Ajaran Sesat Montanisme



Pengantar

Montanisme adalah gerakan kharismatis dan apokaliptis pada pertengahan dan akhir abad ke-2. Montanisme merupakan suatu mistik di mana inspirasi pribadi (Montanus) memberontak melawan otoritas tradisional seperti misalnya kitab suci dan hierarki Gereja, khususnya para uskup sehingga dari segi dogmatis Montanisme relatif sulit dilumpuhkan. Pelopor gerakan ini berasal dari Phrygia Asia Kecil bernama Montanus, seorang imam. Ia mengklaim diilhami langsung oleh Roh Kudus. Montanus menganggap diri sebagai organ Paraclitus yang dijanjikan Yesus untuk membarui Gereja, sambil memaklumkan berakhirnya dunia dan perlunya mempersiapkan diri bagi akhir zaman dengan praktik moral yang murni.

Bergabung bersama dengan Montanus, dua perempuan, yakni Maximilla dan Priscilla, yang masing-masing telah meninggalkan suaminya. Mereka inilah buah-buah pertama pencurahan eskatologis Roh Kudus (Joel 2:28-32). Menurut mereka ini, Penghibur menuntut perilaku yang suci. Misalnya perkawinan kedua, bahkan perkawinan sendiri dianggap bernilai rendah; berpuasa secara ketat; menetapkan xerofagia (menyantap makanan kering, tanpa daging); tidak menyangkal iman dan kemartiran. Sebab, menurut mereka, darah martir adalah anak kunci Kerajaan Surga. Mereka menolak mengampuni dosa besar, misalnya pembunuhan, murtad, zinah. Menolak setiap bentuk otoritas kegerejaan dan menyerahkan diri tanpa syarat pada (nabi-nabi baru) yang melalui mereka ini Roh berbicara. Injil tidak dinilai lagi sebagai warta keselamatan bagi orang sakit, belas kasih bagi yang lemah, melainkan hanya disorot dari perspektif kematiran saja.

Tujuan Gerakan Montanisme

Membaca kata-kata nubuat pemimpin-pemimpin Montanisme, kita dapat mengetahui apa yang ingin mereka capai atau apa tujuan gerakan montanisme, yakni: “Kristus telah datang kepadaku dalam rupa seorang wanita yang mengenakan pakaian yang bercahaya; Ia telah menanamkan di dalam diriku dan menyatakan kepadaku bahwa tempat ini (Pepuza) kudus, dan bahwa di sinilah Yerusalem akan turun dari sorga.”
“Janganlah harapkan mati di atas tempat tidur atau oleh demam, melainkan mati dalam kematian, supaya dipermuliakan Dia yang telah menderita bagimu.” Kaum montanisme memiliki keyakinan bahwa akhir dunia sudah sampai, oleh sebab itu tinggalkan hal-hal yang duniawi dan datanglah ke Pepuza (sebuah desa di Asia Kecil) karena di sana Tuhan akan mendirikan Yerusalem yang baru maka kelompok montanisme berbondong-bondong datang ke desa tersebut, sesudah menjual segala harta bendanya. Mereka rajin mencatat pernyataan-pernyataan dari mulut pemimpin-pemimpin mereka dan mereka menganggap pernyataan tersebut sama nilainya dengan sabda dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Semangat mereka begitu besar sehingga mereka tidak takut akan tantangan atau hambatan.

Latar Belakang Terjadinya Gerakkan Montanisme

Gerakkan montanisme merealisasikan keyakinannya adalah dengan menghidupkan kembali pengharapan lama akan kedatangan Tuhan kembali, tentang adanya karunia-karunia Roh, dan menghidupkan kembali hukum disiplin Gerejawi yang keras. Hal ini mereka lakukan karena mereka mempunyai anggapan bahwa orang-orang Kristen sudah tidak begitu lagi merasakan kerinduan akan kedatangan Tuhan kembali seperti pada zaman Para Rasul atau penantian akan Tuhan sudah memudar. Di samping itu, mereka menganggap bahwa jabatan Gereja oleh sebagian orang terlalu membelenggu Roh yang bebas. Gerakan tersebut mereka lakukan, juga sebagai sikap protes montanisme terhadap keadaan Gereja yang disebutkan suam dan diduniawikan.

Unsur-unsur dalam gerakan ini (entusiasme serta fenomen kenabiaan) dapat disejajarkan dengan semangat jemaat Kristen purba di Jerusalem. Montanisme ada kalanya dipandang (misalnya oleh Adolf Von Harnack) sebagai ikhtiar untuk kembali ke semangat Gereja purba (di Jerusalem). Sebab Gereja dewasa ini sedang mengalami proses pelembagaan dan sekularisasi yang tidak sehat sama sekali. Mungkin saja gerakan ini dimengerti sebagai model gerakan-gerakan apokaliptis yang muncul di kemudian hari dalam sejarah agama Kristen. Di Roma pada mulanya aliran ini didukung Paus Viktor (+198) dan Zephirinus (+217), tetapi akhirnya diserang balik oleh Tertulianus melalui tulisan-tulisannya. Gerakan ini pernah dikecam secara resmi dalam sinode-sinode Asia sebelum tahun 200 Masehi, dan akhirnya juga oleh Paus Zephirinus. Montanisme, yang tercerai berai dalam pelbagai sekte dan diperangi dari abad IV oleh otoritas sipil (Konstantinus memerintahkan untuk menyita tulisan-tulisan yang berbau montanis. Kaisar Arcardius (398) mengeluarkan dekrit tentang pembakaran semua karya montanis) namun gerakan montanisme dapat bertahan relatif lama, yakni sampai abad ke-7.

Pengaruh Terhadap Gereja

Memperhatikan bahwa montanisme dari segi dogmatis relatif sulit dilumpuhkan, tentu ajarannya membuat pengikut Kristus (orang Kristen) bingung karena ajarannya menggoyahkan iman, terlebih melihat semangat Montanus yang sangat tinggi dan serius dalam mencari kebenaran. Apa yang benar dipertanyakan dan segala bentuk praksis diperbaharui kembali sehingga banyak orang yang sederhana dan tidak kuat imannya merasa terganggu, ragu-ragu, dan akhirnya menimbulkan ketidak tentraman dalam hidup bersama karena terjadi berbagai perbedaan dalam praksis ajaran iman Kristen. Namun gerakan montanisme ini dalam kehidupan mengereja terkadang dirasa perlu juga, agar iman umat Kristen tertantang untuk lebih memahami secara mendalam ajaran iman Gereja.

Tanggapan

Saya secara pribadi kagum melihat pemikiran dan sikap hidup Montanus dalam menyampaikan ajarannya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang perlu dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang kedua kalinya. Saya dan kita semua dapat belajar banyak hal dari gerakan ini yakni kepekaan mereka dalam melihat sikap yang perlu dilakukan dan bagaimana perjuangan dalam menghidupkan ajaran yang mulai dilupakan dalam hal ini mengenai parousia, demikian juga melihat semangat mereka yang kuat dan berani dalam menghadapi hambatan sehingga dapat bertahan dari abad ke- 2 sampai abad ke-7, yang adalah jangka waktu yang cukup panjang, hidup dalam disiplin hidup yang keras.
Namun saya tidak setuju dengan apa yang diajarkan gerakan montanisme tentang bagaimana bersikap dalam menantikan Kristus, terlebih dengan sikap Montanus yang hanya menonjolkan diri sebagai Gereja dan Roh Kudus serta dengan meremehkan peristiwa-peristiwa hidup secara berlebihan. Sebenarnya apa yang terjadi di dunia ini dan segala dinamikanya adalah sesuatu yang baik untuk mewujudkan kasih Allah secara nyata dan untuk mencapai kekudusan dengan melakukan kebaikan-kebaikan bagi orang lain. Oleh sebab itu dalam menantikan kedatangan Yesus yang kedua kalinya alangkah baiknya umat tidak bersikap secara berlebih-lebihan melainkan melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti biasa dengan baik dan bertanggung jawab.

Bagi saya untuk memahami atau mengerti tentang akhir zaman serta untuk menjaga kemurniaan ajaran Kristen, kita semua yang adalah jemaat Kristen, terutama institusi Gereja sangat penting saling melindungi sesama umat dari pelbagai tantangan yang dilihat dapat membahayakan kesatuan dalam iman dan akhirnya dapat menyebabkan perbedaan-perbedaan dalam praksis-praksis dalam gereja Katolik. Alangkah, baiknya bila kita sebagai pengikut Kristus kembali ke ajaran pokok Gereja yakni Iman Katolik dan Dokumen Konsili Vatikan II, agar iman kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai macam pengajaran yang baru tentang bagaimana beriman kepada Kristus, dan oleh berbagai peristiwa-peristiwa penampakkan yang hanya direkayasa oleh seseorang atau pun tentang isu-isu tentang hari kiamat yang selalu menjadi gosip setiap tahun.

Berbicara tentang akhir zaman berdasarkan Iman Katolik yakni bagi manusia perorangan kematian merupakan akhir hidup di dunia ini. Akan tetapi, seluruh dunia pun akan mati. Itu disebut “akhir zaman”. Sebagaimana manusia perorangan baru mencapai tujuan hidupnya dalam pertemuan dengan Allah, begitu juga dunia. Seperti yang dilukiskan Paulus dalam Roma 8:19-26. Yang mencolok adalah kata “mengeluh”. Makhluk-makhluk mengeluh, kita mengeluh, Roh Kudus pun “berdoa dengan keluhan yang tak terucapkan”. Keluhan ini dihubungkan dengan “menantikan” dan “pengharapan”. Dari satu pihak kita sadar bahwa dunia ini menjurus ke hidup yang sejati, yakni “pengangkatan sebagai anak”, sebab hidup yang sejati ialah “mengenal satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah diutus-Nya” (Yoh. 17:3). Dan “Apabila Kristus menyatakan diri, kita akan sama menjadi sama seperti Dia” (1 Yoh. 3:2). Mengenal Allah, dan mengenal-Nya sungguh-sungguh, “muka dengan muka” (1 Kol. 13:12), hanya mungkin kalau kita diperbolehkan mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri. Yang akan masuk ke dalam dunia Allah, bukan hanya kita, melainkan seluruh ciptaan. Keselamatan yang masih tersembunyi sudah merupakan dinamika hidup, karena pengharapan, bagi seluruh ciptaan.

Di dunia ini hidup kita masih bersifat perjuangan. Kita memang merasa pasti mengenai tujuan, tetapi sering ragu-ragu mengenai jalannya. Lebih kerap lagi, ketidakjelasan itu menjadi alasan kita menyimpang dari jalan dan tidak terarah kepada pertemuan dengan Allah.

“Tuhanlah tujuan sejarah manusia, titik sasaran segala dambaan sejarah dan kebudayaan manusia; kita yang dihidupkan dan dihimpun dalam Roh-Nya, berziarah menuju pemenuhan sejarah manusia” (GS 45). Maka yang penting dalam hidup sekarang ialah mencari keterarahan kepada Tuhan.
Mengenai “dunia baru dan surga baru” Konsili Vatikan II menyatakan: Kita tidak mengetahui, kapan dunia dan umat manusia akan mencapai kepenuhannya; tidak mengetahui pula, bagaimana alam semesta akan diubah. Dunia seperti yang kita kenal sekarang, dan yang telah rusak akibat dosa, akan berlalu. Tetapi kita diberi ajaran, bahwa Allah menyiapkan tempat tinggal baru, kediaman keadilan dan kebahagiaan, yang memenuhi, bahkan melampaui segala kerinduan akan kedamaian, yang pernah timbul dalam hati manusia (GS 39). Akhirat oleh Konsili dilihat sebagai “penyelesaian” seluruh sejarah dunia, dengan segala cita-cita dan kerinduannya. Memang tidak diketahui cara dan waktunya, tetapi diketahui bahwa semua itu akan datang dari Allah.

Pengharapan kita tidak berdasarkan keinginan kita sendiri, tetapi berpangkal pada kebaikan Tuhan. Kasih Allah akan melampaui segala harapan dan dugaan kita. Maka yang pokok adalah iman akan kebaikan Tuhan, seperti dikatakan oleh St. Paulus: “Kita, yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia, kita juga beroleh jalan masuk-oleh iman-kepada kasih-karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Kita juga bermegah dalam kesengsaraan” (Roma 5:1-2).

Kesetiaan Tuhan merupakan dasar pengharapan kita. Yang diimani adalah Tuhan, bukan perkembangan dunia, maka segala perubahan dan ketidakjelasan tidak dapat menggoncangkan iman dan pengharapan kita.
Menanggapi semua ini maka saya menyarankan agar semua orang yang terlibat dalam pengajaran iman Katolik, baik para Imam, katekis dan guru agama agar terus menekankan pemahaman yang baik dan benar (sesuai dengan iman Katolik) tentang pengertian kedatangan Kristus yang kedua kalinya, dalam setiap kegiatan pewartaan. Misalnya dalam seminar tentang eskatologi, dalam mengajar katekumen, dalam pendidikan agama di sekolah maupun dalam penulisan sebuah buku.

Kesimpulan

Montanisme merupakan sebuah gerakan kharismatis dan apoliptis pada pertengahan dan akhir abad ke-2, dipelopori oleh Montanus yang adalah seorang imam dari Phrygia (Asia Kecil) dan ia mengklaim dirinya diilhami langsung oleh Roh Kudus. Gerakan montanisme memiliki keyakinan bahwa akhir dunia sudah tiba, oleh sebab itu mereka meninggalkan hal-hal duniawi dan datang ke Pepuza (desa kecil di Asia Kecil) karena di sana Tuhan akan mendirikan Yerusalem yang baru. Mereka memiliki keyakinan dengan menghidupkan kembali pengharapan lama akan kedatangan Tuhan, tentang adanya karunia-karunia Roh, dan menghidupkan kembali hukum disiplin Gerejawi yang keras atau praktik moral yang murni.
Waspadalah ajaran ini sudah mulai bangkit kembali dalam gerakan-gerakan rohani, sebagaimana yang sempat terjadi di Surabaya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Eddy Kristiyanto, OFM. “Gagasan yang Menjadi Peristiwa. Sketsa Sejarah Gereja Abad I-XV. Yogyakarta: Kanisius, 2002. Hal. 30-31.
2. Van Den End, Thomas. HARTA DALAM BEJANA. Sejarah Gereja Ringkas. Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2008. Hal. 42-46.
3. Konferensi Waligereja Indonesia. Iman Katolik, Jakarta: OBOR, 1997. Hal. 468-473.
4. R. Hardawiryana, SJ (penerjemah). Dokumen Konsili Vatikan II, Jakarta: OBOR, (1993) Februari 2012.

Tulisan yang sama telah diposting dalam website:  https://mengenalimankatolik.wordpress.com/2014/07/27/ajaran-sesat-montanisme/


EmoticonEmoticon