Kahlil Gibran Seorang Filsuf Katolik

Buku Kahli Gibran (Foto/Istimewa).
Cahayakristus7.blogspot.com - Jakarta - Kahlil Gibran lahir di Bsharri, daerah pegunungan di Libanon Utara pada 6 Januari 1883. Ia dilahirkan dalam keluarga yang menganut agama Katolik Maronite. Ketika itu Libanon masih masuk provinsi Turki dari the Great Syria dan yang tunduk pada kekuasaan Ottoman. Namanya salah tulis ketika registrasi masuk sekolah di Boston pada tahun 1895. Seharusnya ditulis Khalil, tetapi menjadi Kahlil. Kesalahan tersebut akhirnya disandang sampai akhir khayatnya.
Ketika ayah Kahlil (Khalil) Gibran ditangkap oleh penguasa Ottoman terkait penghindaran pajak, akhirnya keluarganya pindah sebagai imigran ke Boston pada 25 Juni 1895. Namun tahun 1898 mereka kembali lagi pindah ke Libanon. Kahlil kemudian kembali meninggalkan Libanon dan menuju Amerika tahun 1902, ketika masa-masa sulit menimpa keluarga besar Gibran, seperti kemiskinan dan penyakit kronis yang merenggut nyawa orang-orang yang ia kasihi yaitu kakak tirinya, ibunya dan kemudian adik perempuannya.
Hasil karya Kahlil (Khalil) Gibran bagi dunia perpustakaan, kesenian, theater sangat banyak, puisi, esai dan kata-kata mutiara. Tak ketinggalan hasil karya lukisannya untuk banyak galeri terkemuka. Bukunya banyak memberi inspirasi, bukan hanya mengenai sastra tetapi juga soal-soal filosofi dan spiritual dalam kehidupan. Kahlil (Khalil) Gibran ketika usia muda /foto Fred Holland Day The Prophet; Buku pertamanya yang sangat terkenal berjudul' The Prophet' dipublikasikan pertamakali tahun 1923 oleh Alfred A. Knopf. Ada dugaan bahwa Kahlil (Khalil) Gibran jatuh cinta pada seorang wanita dari Boston bernama Josephine. Wanita inilah yang menjadi sumber inspirasi Kahlil ketika menulis The Prophet. Oleh karena buku itu didedikasikan untuk wanita pujaannya -- Josephine. The Prophet berisi kumpulan puisi, esai yang filosofis dan spiritual. Buku ini diterjemahkan lebih dari dua puluh lima bahasa. Dan menurut catatan dari Amazon.nl sampai saat ini sudah terjual sebanyak sembilan (9) juta copies, dalam edisi Amerika.
Banyak bagian yang dapat menginspirasi kehidupan kita sehari-hari secara spiritual. Salah satunya dari buku The Prophet Kahlil Gibran menulis-- Your children are not your children They are the sons and daughters of Life's longing for itself. They come through you but not from you, And though they are with you yet they belong not to you. -- You may give them your love but not your thoughts, For they have their own thoughts. You may house their bodies but not their souls, For their souls dwell in the house of tomorrow, which you cannot visit, not even in your dreams. You may strive to be like them, but seek not to make them like you. For life goes not backward nor tarries with yesterday. -- You are the bows from which your children as living arrows are sent forth. The archer sees the mark upon the path of the infinite, and He bends you with His might that His arrows may go swift and far. Let your bending in the archer's hand be for gladness; For even as He loves the arrow that flies, so He loves also the bow that is stable. -- Sangat filosofis dan spiritual sekali bila kita baca dan perhatikan makna kata-kata, kalimat demi kalimat dari satu bagian dari sekian bagian dari buku The Prophet - On Children.

Berikut salah satu kutipan Karya Kahlil Gibran yang diambil dari buku  'Pelari Terdepan"
KRITIK
Karya: Kahlil Gibran
Suatu ketika menjelang malam seorang pria yang berkelana di atas punggung kuda menuju laut mencapai sebuah penginapan. Ia turun, dan seperti semua penunggang kuda yang menuju laut, ia mengikatkan kudanya ke sebatang pohon di dekat pintu dan memasuki penginapan.
Tengah malam, ketika semuanya tengah lelap, seorang pencuri datang dan mengambil kuda pengelana itu.
Keesokan harinya pengembara terbangun dan menemukan kudanya telah dicuri. Dan ia meratapi kudanya.
Lalu teman-teman menginapnya datang dan berdiri di sekelilingnya, dan mulai berkata-kata.
Dan pria pertama berkata, “Betapa bodohnya kau mengikat kudamu di luar kandang.”
Dan yang kedua berkata, “Lebih bodoh lagi, tanpa mengikat kaki kuda!”
Dan pria ketiga berkata, “Yang paling bodoh adalah pergi ke laut dengan menunggang kuda!”
Dan yang keempat berkata, “Hanya yang lamban dan malas yang memiliki kuda.”
Si pengelana tercengang. Dan akhirnya ia berteriak, “Kawan-kawan, lantaran kudaku telah dicuri, kalian berebut memberitahu kesalahan dan cacatku. Tetapi anehnya, tidak satu kata pun kalian ucapkan tentang orang yang mencuri kudaku.”


EmoticonEmoticon