dalam proses keselamatan (berdasarkan pandangan Protestan tradisional, perilaku moral adalah tanggapan terhadap keselamatan, tapi bukan faktor yang berkontribusi terhadap keselamatan).

Saya telah mempelajari bahwa para Bapa Gereja mula-mula sudah menolak pandangan seperti itu. Sekarang saya menemukan seluruh jajaran pemikir Protestan juga bersedia untuk memberikan kesaksian bahwa bukan ajaran seperti itu yang dimaksudkan oleh Paulus.

Para Bapa Gereja pada abad ke-2 percaya bahwa Paulus telah menolak perlunya hanya hukum Taurat untuk keselamatan (“melakukan hukum Taurat” = Hukum Musa). Mereka melihat iman sebagai pintu masuk menuju kehidupan Gereja, sakramen, dan Roh.

Iman membenarkan kita sebagai sarana rahmat, tapi iman itu bukan pijakan yang cukup untuk keselamatan.

Apa yang saya lihat dari para pemikir Protestan ternama dan terbaru, mereka memiliki cara pandang yang sama akan hal ini. Dari sepertiga pemikir Protestan abad ke-20 seperti E. P. Sanders, Krister Stendhal, James Dunn, dan N. T. Wright, mereka berpendapat bahwa Protestanisme tradisional telah salah membaca maksud Paulus.

Berdasarkan Stendhal dan para pemikir lainnya, dibenarkan oleh iman terutama karena hubungan antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi, bukan tentang peran moralitas sebagai syarat kehidupan kekal. Bersama-sama, karya para pemikir itu disebut sebagai “Perspektif Baru tentang Paulus.”

Penemuan saya tentang “Perspektif Baru” ini merupakan titik awal pemahaman saya tentang Kitab Suci. Pertama kali, saya melihat bahwa “Perspektif Baru” adalah “Perspektif Lama” dari para Bapa Gereja mula-mula.

Saya mulai mengujinya terhadap penafsiran saya sendiri tentang tulisan Paulus dan saya menemukan bahwa hal itu masuk akal. Hal itu juga yang mengatasi pergumulan yang sudah lama saya rasakan antara Paulus dengan seluruh isi Alkitab.

Bahkan Luther sendiri mengalami kesulitan dalam menyambungkan penafsirannya terhadap Paulus dengan Khotbah di Bukit, Surat St. Yakobus, dan Perjanjian Lama. Setelah saya mencobanya dengan “Perspektif Baru,” pergumulan ini sirna. Dengan berat hati, saya harus mengakui bahwa para Reformis itu salah tentang dasar kebenaran.

Penemuan-penemuan dalam karya akademis saya ini sejalan dengan penemuan-penemuan dalam kehidupan pribadi saya.

Teologi Protestan sangat membedakan antara kepercayaan dan perilaku, dan saya mulai melihat bagimana hal ini mempengaruhi saya.

Sejak saya masih kecil, saya selalu menentukan bahwa teologi, apologetika, dan penginjilan adalah panggilan tertinggi dalam kehidupan seorang Kristen, sementara itu kebajikan hanyalah buah dari iman yang benar.

Sayangnya, saya merasa bahwa dalam hidup saya kurang berbuah, namun sebenarnya teologi saya berkontribusi terhadap sifat-sifat buruk saya.

Teologi itu telah membuat saya mencari-cari kesalahan, sombong, dan suka melakukan perdebatan. Saya juga menyadari bahwa karena teologi pula saya telah melakukan hal yang sama terhadap para pahlawan saya (para Reformis Protestan–red.).

Semakin saya mempelajari para Reformis Protestan, semakin saya tidak menyukai mereka secara pribadi.

Sangat berbeda dengan apa yang saya pelajari tentang para teolog Katolik. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang kudus, yang berarti mereka telah menghidupi kehidupan amal kasih yang heroik dan penyangkalan diri.

Bahkan yang ternama dari orang-orang kudus itu, seperti Agustinus dan Thomas Aquinas juga mengakui bahwa mereka tidak memiliki otoritas pribadi untuk menentukan dogma Gereja.

Dilihat dari luar, saya masih anti-Katolik. Saya melanjutkan untuk terus menyerang Gereja dan membela Reformasi, namun di dalam hati saya ada pergumulan psikologis dan spiritual. Saya menemukan bahwa teologi saya dan karya hidup saya didasarkan pada sebuah kebohongan, dan saya merasa bahwa kehidupan etis, moral, dan spiritual saya sangat kurang.

Saya dengan cepat kehilangan motivasi untuk menyangkal agama Katolik, dan sebaliknya saya hanya ingin mempelajari kebenaran. Para Reformis Protestan telah membenarkan pemberontakan mereka dengan seruan “hanya Kitab Suci.”

Studi saya mengenai doktrin pembenaran telah menunjukkan kepada saya sendiri bahwa Kitab Suci bukanlah penduan yang jelas sebagaimana yang ditunjukkan para Reformis.

Bagaimana jika semua sikap protes mereka akan Kitab Suci itu salah kaprah? Pada akhirnya, mengapa saya memperlakukan Kitab Suci sebagai otoritas yang menentukan?

Ketika saya mempertanyakan hal ini kepada diri saya sendiri, saya menyadari bahwa saya tidak punya jawaban yang memadai.

Alasan sebenarnya yang saya minta terhadap ajaran “hanya Kitab Suci” bahwa inilah yang telah diajarkan kepada saya.

Ketika saya memperlajari masalah ini, saya menemukan bahwa tidak seorang Protestan pun yang memberikan jawaban yang memuaskan terhadap pertanyaan ini.

Para Reformis tidak benar-benar membela doktrin “hanya Kitab Suci.” Mereka hanya menegaskannya.

Lebih parah lagi, saya mempelajari bahwa para teolog Protestan modern yang berusaha mempertahankan “hanya Kitab Suci” dengan menentang tradisi Gereja. Inilah yang menurut saya tidak masuk akal.

Akhirnya, saya menyadari bahwa “hanya Kitab Suci” tidak ada dalam Kitab Suci.

Doktrin itu justru menyangkal dirinya sendiri. Saya juga melihat bahwa umat Kristen perdana tidak mengenal banyak tentang “hanya Kitab Suci,” dibandingkan apa yang mereka tahu tentang “hanya iman.”

Tentang masalah “bagaimana kita diselamatkan” dan “bagaimana kita merumuskan iman,” umat Kristen perdana menemukan pusatnya dalam Gereja. Gereja itu sendiri adalah keduanya, sebagai otoritas dalam doktrin Kristen dan juga sarana keselamatan.

Gereja menjadi isu yang membuat saya ingin terus kembali mendalaminya. Kaum Injili cenderung melihat Gereja hanya sebagai persekutuan orang-orang yang percaya dan satu pemikiran.

Bahkan para Reformis, Luther dan Calvin memiliki pandangan yang lebih kuat tentang Gereja daripada yang kaum Injili definisikan, tapi umat Kristen kuno memiliki doktrin paling luhur tentang Gereja dari semuanya itu.

Saya pernah melihat penekanan mereka tentang Gereja yang tidak Alkitabiah, bertentangan dengan “hanya iman,” namun saya mulai menyadari bahwa tradisi Injili saya yang tidak alkitabiah.

Kitab Suci mengajarkan bahwa Gereja adalah Tubuh Kristus (Efesus 4:12). Kaum Injili cenderung menganggap hal ini sebagai kiasan belaka, namun umat Kristen kuno mengganggapnya secara literal, meskipun secara mistik itu benar.

St. Gregorius dari Nyssa berkata, “Seseorang yang melihat Gereja maka dia benar-benar melihat Kristus.” Ketika saya memikirkan hal ini, saya menyadari bahwa apa yang diucapkan itu mengarah kepada kebenaran yang mendalam tentang makna keselamatan.

St. Paulus mengajarkan bahwa mereka yang dibaptis itu telah dipersatukan dengan Kristus dalam kematian-Nya, sehingga mereka juga dipersatukan dengan Dia dalam kebangkitan (Roma 6:3-6).

Persatuan ini secara literal menjadikan orang Kristen sebagai bagian dalam kodrat Ilahi (2 Petrus 1:4). Bahkan St. Athanasius berkata, “Karena Dia telah menjadi manusia, maka kita dimungkinkan menjadi Allah” (De incarnatione, 54.3).

Sekarang, doktrin kuno tentang Gereja itu menjadi masuk akal bagi saya karena saya melihat bahwa keselamatan itu sendiri tidak lain adalah persatuan dengan Kristus dan terus menerus bertumbuh dalam kodrat-Nya.

Gereja bukan sekedar persekutuan dari orang-orang yang sepikiran. Tetapi suatu realitas adikodrati karena Gereja itu mengambil bagian dalam kehidupan dan pelayanan Kristus.

Pernyataan ini juga masuk akal dengan doktrin sakramental Gereja. Ketika Gereja membaptis, mengampuni dosa, ataupun yang utama yaitu mempersembahkan Kurban Kudus Misa, maka sungguh Kristus yang membaptis, mengampuni dosa, dan mempersembahkan Tubuh dan Darah-Nya sendiri. Sakramen itu tidak mengurangi Kristus itu sendiri. Sakramen itu menghadirkan Dia.

Kitab Suci cukup jelas mengenai sakramen. Jika Anda memahaminya sebagaimana yang tertulis, Anda harus menyimpulkan bahwa Pembaptisan adalah “permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus (Titus 3:5).

Yesus dengan sungguh-sungguh ketika Dia berkata, “Sebab daging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman (Yohanes 6:55). Dan tentu saja Yesus tidak berbohong ketika Dia berjanji, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni” (Yohanes 20:23).

Inilah yang sebenarnya yang dimengerti oleh umat Kristen kuno mengenai sakramen. Saya tidak bisa lagi menuduh umat Kristen kuno itu tidak alkitabiah. Atas dasar apa saya menolak pemahaman-pemahaman itu semua?

Doktrin orang Kristen kuno mengenai Gereja tentang penghormatan para kudus dan para martir juga masuk akal. Saya mempelajari bahwa doktrin Katolik tentang para kudus hanyalah pengembangan dari doktrin alkitabiah tentang Tubuh Kristus.

Umat Katolik tidak menyembah para kudus. Mereka menghormati Kristus dalam anggota-anggota-Nya. Dengan memohon perantaraan mereka, umat Katolik hanya menyatakan bahwa Kristus itu hadir dan bekerja dalam Gereja-Nya di Surga.

Umat Protestan seringkali keberatan bahwa penghormatan para kudus yang dilakukan oleh umat Katolik itu mengurangi pelayanan Kristus. Saya sekarang mengerti bahwa yang kebalikannya itu justru yang sebenarnya.

Orang Protestanlah yang membatasi jangkauan karya keselamatan Kristus dengan menolak implikasinya terhadap doktrin mengenai Gereja.

Studi saya menunjukkan bahwa teologi ini bertumbuh dalam devosi yang dilakukan Gereja kuno. Ketika saya melanjutkan penelitian yang saya lakukan tentang Agustinus, saya mempelajari bahwa “Pahlawan Protestan” ini benar-benar menganut ajaran penghormatan para kudus.

Seorang ahli tentang Agustinus yaitu Peter Brown (lahir 1935) juga mengajari saya bahwa ajaran tentang para kudus itu tidak secara kebetulan ada dalam Kekristenan kuno. Dia berpendapat bahwa Anda tidak dapat memisahkan Kekristenan kuno dengan devosi kepada para kudus, dan dia menempatkan Agustinus secara adil (tidak berat sebelah dan sesuai dengan kenyataan) dalam tradisi ini.

Brown menunjukkan bahwa ini bukan sekedar ajaran impor dari agama pagan kepada Kekristenan, namun lebih berkaitan erat dengan gagasan Kristen tentang keselamatan (lihat dalam Cult of Saints: Its Rise and Function in Latin Christianity tahun 1981).

Begitu saya memahami posisi ajaran Katolik tentang keselamatan, Gereja, dan para kudus maka dogma tentang Maria dengan sendirinya menjadi masuk akal.

Jika pusat iman Kristen itu adalah persatuan Allah dengan kemanusiaan kita, sang Bunda yang bersifat manusia memiliki peran yang penting dan unik dalam segala sejarah. Inilah sebabnya para Bapa Gereja selalu merayakan Maria sebagai Hawa yang kedua.

Jawaban “Ya” kepada Allah ketika pemberitaan kabar sukacita Inkarnasi membalikan kondisi Ketidakadaan Hawa di taman Eden.

Jika pantas untuk menghormati para kudus dan martir Gereja, seberapa lebih pantas pula untuk memuliakan dan menghormati kepada sang Bunda yang oleh karena dia penebusan kita bisa terjadi?

Pada saat saya menyelesaikan studi Ph.D. saya, saya sudah sepenuhnya meninjau ulang pemahaman saya terhadap Gereja Katolik.

Saya melihat bahwa doktrin sakramental Gereja, pandangan Gereja tentang keselamatan, penghormatan Gereja kepada Maria dan para kudus, pengakuan Gereja tentang otoritas, semua hal itu berdasarkan kepada Kitab Suci, dalam tradisi yang paling tua, dan dalam ajaran yang sederhana tentang Kristus dan Para Rasul.

Saya juga menyadari bahwa Protestanisme merupakan sekumpulan ketidak-konsistenan dan pemelintiran logika.

Bukan hanya bahwa dokrin Protestan itu tidak benar, namun juga menimbulkan pertentangan, dan ajarannya selalu berubah-ubah. Semakin saya belajar, semakin saya menyadari bahwa warisan ajaran Injili saya sudah menyimpang jauh bukan hanya dari Kekristenan kuno, bahkan dari ajaran para pendiri aliran Protestan sendiri.

Para kaum Injili Amerika modern mengajarkan bahwa kehidupan Kristiani dimulai ketika Anda “mengundang Yesus ke dalam hati Anda.” Pertobatan pribadi (yang mereka sebut “dilahirkan kembali”) dipandang sebagai hal pokok dan permulaan identitas seorang Kristen.

Saya tahu dari apa yang saya baca, bahwa hal seperti ini bukanlah ajaran Gereja perdana. Saya juga mempelajari para Reformis, bahkan hal ini bukan ajaran Protestan mula-mula.

Calvin dan Luther sama-sama dengan jelas menyatakan bahwa Pembaptisan adalah permulaan kehidupan Kristiani. Sambil merasa sia-sia saya melihat karya mereka untuk mencari suatu keharusan untuk “dilahirkan kembali.

”Saya juga mempelajari bahwa mereka tidak menganggap bahwa Ekaristi sebagai hal yang tidak penting, seperti yang telah saya lakukan.

Sementara itu, mereka menolak teologi Katolik tentang sakramen, kedua tokoh itu terus bersikeras bahwa Kristus benar-benar hadir dalam Ekaristi. Bahkan pada tahun 1541, Calvin mengajarkan bahwa pemahaman yang tepat tentang Ekaristi adalah “perlu untuk keselamatan.”

Calvin tidak tahu apapun tentang pemahaman Kekristenan yang dilahirkan kembali secara individualistis, yang mana saya tumbuh dalam pemahaman itu.

Saya menyelesaikan kuliah saya pada bulan Desember 2002. Beberapa tahun terakhir dalam studi saya merupakan saat-saat yang cukup gelap bagi saya.

Terlebih lagi, sepertinya rencana saya berantakan, dan masa depan saya tidak jelas. Kepercayaan diri saya sangat terguncang, dan saya sebenarnya merasa ragu untuk percaya atau tidak.

Agama Katolik mulai tampak yang paling masuk akal dalam menafsrikan iman Kristen, namun kehilangan iman yang saya hidupi sejak kecil membuat saya hancur.

Saya berdoa memohon bimbingan. Dan pada akhirnya, saya percaya bahwa rahmatlah yang telah menyelamatkan saya.

Pada saat itu, saya memiliki seorang istri dengan empat orang anak, dan akhirnya Allah menunjukkan saya bahwa yang saya butuhkan dalam hidup saya bukan hanya sekedar buku saja.

Sejujurnya, saya juga membutuhkan lebih dari sekedar “hanya iman.” Saya membutuhkan pertolongan nyata dalam hidup saya dan berperang melawan dosa-dosa saya. Saya menemukannya dalam sakramen-sakramen Gereja.

Di samping “hanya Kitab Suci,” saya membutuhkan bimbingan yang nyata dari seorang guru yang memiliki otoritas. Saya menemukannya dalam Magisterium Gereja.

Saya menemukan bahwa saya membutuhkan persekutuan para kudus di surga, bukan haya buku-buku mereka di dunia. Singkatnya, saya menemukan bahwa Gereja Katolik dibentuk dengan ideal untuk memenuhi kebutuhan spiritual saya.

Selain kebenaran itu sendiri, saya menemukan Yesus dalam Gereja-Nya, melalui Bunda-Nya dalam persekutuan para kudus-Nya. Saya masuk ke dalam Gereja Katolik pada tanggal 6 November 2003.

Istri saya juga mengalami titik baliknya sendiri untuk mendalami Gereja, dan sekarang keluarga saya adalah keluarga Katolik yang bahagia dan antusias.

Saya berterima kasih kepada orang tua saya karena telah mengarahkan saya kepada Kristus dan Kitab Suci. Saya berterima kasih kepada St. Agustinus karena telah mengarahkan saya kepada Gereja.

Catatan kaki:

[1] Dokumen ekumenis yang ditandatangani oleh para tokoh ternama baik dari Protestan Injili dan Gereja Katolik di Amerika Serikat yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan yang sama dari kedua pihak dalam kesamaan tantangan dunia modern saat itu.

[2] Teologi yang berhubungan dengan kepercayaan dan doktrin yang didukung oleh St. Paulus melalui tulisan-tulisannya.

Sumber: “A Protestant Historian Discovers the Catholic Church”
terangiman.com
@dm1rbs
@fbRaphael Benedict

Kesaksian Scott Hahn

Kesaksian Scott Hahn


Gambar mungkin berisi: 1 orang, duduk

Cahayakristus7.blogspot.com - Jakarta - Prof. Dr. Scott Hahn adalah mantan seorang pendeta denominasi Prebyterian, yang sangat brilian, yang lewat studi Alkitab, percaya bahwa Gereja Katolik sebagai Gereja yang didirikan Yesus Kristus sendiri, tiang dan pondasi kebenaran. Beliau masuk Katolik pada pertengahan 1980-an dan buku-bukunya maupun kesaksiannya merupakan kaset/buku terlaris di Amerika Serikat dan terus menjadi sumber inspirasi bagi mereka yang mengikuti jejak langkahnya ke dalam Gereja Katolik.
Ekaristi merupakan sesuatu yang menempati tempat penting di dalam perjalanan hidup Scott Hahn menjadi seorang Katolik. Hal tersebut tidak terlepas dari keyakinan Scott Hahn saat itu sebagai seorang PROTESTAN. Sebagai seorang Protestan, ia memang diajarkan bahwa Misa Kudus merupakan penghinaan terbesar yang dilakukan oleh umat manusia terhadap iman Kristiani. Misa Kudus merupakan ritual yang dibuat untuk “mengurbankan kembali Yesus Kristus.”
Apa yang dirasakan oleh Scott Hahn saat mengikuti Ekaristi pertama kalinya? Ini ungkapannya:
“Di SURGA SEKARANG”, apa yang saya temukan pada Misa pertama saya
“Di sanalah saya berdiri sembunyi-sembunyi menyelinap masuk ke bagian belakang sebuah Kapel Katolik di kota Milwaukee untuk menyaksikan Misa Kudus saya yang pertama.”
Rasa ingin tahu telah membawa saya ke sana, dan saya masih ragu apakah ini rasa ingin tahu saya yang sehat. Saat itu saya sedang mempelajari tulisan-tulisan umat Kristen perdana, saya menemukan referensi yang tak terhitung banyaknya tentang “Liturgi”, “Ekaristi”, “Kurban”.
Bagi umat Kristen perdana, Kitab Suci (buku yang paling saya cintai di atas segala-galanya) tidak bisa terlepaskan dari acara ritual yang sekarang ini oleh umat Katolik disebut sebagai “Misa Kudus”.
Saya ingin memahami pemikiran umat Kristen perdana, akan tetapi saya tidak punya pengalaman sedikitpun menyangkut liturgi. Jadi saya membujuk diri saya sendiri untuk pergi dan melihat tetapi dengan tetap bersikeras bahwa saya tidak akan berlutut ataupun ikut mengambil bagian dalam penyembahan berhala ini.
Saya mengambil tempat duduk di bagian yang terlindung, di barisan paling belakang dari kapel yang berada di lantai dasar tersebut. Di depan saya ada sekelompok umat Katolik yang lumayan jumlahnya, laki-laki dan perempuan berbagai usia. Siakp mereka waktu berlutut mengesankan saya, seperti juga agaknya konsentrasi mereka sewaktu berdoa.
Kemudian sebuah bel berbunyi dan mereka semua berdiri ketika seorang imam memasuki pintu yang berada di samping altar.
Saya tidak tahu harus berbuat apa, saya memutuskan untuk tetap duduk. Selama bertahun-tahun sebagai penginjil dan pendeta dari aliran Kalvinis, saya diajarkan untuk percaya bahwa Misa Kudus adalah penghinaan terbesar yang dilakukan oleh umat manusia terhadap iman Kristiani. Saya telah diajarkan bahwa Misa Kudus adalah ritual yang dibuat untuk “mengurbankan kembali Yesus Kristus“. Maka dari itu, saya akan tetap menjadi pengamat. Saya akan tetap duduk dengan Alkitab terbuka lebar-lebar di samping saya.
DIPENUHI AYAT-AYAT ALKITAB

Akan tetapi, sewaktu Misa Kudus berlangsung sesuatu membuat saya tersadar. Kitab Suci saya tidak hanya berada di samping saya saja. Kitab Suci berada di hadapan saya – dalam kata-kata di dalam Misa Kudus! Satu ayat dari Kitab Yesaya, satu lagi dari Kitab Mazmur, satu lagi dari Surat Rasul Paulus. Pengalaman ini sungguh luar biasa. Saya ingin menghentikan mereka dan berteriak,
“Hei, bolehkah saya menjelaskan apa yang sedang terjadi di sini dari Kitab Suci ini? Wow, ini benar-benar hebat!”
Tetapi saya tetap menjaga status saya sebagai pengamat.
Saya tetap berada di luar lapangan sampai saya mendengar imam mengucapkan kalimat konsekrasi:
“Inilah Tubuh-Ku… Inilah Piala Darah-Ku”.
Lalu segala keraguan saya hilang seketika. Pada saat saya melihat imam mengangkat hosti yang berwarna putih tersebut, saya merasakan suatu doa meluap dari dalam hati saya dalam sebuah bisikan:
“Ya Tuhanku dan Allahku. Sungguh-sungguh Engkaulah itu!”
Mungkin Anda bisa menyebut keadaan saya pada saat itu seperti orang tuna-daksa, terkesima tak mampu berbuat apa-apa. Tidak dapat saya bayangkan sukacita yang lebih besar daripada apa yang telah diperbuat oleh kata-kata tersebut terhadap saya. Dan pengalaman itu semakin memukau sesaat kemudian, ketika saya mendegar seluruh umat mengucapkan:
“Anak Domba Allah … Anak Domba Allah … Anak Domba Allah.”
Dan sang imam menjawab:
“Inilah Anak Domba Allah …”
sambil mengangkat hosti itu!
Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, kalimat “Anak Domba Allah” telah bergema empat kali. Selama bertahun-tahun mempelajari Kitab Suci, dengan serta merta saya tahu di mana saya berada saat ini. Saya sedang berada dalam Kitab Wahyu, di mana Yesus dipanggil dengan sebutan ANAK DOMBA tidak kurang dari 28 kali sepanjang 22 bab dalam KITAB WAHYU. Saya sedang berada di Perjamuan Nikah yang dijelaskan oleh Rasul Yohanes pada bagian terakhir dari Alkitab. Saya sedang berada di hadapan Takhta Surga, di mana Yesus dipuji-puju untuk selama-lamanya sebagai Anak Domba. Saya sungguh tidak siap untuk menerima kenyataan ini –
Saya sedang berada dalam Misa Kudus!
ASAP SUCI

Saya kembali menghadiri Misa Kudus pada hari berikutnya dan pada hari berikutnya dan pada hari berikutnya. Setiap kali saya kembali, saya “menemukan” lebih banyak lagi Kitab Suci terpenuhi di depan mata kepala saya. Akan tetapi tidak ada kitab lain yang lebih nyata bagi saya, selain Kitab Wahyu, yang menggambarkan para malaikat dan orang kudus menyembah di Surga.
Seperti di dalam Kitab Wahyu, demikian pula di dalam kapel itu, saya melihat imam yang berjubah, sebuah altar, melihat kepulan asap dupa, saya mendengar seruan para malaikat dan orang kudus. Saya sendiri ikut menyanyikan Alleluya, karena saya telah ditarik lebih dalam lagi daripada sebelumnya ke dalam ibadat ini.
Saya tetap duduk di bangku bagian belakang dengan Kitab Suci, dan saya nyaris tidak tahu harus memperhatikan yang mana – kepada peristiwa0peristiwa dalam Kitab Wahyu atau kepada peristiwa yang terjadi di altar. Makin lama, keduanya makin tampak menyerupai satu dengan yang lain.
Saya membenamkan diri dengan semangat baru yang meluap-luap untuk mempelajari Kekristenan pada awalnya, dan saya menemukan bahwa uskup-uskup yang paling pertama, yaitu para Bapa Gereja, telah mendapatkan “penemuan” yang sama seperti yang saya alami setiap pagi (sewaktu menghadiri Misa Kudus). Mereka berpendapat bahwa Kitab Wahyu adalah Kunci bagi Liturgi dan bahwa Liturgi adalah Kunci bagi Kitab Wahyu. Sesuatu yang sangat luar biasa sedang terjadi pada diri saya sebagi seorang teolog dan orang Kristen. Kitab dalam Kitab Suci yang bagi saya paling sulit dimengerti – yaitu Kitab Wahyu – saat ini justru menerangi gagasan-gagasan yang paling fundamental dari iman Kristen: gagasan tentang Perjanjian sebagai ikatan kudus keluarga Allah. Lebih jauh lagi, peristiwa yang sebelumnya saya anggap penghinaan terbesar terhadap Allah, yaitu Misa Kudus, sekarang justru menjadi ritual yang mengokokohkan Perjanjian dengan Allah. “Inilah Piala Darah-Ku, Darah Perjanjian yang Baru dan Kekal”.
Saya sungguh kewalahan dengan segala hal yang baru ini. Selama bertahun-tahun saya telah mencoba untuk memahami Kitab Wahyu sebagai semacam pesan rahasia yang tersembunyi tentang hari kiamat, tentang penyembahan di surga yang nun jauh, tentang sesuatu yang tidak dapat dialami oleh umat Kristen selama mereka masih berada di dunia ini. Sekarang setelah dua minggu menghadiri Misa harian, rasanya saya ingin bangkit berdiri selama liturgi itu berlangsung dan berseru,
“Hai saudara-saudari, kalau boleh, saya ingin memberitahukan di mana Anda berada sekarang ini dalam Kitab Wahyu!! Lihat pasal empat ayat delapan. Anda sekarang sedang berada di Surga!!”
SALAM KASIH, BERKAH DALEM
Sumber dari The Lamb’s Supper, karangan Scott Hahn 
Saksi Yehuwa Menjadi Seorang Katolik

Saksi Yehuwa Menjadi Seorang Katolik



Gambar mungkin berisi: 1 orang


Cahayakristus7.blogspot.com - Jakarta - Saya terlahir di New Orleans, Louisiana pada tahun 1967. Keluarga ayah saya adalah Katolik dan keluarga ibu saya adalah Lutheran (Lutheran Church Missouri Synod – LCMS). Ibu saya adalah pemimpin spiritual di keluarga kami. Saya bisa mengingat saya menghadiri sekolah minggu di gereja Lutheran dan saya juga ingat saya menghadiri kindergarten di gereja Lutheran di New Orleans. Ibu saya adalah seorang Lutheran yang sungguh aktif. Ia mengajar sekolah Minggu kepada anak-anak kecil dan adalah “room mother” bagi kelas kindergarten saya. Saya dapat mengingat saya diajarkan untuk mencintai Kristus dan Kitab Suci. Saya tahu bahwa saya telah dibaptis ketika saya masih bayi dan bahwa Yesus mencintai saya. Saya ingat gereja menjadi tempat yang menyenangkan untuk dihadiri dan saya secara khusus menikmati waktu dengan ibu saya dan anggota keluarga lainnya dari pihak ibu saya di gereja. Hal ini semua berubah ketika nenek saya dari pihak ibu meninggal. Saya berusia sekitar 5 tahun pada waktu itu.

Dalam satu tahun setelah kematian nenek saya, ibu saya telah berhenti mengikuti gereja Lutheran dan mulai mengikuti Balai Kerajaan Saksi-saksi Yehowa. Selama masa ini, ayah saya ingin membawa kami anak-anaknya ke Misa Katolik pada waktu tertentu di mana kami anak-anaknya semua akan segera tertidur pulas. Saya tidak tahu bahwa ibu saya tidak lagi mengikuti gereja Lutheran sehingga saya memohon kepadanya untuk kembali ke gereja Lutheran itu. Bagaimanapun juga, dengan segera seluruh keluarga saya mulai mengikuti Balai Kerajaan Saksi-saksi Yehowa dan dalam sekitar 3 tahun, ayah saya, orang tua ayah saya dan salah seorang saudari ayah saya (semuanya Katolik) meninggalkan iman Katolik dan menjadi Saksi Yehuwa.

Jadi, dari masa saya berusia 5 tahun sampai 29 tahun, saya adalah seorang Saksi Yehuwa. Sebagai seorang Saksi Yehowa, saya menghadiri lima kali pertemuan selama seminggu. Tidak ada layanan peribadatan. Semua pertemuan ini adalah kelas yang didesain untuk mengajarkan bagaimana membawa orang-orang beragama lain pindah menjadi Saksi Yehowa. Saya sungguh mengerjakan hal itu dengan baik. Saya mulai pergi dari pintu ke pintu mendistribusikan literatur Watchtower ketika saya masih berusia 6 tahun. Saya memberikan khotbah pertama saya di depan jemaat pada usia 8 tahun. 

Pada saat saya berusia 19 tahun, saya memberikan presentasi di konvensi Para Saksi Yehuwa yang dihadiri oleh ribuan Saksi Yehuwa. Setelah sekolah tinggi, saya menjadi pelayan pioneer Saksi Yehuwa, yang berarti saya menghabiskan 1000jam/tahun pergi berkarya dari pintu ke pintu. Dengan segera, saya diundang untuk melayani di Kantor Pusat dari Saksi Yehuwa Se-dunia di Brooklyn, New York, yang mana menjadi tempat saya bertemu dengan wanita yang kelak akan menjadi istri saya, Kathy. Saya menghabiskan waktu setahun di sana.

Kathy dan saya pindah ke Lousiana setelah meninggalkan kantor pusat dan kami menikah pada Agustus 1988. Saya mulai mengikuti kuliah dan mendapat sebuah gelar sarjana di ilmu kimia dari Universitas Lousiana Tenggara pada tahun 1993. Kathy dan saya kemudian pindah ke Arkansas pada tahun 1994 sehingga saya dapat mengikuti sekolah pasca-sarjana di Universitas Arkansas. Saya membaktikan seluruh waktu saya untuk studi-studi pasca-sarjana di bidang biokimia dan meninggalkan Allah di belakang. Kami hidup selama beberapa tahun dalam masa yang Kathy gambarkan sebagai “limbo rohani” di mana saya bahkan mempertanyakan cinta kasih Allah kepada saya. Seperti orang-orang Israel, saya memiliki sebuah memori singkat mengenai semua berkat Allah yang diberikan kepada saya, salah seorang putra-Nya, yang tidak mengenal-Nya dengan baik.

Namun, Allah mengizinkan saya untuk terlibat diskusi dengan banyak orang Kristen, kebanyakan orang-orang Protestan, di internet selama masa ini dan diskusi-diskusi mereka dengan saya sungguh sangat membantu. Pada beberapa poin, Kathy dan saya berdua mengekpresikan keyakinan kami kepada Allah dan keinginan kami untuk menyembah bersama dengan umat beriman lain. Sekitar masa ini, saya mulai melakukan riset di area doktrinal yang besar di mana Saksi Yehowa dan orang-orang Kristen umumnya tidak saling setuju dan menyadari bahwa gereja-gereja Kristen jalur utama menggambarkan ajaran-ajaran iman Kristiani historis lebih baik daripada Saksi-saksi Yehuwa.

Kathy dan saya ingin menemukan sebuah gereja untuk saya ikuti dan saya telah berbicara dengan sanak saudara Lutheran saya sehingga saya memutuskan bahwa kami sebaiknya menjadi anggota gereja Lutheran. Dengan segera, kami mengikuti sebuah gereja Lutheran di Arkansas yang menjadi anggota Gereja Lutheran Sinode Missouri. Kami bergabung dengan gereja tersebut sekitar satu tahun sebelum saya menyelesaikan sekolah pasca-sarjana saya. Sekali waktu saya menyelesaikan sekolah pascasarjana saya, saya mulai mengajar di Universitas Concordia di Seward, Nebraska pada bulan Januari 1999. Kampus ini adalah bagia dari Sistem Universitas Concordia yang dimiliki dan dijalankan oleh Gereja Lutheran Sinode Missouri. Setelah tiba di Nebraska, Kathy dan saya berpikir bahwa kami akhirnya “telah berada di rumah”. Bagaimanapun juga, Allah ingin memberikan kami lebih banyak.

Ketika pertama kali kami pindah ke Seward, Nebraska, orang-orang MORMON baru saja memulai membangun sebuah gereja di kota kecil ini. Mereka telah dikunjungi oleh banyak umat Lutheran sehingga gereja Lutheran lokal memutuskan untuk mengajarkan kelas Sekolah Minggu mengenai ajaran-ajaran Mormon [demi menghindari perpindahan umat Lutheran ke Mormon]. Salah satu komentar dari Pastor yang memimpin diskusi adalah bahwa gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus akan selalu ada dan tidak akan pernah dihancurkan. Dia membuat poin ini karena Mormon mengajarkan (sama seperti Saksi Yehowa) bahwa gereja perdana telah jatuh murtad pada suatu titik waktu tertentu dalam sejarahnya dan bahwa Allah memilih Joseph Smith (Saksi Yehowa akan berkata Charles Russell) untuk mengembalikan gereja-Nya yang benar di bumi. Pastor itu mengutip ayat ini:

“Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” – Mat 16:18.

Saya duduk di sebelah Kathy dan saya mengambil selembar kertas dan mengajukan pertanyaan. “Bila ini benar, maka apa yang sedang dilakukan oleh Luther ketika dia memisahkan diri dari Gereja Katolik?” Adalah juga “dengan keras” selama masa ini bahwa saya mulai untuk mencoba membagi iman Kristiani yang baru saya temukan dengan beberapa teman saya yang baru saja meninggalkan Saksi Yehowa. Saya mencoba untuk menunjukkan kepada mereka bahwa beberapa ajaran tertentu seperti Trinitas, immortalitas jiwa, dll adalah ajaran-ajaran iman Kristiani yang benar dan bahwa Saksi Yehowa salah menolak ajaran-ajaran ini. Saya menggunakan Kitab Suci untuk membuktikan ajaran-ajaran itu kepada mereka. Respon mereka, “Bagaimana saya tahu penafsiran kamu adalah benar karena ketika kami dulu Saksi Yehowa, kami akan menafsirkan ayat-ayat itu 180 derajat bertentangan?”

Jadi, saya berkata kepada diri saya sendiri, “Saya bertaruh ada tulisan-tulisan lain dari orang-orang Kristiani yang berada di sekitar masa Para Rasul yang dapat memberikan terang mengenai apa yang Gereja Perdana sungguh percayai.” Jadi, saya mulai membaca TULISAN PARA BAPA GEREJA.  

Pertama, saya membaca beberapa surat yang ditulis sekitar tahun 98 AD oleh seorang Uskup Kristiani bernama Ignatius. Dalam suratnya, dia berbicara mengenai Kehadiran Nyata Kristus dalam Sakramen Ekaristi dan dia mengajarkan Yesus adalah Allah. Bagaimanapun, IGNATIUS juga menggambarkan Gereja Perdana sebagai “Gereja Katolik” dan dia berkata bahwa “gereja yang benar adalah gereja di mana uskup berada”. Sebagai seorang Lutheran kami tidak memiliki uskup [yang valid], saya menemukan pemahaman mengenai Gereja ini menyulitkan. Saya juga membaca sebuah buku ditulis oleh seorang uskup abad ke-3 bernama Eusebius mengenai sejarah Gereja Kristiani. Eusebius menggambarkan gereja perdana sedemikian rupa sehingga saya dapat lihat bahwa gereja perdana terlihat lebih banyak kemiripan dengan Gereja Katolik. Perbedaan utama adalah bahwa Gereja Katolik pada masa ini jauh lebih besar [dari Gereja Perdana].

Saya bahkan membaca sebuah buku sejarah gereja di mana sejarahwan Protestan mengakui bahwa GEREJA menggunakan SUKSESI APOSTOLIK (meskipun dia tidak menyebut demikian, tetapi ia menggambarkan bagaimana suksesi apostolik ini bekerja) untuk melawan ajaran-ajaran sesat pada abad ke-2. Dan, saya menemukan bahwa jika bukan karena Gereja Katolik, saya tidak akan tahu kitab apa saja yang termasuk ke dalam Perjanjian Baru karena mereka (Gereja Katolik) memutuskannya untuk saya di sekitar abad ke-4 setelah Kristus!

Sekarang, kamu mungkin akan berpikir bahwa dengan semua data ini, saya segera akan menjadi Katolik saat itu juga. Tetapi, jawabannya adalah tidak. Pada waktu itu, saya bertemu kembali dengan seorang teman dari sekolah tinggi. Namanya adalah Jim. Sekarang ia adalah Romo Jim dan ia adalah seorang Imam Katolik. Romo Jim sendiri adalah seorang yang berpindah ke dalam Gereja Katolik. Ia dibesarkan sebagai seorang umat Presbiterian. Romo Jim dan saya melakukan diskusi-diskusi mendalam mengenai ajaran agama dan sejarah melalui email dan kami seringkali saling setuju. Romo Jim berkata bahwa saya lebih Katolik daripada beberapa umat parokinya. Tetapi, saya selalu berkata, “Saya belum siap untuk menyeberangi sungai Tiber.” Dan dia berkata, “Apa yang Roh Kudus harus lakukan? Memukul kepalamu dengan sebuah 2 x 4?” Akhirnya Romo Jim menantang saya untuk membaca Katekismus Gereja Katolik dan berkata bila saya menemukan apapun yang salah dengan KGK itu, beritahu kepadanya; dan bila saya tidak menemukan kesalahan berarti saya tahu apa yang harus saya lakukan. Jadi, selama musim panas 2002, saya menyelesaikan membaca KATEKISMUS GEREJA KATOLIK dan beberapa buku lainnya yang ditulis oleh SCOTT HAHN dan setelah waktu ini, Allah akhirnya menemukan 2x4-nya. Saya pulang ke rumah dan memberitahu istri saya bahwa ini adalah saatnya saya menjadi Katolik.

Kathy dan saya setuju untuk mengikuti program RCIA (katekumenat) di Katedral Kristus Bangkit di Lincoln, Nebraska. Program ini mengajarkan saya bagaimana menjadi Katolik dalam sense yang berbeda sejak saya menjadi seorang Katolik dalam sense akademik. Sementara saya mengikuti RCIA, saya diajarkan bagaimana mengikuti MISA KUDUS dan bagaimana cara untuk BERDOA ROSARIO serta IBADAT HARIAN. Selama waktu ini, istri saya, Kathy, juga menyadari bahwa masa itu adalah saatnya ia pulang ke dalam Gereja Katolik. Jadi, pada Malam Paskah tahun 2003, Kathy pulang kembali ke Gereja Katolik dan pada Minggu Pentakosta tahun 2003, saya mendapatkan keistimewaan untuk memasuki Gereja Katolik yang kudus juga.

Editor: Silvester D. Gea

‘Titik Balik Kehidupan”




Dulu aku sudah berada dititik di mana aku tidak percaya lagi dengan Tuhan. Aku sama sekali tidak bisa percaya dengan agama yang saya anut dulu. Dan itu berjalan bertahun-tahun, karna dipicu trauma di dalam keluarga. Tetapi saat di posisi itu, Omku dan tanteku memberikan nasehat. Mereka adalah orang Katolik. Mereka bilang, " berdoalah sekali saja dengan hati yang sungguh-sungguh dan ungkapkanlah kepada Tuhan segala keluh kesahmu, anggaplah Dia adalah ayahmu " Dan disitulah saya berjumpa dengan Tuhan. Dan untuk pertama kali saya merasa damai. Dan dari kejadian itu saya menemukan harapan dalam hidup saya.



Disunting oleh Silvester Detianus Gea


Pihak yang bersharing meminta agar tidak menulis namanya.