Showing posts with label Yesus Kristus. Show all posts
Showing posts with label Yesus Kristus. Show all posts

Menggugat Ajaran Saksi Yehuwa, Siapakah Yesus Kristu?


1. Siapakah Yesus Kristus?


MENJAWAB BUKU SAKSI YEHUWA YANG BERJUDUL

“APA YANG SEBENARNYA ALKITAB AJARKAN” HAL. 37-46.


Yesus Sang Firman




Aliran saksi Yehuwa yang didirikan oleh TZ. Russel dari Amerika telah mengerdilkan tafsir Alkitab dengan berpedoman dan berpatokan pada satu ayat saja. Padahal menafsirkan Alkitab perlu penafsiran yang utuh dan tidak hanya comot ayat perayat. Gereja Katolik tidak menyangkal bahwa Yesus adalah Mesias. Namun Mesias yang diimani bukan hanya sekedar utusan yang sama dengan nabi lainnya atau “suatu allah (bdk. Yoh. 1:3” Versi Alkitab hasil plintiran Saksi Yehuwa yang diberi nama “Terjemahan Dunia Baru”.


Siapakah Yesus? Yesus adalah Firman Allah yang menjadi manusia (Yoh. 1;14). Tentu anda tahu bahwa Allah menciptakan segala sesuatu melalui dan di dalam Firman (Kol. 1:16-17). Sudah pasti bahwa Allah tidak pernah menciptakan sesuatu tanpa Firman. Firman Allah sehakekat dengan Allah dan berada dalam diri Allah, sebab tidak mungkin Firman Allah berada di luar diriNya. Ketika Firman Allah itu menjadi manusia, maka secara pribadi ia berbeda dengan Allah. Namun dalam Esensi dan hakekatnya sebagai Firman Allah yang kekal tetap satu dengan Allah (bdk Kej. 1:26, Yoh. 1:1-3). Maka ketika datang kedunia, Ia tampil sebagai manusia dan Ilahi (bdk. Yoh. 13:13, Yoh. 14:8-9).


Dalam kemanusiaanNya atau pribadiNya sebagai Firman yang menjadi manusia disebut utusan (bdk. Yoh. 17:3). Namun utusan yang dimaksud tidak sama dengan para nabi lainnya. Yesus adalah Wahyu Allah yang sempurna dan Puncak seluruh Wahyu ilahi (Why. 1:18-19). Yesus adalah Allah yang Perkasa, Bapa Yang Kekal, Raja Damai, Penasehat Ajaib (Yes. 9:5-6). Yesus tidak pernah menyampaikan ajaran seperti para nabi dengan berkata “Firman Tuhan datang kepadaku (Yer. 1:4)” melainkan Beliau berkata “sesungguhnya Aku berkata kepadamu (bdk. Yoh. 6:47)”. Jikalau Yesus adalah nabi maka jelas perkataanNya sangat tidak masuk akal. Tidak mungkin seorang nabi mengatakan bahwa Dia yang berkata.






2. Yesus bukan Malaikat Michael


Membantah Ajaran Saksi Yehuwa yang mengatakan Yesus itu Malaikat


Anak Allah lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat


Ibrani
1:5 Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: "Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini ?" dan "Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku? "1:6 Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: "Semua malaikat Allah harus menyembah Dia.


Yesus tidak sama dengan malaikat apalagi disamakan dengan Michael. Michael adalah salah satu penghulu malaikat. Maka Yesus bukan penghulu Malaikat seperti ajaran Saksi-Saksi Yehuwa.

Menjawab Buku Saksi Yehuwa hal. 37-46, Siapakah Yesus Kristus?



1. Yesus tidak diciptakan


Saksi Yehuwa dalam berbagai diskusi, selalu menunjukkan bahwa Amsal 8:22 adalah nubuat tentang penciptaan Yesus. Mereka mengutip Amsal 8:22 untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah ciptaan. Tentunya anda tahu bahwa Kitab Amsal termasuk dalam kelompok kitab-kitab hikmat. Maka anda segera menemukan keanehan dari pandangan saksi Yehuwa. Bagaimana mungkin Kitab hikmat yang berisi wejangan, nasehat dan pepatah bisa mengandung nubuat mengenai Yesus? Kitab Amsal bukanlah Kitab nubuat melainkan Kitab Hikmat. Kitab-Kitab Hikmat mengandung banyak Majas. Tentu saja anda pernah belajar di sekolah bahwa Majas itu ada banyak jenisnya.


Salah satu yang ada dalam Amsal 8 adalah Majas Personifikasi. Tentu juga anda tahu apa arti Majas Personifikasi. Majas Personifikasi adalah majas yang menggambar sesuatu yang bukan manusia bertindak layaknya manusia. Dan anda pasti tahu dia bukan manusia benaran karena itu kiasan. Amsal 8:1-36 berjudul “WEJANGAN HIKMAT” dan tidak ada satupun menyebutkan mengenai kisah penciptaan Yesus. Jika judulnya wejangan hikmat maka ayat 1-36 membahas mengenai hikmat. Tentu saja gaya sastra Yahudi sangat kental dengan majas. Ayat 1 justru mengatakan bahwa hikmat berseru-seru dan kepandaian memperdengarkan suaranya—Tentu dari ayat pertama saja anda sudah tahu bahwa itu bahasa kiasan yang dilanjutkan dengan kata “aku” di ayat 6. Anda pastinya tahu bahwa “aku” yang dimaksud adalah hikmat. “Aku” dipakai sebagai kiasan dari Hikmat., tentu saja bukan sosok manusia.


Kemudian anda pun membaca di ayat 12, Aku, hikmat, tinggal bersama-sama dengan kecerdasan…, justru semakin jelas bahwa hikmat bukan sosok manusia melainkan “aku” yang dimaksud adalah hikmat. Kemudian ayat selanjutnya menjelaskan wejangan dan nasehat dan tentu anda akan menemukan lagi kata “aku” yang adalah kiasan dari Hikmat sampai ayat 22. Pada ayat 22 si “Aku” tadi berkata bahwa dia diciptakan oleh TUHAN sebagai permulaan pekerjaan dan perbuatanNya yang pertama dahulu kala. Anda tentu ingat bahwa si “Aku” adalah hikmat dan anda masih ingat bahwa Kitab Amsal berisi wejangan, nasehat dan pepatah bukan nubuat. Kemudian anda membaca sampai ayat ke 36 selalu pakai “aku” yang adalah hikmat dan bukan Yesus.

Menurut Tim sarapanpagi.org Jikalau kata "hikmat" (Ibrani: ×—ָ×›ְמָ×” - KHOKMAH) dalam Amsal pasal 8 itu dianggap sebagai sosok Yesus Kristus, lalu siapakah sosok "kecerdasan" (Ibrani: ×¢ָרְמָ×” - 'ARMAH) di dalam pasal Amsal 8:12? Apakah para penafsir itu dapat menjawabnya? Maka tentu saja "KHOKMAH" itu bukan Yesus Kristus. Dan, penting sekali kita perhatikan perbedaan antara kata HIKMAT (Ibrani: ×—ָ×›ְמָ×” - KHOKMAH) dan FIRMAN (Ibrani, דָּבָר - DAVAR). Dua kata ini tentu saja berbeda.


Sering sekali Amsal 8 dihubungkan dengan Yohanes Bab 1, tetapi ini tidaklah benar. Yesus Kristus adalah Sang Firman (Ibrani,DAVAR, Yunani, ο λογος - HO LOGOS). Yohanes Bab 1 bersaksi tentang itu. Tetapi "KHOKMAH" dalam Amsal Bab 8 bukanlah"DAVAR" atau "LOGOS" dalam Yohanes pasal 1. Kata "KHOKMAH" dan "DAVAR" adalah 2 kata yang berbeda. Yesus adalah Firman Allah yang menjadi manusia (bdk. Yoh. 1:14).

Dalam KemanusiaanNya beliau tidak pernah kehilangan keilahianNya. Yesus justru tampil sebagai manusia sempurna dan juga ilahi (Yoh. 13:13, 14:8-9). Yesus yang adalah Firman tidak mungkin diciptakan. Tidak pernah ada masa di mana Tuhan tidak punya Firman lalu kemudian menciptakan Firman. Karena segala yang diciptakan melalui dan dalam Firman.


Tentu jika anda teliti dalam membaca Alkitab maka Amsal 8:22 dicatatan kaki merujuk kepada Wahyu 3:14. Ayat ini juga dipakai oleh saksi Yehuwa untuk dukungan bahwa Yesus adalah ciptaan. Tentu juga anda tahu bahwa Kitab Wahyu bukanlah kitab nubuat melainkan kitab yang penuh dengan kiasan-kiasan dan gambaran-gambaran situasi jemaat pada abad pertama. Kitab Wahyu berisi kenyatan masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang. Tidak ada satupun isi Kitab wahyu menubuatkan tentang penciptaan Yesus. Ucapan “…, permulaan dari ciptaan Allah…” mempunyai makna bukan ciptaan yang permulaan melainkan “suatu” yang menyebabkan sesuatu tercipta atau sumber dari ciptaan.

Apakah Yesus akan tetap menjadi penyelamat seandainya Yesus dikandung oleh Maria sebagai anak biolgis Maria dan Yusuf?



Marta Lindawanti, Surabaya [Penanya]

Tentu saja identitas Yesus akan berubah dan hal ini akan mengubah juga arti penyelamatan. Dengan menyatakan bahwa Yesus dikandung oleh Maria melalui naungan Roh Kudus, di sini hendak ditegaskan bahwa Yesus bukanlah hasil benih manusia laki-laki biasa, tetapi bahwa Yesus berasal dari Allah, dank arena itu Dia adalah Anak Allah. Artinya, asal-usul Yesus adalah ilahi, bukan insani. Karena kodrat ilahinya itu,k Yesus bisa membawa manusia kembali kepada Allah. Iman Kristiani mengajarkan, bahwa Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Maka dia bisa menjadi pengantara antara kita manusia dengan Allah, Sang Pencipta. Bagaikan jembatan, Yesus bertumpu baik pada Allah maupun pada manusia. Dialah satu-satunya pengantara antara manusia dan Allah (1 Tim. 2:5).

Dengan menjadi sungguh manusia, Yesus mewakili seluruh umat manusia yang sudah berdosa itu di hadapan Allah. Yesus adalah keturunan Adam. Karena Adam yang berdosa, maka keturunannya yang harus melakukan pembayaran atas hutang dosa (bdk. Rom. 5:12-21). Karena Yesus adalah manusia, maka semua perbuatan yang dilakukan Yesus, juga diperhitungkan dan mempunyai dampak untuk seluruh umat manusia. 

Karena itu ketaatan Yesus merupakan kebalikan dari ketidaktaatan Adam, yang mau menentukan sendiri baik dan buruk dan mau menjadi seperti Allah. Jadi, ketaatan Yesus yang wafat di salib, menjadi sumber keselamatan bagi kita manusia. Natal adalah bukti ketaatan Sang Sabda yang rela menjadi manusia, bahkan menusia yang miskin dan taat sampai mati di salib. Ketaatan Yesus, yang sudah mulai diwujudkan dalam peristiwa penjelmaan menjadi manusia (inkarnasi), dilanjutkan sampai pada kepenuhannya melalui sengsara, penyaliban, dan wafatnya di kayu salib.


Konsultasi Iman “Majalah Hidup-Mingguan Katolik,51 tahun ke 71- 17 Desember 2017” hlm. 18, oleh Petrus Maria Handoko CM, Imam Kongregasi Misi, Doktor Teologi Dogmatik Universitas Gregoriana Roma. 

Disunting oleh Silvester Detianus Gea

Benarkah Tanggal 25 Desember Perayaan Kelahiran Dewa Matahari?


Darimana disimpulkan bahwa Yesus lahir pada 25 Desember? Apakah benar bahwa perayaan 25 Desember adalah perayaan Dewa Matahari?

Benediktus Yanoah Diptayasa, Surabaya [Penanya]


Pertama, harus diakui bahwa dari Kitab Suci kita tidak bisa menyimpulkan tentang kapan Yesus dilahirkan. Kitab-kitab Injil tidak memberikan indikasi tentang waktu yang tepat. Dari Injil Lukas, para ahli bisa menyimpulkan bahwa Yesus dilahirkan antara tahun enam sampai delapan Sebelum Masehi. Meskipun penanggalan kita disebut penanggalan Masehi, yang mengadaikan Yesus dilahirkan pada tahun satu, tetapi para ahli menyimpulkan bahwa Yesus seharusnya dilahirkan antara rentang waktu tersebut. Tentang bulan dan tanggal kelahiran Yesus, kita tidak bisa menentukan apa-apa dari Kitab Suci.

Kedua, William J. Tighe, Lektor Kepala jurusan Sejarah dari Muhlenberg College (bdk. “Calculating Christmas,” pada Touchstone, Desember 2003), pada touchstonemag.com berpendapat bahwa bukti-bukti menunjukkan, bahwa sudah sejak abad II atau III, orang-orang Kristiani baik di Timur (Yunani) maupun di Barat (Latin) berusaha menentukan tanggal kelahiran Yesus, lama sebelum mereka merayakannya secara liturgis. Penetapan kelahiran Yesus ini merupakan akibat langsung dari penetapan waktu wafat-Nya. Kepercayaan Yudaisme yang ada pada zaman Kristus, mengatakan bahwa para nabi Israel wafat pada tanggal yang sama dengan tanggal kelahiran atau pengandungannya. Gagasa ini adalah faktor kunci untuk mengerti bagaimana orang-orang Kristiani percaya, bahwa kelahiran Kristus terjadi pada 25 Desember. Bagaimana menetapkan tanggal wafat Yesus? Menurut Injil Yohanes, Yesus wafat sehari sebelum malam Paskah Yahudi. Dipercayai bahwa kematian Yesus terjadi pada tanggal 14 Nisan menurut penanggalan lunar Yahudi, atau 6 April menurut penanggalan Mesir atau 25 Maret menurut penanggal Yulian (kemudian menjadi penanggalan kita).

Ketiga, orang-orang Kristiani awali menerapkan kedua tanggal pada Yesus Kristus, yaitu 6 April dan 25 Maret sebagai tanggal wafat Yesus tetapi juga sebagai tanggal kelahiran atau pengandungan. Lama-lama, kedua tanggal tersebut lebih dilihat sebagai tanggal pengandungan. Masa pengandungan dihitung sembilan bulan. Maka kelahiran Yesus dirayakan sembilan bulan sesudah 25 Maret atau 6 April, yaitu pada 25 Desember di Gereja Latin (Barat) atau 6 Januari di Gereja Yunani (Timur). Tanggal 25 Desember (menurut penanggalan Yulian) atau 6 Januari (menurut penanggalan Mesir) adalah saat solstice masa dingin (winter), yaitu saat masa siang hari mulai lebih panjang daripada masa malam hari di dunia bagian utara.

Keempat, di Roma ada dua kuil yang dibaktikan kepada Dewa Matahari. Pesta Dewa Matahari dirayakan pada 9 Agustus dan 28 Agustus. Kedua pesta ini tidak lagi dirayakan sejak abad II. Pada saat itu, tidak ada pesta religius yang dikaitkan dengan “titik balik matahari” (solstice, 21 Desember) dan malam siang dan malam sama panjangnya (equinox). Pada tanggal 25 Desember tahun 274, Kaisar Aurelius menetapkan 25 Desember sebagai pesta Dewa Matahari. Tindakan Kaisar Aurelius itu sebenarnya lebih merupakan usaha politis, untuk merangkul dan menyatukan berbagai aliran kepercayaan yang ada waktu itu di bawah pesta tahunan kelahiran Matahari. Kekaisaran yang dipimpinnya waktu itu sedang mengalami kemerosotan karena berbagai pemberontakan, serangan-serangan musuh, penurunan ekonomis yang tajam. Penetapan tanggal 25 Desember itu merupakan ungkapan simbolis harapan kembalinya kejayaan Kekaisaran, yaitu bahwa siang hari dalam kekaisarannya akan semakin panjang dan malam hari semakin singkat.

Kelima, dengan uraian ini, Tighe menyimpulkan bahwa orang-orang Kristiani sudah lebih dahulu memilih tanggal 25 Desember itu sebagai perayaan kelahiran Yesus dan baru kemudian tanggal itu digunakan sebagai perayaan religius Dewa Matahari. Maka, merekalah yang mencuri perayaan tanggal 25 Desember itu dari orang Kristiani dan bukan sebaliknya.


Konsultasi Iman “Majalah Hidup-Mingguan Katolik, 50 tahun ke 71- 10 Desember 2017” hlm. 33, oleh Petrus Maria Handoko CM, Imam Kongregasi Misi, Doktor Teologi Dogmatik Universitas Gregoriana Roma.


Disunting oleh Silvester Detianus Gea