Mengenal Didache




Didache atau Didakhe (Yunani Koine Διδαχὴ, Didachē), atau Ajaran-Ajaran Rasul adalah nama yang umum diberikan kepada sebuah risalah Kristen awal (yang diduga berasal dari suatu masa pada tiga abad pertama sejarah Gereja), yang memuat pengajaran untuk komunitas-komunitas Kristen. Teksnya sendiri kemungkinan merupakan katekismus tertulis pertama, dengan tiga bagian utama yang membahas pengajaran Kristen, ritual-ritual seperti baptisan dan ekaristi, serta organisasi gereja. Didache dianggap oleh sebagian Bapak Gereja sebagai bagian dari Perjanjian
Baru oleh sebagian lainnya ditolak karena isinya diragukan, sehingga akhirnya tidak diterima ke dalam kanon, kecuali Gereja Ortodoks Ethiopia yang menerimanya dalam “kanon yang lebih luas”. Gereja Katolik Roma menerimanya sebagai bagian dari tulisan para Bapak Rasuli. Penemuan naskah ini pada akhir abad ke-19 menimbulkan gema yang hebat di kalangan ilmiah gereja, sebab sarjana-sarjana patristik telah mengetahui keberadaan apa yang disebut “Ajaran Rasul-rasul”, namun mereka tidak pernah menemukan satu pun petunjuk tentangnya sampai penemuan tersebut.
Dari penjelasan tentang didache diatas lalu muncul pertanyaan. Mengapa buku atau kitab-kitab lain yang ditemukan lebih tua dari didache tidak dimasukan ke dalam Kanon Kitab Suci ? Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah karena memang didache hanya mencatat kebiasaan-kebiasaan dalam komunitas Kristen dan tidak banyak bicara tentang Guru dari Nazaraeth. Selain itu didache juga ingin mengajak para umat Kristen bahwa ajaran didache benar-benar ajaran dari para rasul.

B. Ajaran Didache
Judul “Didache” dalam naskah yang ditemukan tahun 1873
Injil Didache berisi 16 pasal yang umumnya dikelompokkan menjadi 4 bagian, yaitu:
Berikut adalah beberapa uraian singkat ajaran-ajaran didache yang terdiri 4 bagian dan berisi 16 pasal :
a. Ajaran didache bagian pertama terdiri dari : 6 pasal
• Pasal 1-4 mengajarkan kepada umat Kristen jalan keselamatan, untuk dapat menuju jalan keselamatan tersebut manusia harus melakukan perbuatan-perbuatan baik yang dikehendaki oleh Tuhan. Contohnya : mengasihi Tuhan, mengasihi sesama seperti diri sendiri dan kasihilah juga musuh-musuhmu. Contoh-contoh perbuatan baik tersebut sama dengan perbuatan yang diajarkan oleh Tuhan di dalam 10 perintah Allah. Perintah 1-2 berhubungan dengan perbuatan baik kepada Allah. Perintah 3-4 berhubungan dengan perbuatan baik kepada sesama.
• Pasal 5-6 mengajarkan kepada umat Kristen jalan kematian, jika manusia melakukan perbuatan-perbuatan penyangkalan iman niscaya ia akan masuk ke dalam jalan kematian tersebut. Contoh perbuatan penyangkalan iman tersebut adalah pembunuhan,perzinahan, pencurian, penyembahan berhala, sihir. Perbuatan-perbuatan tersebut berkaitan juga dalam 10 perintah Allah yang terdapat dalam perintah 5-10 tentang pebuatan penyangkalan iman yang tidak boleh dilakukan manusia.

b. Ajaran didache bagian kedua terdiri dari : 3 pasal, pasal 7-10 bagian liturgi, atau ritual, berisi ajaran-ajaran yaitu :
• Pasal 7 berkenaan tentang hal pembaptisan, di dalam didache dikemukakan jika seseorang ingin di baptis tata cara pembaptisannya dengan cara mengucurkan/menuangkan air pada dahi calon baptis lalu imam atau minister sambil mengucapkan doa atau forma : “Aku membaptis Engkau dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin. Lalu untuk calon baptis dan juga imam atau minister yang akan melakukan pembaptisan hendaknya berpuasa selama satu atau dua hari sebelum menerima pembaptisan. Akan tetapi kondisi semacam ini berbanding terbalik pada saat didache ditemukan. Saat ini calon baptisan agama Kristen cenderung ingin menyempurnakan tata cara pembaptisan dengan mencelupkan kepala calon baptis selama tiga kali ke dalam air. Apakah tindakan ini boleh dilakukan ?namun dalam dokumen didache sudah jelas diatur.
• Pasal 8 berkenaan dengan puasa dan berdoa.
tentang hal berpuasa didache mengajarkan untuk berpuasa pada hari ke empat dan hari persiapan, janganlah berpuasa seperti orang-orang munafik yang ingin menunjukan bahwa ia sedang berpuasa pada sesamanya. Jika berpuasa hendaknya jangan diketahui oleh sesame dan hanya diketahui oleh Tuhan saja. Tetapi orang-orang sekarang ini justru berpusa dengan menceritakan kepada sesama bahwa ia sedang berpuasa agar dirinya dipandang suci oleh sesama-Nya tersebut.
tentang hal berdoa didache mengajarkan kepada umat Kristen hendaknya jika berdoa jangan seperti orang munafik yang setiap kali berdoa ingin dilihat oleh sesamanya dengan membuka pintu dan jendela rumah. Tetapi berdoalah dengan menutup rapat pintu dan jendela lalu doakanlah doa yang telah diajarkan Yesus pada umat-Nya yaitu doa Bapa Kami sehari tiga kali.
• Pasal 9 dan 10 berkenaan dengan perjamuan ekaristi dan memotong-motong roti.
tentang Perjamuan Ekaristi dalam didache juga memuat kata-kata institusi (dahulu) tetapi sekarang juga berubah menjadi rumusan institusi yang tertuang dalam Perjamuan Ekaristi pada saat imam mendoakan rumusan doa syukur agung yang berbunyi sebagai berikut : “Terimalah dan makanlah! Inilah tubuh-Ku yang dikurbankan bagimu.”
tentang hal memecah-mecahkan roti mereka bertekun pada ajaran Para Rasul dan selalu berkumpul bersama untuk memecah-mecahkan roti secara bersama-sama. Pada zaman Pada Rasul yang memimpin Perayaan Ekaristi adalah seorang kepala keluarga bukanlah seorang Imam, Mengapa pada zman Para Rasul Perayaan Ekaristi dipimpin oleh seorang kepala keluarga? Karena para kepala Keluarga selalu berkumpul bersama Para Rasul untuk berdoa dan memecahkan roti lalu pemimpin keluarga tersebut pergi berkeliling rumah bersama Para Rasul untuk memimpin Perayaan Ekaristi
• Pasal 10-11 tentang Hierarki Gereja
Pada saat ditemukannya dokumen didache sudah terdapat juga hierarki-hierarki gereja, tetapi pada zaman Para Rasul hierarkinya dalam bentuk pengajaran yang pengajarannya dilakukan oleh Para Rasul dan Nabi-Nabi. Umat yang kedatangan Para Rasul dirumahnya tersebut harus mau menerima kedatangan Para Rasul tersebut sebagai Tuhan. Karena dia mengajarkan kebenaran. Sama halnya dengan tugas dan hierarki pada saat ini yang mempunyai tugas diantaranya :
1. Mengajar (munus diocendi) contohnya : berkatekese, dikeluarkannya ensiklik, surat gembala.
2. Menyucikan (munus sangtivicandi) contohnya : merayakan sakramen.
3. Memimpin (munus governocandi) contohnya : menetapkan Kitab Hukum Kanonik, melayani, dan melindungi umat dari serangan yang dapat menggoyahkan iman.

c. Ajaran didache pada bagian ketiga terdiri dari: 4 pasal, pasal 11-15 mengenai pelayanan dan para rasul yang berkeliling.

• Mengenai Pelayanan
Para Rasul terbiasa berkumpul bersama-sama untuk melakukan kegiatan pelayanan dengan berkeliling. Maka dari itu dokumen didache mengajarkan untuk mengangkat orang-orang yang pantas bagi Tuhan layaknya seorang Uskup atau Diakon yang berhati lembut, bukan para pecinta harta, jujur dan telah diuji. Dengan menangkat seorang Uskup maka Uskup tersebut melakukan tugas pelayanannya dengan memuliakan Tuhan pada masa kini.
d. Ajaran didache pada bagian ke empat Pasal 16 membahas tentang menunggu kedatangan Tuhan.
• Menunggu kedatangan Tuhan untuk kedua kalinya tentunya berkaitan juga dengan eklesiologi (akhir jaman). Tuhan datang untuk kedua kalinya sebagai hakim terakhir yang mengadili orang yang hidup dan mati. Saat Tuhan datang untuk kedua kali iman yang dimiliki didunia tidak akan ada artinya, tidak ada seorang pun yang menjadi orang-orang sempurna. Pada hari-hari terakhir banyak muncul Nabi-nabi palsu, rasa kasih berubah menjadi rasa kebencian, domba-domba akan menjadi serigala, banyak orang ragu-ragu dan binasa tetapi orang-orang yang sabar dalam keimanan akan terbebas dari utusan ini. Saat itulah tanda-tanda kebenaran muncul. 1. Pertama : tanda terbukanya langit
2. Kedua : tanda suara sangkakala
3. Ketiga : bangkitnya orang mati
Akan tetapi tidak semua orang, sebagaimana dikatakan Tuhan datang diiringi orang-orang suci. Pada saat itu, manusia melihat Tuhan yang datang di atas awan-­awan di langit.
C. Waktu dan Tempat Penulisan
Melalui kajian yang mendalam terhadap teks-teks Didache untuk mengetahui waktu penulisannya, peneliti-peneliti modern memastikan bahwa Didache ditulis pada abad pertama Masehi. Berdasarkan apa yang telah dipaparkan pada bagian otentisitas teks Didache, waktu penulisannya tidak mungkin melewati seperempat pertama abad kedua Masehi, dan apabila telah terbukti bahwa Didache lebih tua daripada Surat Barnabas, maka ia tidak mungkin ditulis setelah tahun 120 M.
Struktur bahasanya yang sederhana menunjukkan waktu penulisannya, yaitu periode yang langsung mengikuti masa Rasul-rasul, atau yang sekarang disebut sebagai periode apostolis. Sesungguhnya, kesederhanaan struktur bahasa juga merupakan fakta yang sangat penting dalam mengkaji legalitas kitab-kitab Perjanjian Baru.
Tetapi, tidak dapat dipastikan bahwa Didache berasal dari Antiokhia, atau ditulis di kota Antiokhia. Sebab, adat istiadat yang berasal dari Paulus dan Lukas – yang populer di Antiokhia – adalah adat istiadat yang berbeda dengan Didache. Hal ini menegaskan bahwa ia tidak berasal dari Antiokhia. Selain itu, St. lgnatius dari Antiokhia tidak mengenal Didache, karena ia tidak mengutip Didache sedikit pun di dalam surat­-suratnya, yaitu surat-surat yang memperlihatkan aturan-aturan yang sangat berbeda dengan Didache.

D. Identitas Penulis
Semua usaha untuk menemukan identitas penulis Didache tidak berhasil, terutama karena kurangnya data tentang hal ini yang kita miliki sekarang. Asumsi yang paling mendekati kenyataan adalah ia ditulis oleh seorang Kristen Yahudi (Jewish Christian), atau paling tidak oleh orang Kristen yang berasal dari penganut agama Yahudi, karena ia menyebutkan makanan yang diharamkan Perjanjian Lama, yang tidak berubah sampai sekarang kecuali tentang keharaman makanan persembahan bagi berhala; Dan, karena ia mencela kemunafikan orang-orang Farisi, seolah-olah ia bergaul dan mengenal mereka.

E. Penerima Didache
Dengan demikian, jelas bahwa Didache dikirimkan kepada jemaat Kristen yang berasal dari bangsa yang tidak mengenal Tuhan. Ringkasnya, Didache adalah teks yang menghimpun adat istiadat yang saling bertentangan yang diberikan formula baru pada masa tertentu oleh penulis yang tidak kita ketahui yang sulit kita tentukan, tetapi memiliki kekuasaan yang kuat terhadap sekelompok jemaat Kristen yang mungkin berasal dari kalangan bangsa yang tidak mengenal Tuhan. Karena itu, judul panjang Didache, yaitu “Ajaran Tuhan kepada Bangsa­bangsa.”, dengan tegas menjelaskan asumsi tersebut. Selain itu sikap kita terhadap didache yang telah diajarkan oleh Para Rasul adalah dengan mempercayai ajaran-ajaran dan tradisi-tradisinya dan tetap mewariskannya serta tidak mengubah-ubah ajaran Para Rasul tersebut.

Sumber Pustaka :
1. Aaron Milavec, The Didache : text, translation, analysis, commentary Milavec Collegevi Minnesota : Liturgical Press, 2004.
2. Rm. Fx. Adisusanto SJ, Menyusuri Sejarah Pewartaan Gereja, Jilid I, Yogyakarta, Lembaga Pengembangan Kateketik Pusat, 1997

Penulis telah menyelesaikan Strata I di Universitas Atma Jaya-Jakarta, pada Program Studi Ilmu Pendidikan Teologi (sekarang Pendidikan Keagamaan Katolik). Penulis pernah memosting tulisan yang  sama di  https://mengenalimankatolik.wordpress.com/2014/07/27/ajaran-didache/


EmoticonEmoticon