Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa, Mungkinkah?

Banyak orang-orang Kristen non-Katolik yang bertanya terkait mengapa Gereja Katolik mengajarkan bahwa Maria dikandung tanpa noda dosa. Menurut mereka dalam Roma 3:23 mencatat bahwa “semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah.” Tak dapat dipungkiri banyak orang Katolik belum mampu menjawabnya secara singkat, padat dan jelas. Maka pertama-tama orang Katolik perlu menjelaskan dengan sabar, karena orang-orang non-Katolik seringkali menafsirkan Alkitab secara harafiah atau keluar dari konteks. Perlu diketahui bahwa dosa asal dan dosa pribadi berbeda.  Setelah mengetahui hal itu, baiklah kita melihat konteks Rom. 3:23.
Roma 3:23 sama sekali tidak berbicara tentang dosa asal, melainkan tentang dosa pribadi. Oleh sebab itu, kita dapat mengetahui bahwa pertanyaan orang-orang Kristen non-Katolik campuraduk antara dosa asal dan dosa pribadi. Setelah kita menemukan hal itu, maka akan dibenturkan kembali dengan Rom. 5:12.18-19, sehingga seolah-olah dogma Gereja Katolik tersebut bertentangan dengan pernyataan rasul Paulus. Ayat itu berbicara bahwa semua orang mewarisi dosa Adam. Ya, dalam ayat itu kita menemukan bahwa semua orang mewarisi dosa asal. Namun Gereja Katolik meyakini bahwa Allah membebaskan Maria dari sengat dosa asal dan akibat dosa asal. Hal itu terjadi bukan karena pahala atau kekuatan Maria, melainkan karena pahala yang masih akan dihasilkan oleh Yesus dalam misteri Paskah. Tentu setelah kita menjawab demikian, maka akan muncul pertanyaan berkaitan dengan kalimat “semua orang terkena dosa asal, jika Maria bebas dari sengat dosa asal.” tidak masuk Akal.
Tenang, Gereja mengajar bahwa Maria tetap suci sampai akhir hidupnya. Ia bebas dari segala dosa mulai dari pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian. Dengan demikian Maria terbebas dari semua dosa pribadi dan dosa asal. Rasul Paulus menggunakan kata “semua” dalam arti mutlak, numeric, distributive yang mencakup setiap orang. Namun kata “semua” dapat diartikan secara kolektif, sehingga yang dimaksud adalah sebagian besar dari yang ada. Perkataan Rasul Paulus dalam Roma 5:12.18-19 tentang dosa asal, tentu saja tidak termasuk Yesus, dan Adam-Hawa sebelum mereka jatuh dalam dosa. Pengertian kolektif lain dipakai pula dalam Roma 3:9-10, sehingga kata “semua” pada konteks ini diartikan secara kolektif bukan distributif. Hal itu karena Gereja percaya bahwa Maria Hawa Baru, yang tidak terkena dosa asal dan dosa pribadi. Bagian Alkitab yang menjelaskan bahwa Maria suci hingga akhir hidupnya, bisa kita temukan dalam Kej. 3:15, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya”. Kita dapat melihat bahwa kalimat “permusuhan” berarti tidak ada kompromi atau pertentangan total. Jika Maria sudah jatuh dalam dosa, tentu permusuhan itu tidak total dan Maria tunduk pada kuasa dosa.
Selain itu, Malaikat berkata kepada Maria, χαῖρε, κεχαριτωμένη, ὁ κύριος μετὰ σοῦ (Chaire, kecharitōmenē, ho kyrios meta sou!). Yang dapat kita baca dalam bahasa Inggris “ Hail, “Full of Grace,” the Lord is with you!(bdk. Luk 1:28).” Gelar “yang penuh rahmat” diberikan kepada Maria secara khusus oleh Allah sendiri, sehingga menunjukkan Bunda Maria dibebaskan dari noda dosa asal dan dosa pribadi. Dengan demikian Dogma tentang Maria dikandung tanpa noda dosa , yang dinyatakan secara ex cathedra oleh Paus Pius IX pada 8 Desember 1854 berlandaskan kepada Alkitab.
Penulis: Silvester Detianus Gea


EmoticonEmoticon