Benarkah Yesus Tidak Disalib? Apa Kata Sejarawan?




Benarkah Yesus Tidak Disalib? Apa Kata Sejarawan?

Hingga kini sebagian orang meragukan peristiwa penyaliban Yesus. Bahkan ada tulisan-tulisan yang membantah tentang penyaliban Yesus. Namun demikian data-data sejarah tentang peristiwa penyaliban Yesus cukup banyak. Oleh sebab itu banyak orang meyakini bahwa penyaliban Yesus adalah suatu peristiwa nyata atau sebuah fakta sejarah. Berikut adalah tulisan para ilmuan tentang peristiwa penyaliban Yesus

Pertama, Flavius Josephus, Sejarawan Yahudi. Flavius Josephus bernama asli Joseph bin Matthias yang lahir dari keluarga imam pada tahun 37 Masehi di Yerusalem. Ia meninggal pada tahun 100 Masehi di Roma. Dalam bukunya berjudul Antiquitates Judaicae 18, 63-64 ia menulis tentang peristiwa penyaliban Yesus.

“Pada masa inilah muncul Yesus, seorang yang bijaksana, kalau boleh dia disebut manusia. Karena dia adalah seorang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang menakjubkan dan seorang guru bagi mereka yang menerima kebenaran yang menyenangkan, dan dia telah memikat banyak orang Yahudi dan orang Yunani. Dia ini adalah Kristus. Dan ketika Pilatus, atas desakan orang-orang terkemuka di antara kita, telah menghukum-Nya di kayu salib, mereka yang sejak semula mengasihinya tidak berhenti (mengasihinya) karena pada hari ketiga dia telah menampakkan diri kepada mereka dalam keadaan hidup kembali. Para nabi Allah telah menubuatkan hal ini dan berbicara tentang aneka hal ajaib tentang dia. Dan klan [suku] Kristen, demikian disebut menurut [nama]nya, masih bertahan sampai hari ini.[1]

Kedua, Cornelius Tacitus, Sejarawan Romawi. Cornelius Tacitus lahir sekitar tahun 52-54 Masehi dan meninggal sekitar tahun 120 Masehi. Dalam bukunya berjudul Annals Volume XV, 15, 44. 2-3 ia menulis tentang peristiwa penyaliban Yesus.

“…Nero dari keaiban oleh karena dituduh telah sengaja menimbulkan kebakaran besar di Roma. Jadi, untuk menghentikan desas-desus itu dia mengalihkan tuduhan dengan memfitnah dan menghukum dengan siksaan paling keji terhadap orang-orang yang disebut Kristen, yang dibenci karena kejahatannya, Kristus, dari mana nama ia berasal, yang menderita hukuman ekstrem dalam pemerintahan Tiberius, di tangan prokurator kita, Pontius Pilatus, dan suatu hal yang tidak masuk akal yang banyak mencelakakan, karena ketika dicek pada waktu itu, meletus lagi tidak hanya di Yudea, sumber pertama kejahatan ini, tetapi bahkan di Roma, dimana segala kengerian dan kebencian dari setiap bagian dunia mendapatkan pusatnya dan menjadi popular.[2]

Ketiga, Lucianus dari Samosata, filsuf dan sejarawan Yunani. Lucianus dari Samosata lahir di Samosata pada tahun 120 Masehi dan meninggal sekitar tahun 180 Masehi di Athena. Dalam bukunya yang berjudul De Morte Peregrini (Kematian Peregrinus) ia menulis tentang “Peregrinus yang telah memeluk agama Kristen dan memiliki sesama pemeluk di Palestina yang masih menyembah orang yang telah disalibkan di Palestina”.[3]

Keempat, Mara Bar Sarapion, filsuf Stoa dari Syria. Mara Bar Sarapion menulis surat yang ditujukan kepda anaknya, Sarapion yang berada dalam penjara Romawi.
“Apakah baiknya orang-orang Athena membunuh Socrates, karena perbuatan mereka dibalas kelaparan dan wabah?Apakah faedahnya orang-orang Samian membakar Phytagoras, karena akhirnya negeri mereka seluruhnya terkubur di bawah pasir pada saat itu? Dan apakah manfaatnya orang-orang Yahudi membunuh raja mereka yang bijaksana, karena kerajaan mereka akhirnya direbut dari mereka dari saat itu?Tuhan dengan adil telah membalaskan ketiga orang bijaksana ini. Orang-orang Athena mati oleh kelaparan, orang-orang Samian ditenggelamkan ke laut, dan orang-orang Yahudi disembelih dan dihalau dari kerajaannya, sehingga mereka hidup terpencar di mana-mana. Socrates tidak mati, berterimakasihlah pada Plato; demikian pula Phytagoras, karena patung Hera. Demikian juga sang raja bijaksana tidak mati, karena hukum baru yang ia berikan.[4]

Dari data di atas kita dapat menyimpulkan bahwa peristiwa penyaliban Yesus adalah fakta sejarah. Jika muncul data yang mengatakan bahwa Yesus tidak disalibkan, maka data tersebut tidak valid karena jarak penulisan dan peristiwa penyaliban sangat jauh.


[1] Gerd Theissen dan Annete Merz, The Historical Jesus: A Comprehensive Guide (London: SCM Press, 1998), hlm. 64-65.
[2] Ibid, Gerd Theissen dan Annete Merz, hlm. 82.
[3] Raymond Brown, The Death of Messiah (New York: Double Day, 1994), hlm. 381.
[4] Ibid, Gerd Theissen dan Annete Merz, hlm. 77


EmoticonEmoticon